
Cup
"Love u banyak banyak sayank."
Digo memberikan ciuman di foto Aruna yang ia letakkan di atas meja, laki-laki itu memang sudah sampai di perusahaannya dan langsung saja menuju ke ruangan pribadi nya di mana memang di sana sudah ditunggu oleh asisten Digo yang setia untuk membantu Digo dan mengambil alih perusahaan selama Digo masih berada di sekolah dan tentu saja setelah Digo berada di perusahaan ini semua pekerjaan diambil alih oleh Digo lagi dan Digo harus menyelesaikannya dengan cepat, kalau tidak ia tidak akan bertemu dengan istrinya nanti dan alhasil akan lembur di kantor dan tentunya Digo tidak mau.
Saat ini Aruna adalah penyemangatnya, di mana ia akan berusaha sekuat tenaga dan bekerja dengan giat supaya bisa membahagiakan Aruna, bisa mencukupi semua kebutuhan Aruna hingga Aruna tidak kekurangan apapun juga, meskipun sebenarnya Digo berat untuk berada di perusahaan dan juga beberapa restoran yang memang sudah menjadi miliknya, namun ia akan mencoba untuk bisa menyesuaikan diri, semuanya dilakukan hanya untuk Aruna.
Digo juga mengorbankan masa mudanya untuk nongkrong bersama teman-temannya meskipun saat ini Digo sudah berusaha untuk menguranginya tetapi tidak lepas dari itu semua pastinya Digo juga menyempatkan untuk nongkrong bersama teman-temannya meskipun waktunya tidak seperti dulu lagi.
"Aku akan melakukan apapun demi kamu, supaya bisa membahagiakan kamu dan anak-anak kita nantinya."
Setelah memandang wajah cantik Aruna, Digo kembali menyelesaikan pekerjaannya, ia sedari tadi melirik ke arah foto Aruna dan juga jam yang melekat di tangannya, berharap waktu segera berlalu hingga ia bisa pulang ke rumah menemui kekasih hatinya.
Sementara di tempat lain, Papa Rendra dan juga Papa Adi baru saja melakukan pertemuan dengan klien pentingnya dan beruntung sekali keduanya menjalin kerjasama dari dulu sampai saat ini.
"Tidak ada acara lagi kan setelah ini Di?"
__ADS_1
Tanya Papi Rendra kepada Papa Adi, di mana Papi Rendra berencana ingin mengajak Papa Adi untuk berkunjung ke perusahaan Digo dan melihat bagaimana kinerja menantunya itu di sana.
"Tidak ada, kenapa?"
"Bagaimana kalau kita lihat Digo di perusahaan nya, apakah menantu kamu itu benar-benar serius untuk menjalankan perusahaan ini atau hanya main-main saja atau bahkan tidur di sana, sekalian kita makan malam .. sudah lama sepertinya kita tidak ngobrol-ngobrol di luar obrolan tentang bisnis."
"Boleh juga, aku juga kangen dengan menantuku yang paling tampan itu di mana bisa-bisa nya dia sudah merebut anak gadisku yang masih belum tahu apa-apa.."
"Hahaha itulah cinta, kita hanya merencanakan tetapi Tuhan yang menentukannya.."
Keduanya langsung saja masuk ke dalam mobil masing-masing didampingi dengan asisten mereka berdua di mana memang ke mana-mana saat ini Papi Rendra dan juga Papa Adi selalu membawa asisten pribadinya karena mereka berdua merasa jika usianya yang tidak muda lagi pastinya perlu seseorang untuk membantunya.
Ceklek..
Tanpa basa-basi lagi keduanya langsung saja masuk ke ruangan Digo yang tentunya asisten pribadi digo yang ada di luar langsung saja mempersilahkan Papi Rendra dan juga Papa Adi masuk ke dalam karena dia tahu siapa kedua laki laki itu.
Digo sendiri tidak sadar jika ada Papi dan juga Papa mertuanya yang baru masuk ke ruangan yang mana saat ini Digo masih berkutat dengan pekerjaannya dan segera mungkin harus menyelesaikan ini supaya cepat pulang ke rumah.
