
"Bagaimana mungkin aku tidak menghawatirkan kamu sayank, Kamu adalah istriku yang pastinya satu minggu itu bukan waktu yang singkat untuk aku, aku sudah terbiasa berada di samping kamu, tidur memeluk kamu dan bangun tidur melihat wajah cantik kamu terlebih lagi kita setiap hari melakukan kegiatan yang menyenangkanbagaimana bisa aku tanpa kamu di sana. Lagi pula aku takut...."
Sembari mengemudikan mobilnya tangan Digo yang satunya menggenggam erat tangan Aruna sepertinya memang benar laki-laki itu tidak mau berpisah lama dari istrinya yang baru saja merajut indahnya pernikahan dan sedikit demi sedikit bisa meluluhkan hati Aruna, tetapi harus terpisah meskipun hanya waktu satu minggu saja.
"Takut apa? Kamu tadi dengar sendiri jika Bang Nathan juga lusa pergi ke Singapura dan pastinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentu saja aku tahu yang ada di pikiran kamu karena takut jika Bang Nathan tidak pergi dan dia akan mengganggu aku."
Cup
Digo mencium tangan Aruna, laki-laki itu tersenyum meskipun ia sedikit bimbang dengan keputusannya kali ini.
"Kamu bener sayank, tetapi rasanya aku masih tidak tega jika harus meninggalkan kamu terlebih lagi di sekolah ada Rian."
"Astaga kamu tidak lupakan Di, sebelum aku menikah dengan kamu aku juga sudah dekat dengan Ryan dan tentu saja jika aku mau dengan nya sudah dari dulu aku bersama dengan dia tetapi kamu tahu sendiri dari sejak pertama aku masuk sekolah sampai akhirnya kamu nikahin, Aku masih jomblo tidak mempunyai pacar sama sekali lagi pula pastinya aku tahu jika kamu nantinya akan meminta keempat sahabat kamu itu untuk menjaga Aku bahkan untuk mengikuti aku kemanapun aku pergi."
Digo tersenyum memang benar apa yang dipikirkan oleh Aruna dan kali ini ia memang harus mengambil keputusan yang tepat tidak ingin membuat semuanya kacau tetapi tidak ingin juga berjalan dengan Aruna.
"Berangkatlah, aku disini .. aku juga tidak apa-apa, aku bersama dengan Mami, kamu tahu sendiri kan Mami sangat sayang sama aku jadinya kamu tidak perlu khawatir."
"Tapi sayank bagaimana dengan weekend kita dan tadinya aku ingin mengajak kamu merayakan anniversary 1 bulan pernikahan kita?"
"Setelah kamu dari Jepang kita bisa berlibur ke manapun kamu mau yang penting sekarang kamu fokus ke pekerjaan kamu bukankah ini adalah salah satu impian kamu ingin meraih sukses di usia muda dan juga aku sempat mendengar jika perusahaan Mr. Abraham itu sangat berkuasa di dunia dan sangat beruntung sekali jika ada perusahaan yang ikut bergabung dengan perusahaan Mr. Abraham, terlebih lagi perusahaan kamu yang sedang berkembang seperti ini jadi jangan sia-siakan kesempatan yang ada di depan mata."
"Aku tahu itu tetapi bagaimana dengan kamu, aku masih ragu untuk meninggalkan kamu di sini?"
"Kalau kamu masih ragu berarti kamu tidak benar-benar mencintai aku?"
Digo menggelengkan kepalanya tidak mungkin jika dirinya tidak benar-benar mencintai Aruna hingga ia berani nekat untuk melakukan sesuatu yang pastinya dilarang oleh agama hanya karena dirinya yang sudah benar-benar mencintai Aruna dan tidak ingin kehilangan Aruna.
"Jangan berbicara seperti itu Kamu tahu sendiri kan bagaimana besarnya rasa cintaku untuk kamu?"
"Makanya pergilah ke Jepang dan biarkan aku di sini sama Mami, aku tidak apa-apa jangan terlalu larut memikirkan aku, aku sudah dewasa Di, bukan anak kecil lagi."
"Tapi sayank nanti malam..."
"Terserah kamu mau melakukan apapun, Aku pasrah biasanya juga begitu."
Aruna langsung saja menyaut ucapan Digo, yang Aruna tahu pastinya Digo memberikan berbagai macam persyaratan jika dirinya mau berangkat ke Jepang dan pastinya Aruna paham betul dengan apa yang diinginkan oleh Digo nanti malam.
"Oke 10 ronde, tidak usah tidur semalaman."
"Gila!!"
Aruna memang mengiyakan, ia mengumpat ke sang suaminya, tentu saja 10 ronde berarti semalam sampai pagi ia tidak akan memejamkan mata meskipun Digo selalu meminta Aruna untuk tidur dan biarkan Digo yang bekerja namun tidak mungkin juga Aruna hanya diam saja menerima sentuhan-sentuhan dan juga ganasnya Digo ketika di atas ranjang membuat Aruna tidak bisa memejamkan matanya meskipun rasa ngantuk sudah menjelajahi dirinya.
"Tapi janji ya kamu tidak macam-macam di sini dan juga selalu memberi kabar ke aku, tidak boleh lupa untuk mengirimkan pesan ke aku dan selalu mengangkat telepon aku."
"Astaga pesannya seperti anak kecil saja.."
