My Crazy Husband

My Crazy Husband
PERMAINAN #MCH1


__ADS_3

Kediaman Keluarga Mahendra


Aashna sedang duduk di atas ranjang besarnya, dengan tatapan kosong dan mata yang menyorotkan kesedihan.


Cukup lama hingga ketukan pintu membuat lamunannya buyar.


Tok tok tok


"Masuklah" ucap Aashna


"Nona, makan malam sudah siap. Tuan besar memintamu untuk turun. " tutur amithi


"Kau turunlah lebih dlu, aku akan segera turun" saut aashna


Amithi menganggukkan kepalanya, dan pergi dari kamar Aashna. Kamar yang mewah dan besar. Jika di bandingkan dengan rumah nya di kalimantan, indonesia. Kamar Aashna sebanding dengan ruang tamu rumah nya dulu.


Aashna bergegas turun dan menyiapkan mentalnya. Tentu saja seperti makan malam biasanya. Ibu citra, ibunda akash dan istri dari Rajesh mukesh mahendra akan menatapnya dengan tatapan tajam seolah dia siap menerkam aashna kapanpun dia mau. Aashna harus menerima perlakuan wanita itu, karna bagaimanapun ini adalah keluarganya, rajesh adalah ayahnya dan akash adalah kakanya. Dia ingin lari tapi tidak bisa. Aashna juga ingin bebas tapi juga tidak bisa. Ini lah takdirnya. Aashna merasa dia harus menghadapi segalanya.


saat aashna keluar dari kamarnya dan turun ke bawah karna letak kamar aashna yang berada di lantai atas sedangkan ruang makan d bawah. Aashna melihat semua orang sudah di meja makan, dan menatapnya.


"Kenapa kau lama sekali? " tanya rajesh dengan wajah datar.


"Maaf ayah" saut aashna


"Kemarilah Aashna. Mari kita makan. Bersama" pinta akash


Aashna tersenyum dan menatap tatapan lembut akash dengan tatapannya yang hangat. Aashna bersyukur setidaknya selain amithi, pelayan pribadi aashna, ada akash yang baik dan perhatian kepadanya. Sedangkan ayahnya, selalu bersikap dingin. Dan ibu citra? Seperti biasanya, Sejenak menatap aashna dgn tatapan tidak suka lalu acuh dan bersiap menyantap hidangan yang di siapkan beberapa pelayan rumah ini.


Aashna duduk dan menyantap hidangan makan malamnya begitupun yang lain.


Tak ada yang berbicara, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring perak mereka.


Rajesh lebih dulu berdiri dan beranjak pergi, tapi baru beberapa langkah. Dia berbalik ke belakang dan menatap aashna.


"Kembalilah kekamarmu! besok kita akan ke kediaman keluarga pratama, kita akan membicarakan pernikahanmu yang akan d langsungkan bulan depan " tutur rajesh


Aashna membulatkan matanya dengan sempurna. "Apa? Bulan depan? " gumam aashna dalam hati.


"Kenapa sangat cepat rajesh? " tanya citra


"Iya ayah, apakah ini tidak terlalu cepat? " tutur akash


"Bukankah lebih cepat lebih baik? " saut rajesh


"benar rajesh. Tapi maksud kami bukan kah kita harus menyiapkan segalanya dengan baik? Jika bulan depan, aku hanya takut acara tidak terselenggara dengan baik. Dan kau juga tau ada begitu banyak rekan bisnismu dan juga teman temanku yang akan menghadiri pernikahan putri kita " tutur cinta


Aashna hanya mendengarkan mereka tanpa ikut berkomentar, aashna juga menatap citra dengan tatapan menjijikan. Entah kenapa, mendengar citra menyebutnya putri nya aashna rasanya sangat mual.

__ADS_1


"Kau tenanglah. Tentu semuanya akan berjalan dengan baik. tidak perlu khawatir" saut rajesh


"Baiklah"


Citra menatap aashna, lalu ikut berjalan di belakang rajesh, meninggalkan meja makan mewah mereka.


Aashna menghela nafas berat, ketika hendak berdiri. Akash menghentikannya.


"Jangan khawatir aashna, ku dengar dia laki laki baik dan lembut kepada wanita. Kau akan bahagia bersamanya" tutur akash dengan senyum dan tatapan hangat. Berusaha menenangkan adiknya itu.


"Tapi ka, aashna tidak mengenalnya" tutur aashna dengan mata berkaca kaca


"Pernikahan adalah salah satu fase kehidupan yang di impikan setiap wanita ka, dan tentu setiap wanita memiliki khayalan kehidupannya ketika sudah menikah, aku pun begitu. Aku ingin menikah dengan laki laki yang kucintai" aashna berusaha menahan air matanya. Dan suaranya sudah agak serak.


akash yang melihat raut wajah aashna, berusaha menenangkan nya dengan mengenggam tangan gadis cantik itu.


