My Crazy Husband

My Crazy Husband
Yakin


__ADS_3

Seperti apa dikatakan Digo tadi pagi, siang ini setelah pulang sekolah laki-laki itu menuju ke rumah Aruna, ia juga membelikan Aruna macam-macam makanan dan juga buah-buahan dan tentu saja ia tahu apapun calon istrinya itu.


Walaupun nanti hanya dimakan sedikit atau malah sama sekali tidak dimakan, tetapi Digo akan membelikannya, ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan perhatian dari Aruna.


Digo juga tidak nongkrong dulu bersama teman-temannya bahkan ia sudah mengatakan kepada keempat sahabatnya itu akan mengurangi kegiatannya nongkrong, bukan karena apa apa, tetapi ia sudah bertekad di dalam hatinya ingin menjadi suami yang baik untuk Aruna dan tidak akan menyianyiakan Aruna dan juga akan menghidupi Aruna dengan layak, dengan cara mengelola restoran dan juga perusahaan yang memang sudah diberikan kepadanya.


Tentu saja sahabat-sahabat Digo tidak keberatan asalkan Digo masih tetap mau berteman dengannya saja mereka tidak masalah dan mereka mendukung Digo yang sudah serius untuk menjadi seorang suami.


Seperti tadi pagi, Digo juga langsung masuk saja ke rumah dan kebetulan sekali di dalam rumah itu kedua orang tua Aruna belum pulang hanya ada bibik yang mengurusi rumah.


"Aruna sudah makan bik?"


"Belum Mas , tadi bibik ke kamar Mbak Aruna tetapi jawabannya nanti saja belum lapar katanya."


Digo mengangguk, kemudian mengambil beberapa bungkus makanan kesukaan Aruna lalu menghangatkannya sebentar, kemudian laki-laki itu juga membuatkan susu untuk Aruna.


Tok...tok..


Digo mengetuk pintu kamar Aruna tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam, hingga membuat laki-laki itu langsung saja masuk dan membuka pintunya pelan-pelan.


Tidak ada Aruna di atas ranjang, kemudian Digo mengedarkan pandangan matanya ke arah balkon, di mana pintu balkon terbuka dan ia yakin jika calon istrinya itu berada di sana.


Digo tersenyum, mana kala ia melihat orang yang berdiri di atas balkon, kenapa ia tadi tidak melihat ke atas dan melihat jika ada Aruna di sana?


Greep


Digo pelan pelan mendekati Aruna, kemudian laki-laki itu memeluk tubuh Aruna dari belakang yang membuat Aruna seketika kaget dan melepaskan pelukan dari Digo, tetapi sayang sekali Digo semakin erat memeluk Aruna.

__ADS_1


"Jangan dilepaskan, ini aku. Sebentar saja Aku kangen sama kamu."


Digo memejamkan matanya, ia menghirup wangi dari tubuh Arum yang membuatnya candu dan ingin terus bersama dengan calon istrinya itu.


Aruna terus berontak, ia tidak mau dengan keadaan seperti ini yang mana nanti bisa dilihat dari arah luar dan juga rasanya ia belum sepenuhnya untuk memaafkan Digo.


"Jangan bergerak sayank, nanti kamu bisa membangunkan yang bawah, apa kamu mau kita mengulangi malam panas yang kemarin lagi?"


Aruna tidak menjawab, tetapi perempuan cantik itu langsung diam saja. Sungguh ia tidak mau kejadian kemarin itu teruang lagi terlebih lagi ia dan Digo belum sah sebagai pasangan suami istri.


Aruna membiarkan Digo memeluknya meskipun ia masih risi mendapatkan perlakuan seperti ini dari Digo tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, daripada dirinya terus bergerak dan nantinya akan menimbulkan yang tidak tidak, terlebih lagi kedua orang tua yang tidak ada di rumah.


5 menit kemudian, Digo melepaskan pelukannya.. ia juga tidak mau berlama-lama memeluk Aruna, bukannya kenapa-kenapa hanya saja ia takut jika dirinya tidak bisa mengendalikan hawa n@fsu nya.


"Kamu belum makan kan? kita makan sekarang, aku sudah membawakan makanan kesukaan kamu."


Sambung Digo lagi yang mana ia melihat Aruna diam saja dan ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh Aruna.


Digo pelan-pelan menarik tangan Aruna kemudian membuat Aruna duduk lalu ia mempersiapkan makanan yang sudah ia panaskan tadi.


"Makan sayank supaya cepat sembuh, setelah itu minum obat, besok sekolah kan?"


Aruna menganggukkan kepalanya, entah mengapa melihat makanan yang ada di depannya itu selera makan nya menjadi besar, apakah memang lapar atau karena makanan yang dibelikan oleh Digo itu adalah makanan kesukaannya.


Kali ini Aruna makan dengan sendirinya, ia tidak perlu disuapin lagi oleh Digo seperti kemarin yang mana Aruna dengan cepat menghabiskan 1 porsi seblak, makanan favoritnya yang tentu saja dengan tingkat kepedasan yang tidak terlalu pedas, karena Digo juga tidak akan membuat Aruna sakit perut mengingat kondisi Aruna yang belum stabil.


Digo tersenyum melihat Aruna makan dengan lahapnya, tidak salah ia membelikan seblak tadi dan lelah mengantri yang cukup lama demi mendapatkan makanan dengan level kepedasan yang sesuai dengan selera.

__ADS_1


"Mau nambah lagi atau mau makan yang lainnya?"


Digo sengaja tidak hanya membelikan satu porsi saja bahkan ia sendiri tadi belum makan hanya melihat Aruna makan dan itu sudah membuatnya kenyang.


"Gue sudah kenyang, lo tadi beli apa lagi? sepertinya banyak banget bawaan Lo?"


Digo mengambil kantong kresek yang ia taruh di atas meja kemudian memberikannya kepada Aruna.


"Banyak sekali, siapa yang mau habisin?"


"Kamulah sayank, habiskan ya .. siapa tahu nanti malam kamu lapar."


Lagi lagi Aruna tidak menjawab, tetapi ia tidak berniat untuk membuang makanan yang sudah diberikan oleh Digo, karena mubazir dan juga semua makanan yang diberikan untuknya itu enak-enak dan makanan favoritnya meskipun ia tidak menghabiskannya di depan Digo tetapi nanti malam pasti semua makanan itu akan habis dimulutnya.


Sudah 1 jam, Digo menemani Aruna dan ia melihat jam yang melekat di tangannya, sudah waktunya ia harus ke restoran untuk mengurus semuanya dan rencana Digo akan mengambil alih restoran itu dan ia akan mengelolanya sembari belajar pastinya.


"Sayank maaf, aku pulang dulu .. ada sesuatu yang harus aku kerjakan, besok pagi aku jemput untuk berangkat ke sekolah."


Cup


Lagi dan Lagi Digo memberikan ciuman di kening Aruna, setelah itu laki-laki itu bergegas untuk meninggalkan kamar Aruna tanpa menunggu jawaban dari bibir Aruna yang sama sekali dan itu sudah biasa Digo dapatkan  dan tidak masalah.


"Di...."


Panggil Aruna yang membuat Digo menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke belakang.


"Hati-hati."

__ADS_1


Ucap Aruna yang membuat Digo tersenyum dan langsung menganggukan kepalanya, laki-laki itu sangat bahagia meskipun hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Aruna, namun Digo yakin jika suatu saat Aruna pasti akan menerimanya dan akan mencintainya.


__ADS_2