"Harus sayank, selama ini ketika kamu jalan-jalan bersama dengan Vina kamu selalu nyuekin aku dan tidak mengangkat telepon aku. Aku mencoba paham tetapi jika di Jepang kita kan sudah berjauhan dan tidak mungkin aku tiba-tiba langsung menyusul kamu ke sini masih membutuhkan waktu berjam-jam."
"Oke terserah kamu saja."
Digo tersenyum, Lagi dan lagi ia mencium punggung tangan Aruna dan ia menerima yang ditawarkan oleh Papinya itu meskipun Digo sendiri masih berat untuk meninggalkan Aruna tetapi dengan Aruna yang memberikan penjelasan-pelan tadi membuat Digo mau tidak mau harus pergi ke sana dan merelakan untuk tidak bertemu dengan Aruna selama satu minggu.
Keduanya kini sudah sampai di parkiran sekolahan yang mana seperti biasa Aruna meraih tanganku untuk berpamitan kepada suaminya.
"Sebelum masuk kelas hubungi Papi dulu supaya biar bisa mengatur jadwal keberangkatan kamu."
Ia memang sudah berniat untuk menghubungi Papinya dan meminta tolong untuk mengatur semuanya.
"Iya sayank makasih dan sekali lagi aku minta maaf belum ada waktu khusus untuk kamu dan selalu pekerjaan yang membuat kita seperti ini."
"Tidak masalah Di memang kamu yang harus berjuang untuk semuanya dan perusahaan kamu sekarang lagi membutuhkan kamu bukan aku."
Shittt
"Jangan bicara begitu Aku melakukan ini semua demi kamu jika tidak ada kamu, aku tidak mungkin akan melangkah sejauh ini dan pastinya kamulah semangatku, kamulah yang membuat hidupku jadi berwarna dan kamulah yang membuat aku menjadi semangat untuk bisa berkembang dan juga belajar lebih dan lebih lagi supaya kamu dan anak-anak kita nantinya tidak kekurangan apapun juga."
Aruna tersenyum kemudian ia keluar dari mobil Digo tanpa menunggu suaminya karena Aruna yakin jika diku ingin menghubungi Papi mertuanya.
Di sekolah masih terlalu pagi hingga tidak banyak teman-teman Aruna yang sudah masuk sekolah bahkan Aruna saat ini tidak masuk dulu ke kelas ia berada di pintu gerbang untuk bergabung dengan anak-anak OSIS lainnya dan tentu saja di sana sudah ada keempat sahabat Digo yang tersenyum manis kepada Aruna.
"Gue lihat-lihat lo semakin hari semakin cantik jauh terlebih lagi body lo yang tampak berisi, jangan jangan kecebongnya Digo sudah hadir di perut Lo?"
Ujar Dino yang dari tadi memperhatikan Aruna laki-laki itu bukan karena tertarik dengan Aruna atau jatuh cinta dengan Aruna tetapi memang dasar Dino yang suka sekali merusuh dan membuat huru hara yang nantinya ia akan beradu mulut dengan Digo tetapi tidak untuk berantem ataupun bagaimana hanya membuat suasana menjadi lebih ceria saja.
Deg
Apa memang benar kalau aku hamil?
Ya seperti apa yang dikatakan oleh Diego kemarin kalau dua malam ini Digo benar-benar memuaskan dirinya untuk berdua dan bersama dengan Aruna bahkan laki-laki itu setelah pulang sekolah tidak ke kantor atau ke restoran tetapi melainkan pulang ke rumah dan langsung menuju pintu kamarnya.
Tidak ada yang dilakukan oleh Diego, Digo juga tidak melakukan persiapan untuk ke Jepang tetapi berdua dengan Aruna di dalam kamar bahkan laki-laki itu juga tidak membiarkan Aruna turun dari kamarnya hanya dirinya yang mengambil makanan ke bawah dan langsung memakan berdua bersama dengan arona.
Ya setelah kemarin Digo memutuskan untuk pergi ke Jepang meskipun ia masih ragu dan juga ada perasaan yang entahlah, Digo mengurung Aruna selama 2 hari dan 2 malam bahkan ia terus-menerus memangsa istrinya sebagai obat penawar rindu dan sebagai bekal untuk dirinya ke Jepang.
Lebay, memang Iya tetapi itulah yang dirasakan oleh Digo, laki-laki itu benar-benar sangat mencintai dan menyayangi Aruna bahkan ia tidak bisa jauh dari Aruna tetapi pekerjaan yang membuatnya harus terpisah dulu dengan Aruna sementara waktu, hanya satu minggu saja tetapi waktu satu minggu bagi Digo itu sangat lama namun juga tidak mempunyai pilihan lain toh juga Aruna sudah mengizinkan dan kelihatannya memang tidak begitu khawatirkan lagi karena Nathan juga akan berangkat ke Singapura yang pastinya Digo bisa bernafas dengan lega.
Dan pagi ini Aruna mengantarkan Digo untuk ke bandara, ya hanya Aruna saja yang mengantarkan, Digo tidak mau diantar oleh Maminya padahal Maminya juga menawarkan diri untuk pergi bersama dengan Aruna.
Sementara Nathan sudah berangkat tadi malam kakak kandungnya itu mendapatkan panggilan dari klien di Singapura untuk segera memajukan pertemuannya karena mungkin saja ada banyak yang akan dibahas dan juga akan lama berada di Singapura.
Sementara Papi Rendra sudah sejak pukul 03.00 pagi tadi berangkat dan tentu saja kini tinggal Digo yang akan pergi ke Jepang.
