
"Sudah siap?"
Empat puluh lima menit akhirnya Nathan datang juga setelah menyelesaikan segala urusannya di kantor, malam ini Nathan benar-benar ingin menantang Digo karena ia yakin jika malam ini dirinyalah yang menang.
Tentu saja Nathan datang sendirian karena memang teman baiknya tidak bisa hadir malam ini tetapi sempat memberikan dukungan kepada Nathan untuk kembali merebut Aruna yang memang dari dulu Nathan sudah mencintainya dan sudah dijodohkan dengannya meskipun nanti Aruna adalah seorang janda tetapi bagi Nathan tidak masalah.
Digo yang mendapat tepukan dari Nathan di pundaknya langsung saja berdiri, ia menatap laki-laki sekaligus kakak kandungnya itu lalu menganggukan kepalanya, yakin tentu saja...ia walaupun sedikit ada rasa bimbang di dalam hatinya, apakah langkah yang ia tempuh malam ini, itu memang benar atau tidak.
Bukan hanya Digo saja yang berdiri untuk menatap Nathan, tetapi Dimas yang lainnya juga ikut-ikutan berdiri bahkan Dimas pun meyakinkan sekali lagi untuk Diego supaya membatalkan semuanya ini dan memikirkan matang-matang.
"Di...."
Ujar Dimas yang saat ini juga menatap ke arah Digo, ia ingin membuat sahabatnya itu mundur dari pertandingan ini, bukan karena pengecut atau bagaimana tetapi sekali lagi masalah pernikahan bukan dibuat untuk main-main terlebih lagi perasaan Digo kepada Aruna masih sangatlah besar dan cinta Digo untuk Aruna juga tidak bisa diungkapkan lagi dengan apapun juga.
Sekali lagi Dimas meminta kepada Digo untuk memikirkan dulu, mempertimbangkan mata-mata baik dan buruknya bukan hanya asal-asalan menerima semuanya ini hingga akhirnya nanti menyesal.
Digo tersenyum memang ia tidak banyak bicara malam ini tetapi dari senyuman dan sorot matanya yang ditunjukkan kepada Dimas. Dimas pun tahu jika sahabatnya ini pasti sudah berpikir jernih untuk memutuskan segala sesuatunya dan Dimas pun tidak bisa berbuat apa-apa jika Digo sudah mempunyai pilihan sendiri.
__ADS_1
Dimas tidak bisa berbuat apa-apa lagi terlebih lagi saat ini Digo sudah berjalan bersama dengan Nathan untuk ke motornya masing-masing.
Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan Digo saat ini yang jelas lagi lelaki itu kini benar-benar bingung tetapi ia tidak ingin menjadi laki-laki pengecut, entah nanti apa hasilnya itu urusan belakangan yang penting ia menyetujui apa yang diminta Nathan kemarin untuk mengadakan balapan motor malam ini.
"Semangat Digo !! yakinlah jika apa yang kamu lakukan ini demi kebahagiaan kamu, jangan menyerah apalagi putus asa!"
Di belakang sana Dimas berteriak seraya memberikan semangat untuk Digo, antara apa yang diucapkan itu akan masuk atau tidak yang penting sebagai sahabat baik, Dimas hanya bisa mendoakan semoga keputusan yang akan dibuat oleh Digo ini benar-benar nanti memang tidak membebani semuanya dan pastinya juga tidak akan menyesal setelah ia memutuskannya.
Tidak ada jawaban dari Digo, laki-laki itu hanya tersenyum yang entahlah senyuman itu menandakan jika dirinya akan baik-baik saja atau tidak, yang jelas saat ini Digo harus fokus untuk menghadapi pertandingan dengan Nathan, meskipun nanti ia yang akan mengalah dalam pertandingan ini.
Digo yang sudah siap dan beberapa saat lagi keduanya sudah akan melakukan balapan yang pastinya tidak ada juri di sini dan semuanya sudah disepakati, jika nanti siapa yang menang maka dia yang berhak untuk mendapatkan Aruna.
