
"Ini tanggal berapa?"
Pagi hari Aruna dibuat katir-ketir sendiri, ia pagi-pagi sudah terbangun dan teringat tentang jadwal menstruasinya yang tak kunjung dapat.
Aruna langsung saja menuju ke arah meja belajarnya di mana di sana terhadap kalender yang biasanya ia selalu tandai jadwal terakhir menstruasi.
"Satu minggu lagi pernikahan aku dan Digo sudah 1 bulan dan hari ini tepatnya 1 bulan sudah Diego melakukan itu denganku pertama kalinya."
Aruna menggerutu sendiri ia melihat kalender di sana yang mana teringat kejadian 1 bulan yang lalu tepat 1 bulan sudah Digo memilikinya dan pertama kali Digo keberhasilan mengambil perawannya.
Aruna jadi ketar-ketir sendiri meskipun belum jatuh tempo,.biasanya ia menstruasi masih ada 3 hari lagi tetapi Aruna merasa was-was, ia takut jika dirinya hamil. Bukan karena malu, Aruna juga sudah bersuami yang pastinya Aruna sendiri belum mampu dan kondisinya yang masih sekolah tidak memungkinkan jika dirinya hamil apalagi usia yang masih muda.
Setelah mengecek kalender menstruasinya Aruna bergegas mengambil barang yang ada di dalam tasnya ia mengecek lagi apakah ia lupa untuk mengkonsumsi penunda hamilnya setiap malam.
Dan Aruna lega setelah ia mengecek ternyata tidak pernah melewatkan satu butir pun dan itu berarti sekarang ia masih aman, tunggu tiga hari lagi baru Aruna akan benar-benar melakukan tes apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak.
Tidak mau jika Aruna segera mengembalikan obat itu ke dalam tasnya tentu saja ke dalam tempat tersembunyi yang mana tidak diketahui oleh suaminya.
__ADS_1
Grepp
Aruna kaget tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluk tubuh nya dari belakang tentunya ia takut jika Digo mengetahui apa yang dilakukan, yang pastinya suaminya itu akan marah besar dengan perbuatannya karena Aruna tahu jika Digo sangat menginginkan jika dirinya hamil, meskipun Aruna sudah beberapa kali mencoba untuk mengatakan kalau dirinya belum siap tetapi sepertinya Digo tidak menggubrisnya bahkan ia mengatakan kepada Aruna akan sama-sama untuk menjaga anaknya nanti jika memang Aruna benar-benar hamil dan melahirkan.
"Kenapa nggak masuk ke kamar mandi tapi berada di sini? apa yang kamu pikirkan sayank?"
Aruna lega, yang nyatanya suaminya tidak menaruh curiga apa pun padanya, hingga akhir nya Aruna melepaskan tangan Digo dan menatap ke arah suaminya takut takut kalau suaminya hanya pura-pura.
"Nggak ada, aku hanya mengecek apakah PR ku sudah aku kerjakan semuanya semalam atau tidak."
Sanggah Aruna yang mana ia bahkan sudah mengeceknya semalam dan tidak ada yang terlewatkan, ya hanya itu yang bisa diucapkan oleh Aruna tanpa membuat suaminya curiga.
"Apa jangan jangan kamu memikirkan anniversary kita yang sebentar lagi akan1 bulan? bagaimana kalau minggu depan kita rayakan? kebetulan pas tanggal itu weekend jadi kita bisa jalan-jalan dan menikmati bulan madu yang entah ke berapa kalinya, tetapi maaf sayang aku tidak bisa mengajak kamu jalan jalan ke luar negeri atau ke tempat-tempat favoritmu yang jauh dari sini, mungkin kita hanya bisa pergi ke Bandung atau Bogor sembari mencari suasana yang baru dan juga melakukan kegiatan yang menyenangkan yang belum pernah kita lakukan."
Aruna kembali merasa lega yang pastinya suaminya tidak mencerca pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bingung harus menjawab apa tetapi malah Digo berpikir jika Aruna kepikiran tentang anniversary nya yang baru menginjak satu bulan itu minggu depan.
