My Crazy Husband

My Crazy Husband
ANAK HARAM #MCH1


__ADS_3

Kediaman Keluarga Mahendra


"Amithi!" teriak citra dengan suara menggelegar di rumah mewah itu, membuat setiap pelayan d rumah menjadi panik dan ketakutan akan kemarahan nyonya besar mereka.


"Iya nyonya" saut amithi dengan setengah berteriak dan berlari ke arah citra, nyonya besar rumah ini. Amithi tau betul bahwa citra akan sangat marah jika dia tidak segera datang.


"Cepat panggil aashna! Ini sudah jam brpa" bentak citra, rasanya dia sangat marah jika harus menunggu putri suaminya dengan wanita lain. Bagaimana lagi, dia tidak mungkin mengusir aashna dari rumah ini ia tau betul bahwa rajesh adalah ayah yang penyayang meskipun mempunyai sikap dingin dan wajah datarnya jelas menutupi kelembutannya.


Citra melirik rajesh sekilas, terlihat tampan dan berwibawa suaminya itu dengan tatapan serius menatap layar ponselnya.


"Iya nyonya, tadi nona muda sedang bersiap. Saya akan kembali kekamar nona dan memintanya untuk bergegas" tutur amithi dengan sopan, lalu beranjak pergi kekamar aashna.


Amithi setengah bergegas ke kamar aashna.


Tok tok tok


"Nona! Apa kau sdh siap? " tanya amithi setengah berteriak.


Tanpa menjawab, aashna membuka pintu.


"Sudah bi, " aashna tersenyum dan menatap amithi


"nyonya memintamu untuk segera kebawah nona, kau Sangat cantik" puji amithi


"Terima kasih" saut aashna


Aashna bergegas turun.


citra melihat aashna mendekat dan menatapnya dengan kemarahan, seolah siap memakan aashna hidup hidup.


Aashna bergidik ngeri dan sedikit takut.


"Maaf" suara aashna dengan lembut dan sedikit menunduk.


Tanpa menyahuti aashna, citra berbalik badan kearah rajesh. Terlihat rajesh masih sibuk dengan ponselnya.


"Kita berangkat" tutur rajesh dengan sekilas melihat penampilan putrinya, aashna.


Aashna terlihat anggun dan manis. Memakai gaun ssederhana dan terlihat sangat cocok d tubuhnya. Sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.


"Ka akash tidak ikut? " tanya aashna


Rajesh dan citra berbalik dan menatap aashna.


"Maaf aashna. Kk harus ke kantor" jawab akash sebelum citra menjawab aashna, sambil mendekati ketiga orang yang di sayanginya.


"Segeralah kekantor, ada banyak urusan yang harus kau selesaikan akash" perintah rajesh


Akash menganggukan kepalanya dan menatap aashna. Aashna membalas tatapan akash dengan tersenyum


Akash berlalu pergi lebih dulu dengan menggunakan mobilnya. Di ikuti rajesh, citra dan aashna yang juga akan berangkat ke rumah keluarga pratama.


***


Kediaman Keluarga pratama


Angga bergegas menghampiri ibunya yang sedang d meja makan. Menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Meskipun keluarga mereka memiliki banyak uang, tapi ibu angga hanya mengizinkan satu pelayan untuk membantunya d rumah. Angga sangat mengagumi ibunya yang seperti ini dan berharap memiliki istri seperti ibunya. Tidak manja dan suka hidup sederhana.


"Ibu, angga berangkat dulu ya " tutur angga sambil mencium pipi ibundanya dan berlalu pergi


"Tunggu angga" teriak ibunya


Angga menghentikan langkahnya dan menatap ibunya.


"Kau jangan kekantor hari ini ya" pinta ibu nya sambil tersenyum


Angga mengernyitkan dahinya


"Kenapa bu? " tanya angga


"Keluarga mahendra sedang d jalan, mereka akan kesini membicarakan tentang pernikahan mu" saut ibunya dengan sorotan mata kebahagian.


"Hmm ibu, bisakah ibu saja dan tuan mahendra mengaturnya? Aku ada urusan penting d kantor dan tidak bisa d tinggalkan" tutur angga


"Tidak, kau harus ikut. Aashna juga ikut. Apa kau tidak ingin melihat calon istrimu? " tanya ibunya


"Aku sudah tau dia bu, bukan hanya wajahnya tapi segalanya" gumam angga dalam hati.


Angga memang sudah menyelidiki siapa calon istrinya itu. Tapi angga memilih diam menurut dari pada harus berdebat dengan orang yang sdh melahirkannya.


"Baik bu" saut angga. ibunya tersenyum.


Angga mengambil ponsel dari saku celananya. Dan mengetik pesan.


