My Crazy Husband

My Crazy Husband
Kenalan


__ADS_3

"Firman...."


"Digo..."


Kedua laki-laki tampan itu saling berjabat tangan, baik Firman maupun Digo mengulurkan tangannya dan tersenyum, mereka masing-masing tidak tahu jika perempuan yang ada di dalam hati mereka itu adalah perempuan yang sama, Aruna...yang mana sudah menjadi istri Digo tetapi juga sudah membuat Firman tidak bisa tidur beberapa hari ini karena mengingat terus pertemuan pertamanya dengan Aruna.


"Silakan duduk Pak Firman dan mari kita mulai meetingnya."


Ujar Digo karena memang hanya Firman saja yang belum ada di dalam ruangan meeting, pastinya Digo tau, tanpa Firman mengatakan alasannya, Digo mengerti jika memang jam-jam begini itu terjadi kemacetan lalu lintas dan juga tidak mempermasalahkan itu.


Digo jjuga tidak akan menunda-nunda waktu, bukan berarti yang ingin segera menyelesaikan semuanya secepatnya memang karakter Digo seperti itu jika semuanya sudah hadir maka meeting itu harus segera dilakukan terlebih lagi ada Aruna di sini dan juga Digo sendiri tidak mau membuat istrinya terlalu lama menunggu meskipun meetingnya hanya berlangsung sekitar satu jam saja.


"Terima kasih tetapi jangan panggil bapak sepertinya usia kita tidak begitu jauh dan saya belum menikah."


"Oh ya mana mungkin Bang Firman belum menikah bukannya Bang Firman itu ..."


Ya Digo mengubah panggilannya sesuai permintaan dari Firman karena memang Firman merasa ia belum begitu tua dan usia Firman itu sama dengan usia Nathan yang berarti memang Firman lebih pantas dipanggil dengan sebutan Abang, tidak bapak karena memang Firman juga belum menikah.


"Terlihat tua begitu?"


Sela Firman dengan cepat dan menatap ke arah Digo, bulan tatapan permusuhan atau bagaimana tetapi Firman tersenyum sembari menanyakan kepada Digo atau memang benar ia terlihat tuh tua atau bagaimana.

__ADS_1


"Bukan begitu Bang, tetapi mana mungkin laki-laki tampan, sukses dan juga kaya raya seperti Abang itu belum menikah, seperti nya perempuan itu bodoh karena tidak mau dengan Bang Firman..."


Ya, tentunya bukan Digo saja yang heran tetapi Papi Rendra dan juga Papah Adi dan semua klien penting Digo di sana juga heran, mengapa laki-laki yang sudah cukup umur, dewasa, tampan dan juga mapan itu belum menikah, sementara Digo yang masih kecil saja sudah menikah meskipun pernikahan Digo masih dirahasiakan dan mereka semua tahunya jika Digo hanya bertunangan dengan Aruna.


"Tetapi memang kenyataan begitu, aku belum menikah sama sekali bahkan pacar pun belum punya, lalu bagaimana?"


Firman tersenyum, memang ia berkata jujur meskipun ada satu perempuan incarannya namun kan belum benar-benar perempuan itu juga mempunyai rasa kepada Firman.


"Oh ya sepertinya memang perempuan-perempuan itu perlu diruqiah Bang, masa' tidak mau sama abang yang sudah sempurna ini..."


"Yah mau bagaimana lagi nyatanya juga seperti itu..."


Setelah sedikit berbasa-basi Digo akhir yang memulai meeting itu dan tentu saja ini bukan pertama kalinya Digo melakukan meeting dengan klien klien penting lainnya, dan Digo juga sudah menguasai semuanya bahkan Digo sudah berkali-kali memenangkan tender dari perusahaan-perusahaan terbesar dari di dalam negeri maupun di luar negeri.


"Ada acara tidak? bagaimana kalau kita ngopi ngopi sebentar sepertinya belum waktunya untuk pulang ke rumah..."


Yang hanya memerlukan waktu tiga puluh menit saja tetapi Digo sudah menyelesaikan meeting itu dan semua setuju dan sepakat dengan hasil keputusan yang diucapkan oleh Digo barusan, hingga akhirnya Firman yang sedang jenuh dan ingin nongkrong sebentar, mengajak Digo untuk sekedar ngobrol-ngobrol karena sepertinya memang baik firman maupun Digo terjadi kecocokan, keduanya sama-sama laki-laki tampan dan mungkin saja mereka bisa berteman walaupun usianya terpaut jauh.