"Terserah kamu saja Di, aku tidak memaksakan dan juga meminta untuk jalan-jalan, aku tahu jika kamu akhir-akhir ini sibuk."
__ADS_1
Ya setelah bermalam di rumah kedua mertuanya, Digo hari Senin itu langsung saja mengunjungi Papah Adi di perusahaan tentu saja Digo harus memperlajari seluk beluk perusahaan Papa Adi yang nyatanya memang berbanding terbalik dengan perusahaannya, tetapi karena otak Digo yang pintar dan juga encer, laki-laki itu bisa cepat menyesuaikan diri bahkan saat ini Digo sudah mempunyai jadwal khusus yang ia peruntukan untuk ke perusahaan Papa Adi dan sudah memegang salah satu perusahaan milik Papa Adi, belajar sedikit demi sedikit hingga Digo benar-benar menguasai semua perusahaan yang Papah Adi miliki.
Tentunya bukan karena Digo matre atau ingin menguasai Perusahaan Papah Adi tetapi ia hanya membantu Papa mertuanya saja karena memang tidak ada yang benar-benar bisa membantu karena hanya Aruna lah putri satu-satunya dan sama sekali tidak akan membiarkan istrinya itu bergabung di dunia bisnis, sembari menunggu nanti anak-anaknya lahir, Digo akan berjuang keras untuk tetap bertahan tanpa perusahaan milik Papanya tanpa mengesampingkan perusahaannya sendiri dan juga bisnis-bisnis yang lainnya.
"Maaf sayank jika akhir-akhir ini aku sibuk tetapi weekend nanti aku tidak akan membiarkan Kamu kesepian, dan weekend kita akan mengatur jadwal untuk pergi ke Bogor selama 2 hari 2 malam kita berangkat hari Sabtu dan pulang dari sana Senin pagi tentu saja aku akan mengatur jadwal semua supaya tidak ada yang mengganggu kita."
Aruna hanya menganggukan kepalanya, kalau Digo sudah berkata seperti itu ia tidak bisa berbuat banyak lagi, lagi pula beberapa hari ini Aruna sibuk begitu juga dengan Digo yang tambah sibuk dengan banyaknya pekerjaan yang membuat dirinya pusing dan ingin sekali jalan-jalan, ya meskipun Aruna sudah minta ijinĀ Digo dan diperbolehkan untuk jalan-jalan ke mall bersama dengan Vina tetapi hanya seputaran ini saja, dan Digo selalu mengawasi Aruna supaya tidak ada yang melirik istrinya. Aruna butuh tempat dan hiburan yang baru dan pastinya untuk menyegarkan pikirannya terlebih lagi Aruna yang belakangan ini kepikiran tentang dirinya apakah dirinya benar-benar hamil atau sekedar hanya telat beberapa hari saja seperti yang biasa-biasa Aruna alami.
Cup
"Jangan kepikiran lagi, Aku janji tidak akan mengacaukan rencana kita nanti, aku akan mengatur jadwal dengan sekretaris aku dan juga sekertaris Papa di sana, yang pastinya weekend ini tidak ada yang bisa mengganggu kita. Mandi bareng yuk sayank, sepertinya masih ada waktu satu jam lagi untuk kamu memanjakan aku di sana."
"Ah...."
Tanpa menunggu jawaban dari Aruna, Digo langsung menggendong tubuh istrinya laki-laki itu pasti tahu jika Aruna akan menolak mandi bersama pagi ini namun sayang sekali asal adikku yang sudah memuncak membuat laki-laki itu dengan cepat menggendong tubuh Aruna tanpa mendapatkan jawaban dari istrinya.
"Selalu saja memaksa, bagaimana jika aku tidak mau?"
__ADS_1
"Aku akan paksa kamu dan pastinya kamu tidak akan pernah menolak apa yang aku lakukan, tentu saja aku tahu jika kamu sudah terlena dengan sentuhan-sentuhan yang aku berikan dan tidak akan mampu untuk keluar dari jerat pesonaku."