
"Jangan cemberut... Senyum sayank... Aku sudah membuktikan betapa aku sangat mencintai kamu dan hanya kamulah perempuan satu-satunya yang aku sentuh."
Cup
Digo melabuhkan ciumannya di bibir Aruna hingga perempuan cantik itu memalingkan wajahnya kemudian bergegas untuk berganti pakaian.
Digo yang memang mengajak Aruna mandi,.sepertinya tidak mandi saja tetapi laki-laki itu lagi lagi melakukan sesuatu yang mengenakkan dan tentu saja itu yang membuat ekspresi wajah Aruna menjadi jengkel seperti ini.
Tidak tahu saja di dalam pikiran Aruna saat ini gelisah kalau saja jika Papi mertuanya itu marah dengan nya karena sudah menunggu Digo sedari tadi tetapi mengapa suaminya malah sampai seperti itu sepertinya Digo santai sekali meskipun sudah telat beberapa jam yang lalu.
Begitu juga dengan Mami Nina,.beliau pasti sudah menunggunya sedari tadi menunggu untuk mengajak Aruna jalan-jalan ke mall menikmati hari-hari berdua tanpa ada gangguan juga sama sekali.
"Jangan khawatir, aku sudah menghubungi Mami kalau mengantar kamu nanti agak telat."
Selalu saja begitu, suaminya selalu gerak cepat padahal sedari tadi Aruna sudah khawatir tetapi Digo malah santai-santai, eh ternyata Digo sudah mengirimkan pesan kepada Mami Nina dan juga Papi Rendra tentang kedatangan yang terlambat.
Tidak ada yang harus diucapkan Aruna lagi, perempuan itu bergegas untuk menyisir rambutnya yang masih terlihat basah meskipun sudah ia keringkan tadi.
Sementara Digo menatap takjub ke arah istrinya yang mana setelah mandi malahan lebih segar saja terlebih lagi dengan pakaian yang baru saja dikenakan oleh Aruna yang pas sekali sesuai dengan usia Aruna yang remaja tetapi sudah menikah.
Digo memang sudah menyiapkan, ia sudah meminta kepada anak buahnya itu untuk membelikan pakaian untuk Aruna dan juga untuk dirinya.
__ADS_1
"Cantik sekali istrinya Digo, Kalau begini aku jadi tidak ingin kamu jalan-jalan dengan Mami, bagaimana kalau ikut ke perusahaan saja supaya hanya aku yang bisa melihat wajah cantik kamu."
"Iya, aku ikut ke perusahaan tetapi jangan harap nanti malam kamu bisa tidur satu kamar denganku apalagi meminta sesuatu dariku."
Ancam Aruna yang mana ia sudah jengkel dengan suaminya bisa-bisanya mengatakan seperti itu padahal ia sudah semangat sekali bercerita dengan Mami Nina nanti, dan untuk jalan-jalan berdua dengan Mami mertuanya.
"Eh jangan dong, iya iya aku anterin ke butiknya Mami tapi jangan lama-lama nanti di mall-nya dan jangan nanggapin kalau ada laki-laki ya melihat ke kamu dan juga tidak boleh kenalan dengan lagi laki-laki lain, kalau laki-laki itu masih ngeyel bilang saja kalau kamu sudah mempunyai suami dan suamimu itu sangat tampan dan juga kaya raya dan juga sangat mencintai kamu."
"Lebay!!"
Tidak mau menanggapi apa yang diucapkan Digo, sesuatu yang memang Digo sangat lebat terhadap Aruna tetapi itu dilakukan karena benar-benar mencintai Aruna dan tidak ingin kehilangan Aruna.
Hingga akhirnya perempuan cantik itu keluar dari kamar hotel tanpa menunggu suaminya.
Nyasar dari mananya jelas-jelas di sini hanya ada beberapa kamar dan tentu saja kamar khusus untuk pemilik hotel ini dan sudah dipastikan jika Aruna masuk ke dalam lift tinggal tekan tombol paling bawah saja dan itu sudah menuju ke lobby di mana memang lantai paling atas ini diperuntukkan khusus ruangan pemilik hotel.