Cup
"Jangan nakal selama aku pergi dan ponsel kamu selalu harus diaktifkan, balas pesan aku dan kamu tidak boleh mengabaikan panggilan telepon aku."
Digo mencium lembut bibir Aruna kemudian laki-laki itu langsung saja menarik tubuh Aruna dan memeluknya, rasnya masih berat untuk meninggalkan Aruna sendirian di sini. Digo sudah terbiasa bersama dengan Aruna melihat wajah cantik Aruna ketika tidur dan juga bangun tidur, entahlah bagaimana nasibnya selama seminggu di Jepang yang pastinya Digo harus bisa menata hati dan juga pikiran, tidak terlalu memikirkan Aruna tetapi tidak mengabaikan istrinya yang jelas supaya semuanya bisa berjalan dengan lancar karena Diego mempunyai target ia tidak akan di Jepang selama 1 minggu mungkin 3 atau 4 hari saja di sana dan akan memaksimalkan semua waktunya supaya cepat pulang ke Indonesia.
"Bukannya kebalik, kamu yang jangan nakal di sana pasti perempuan-perempuan di Jepang itu seksi-seksi dan sangat cantik."
Digo tersenyum geli dan senang mendengar ucapan dari istrinya yang mana seperti itu sudah dipastikan jika istrinya cemburu, itu berarti sudah ada benih-benih cinta yang ada di dalam diri Aruna untuk dirinya.
"Pasti sayank, yang cantik di sana banyak tetapi yang nyantol dan bisa meluluhkan hati aku cuma kamu."
Kembali lagi laki laki itu memeluk tubuh Aruna hingga terdengar suara operator dari bandara, hingga Digo mau tidak mau segera melepaskan pelukan dari tubuh Aruna.
Memang sengaja Digo tidak menggunakan pesawat pribadi, ia lebih suka menggunakan pesawat umum bersama dengan yang lainnya lagi pula perjalanan ke Jepang bukan buru-buru santai tetapi serius dan itu yang membuat Digo tidak memakai pesawat pribadi yang ditawarkan oleh Papi Rendra.
Berat sekali rasanya untuk pergi ke Jepang tetapi ini harus dilakukan oleh Digo, hingga akhirnya sebelum benar-benar berpisah dengan Aruna untuk sementara waktu Digo memeluk tubuh Aruna dahulu.
Hingga akhirnya Aruna melepaskan ciuman yang sangat panas dan memabukkan karena ia menyadari kalau pesawat yang akan segera berangkat.
"Hati-hati sampai sana jangan lupa kabarin aku." Pesan Aruna kepada suaminya, seperti nya Aruna juga tidak bisa berjauhan dengan Digo.
"Pasti sayank jangan nakal dan ingat pesan aku dan nanti kamu setiap mau ke sekolah dan pulang dijemput oleh Pak Rudi atau kalau nggak nanti Dino yang akan antar jemput kamu ke sekolah."
Mau tidak mau Aruna menganggukkan kepalanya meskipun semalam sudah dibahas oleh Digo kalau ia akan diantar jemput oleh sopir pribadi di rumahnya atau kalau Pak sopir tidak bisa maka Dino yang akan melakukan tugas untuk mengantar jemput Aruna. Aruna sudah menolak tetapi apalah daya suaminya begitu ketat menjaga dan melindungi Aruna hingga perempuan cantik itu hanya pasrah tidak bisa melakukan apapun juga.
Digo mencium kening Aruna , kemudian laki-laki itu melepaskan genggaman tangan Aruna lalu segera masuk ke dalam dan tentu saja Aruna melambaikan tangannya, ia tersenyum ketika melihat Digo juga melambangkan tangan ke arahnya.
__ADS_1
Perasaan Aruna juga tidak menantu, selama hampir satu bulan ia bersama dengan Digo tetapi kali ini harus berpisah sementara dengan laki-laki itu yang pastinya ada sedikit perasaan aneh dan juga ada sesuatu yang hilang tetapi Aruna tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan Digo, ia yang meminta Digo untuk mengiyakan permintaan dari Papi Rendra dan tentu saja ia adalah penyemangat Digo dan akan terus memberikan semangat untuk suaminya.
Setelah Digo tidak terlihat, Aruna segera keluar dari bandara dan di depan sana sudah ada Pak Rudi, supir yang akan mengantarkan Aruna ke sekolah dan juga Pak Rudi akan menjemput Aruna juga dan akan mengantarkan ke manapun Aruna pergi dan itu juga atas kemuamuan Digo karena ia tidak mau khawatir di sana dan membiarkan Aruna membawa mobil sendiri ataupun membawa motor sendiri.
"Langsung ke sekolah atau mau ke mana dulu non?"
Tanya Pak Rudi yang mana beliau melihat jam yang mereka di tangannya masih pukul 06.15 dan pastinya jika Aruna ingin ke mana dulu masih ada waktu mungkin saja Aruna ingin pergi mencari sarapan atau membeli sesuatu yang pastinya Pak Rudi menanyakan dulu sebelum melajukan mobilnya.
"Langsung ke sekolah saja Pak nanti aku sarapan di kantin saja."
Ya tadi pagi memang belum sempet sarapan meskipun sudah minum susu dan makan roti sedikit tetapi sepertinya itu tidak kenyang untuk Aruna terlebih lagi suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Namun untuk sekedar mencari sarapan di luar tentunya bukan ide yang baik malahan ia akan teringat dengan Digo yang pastinya suaminya itu juga akan mengingat dirinya terus dan malahan akan mengganggu pekerjaannya.