*Batalkan semua pertemuan hari ini, aku ada urusan yang penting ~ angga


Keluarga mahendra dan ibu ingin membicarakan tentang pernikahan ~ angga


Jadi itu yang kau anggap penting? ~ dinda


Jangan salah paham, bukan pernikahan yang penting. Tapi keinginan ibu adalah perintah bagiku ~ angga


Baiklah ~ dinda*


Angga hanya membaca pesan dinda dan segera kekamar untuk mengecek sesuatu. Setelah d kamar angga mengambil map, lalu membukanya


"mainan yang cukup manis " seringai angga dengan tersenyum sambil menatap foto gadis manis sambil tertawa riang yang tak lain adalah aashna.


***


Pagi itu, sangat ramai para pelayan mondar mandir menyuguhkan makanan dan minuman untuk tamu keluarga pratama yakni keluarga mahendra yang sudah sedari tadi sampai dan sedang membicarakan pernikahan aashna dan angga.


Setelah d rasa segala hal telah selesai dan tidak luput dari pembahasan. Keluarga Mahendra ingin pamit pulang.


"Maaf tuan mahendra, bisakah saya membawa putrimu untuk memncoba gaun pengantinnya? "Tanya angga dengan tersenyum ramah


"Tentu saja" saut rajesh


"Aashna, pergilah bersama angga" perintah rajesh


Aashna menganggukan kepalanya.


Rajesh dan citra pamit pulang sedangkan angga dan aashna menuju boutiqe langganan keluarga pratama.

__ADS_1


Selama d mobil, angga dan aashna hanya diam. Jangankan saling menyapa, menatap saja mereka enggan. Aangga yang fokus menyetir dan aashna menatap keluar mobil dengan tatapan kosong..


Sesampainya di boutiqe, aashna d minta penjaga boutiqe mencoba gaun yang sdh d pesan ibu angga. Aashna terlihat cantik dan manis. Semua penjaga boutiqe memujinya.


Aashna berterima kasih dan menatap angga dengan kesal yang sedang duduk d sofa.


"Bagaimana aku membuat nya jatuh hati padaku, melihatku saja tidak " gumam aashna dalam hati


Ketika aashna dan angga sudah d mobil dan dalam perjalanan pulang.


"Kita kemna? Sepertinya ini bukan jalan kerumah ku? " tanya aashna


Meski canggung tapi aashna memberanikan diri bertanya.


"Ternyata Kau cukup tau dengan jalan d delhi, padahal baru beberapa bulan d sini" ucap angga


Aashna membulatkan matanya dan menatap angga dengan tatapan heran.


"tau darimana dia tentangku" gumam aashna dalam hati


"Kau pikir aku tidak akan tau tentang apapun mengenai calon istriku? " ucap angga dengan wajah dingin tanpa menatap aashna, seolah tau apa yang ada di pikiran aashna.


Ketika aashna ingin menjawab ucapan angga. Mobil yang mereka tumpangi berhenti d sebuah taman bunga. Sangat indah dan tercium dengan jelas harum bunga lily putih, bunga kesukaan aashna.


Aashna lebih dulu turun dengan senyum merekah. Sifatnya Yang periang entah kenapa muncul lagi ketika bersama angga. Padahal selama d sangkar emasnya. Aashna hanya banyak diam d kamar dan menyulam.


"Terimakasih karna telah membawaku kesini" ucap aashna dengan senyum manis dan tulus.


"Hmm" saut angga dengan wajah dinginnya


"Kita duduk d situ, aku ingin bicara" ucap angga dan aashna mengiyakannya.


"Ada apa? " tanya Aashna


Angga membuang wajah seolah sangat malas membuang waktunya yang berharga bersama Aashna. Tapi mau bagaimana lagi. Dia harus membicarakan ini.


"Aku sudah punya kekasih" ucap angga


Deg


"Aku ingin setelah menikah, jangan harap kau akan ku perlakukan layaknya istri. Jangan pernah mengusik dan ikut campur dalam kehidupanku! Dan kau harus menurut padaku" ucap angga dengan wajah datar tanpa memandang aashna yang saat ini wajahnya memerah, menahan amarah.


"Kukira dia mulai tertarik padaku karna membawaku ketaman ini. Ah aashna kau gila. Kau memang bodoh. " gumam aashna dalam hati.


" kau kenapa? Bukankah kau pantas Di perlakuakan seperti ini? Kau hanya anak haram" ucap angga dengan santainya.


Aashna menatap angga tidak percaya akan apa yang terlontar dari bibir lelaki tampan itu.


Apa? Anak haram?


"Ini, pakailah taxi untuk pulang. Aku harus segera kekantor ku" ucap angga sambil meletakkan beberapa uang ke sebelah aashna dan berlalu pergi mengendarai mobil mewahnya.


"Anak haram? "


Suara angga menggema d telinga aashna. Ia berusaha menahan air mata yang sdh sangat memenuhi pelupuk matanya. Dadanya sesak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2