Dengan cepat Diego menyusul Aruna, setelah ketangkap, laki-laki itu segera menggandeng tangan Aruna dan tidak akan membiarkan Aruna lepas sama sekali dikunjungi dengan cepat meraih tubuh Aruna juga dan membawa aroma keluar dari hotel ini
Laki-laki itu mempercepat langkah kakinya bukan karena ia takut jika ketahuan Digo sedang berduaan di dalam hotel dengan Aruna tetapi menghindari tatapan-tatapan laki-laki yang saat ini melihat ke arah Aruna.
Digo tau kalau sedari tadi banyak laki-laki hidung belang yang melirik ke arah istrinya, sepertinya laki-laki itu terpesona dengan kecantikan Aruna yang mana yang menjelang sore ini tampak segar sekali dan sudah dipastikan jika mereka semua mengincar istrinya yang tidak dipungkiri lagi Arun setelah menikah itu benar-benar sangat membuat resah para laki-laki.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan hampir lima belas menit akhir nya mereka berdua sudah sampai di butik di mana Mami Nina sudah menunggu Aruna sedari tadi.
Memang Digo sudah memberikan pesan kepada Mami Nina untuk sedikit terlambat mengantarkan Aruna tetapi Mami Nina tidak tahu jika keterlambatan Aruna itu karena ulah dari putranya sendiri yang mana malahan berbuat yang tidak tidak dan sengaja menuju ke kamar hotel.
"Gara-gara kamu, Mami dan Aruna telat jalan-jalan.. oh sekarang Mami tahu kenapa kamu mengirimkan pesan kepada mami?"
Mami Nina sengaja menunggu Aruna dan Digo di depan butik, beliau ingin melihat bagaimana putranya itu yang mengantarkan Aruna ke sini.
Tentu saja setelah melihat Aruna dan Digo turun dari mobil, Mami Nina menggelengkan kepalanya pelan, ia paham betul dengan ekspresi wajah Digo yang tersenyum dengan rambutnya yang masih basah dan juga nampak segar, berbeda dengan Aruna yang cemberut .. sepertinya memang putra bungsunya itu sudah memaksa Aruna untuk melakukan kegiatan yang iya-iya.
"Tentu saja dong Mi, kita kan pengantin baru ... lagi pula sudah sah dan bagaimana kalau aku tidak mendapatkan jatah siang ini pastinya aku tidak bisa bekerja dan kepalaku pusing tujuh keliling."
Menjawab apa yang ada di dalam pikiran Mami Nina, Digo mengatakan segamblang itu kepada Maminya, bahkan dengan tanpa malu-malu dan juga dengan ekspresi yang begitu gembira, padahal malam ini sendiri tidak bertanya tentang apa yang sudah dilakukannya.
"Sudah, suami sepertinya kamu memang perlu beri pelajaran agar tidak mendekati istri kamu lagi. Kamu tidak kasihan dengan Aruna?"
"Tidak masalah ya sayank, kita melakukannya juga sama-sama senangnya. Dan nanti Mami jangan ngajakin istriku jalan-jalan yang melelahkan dan juga cepat pulang ke rumah, aku tidak mau jika Mami mengajak istriku jalan-jalan hingga lupa waktu."
"Astaga ... cerewet sekali kamu, Papi saja tidak pernah melarang Mami kemana-mana bahkan tidak pernah memberikan waktu kepada Mami untuk pulang jam berapa dan jangan lama-lama, kenapa kamu bisa cerewet seperti ini. Ayo sayank, jangan diperdulikan omongan Digo.. memang laki-laki seperti itu dan kita lebih baik jalan-jalan saja menikmati pemandangan sore ini tanpa gangguan suami kamu yang rese."
Jengkel dengan Digo Mami Nina segera menarik tangan Aruna untuk masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Digo yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
Sementara Digo melihat kepergian istri dan juga Mami Nina dengan tersenyum penuh kemenangan, di dalam hati memang ia begitu gembira sudah menikah dengan Aruna yang nyatanya memang pilihannya itu sangat tepat dan bisa membuat Maminya bahagia dengan mempunyai teman yang bisa diajak untuk jalan-jalan dan juga shopping.