Singapura..
Sejak semalam Nathan berada di negara ini dan tentu saja keberangkatannya dipercepat karena klien pentingnya ingin segera menyelesaikan proyek dan tentu saja supaya cepat selesai, tidak menunda waktu-waktu lagi, lagi pula Nathan masih single tidak membutuhkan banyak persiapan untuk berangkat ke Singapura.
Dan setelah ia tiba di Singapura, Nathan langsung saja mengunjungi klien pentingnya itu kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya supaya ia juga tidak lama berada di sini.
Meskipun Nathan jomblo tetapi jauh dari kedua orang tua apalagi rencananya sampai 1 bulan itu tidak ada di dalam pikiran Nathan, Nathan adalah laki-laki yang baik, laki-laki rumahan yang tidak suka pergi ke mana-mana dalam kurun waktu lama bahkan jika perjalanan bisnis ke luar negeri paling lama hanya satu minggu saja tetapi untuk kali ini harus sampai satu bulan tidak bisa Nathan bayangkan bagaimana ia bisa jauh dari keluarganya.
Dan rasanya kedua anak dari Papi Rendra elitu mempunyai sifat yang sama baik Digo maupun Nathan keduanya sama-sama tidak ingin menyia-nyiakan waktu, lebih baik ia tidak tidur dan lembur supaya bisa menyelesaikan pekerjaannya dan tidak terlalu lama daripada ia harus tidur tetapi nanti pekerjaannya akan terbang keledan akan semakin lama berada di negara orang.
"Bagaimana pak Nathan dengan proyek ini apakah bapak setuju?"
"Panggil saya Nathan saja Om seperti biasanya kita hanya berdua saja di sini dan tentu saja saya masih tinggi tidak pantas untuk dipanggil bapak-bapak."
"Hahaha maafkan Om, lupa kita sudah mengenal baik sebelum kerja sama ini berlangsung dan tentu saja saya Om sangat prihatin dengan kisah cinta kamu."
Ya memang klien penting dari Nathan ini bukan orang baru tetapi orang lama yang Nathan sudah kenal namun untuk kerjasama dengan perusahaan Natal sendiri baru kali ini Nathan benar-benar bekerja sama dan ikut terjun langsung bersama dengan Om Thomas dan pastinya bersama dengan om Thomas Nathan rupanya sangat cocok dan bisa dia bisa mencurahkan segala kesannya termasuk kisah cintanya yang gagal di pelaminan.
"Jangan bawa bawa itu lagi Om, maaf bukannya gimana gimana, tetapi jika membahasnya Nathan malah mengingat tentang Aruna."
Bukannya Nathan tidak suka jika masalah pribadi campuran dengan pekerjaan tetapi mengingat namanya saja Nathan kembali mengingat wajah Aruna dan pastinya ia kangen dengan perempuan yang dicintainya yang saat ini sudah berstatusnya adik iparnya , terlebih lagi Aruna di Jakarta sendirian hanya bersama dengan Maminya.
Andai saja Nathan tidak ada pekerjaan penting di sini pastinya ia yang akan menemani Aruna mengantar dan menjemput perempuan cantik itu meskipun Nathan tidak bisa memiliki Aruna tetapi setidaknya bisa lebih dekat dengan Aruna membuat Aruna menjadi senang dan kembali bersemangat lagi untuk menjalankan perusahaannya.
"Sorry sorry Om lupa tetapi kamu benar-benar belum move on dari adik ipar kamu itu?"
Dan tentunya bukan hanya sekedar ngobrol, karena baik Nathan maupun Om Thomas sama sama menyelesaikan pekerjaannya, daripada mereka berdua jenuh sembari ngobrol-ngobrol tentu saja nota tidak masalah malahan bisa membuat semangatnya bangkit lagi apalagi mengingat nama Aruna.
"Bagaimana mungkin Nathan bisa move on secepat itu om, om sendiri sudah pernah Nathan ceritakan jika Aruna adalah cinta pertama Nathan. Nathan sudah menunggu Aruna sejak dulu saat di mana Nathan mendengar jika Nathan akan dijodohkan dengan Aruna dan pastinya setelah itu Nathan menyelidiki siapa Aruna yang sebenarnya, mengikuti kemanapun Aruna pergi dan tentunya tanpa sepengetahuan Aruna hingga akhirnya Aruna menjadi dewasa seperti ini. Tetapi sayang sekali mungkin Nathan dengan Aruna tidak berjodoh hingga kami hanya ditakdirkan sebagai kakak dan adik saja tidak bisa melangkah ke sebuah pernikahan."
Ya Om Thomas pun sudah mendengar cerita dari Nathan yang benar-benar membuatnya menggelengkan kepalanya bisa-bisanya adik kandung Nathan sendiri tega melakukan seperti itu tetapi tidak bisa disalahkan jika cinta juga sudah berkata maka tindakanlah yang akan dilakukan meskipun Om Thomas sangat menyayangkan perbuatan Digo tetapi dari cerita, Digo sangat mencintai Aruna dan sengaja melakukan itu supaya Digo bisa memiliki Aruna seutuhnya.
"Sabar Than, orang baik pasti nanti akan mendapatkan jodohnya cepat atau mau Om kenalkan dengan perempuan-perempuan yang ada di sini? Teman-teman Om mempunyai anak yang cantik tentunya tidak kalah cantik dari Aruna, kalau kamu mau nanti malam ikut om saja, kebetulan nanti malam teman Om mengadakan pesta."