"Kau akan mengenalnya, dan kau akan mencintainya" saut akash.


Akash berusaha tersenyum, sebenarnya akash juga menentang perjodohan ini, dan meskipun akash juga tau bahwa keputusan ayahnya tidak akan berubah, akash tetap berusaha membujuk ayahnya agar membatalkannya tapi hasilnya tentu sama.


Akash ingin memeluk gadis di hadapanya, tapi aashna sudah berdiri hendak kekamarnya.


"Aku permisi ka" pamit aashna


Dengan langkah yang cepat, aashna ingin segera sampai kekamarnya. Aashna tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah membendung d pelupuk matanya.


Brak


Air matanya berurai, semakin deras air matanya menunjukan aashna sangat terluka dan tidak berdaya.


Tok tok Tok


"Aashna, apa kau baik baik saja? " suara akash dengan setengah berteriak karna agak panik.


Aashna menghapus air matanya dengan kasar.


" aku baik baik saja ka, pergilah" saut aashna


Aashna tidak mendengar suara ketukan di pintu lagi.


"Semuanya akan baik baik saja aashna" batin aashna berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Ya aashna sdh biasa dengan masalah dan menyelesaikannnya sendiri. Aashna selalu mengatakan kepada dirinya, semua akan baik baik saja.


Kediaman keluarga pratama


Angga tengah berdiri di kamarnya, menatap ke arah luar. Dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Tok tok tok


"Tuan, ada nona dinda di luar" suara bi ana dengan setengah berteriak.


Lamunan angga buyar, dan segera membuka pintu


"Nona dinda ada d ruang tamu tuan" kata bi ana, wanita paruh baya yang sudah sejak lama mengabdi pada keluarga pratama.


"Panggil saja dia kesini bi! " Perintah angga


"Baik tuan" saut bi ana


Bi ana beranjak pergi keruang tamu, melaksanakan perintah dari angga, tuan mudanya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


Angga kembali menatap keluar dengan tatapan senduhnya.


"Angga, ku mohon jelaskan padaku! " suara dinda


Angga berbalik dan menatap dinda dengan tatapan hangat. Angga menghela nafas berat.


"Maafkan aku din, ini permintaan ibu. " tutur angga


"Jelaskan kepadaku semuanya!" dinda membentak angga


Angga tidak heran. Selama ini angga dan dinda bersikap professional. Selama d kantor mereka bersikap layaknya boss dan sekretaris. Sedangkan d luar kantor mereka sahabat.


Angga menatap dinda, tentu saja angga sudah tau tentang perasaan dinda. Dia tau bahwa dinda selama ini menaruh rasa ke angga. Angga pun begitu, Meski sama sama tidak saling mengungkapkan mereka sudah saling mengerti dengan tatapan saja.


"Maafkan aku" hanya itu yang keluar dari bibir angga


"Ku dengar bulan depan kau akan menikah, angga aku mohon hentikan pernikahan ini. Aku tidak bisa kehilangan mu! " tutur dinda dengan mata yang sudah penuh dengan air mata yang beuraian.


"Aku tau, kau juga memiliki rasa yang sama seperti ku angga. Aku mencintaimu. Maafkan aku selama menjalin persahabatan aku tidak pernah mengungkapkan nya. Karna aku takut mengahancurkan persahabatan kita. Aku mohon hentikan pernikahan ini angga"


Angga menatap wajah cantik dinda, lalu menepis dengan lembut air mata yng ada di pipinya.


"Tenanglah. Ini bukan pernikahan. " saut angga dengan tatapan yang demi apapun dinda tidak tau apa arti dari tatapannya itu. Angga menatap ke sembarang arah lalu kembali menatap mata dinda dengan tatapan lembut.


"Kemarilah! " pinta angga


Dinda mendekat ke angga, angga menarik pinggang ramping itu dan memeluknya dengan erat.


"Jangan khawatir, ini hanya permainan"


Angga mengecup kening dinda, dinda membalas pelukan angga dan dinda semakin memasukan wajahnya ke dada bidang angga. bagi dinda, pelukan ini selalu bisa menenangkan. Ketika dulu dinda ketakutan, pelukan ini juga yang menenangkan. Dan hingga hari ini, masih sama. Dan dinda harap akan terus seperti ini.


Bersambung

__ADS_1


Hai readers. 😊


Kalau suka jangan lupa like, komen dan dukung author ya. Satu like dri kalian sangat berharga bagi saya :)


__ADS_2