__ADS_1
"Kamu lihatlah Di, menantu kamu itu, sebenarnya aku kasihan sama dia, biasanya dia setelah pulang ke sekolah langsung saja nongkrong dengan teman-temannya bahkan nanti malam setelah makan malam juga keluar dengan teman-temannya, tetapi sekarang pulang sekolah buru-buru nganterin istrinya dan ke sini.. tapi ya gimana lagi itu sudah menjadi keinginan dia sendiri yang mana masih kelas 2 SMA sudah berani-berani nya memperkosa anak gadis orang, niat pula...dan dia sendiri yang minta dinikahkan secepatnya, maka dari itu dia harus menanggung semuanya..."
Ujar Papi Rendra dengan menyindir Digo tentunya Papi Rendra melihat sekilas ke arah putranya yang saat ini masih berkutat dengan pekerjaan, sepertinya Digo sibuk sekali sehingga tidak tahu jika Papi dan juga Papa mertuanya datang ke sini.
"Sindir terus Pi, sindir terus.. lagi pula aku bertanggung jawab juga, kalau tidak seperti itu mana mau Aruna nikah sama aku, boro-boro nikah sama aku bisa-bisa Aku tidak akan pernah bersama dengan Aruna dan aku akan kehilangan Aruna selamanya, karena Aruna malahan Papi jodohkan dengan Bang Nathan."
Digoyyang mendengar ucapan dari Papinya langsung saja mendongakkan wajahnya, ia tersenyum melihat kedua orang tuanya itu berada di sini meskipun ucapan dari Papi Rendra seakan-akan menyindirnya tetapi Digo sama sekali tidak tersinggung memang itu lah kenyataannya kalau dirinya memang sudah berbuat yang tidak tidak dengan anak gadis orang. Dan inilah resikonya kalau di usia yang masih muda Digo harus bekerja keras dan merelakan masa muda dan teman-temannya yang mungkin saja saat ini masih nongkrong di sebuah tempat favorit.
"Tidak apa-apa Di, Papa melihat keseriusan kamu saat ini, Papa bangga. Bukannya Papa menyukai perbuatan kamu itu tetapi setelah dipikir-pikir kalau kamu tidak melakukan itu kamu pasti akan kehilangan Aruna dan melihat Aruna menikah dengan Nathan."
"Terima kasih Papa, hanya Papa yang bisa mengerti aku daripada Papi aku sendiri, sebenarnya aku juga heran .. aku ini anak Papi atau bukan sih kenapa sepertinya selalu menyindir aku seperti itu padahal aku sendiri sudah bertanggung jawab dan tidak meninggalkan Aruna apalagi membuat Aruna menangis..."
Digo meletakkan pensilnya, laki-laki itu segera menyalimi Papi Rendra dan juga Papa Adi, kemudian ikut bergabung di sofa di mana keduanya saat ini sedang asyik mengobrol.
"Sama-sama nak tapi perjuangan kamu tidak berhenti sampai di sini saja, kamu tahu bagaimana sifat Aruna itu, dia anaknya agak keras kepala dan tidak bisa luluh seketika meskipun sudah diberi perhatian dan kasih sayang begitu besar. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan hati Aruna meskipun Papa sendiri juga tidak yakin kalau dulu Aruna nikah dengan Nathan, Aruna juga bisa cepat mencintai Nathan karena memang setelah Papa tanya kepada Aruna, Aruna juga tidak mencintai Nathan bahkan Aruna tidak mencintai laki-laki lain juga."
"Itu pasti Pah, aku akan membuat Aruna jatuh cinta sama aku tentu saja aku tidak akan melepaskan Aruna."
__ADS_1
Ketiga laki-laki itu masih ngobrol ngobrol dan tidak terasa sudah waktunya makan malam hingga Digo panik sendiri, karena ia harus pulang ke rumah untuk makan malam bersama dengan istrinya.