Nathan tersenyum tetapi menggelengkan kepalanya tidak mungkin ia akan jatuh cinta dengan perempuan lain secepat itu meskipun ia sadar diri jika ia tidak bisa memiliki Aruna lagi, namun nama Aruna masih tersimpan rapa di dalam hatinya juga tidak akan mencari perempuan lain dalam waktu dekat ini ia akan mengurusi perusahaannya supaya lebih maju dan berkembang baru nantinya akan memikirkan tentang pernikahan.
"Kamu itu ya padahal ganteng, pinter dan juga kaya raya Kamu pastinya bisa mendapatkan satu atau 10 kali lipat perempuan yang lebih dari Aruna tetapi okelah Om akui kamu memang benar-benar laki-laki sejati benar-benar cinta itu tulus dengan Aruna."
"Mau bagaimana lagi Om kalau Nathan mau pastinya sejak kemarin Nathan sudah dijodohkan oleh Papi dan juga Mami tetapi nyatanya Nathan menolak semuanya, bukan karena Nathan memilih-milih untuk mencari pasangan tetapi memang mereka tidak ada yang nyantol di hati Nathan, hanya Aruna saja yang benar-benar bisa membuat Nathan jatuh cinta tetapi ya itulah.."
Sepertinya bertemu dengan om Thomas membuat Nathan jadi mencurahkan segala perasaannya selama ini dan memang Om Thomas meskipun sudah tua dan mempunyai anak tetapi laki-laki itu masih seperti anak muda dan bisa menjadi pendengar yang baik untuk Nathan.
Hingga akhirnya dering ponsel dari Om Thomas membuat keduanya menghentikan obrolan sejenak.
"Oke saya segera ke sana sekarang..."
Om Thomas nampak tergesa-gesa setelah menerima panggilan teleponnya, ia kemudian segera membereskan berkas-berkasnya kemudian melihat ke arah Nathan.
"Maafkan Om harus segera ke rumah sakit karena istri Om tiba tiba merasa mules, mungkin waktunya mau melahirkan dan untuk pekerjaan nanti kita bisa bicarakan di rumah sakit, nanti Om hubungi lagi di mana Rumah Sakit istri Om itu berada dan sekali lagi maaf sekiranya kamu mau bertemu dengan om nanti di sana."
"Iya Om, nanti Nathan ke sana.. om tenangkan dulu pikiran Om dan temani tante supaya persalinannya lancar."
"Amin Terima kasih Than padahal menurut istri saya dia akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi tetapi entah mengapa ini Om ditelepon kok malah sudah mulus-mules dan langsung dibawa ke rumah sakit, maaf atas semuanya ini kalau tahu seperti ini pertemuan kita akan kita mundur saja."
"Tidak masalah Om yang penting tante dan anak Om baik bqiksaja nanti Nathan akan berkunjung ke sana om tinggal kabarin saja di mana Tante dirawat."
Satu hari dan 1 malam Nathan berada di Singapura dan untuk hari keduanya laki-laki itu bergegas pulang ke Jakarta bukan karena ada masalah tentang pekerjaan yang sudah selesai, tetapi karena Om Thomas meminta Nathan untuk menyudahi pertemuannya kali ini dan Om Thomas yang akan menemui Nathan nantinya di Jakarta setelah urusan persalinan istrinya selesai.
Ya semalam setelah Nathan berkunjung ke rumah sakit dan melihat keadaan istri Om Thomas dan anak keduanya, Om Thomas tiba-tiba langsung memutuskan untuk menjeda pertemuan pentingnya kali ini Om Thomas juga tidak mungkin meninggalkan istrinya yang masih butuh perawatan terlebih lagi putra kedua Om Thomas itu harus dirawat intensif karena berat badannya yang kurang ideal.
Hingga akhirnya setelah ngobrol panjang dan lebar dengan Nathan keduanya sepakat untuk menjeda sebentar proyeknya dan nantinya Ok Thomas yang akan mengunjungi Nathan sendiri di Jakarta setelah semuanya selesai dan kondisi istri dan juga anak kedua Om Thomas itu baik-baik saja.
Nathan sendiri tidak keberatan malahan ia bisa bernafas dengan lega karena bisa menemani Aruna nantinya yang mana Nathan mendapatkan informasi jika Digo masih berada di Jepang mungkin memang tidak sampai 7 hari tetapi bukan pulang secepat ini.
Dan tentu saja kepulangan Nathan tidak diketahui oleh kedua orang tuanya termasuk Digo dan juga Aruna. Nathan memang meminta kepada Om Thomas untuk merahasiakan semuanya dengan berdalih akan memberikan kejutan untuk Mami Nina yang pastinya akan kaget melihat kedatangan Nathan karena Nathan sudah berbicara jika dirinya akan lama berada di Singapura tetapi baru satu hari berada di Singapura namun laki-laki itu sudah kembali lagi ke Jakarta.
Sementara di Jakarta..
Hari kedua Aruna tanpa Digo, rasanya hampa dan ada sesuatu yang berbeda, padahal setiap detik dan menit suaminya terus saja menghubunginya walaupun hanya pesan singkat yang dikirimkan oleh Digo namun itu bisa membuat Aruna sedikit senang dan lega yang ternyata kondisi suaminya disalah baik-baik saja meskipun Digo selalu mengeluh tidak bisa tidur dan kangen dengan dirinya tetapi sejauh ini suaminya terlihat nampak baik-baik saja dan bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan lancar.