Tidak ada jawaban dari Digo, laki-laki itu kembali terenyum tipis, entahlah ia rasanya tidak rela menyerahkan Aruna dengan Nathan tetapi kembali lagi bayang-bayang arona yang tersenyum manis ketika menyebut nama Nathan membuat Digo semakin yakin jika inilah keputusan yang harus ia buat.
1, 2, 3...
Go...
__ADS_1
Baik Nathan maupun Digo melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, putaran pertama mereka semua seri, Digo juga tidak bernafsu untuk memenangkan pertandingan ini tetapi tidak dengan Nathan, laki-laki itu melihat Digo dengan ekspresi wajah yang tersenyum berarti apa yang diucapkan kemarin begitu membekas di pikiran Digo hingga membuat pikiran Digo kacau dan nantinya, ia yang akan memenangkan pertandingan ini.
Sementara Aruna, ia ketat ketir .. apalagi Dino, terlebih lagi mereka belum sampai di arena balapan yang tentu saja jaraknya lumayan jauh dari cafe pelangi yang pastinya Aruna saat ini merasa was was, takut jika pertandingan itu sudah selesai dan Nathan yang memenangkannya, seperti apa yang dikatakan oleh Digo.
Bukan berarti Aruna takut menyandang status janda tetapi ini adalah kesalahpahaman, iya kalau memang Aruna benar-benar mencintai Nathan itu tidak masalah, tetapi ia sama sekali tidak ada rasa dengan Nathan, hanya menganggap Nathan sebagai kakak kandungnya saja dan tentu nya Aruna tidak mau jika nantinya Digo menyesali perbuatannya dengan apa yang sudah dilakukan.
"Pegangan yang kencang Run, sepertinya mereka sudah mulai!"
Tentu saja Dino menambah kecepatan motornya, untung saja motor yang dipakai Dino adalah motor balap, hingga akhirnya 5 menit kemudian ... laki-laki itu sudah sampai di arena balapan yang sudah ditentukan oleh Nathan.
Buru-buru Aruna turun dari motor, ia bahkan tidak membuka helm di depan Dino, melainkan ia berlari menuju ke area pertandingan itu tentu saja dengan masih memakai helm. Niatnya bukannya lupa tetapi Aruna akan melepasnya nanti ketika ia sudah sampai di sana, ia ingin melihat apakah memang benar jika Digo senang melihat nya dalam pertandingan ini atau malahan yang tidak tidak terhadap dirinya.
"Aruna .. Digo tertinggal jauh, sementara Bang Nathan yang lebih unggul. Lo segera turun ke bawah dan memberikan semangat untuk Digo, teriak saja.. sepertinya teriakan Lo yang kencang itu nanti membuat Digo bisa menyadari semuanya!!"
Ujar Dimas saat ini ketar-ketir, ia bahkan tahu bagaimana kecewaannya Digo tentang semua ini, meskipun Digo tidak mengatakan jika Digo nanti akan mengalah dari Nathan tetapi dilihat dari putaran pertama dan kedua itu sudah bisa ditebak jika Digo memang sengaja mengalah, biar Nathan yang memenangkan pertandingan ini dan itu berarti Digo mantap dengan keputusannya untuk meninggalkan Aruna, sementara Dimas tahu jika hati dan perasaan Digo masih terpaut dengan Aruna dan tidak rela jika Aruna bersama dengan laki-laki lain.
"Helm nya lempar saja, Run!!"
__ADS_1
Teriak Dimas lagi yang melihat Aruna masih memakai helm tentu saja sangat lucu jika Aruna tidak melepaskan helm itu.
Dimas sendiri tidak menghalangi Aruna untuk mendekat ke arena balapan, ia juga tidak bertanya mengapa Aruna tiba-tiba datang ke sini, bahkan Dimas merasa lega karena ia yakin jika semua ini adalah salah paham dan tentu saja Aruna nanti akan menceritakan semuanya atau malah Dino yang akan bercerita.