
"Terima kasih sayank, I love you."
Digo kemudian menggeser tubuhnya, ia lalu memposisikan tubuhnya saat ini di samping Aruna dan tentu saja dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya Aruna.
Laki-laki itu kemudian memeluk Aruna , membuat perempuan cantik itu tidak bisa bergerak dan juga sesak dengan pelukan erat yang diberikan oleh suaminya.
"Bagaimana, kamu puas nggak yank?"
Aruna menatap tajam mata suaminya, tentu nya pertanyaan macam apa itu yang diucapkan oleh suaminya hingga membuat Aruna sendiri bingung apa yang harus ia jawab, bahkan Aruna juga tidak tahu menahu harus menjawab apa.
"Ya sudah kalau tidak mau jawab tetapi aku juga mau lagi."
"Lagi pula percuma juga akan menjawab pasti kamu juga akan melakukannya lagi."
"Itu kamu tahu yank dan kamu mau ke mana?"
Digo tentu saja menahan tangan Aruna, ia tidak mau istrinya buru-buru untuk pergi dari atas ranjangnya karena Digo sendiri masih ingin memeluk dan menghirup aroma tubuh Aruna sore ini.
"Mau mandi, aku gerah Di, lagi pula aku tidak enak dengan Mami, setelah ini kita turun ke bawah."
"Untuk apa turun ke bawah, pastinya makan malam sudah selesai tinggal kita berdua saja yang belum makan."
"Bukan begitu, apa kamu mau mengurungku semalaman di sini dan tidak memberikan aku makan?"
Protes Aruna yang mana sepertinya Digo melarangnya untuk turun dari ranjang, pastinya akan berpikir jika suaminya itu ini aneh-aneh lagi padanya.
"Bukan begitu sayank, tapi tunggu sebentar.."
Digo membuka selimutnya, kemudian ia beranjak dari atas ranjang menuju ke sebuah meja, tempat di mana ia menaruh sesuatu untuk istrinya dan tentu saja Digo berjalan tanpa menggunakan penutup pakaian apapun juga hingga si Joni terlihat menantang di sana.
Ya kebanyakan jika habis melakukan aksi panas, maka senjata laki-laki akan lemas tapi tidak dengan Digo , entah apa yang dipikirkan oleh Digo saat ini namun Digo PD saja untuk berjalan menuju ke meja di mana ia menaruh beberapa barang untuk Aruna.
__ADS_1
Astaga kenapa dia PD sekali tidak mengambil selimut apa-apa pun untuk menutupinya dan juga itu kenapa si Joni masih berdiri seperti itu dan pastinya Aku khawatir jika nanti Digo melakukan aneh-aneh lagi...
Aruna menggelengkan kepalanya, tentu saja ia langsung memalingkan wajahnya untuk tidak melihat ke depan, tidak melihat bagaimana reaksi dari Joni yang saat ini masih berdiri tegak tetapi si empunya malah santai-santai saja dan tidak menutupinya.
Hingga Aruna dengan perasaan entah menutup mukanya dengan bantal yang pastinya perempuan cantik itu tidak ingin otaknya kembali tercemari dengan apa yang dilihat.
"Kenapa sayank? kamu terpesona? dibuka saja bantalnya, bukannya kamu sudah pernah melihatnya berkali-kali dan merasakannya?"
"Jangan bercanda Di, aku sudah gerah ingin mandi dan apa yang kamu lakukan di sana?"
Pastinya Digo bukan hanya mengambil bunga dan es krim untuk Aruna tetapi laki-laki itu juga mengambil kalung yang sudah dibelinya beberapa hari yang lalu.
"Sayank, untuk kamu. Jangan dilihat dari harganya tetapi lihat lah dari ketulusan yang aku berikan untuk kamu."
Ucap Digo yang saat ini sudah menghampiri Aruna dengan masih dalam keadaan seperti itu, Digo membawa buket bunga beserta es krim di tangannya dan juga ada sebuah kotak yang taruh di saku celananya.
"Terima kasih, tetapi dalam rangka apa?aku tidak ulang tahun hari ini dan aku juga tidak mendapatkan juara?"