"Nanti pulang sekolah mau ke mana? nggak mungkin kan lo di rumah saja sementara Digo pergi ke Jepang? ini kan bisa lo manfaatin untuk jalan-jalan sama gue?"
Tanya Vina yang saat ini keduanya sedang membereskan buku-buku karena sebentar lagi bel pelajaran berbunyi dan artinya pelajaran hari ini sudah selesai.
"Entah, Digo protektif sekali, bahkan pulang sekolah gue dijemput, kalau enggak Pak Rudi ya Dino yang diminta untuk mengantarkan aku pulang sekolah padahal aku sebenarnya ingin jalan-jalan dulu, kesempatan juga kan mumpung Digo tidak berada di sini."
"Ya sayang sekali padahal gue ingin ngajakin lo nonton jarang-jarang juga kita nonton semenjak lo nikah sama Digo, bukan berarti Digo tidak pernah mengijinkan, tetapi gue saja yang nggak enak setiap kali lo pergi sama gue, Digo selalu ngintilin dan itu merasa gue juga nggak nyaman."
"Jangankan lo, gue sendiri aja nggak nyaman tetapi mau bagaimana lagi kalau gue ingin pergi meskipun sama lo berarti Digo harus ikut..."
Hingga akhirnya bel pelajaran berbunyi, Aruna dan juga Vina bergegas untuk keluar dari kelas dan menuju ke depan di mana mobil Vina sudah terparkir di sana sementara Aruna sendiri belum melihat Pak Rudi yang menjemputnya padahal tadi satu jam yang lalu Pak Rudi memberikan kabar kalau beliau yang akan menjemput Aruna, tidak seperti kemarin yang tiba-tiba Pak Rudi diminta untuk Mami Nina mengantarkan beliau ke sebuah tempat yang pastinya kemarin Aruna pulang sekolah diantar oleh Dino sesuai dengan instruksi yang dikatakan oleh Digo kemarin.
"Pak Rudi belum datang, lo pulang sama gue atau diantar sama Dino?"
Sepertinya Vina juga tahu dengan apa yang dilakukan oleh Diego saat suami Aruna itu berangkat ke Jepang dan pastinya Vina juga tidak mau jika nanti ia disalahkan oleh Digo ataupun Dino yang kedua saat itu sama-sama keras kepala.
"Sama Pak Rudi tetapi beliau belum datang sebentar lagi lah dan temenin gue disini, gue takut nanti kalau digondol!!"
"Hahaha bukan nya lebih baik lo jika digondol orang apalagi yang gondol itu laki-laki yang tampan?"
"Enak aja, lebih tampanan ke mana-mana suami gue, yang pastinya Digo tidak ada tandingannya selain tampan, kaya raya dan juga baik dan mencintai gue."
UPS
Aruna menutup mulutnya, ia tanpa sadar memuji Digo, itu berarti Aruna sudah jatuh cinta dengan suaminya yang membuat Vina hanya menggelengkan kepalanya meskipun Vina sudah tahu jika Aruna sudah ada rasa dengan Digo, yang pastinya ia begitu senang karena sahabatnya itu bisa membuka matanya dan melihat jika memang benar tidak ada laki-laki yang tepat untuk dirinya.
"Haha udah ngaku aja jika lo sudah jatuh cinta dengan Digo dan tidak ada salahnya memang jika lo mengatakan Digo itu laki-laki yang tampan kaya raya dan juga cinta sama Lo, apalagi yang lo cari di luar sana, suami lo itu sudah paket komplit."
Aruna hanya diam saja, ia juga malu dengan ucapannya yang keceplosan sedang memuji suaminya, tanpa sadar di dalam hatinya juga sudah menaruh rasa dengan Digo, namun Aruna sendiri belum berani mengungkapkannya.
Tin..
Tiba-tiba atensi keduanya menoleh ke arah sumber suara klakson mobil membuat keduanya mengedarkan pandangan matanya ke arah mobil yang saat ini sedang berada di depan gerbang.
"Siapa? lo kenal ? sepertinya yang ada di dalam mobil itu mengenal salah satu dari kita?"
Aruna hanya mengedikkan bahunya, ia juga mengedarkan pandangan matanya ke segala arah yang mana memang tidak ada orang lagi selain dirinya dan juga Vina, entah mengapa penghuni sekolahan ini tiba-tiba sepi pada hal baru lima menit yang lalu, apa mungkin teman-teman Aruna sengaja untuk pulang nanti sore saja menunggu cuaca yang agak sedikit sorean biar tidak kepanasan?
__ADS_1
"Dan gue juga belum pernah lihat mobil itu deh."
Bagaimana mungkin mereka akan mengenal Nathan, karena Nathan setelah tiba di Jakarta dia langsung saja menelepon temannya untuk dijemput dan tentunya teman Digo itu menjemput Digo, tetapi sayang sekali tidak mengantarkan ke rumahnya tetapi temannya langsung saja ke perusahaan hingga Nathan akhirnya meminjam mobil temannya itu untuk menjemput Aruna, karena ia tadi menelpon Pak Rudi supaya dirinya saja yang menjemput Aruna dan Pak Rudi tidak usah kemana-mana cukup di rumah saja tidak perlu pergi ke sekolah.
"Tau ah mungkin hanya orang iseng, udah yuk masuk saja gue Jadi ngeri jika berdiri di sini."