Digo tidak menjawab dulu tetapi laki-laki itu tersenyum dan ia bingung, di satu sisi tidak mungkin ia menolak ajakan Firman, apalagi laki-laki yang baru dikenalnya itu ingin menceritakan segala sesuatunya yang menyangkut soal laki-laki tetapi di satu sisi juga ada Aruna di sini bagaimana dengan Aruna, meskipun jika digo mengajak Aruna, pastinya Firman juga tidak keberatan, tetapi Lagi Dan Lagi Digo khawatir dan ketar-ketir jika nanti malahan Firman itu tertarik dengan Aruna karena memang istrinya itu terlihat sangat mempesona dan juga Firman yang jomblo dan sedang ingin mencari seorang perempuan yang bisa dijadikan istrinya.


Sementara Firman ngobrol panjang dan lebar dengan mertua dan juga Papahnya Aruna, sembari menunggu Digo yang mengambil ponsel, dan juga jngin mengecek bagaimana istrinya itu tentu saja ia juga ingin menghubungi istrinya dan meminta izin kepada Aruna untuk keluar sebentar ya keputusan Digo ia ingin pergi dengan Firman tanpa mengajak Aruna yang pastinya cukup khawatir jika nanti malah Firman tertarik dengan istrinya itu lagi pula hanya sebentar saja ngopi di cafe sebelah.

__ADS_1


Lega yang dirasakan oleh Digo ketika laki-laki itu sudah mengambil ponsel dan membaca pesan yang dikirimkan oleh istrinya itu, yang mana sedari tadi aroma mengabarkan arona sudah pergi tiga puluh menit yang lalu bersama dengan Vina yang pastinya.


"Oke boleh saja tetapi aku nggak bisa lama-lama loh Bang masih ada urusan."


Akhirnya Digo mengiyakan saja ucapan dari Firman yang mengajak dirinya untuk nongkrong-nongkrong di cafe sebelah, setelah Digo juga membalas pesan Aruna dan memastikan jika istrinya itu memang baik-baik saja.


Firman mengangguk yang nyatanya memang ia bukan tipe laki-laki yang suka nongkrong sampai malam, cukup 1 atau 2 jam saja itu sudah lebih cukup lebih lagi iya yang memang baru pertama kali mengenal dan bertemu dengan Digo, jadi tidak lucu jika terlalu lama karena belum sama-sama mengenal satu sama lain.


Tetapi sebelum berangkat ke cafe sebelah Digo ingin mengambil sesuatu dulu di ruangan pribadinya dan sekali lagi memastikan kepada karyawannya yang bertugas di depan ruangan Digo dan juga memastikan kondisi istrinya itu baik-baik saja tentunya dengan Diego menelepon sebentar istrinya.


"Tuan Adi...."


Sapa Firman yang pelan-pelan mendekati Papahnya Aruna tentu saja Firman juga berjabat tangan dengan Papah Adi itu.


"Kayak siapa saja Fir, panggil Om seperti biasanya,  kita tidak sedang meeting dan di sini tidak banyak orang."


"Oh iya Om, Om tadi ke sini sendirian?"


Tanya Firman yang sekedar basa-basi meskipun ia sudah mengenal Papah Adi tetapi belum akrab juga dan memang benar-benar saling mengenal karena mereka sempat bekerja sama dalam beberapa proyek kemarin-kemarin itu tentu saja Firman mencoba mendekati Papah Adi dan mengorek informasi tentang Aruna pastinya karena memang benar perempuan satu itu sudah menjungkir balikkan hati Firman.


Sendirian maksud dari Firman apa?

__ADS_1


Papa Adi tidak langsung menjawab tetapi ia bingung dengan pertanyaan Firman, maksudnya bagaimana kan memang sedarita tadi Papa Adi ke sini itu sendirian palingan juga berdua dengan asisten pribadi saja tidak ada orang yang lain dan itupun Firman juga sudah sering melihat asisten pribadi dari Papah Adi.


__ADS_2