"Memberikan sesuatu itu bukan hanya untuk kalau pas ulang tahun atau ada momen tertentu saja, bagi aku setiap aku ingin memberikannya kepada kamu itu juga aku sendiri tidak tahu yang aku ingin kan ya akan aku berikan. Dan ini semuanya khusus untuk kamu Karena aku belum tulus menyayangi dan mencintai kamu."
Aruna mengambil buket bunga, kemudian menyimpannya di samping tempat tidurnya ingat tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas apa yang sudah dilakukan oleh istri suaminya itu yang mana di gu benar-benar perhatian dan juga romantis.
"Sayank ini es krim kesukaan kamu..."
Aruna membuka mulutnya ia kalau masalah makanan tidak akan segan-segan melunaknya terlebih lagi yang memberikan saat ini adalah suaminya sendiri yang mana memang es krim yang sedang ia makan ini adalah benar-benar es krim favoritnya.
Jangan tanyakan lagi dari mana Digo mengetahuinya, Aruna saja tidak ingin bertanya seperti itu yang pastinya ia sudah tahu jika suaminya itu mencari tahu semua hal tentang dirinya.
"Makasih Di, lain kali jangan repot-repot seperti ini."
Ujar Aruna yang tidak enak dengan suaminya yang mana Diko benar-benar perhatian kepadanya tetapi Arora sendiri belum bisa membalas semua yang dilakukan oleh suaminya itu karena di dalam hatinya masih ada rasa sesuatu yang mungkin karena sendiri tidak tahu kapan rasa jengkel dan marah terhadap diriku itu masih bersarang di dalam hatinya.
__ADS_1
"Sama-sama sayank, aku tidak repot kok, aku benar-benar tulus memberikan ini sama kamu dan tentu saja tidak mengharapkan imbalan, hanya aku meminta untuk kamu belajar mencintai aku saja dan tidak berpaling dariku."
Sembari menikmati es krimnya, Aruna mengaggukan ngawur kan kepalanya yang mana Digo begitu tersenyum melihat ekspresi Aruna saat ini di mana Aruna begitu menggemaskan ketika menikmati es krim dengan kulit buatan terkena es krim.
Cup
"Is jorok!!"
Aruna memukul dada Digo, di mana suaminya itu malahan mengusap bibirnya dengan bibir Digo yang Aruna tahun tujuan adalah untuk membersihkan sisa es krim yang menempel di bibirnya.
"Tidak masalah sayank, aku suka melakukannya lagi pula kamu adalah istriku."
Setelah membersihkan sisa es krim di bibir Aruna, Digo kemudian meletakkan bekas es krim itu di tempat sampah lalu mengambil sesuatu di dalam sakunya.
"Ini untuk kamu?"
Lagi lagi Aruna dibuat melongo dengan apa yang dilakukan oleh yang kali ini suaminya itu malah memberikan sebuah kotak dari dalam sakunya.
"Apalagi Di, bukannya tadi sudah?"
Bukan Aruna tidak tahu tetapi iya hanya saja bingung dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu di mana saat ini malahan memberikannya sebuah kotak dan tentu saja Aruna yakin jika di dalamnya itu berisi sebuah perhiasan entah itu atau entah itu kalung cincin ataupun gelang.
"Ini beda lagi sayank, dibuka ya nanti aku pasangkan."
Aruna hanya mengangguk patuh, perempuan cantik itu langsung saja membuka kotak dan tentunya seketika Aruna membulatkan matanya yang mana Di dalam seni berisi sebuah kalung cantik yang sudah dipastikan jika harganya itu sangat mahal.
Setelah mengetahui apa yang ada di dalam isi kota Aruna menggelengkan kepalanya ia bingung antara ingin menerima ataupun tidak namun jika tidak menerimanya pastinya Digo akan marah tetapi Aruna tidak enak karena pastinya kalau itu harganya sangat mahal
"Tidak perlu repot-repot memberikan aku seperti ini Di, ini pasti sangat mahal sekali?"
Protes Aruna, bukannya ia tidak suka dengan pemberian suaminya tetapi ia tidak enak saja diriku sudah berulang kali memberikannya bermacam-macam hadiah meskipun itu tidak sebesar ini yang pastinya ia tidak mau jika dicap sebagai perempuan materai yang suka dengan harta saja.
__ADS_1