Bagaimana tidak ngeri sedangkan satpam di depan sedang ke belakang yang tentunya hanya ada Aruna dan Vina yang berdiri di sana, bagaimana nanti jika keduanya diculik, harus minta tolong kepada siapa lagi karena tidak ada orang di luar sini.
Aruna dan Vina yang merasa keadaan di luar sekolah begitu sepi langsung saja memabalikkan tubuhnya mereka tidak mau beresiko untuk tetap berdiri di sana terlebih melihat mobil mewah yang sudah berhenti di depan, mereka tentu saja juga tidak tahu siapa pemilik mobil itu.
"Aruna..."
Deg
Aruna dan Vina sama-sama menghentikan langkah kakinya padahal mereka sudah berada di belakang gerbang sekolah dan ingin ke dalam saja,tetapi tiba-tiba Aruna dikagetkan dengan suara yang sepertinya Aruna sangat kenal suara milik siapa itu.
Arema dan Vina saling pandang kemudian mereka berdua langsung saja membalikkan badannya untuk melihat siapa yang manggil Aruna, karena Vina sendiri tidak tahu suara siapa itu tetapi berbeda dengan Aruna karena sangat yakin jika pemilik suara itu adalah kakak iparnya sendiri.
Dan memang benar apa yang didengarnya tidak salah setelah Aruna membalikkan badan, ia melihat wajah tampan Nathan yang saat ini tersenyum manis ke arah Aruna, tentu saja Aruna kaget sekaligus bingung untuk apa Nathan berada di sini, dan bukan nya kemarin Nathan sudah berada di Singapura dan 1 bulan lagi baru kembali ke Jakarta tetapi baru satu hari dan satu malam mengapa Nathan sudah kembali di sini, Ada apa sebenarnya?
"Hei kalian kenapa? kenapa seperti melihat hantu, apa kalian tidak mengenali aku?"
Tentu saja Nathan langsung menegur kedua gadis cantik itu, laki-laki itu juga tidak tinggal diam dan langsung mendekati Aruna dan juga Vina. Nathan tahu jika saat ini mereka kaget dengan apa yang dilakukannya terlebih Aruna yang pastinya Aruna tau kalaudirinya sudah berangkat kemarin malam di Singapura dan akan tiba satu bulan lagi.
"Kak Nathan. Bukan begitu aku hanya kaget saja, bukannya kakak berada di Singapura tetapi mengapa siang ini sudah ada di sini?"
Tentunya selain kaget, Aruna juga bingung harus bersama dengan kakak iparnya sementara Digo sendiri pasti cemburu dengan Natha, terlebih lagi mungkin saja teman-teman Digo akan memberikan informasi kepada Digo tentang keberadaan Nathan siang ini.
"Ceritanya panjang, yang jelas Om Thomas mendadak harus meng-cancel pertemuan penting kita jadi setelah aku dari bandara Aku sengaja untuk ke sini menjemput kamu."
Aruna semakin ketar-ketir saja pasalnya ia tidak tahu menau tentang pekerjaan Nathan yang tiba-tiba di cancel dan itu apa tadi Aruna tidak salah dengan jika Nathan baru saja tiba langsung ke sini apa yang akan dilakukan nantinya sementara Digo sendiri berada di negara orang.
"Tapi aku sedang menunggu Pak Rudi Kak? Bagaimana kalau beliau ke sini nantinya?"
Nathan tersenyum senang, kemudian semakin mendekati wajah cantik Aruna, ya ini adalah kesempatan emas baginya ketika Digo tidak ada di sini, maka Nathan yang akan melindungi, mengantar dan menjemput Aruna pulang dan pergi ke sekolah , tentunya ini adalah hal yang sudah Nathan impikan sejak dulu namun tidak terkabul. Dan inilah saatnya, bukan karena Nathan ingin memanfaatkan situasi dan keadaan seperti ini, tetapi memang kenyataan seperti itu keberuntungan masih berada di pihaknya meskipun Nathan sadar jika Aruna adalah adik iparnya sendiri dan Nathan tidak bisa berbuat banyak, namun bersama dengan Aruna membuat hari-harinya akan semakin menyenangkan, tidak apalah ia bisa dekat dengan Aruna selama satu minggu ini itu sudah lebih dari cukup daripada tidak sama sekali.
"Pak Rudi sedang mengantarkan Mami."
Bagaimana ini apakah aku harus pulang dengan Kak Nathan? nanti bagaimana jika Dino dan yang kalian tahu pastinya mereka akan mengadu kepada Digo dan membuat Digo langsung saja kembali ke sini.
"Ayo Kakak antar pulang sepertinya sudah sepi lagi pula kasihan temen kamu itu, dia sendiri tadi pasti ingin pulang tetapi nungguin kamu."
Aruna hanya diam saja, ia melihat ke arah Vina yang juga saat ini melihat ke arahnya tentu saja Aruna butuh pertimbangan apakah ia harus pulang bersama dengan Nathan atau meminta tolong kepada Dino saja yang sepertinya masih berada di dalam sekolahan.
Vina sendiri hanya menganggukkan kepalanya, namun tidak dengan Aruna. Aruna masih saja ketar ketir dan khawatir tetapi sedetik kemudian Vina membisikkan sesuatu di telinga Aruna.
"Iyakan saja Run, kalau gak barenga Kak Nathan lalu Lo mau pulang Deng siapa lagi? bukankah sopir lo nggak bisa jemput? lagi pula di sini sudah sepi, gue juga melihat mobil Dino dan yang lainnya sudah tidak ada di parkiran mungkin mereka sudah pada cabut duluan."
Bisik Vina yang membuat Aruna mengedarkan pandangan matanya ke parkiran dan memang benar tidak ada mobil ataupun motor dari keempat sahabat Digo itu berarti keempatnya sudah pulang dari tadi.
Ya Dino memang sudah lebih dulu pulang tiga puluh menit yang lalu karena kelas mereka pelajaran terakhir itu kosong dan itu berarti mereka bisa pulang tiga puluh menit sebelum bel pelajaran berbunyi tentunya setelah mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh guru tersebut.
Dino sendiri tidak menunggu Aruna karena ia tahu jika siang ini Aruna sudah dijemput oleh Pak Rudi dan itu artinya tugas Dino selesai.
Bukan karena Dino tidak mengindahkan apa yang diperintahkan oleh Digo sahabatnya, tetapi ia percaya jika Pak Rudi benar-benar menjemput Aruna dan akan membawa Aruna pulang oleh karena itu Dino juga teman-temannya bergegas untuk pulang saja, seperti biasa mereka ingin nongkrong dan tanpa Dino berpikir jika nantinya Pak Rudi tidak akan menjemput dan Dino sendiri tidak tahu jika Nathan tiba-tiba datang ke Jakarta.
"Sudah bareng Kak Nathan saja nggak apa-apa lagi, Kak Nathan juga bukan orang jahat."
Lagi lagi yang sepertinya Aruna masih ragu-ragu, memang si Nathan bukan orang jahat tetapi dia lebih jahat daripada penjahat.
Nathan bisa saja berubah menjadi serigala yang menakutkan kalau Nathan berpikir jika Nathan akan merebut kembali sesuatu yang sebenarnya menjadi miliknya.
"Gue tahu tapi...."
Iya, lagi lagi Aruna masih ragu-ragu, apalagi Dino dan teman-temannya memang tidak berada di sini tetapi ia takut saja jika anak buah Digo melaporkan semuanya kepada Digo dan tentu saja itu yang membuat nanti Digo marah-marah bahkan Aruna yakin jika nantinya suaminya itu bisa mengancam akan tiba-tiba pulang ke Jakarta.
"Sudah sepi Run, apa kamu mau nginep di sini saja? jangan khawatir aku yakin pasti digo tidak akan marah."
Nathan menyeletuk tiba-tiba meskipun Vina berbisik-bisik dengan Aruna tetapi Nathan masih bisa mendengarnya, ia juga tahu bagaimana keraguan Aruna untuk bersama dengan dirinya tetapi nyatanya yakin jika semuanya akan baik-baik saja, Nathan hanya menawarkan untuk mengantar dan menjemput Aruna dan juga bersama dengan Aruna tidak lebih dari itu.
Hingga akhirnya Aruna menganggukkan kepalanya ia juga tidak mungkin meminta sahabatnya di sini terus-menerus karena Aruna tahu setelah ini Vina akan mengantarkan Mamanya ke salon dan pastinya semakin lama Aruna memberi keputusan makan Vina juga akan semakin lama pulangnya.
Hingga akhirnya mau tidak mau Aruna langsung saja menuju ke mobil Nathan dengan Nathan tersenyum lebar dengan ia membukakan pintu mobil untuk Aruna.
Laki-laki itu melakukan seperti dulu yang pernah ia lakukan kepada Aruna sebelum Aruna menjadi istri dari Digo, tetap romantis dan juga mesra dan juga tetap memberikan kehangatan untuk Aruna.
Sementara Aruna, perempuan cantik itu merasa canggung berada dalam satu mobil dengan Nathan bukannya ingin menjaga jarak tetapi ia takut saja jika Nathan masih belum move on dari dirinya sementara Aruna saat ini sudah menjadi istri dari Digo, adik kandung Nathan sendiri dan Aruna juga tidak ingin membuat Nathan terus berharap padanya karena sampai kapanpun Aruna tidak akan pernah meminta pisah dari Digo, terlebih lagi saat ini ia yakin dan benar-benar yakin jika di dalam hatinya sudah ada nama Digo dan Aruna sudah belajar mencintai Digo dan tidak akan pernah berpisah dari suaminya itu.
"Makan dulu ya Dek, aku lapar dari tadi belum sarapan, sepertinya kamu juga begitu."
Tidak ada jawaban dari mulut Aruna hanya anggukan kecil dan itu membuat Nathan tersenyum, ia lagi lagi akan memanfaatkan kesempatan berdua dengan Aruna.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Aruna dengan pikirannya sendiri sementara Nathan fokus untuk menyetir, tetapi sekali-kali pandangan matanya tertuju kepada perempuan cantik yang ada di sampingnya ini.
Nathan jadi berandai andai dan membayangkan jika saja Digo benar-benar melepaskan Aruna, karena Aruna tidak ada rasa cinta sama sekali dengan Digo dan Nathan akan bertekad untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Nathan akan melamar Aruna dan menikahi Aruna secepat nya bahkan Nathan tidak peduli dengan status Aruna yang sudah tidak perawan lagi, bagaimana pun Aruna adalah perempuan yang pantas untuk diperjuangkan dan perempuan yang pantas untuk dimiliki.
Hingga lima belas menit kemudian, Nathan sudah membelokkan mobilnya ke sebuah restoran, di mana itu membuat Aruna melototkan matanya karena ia paham betul ini adalah restoran pertama kalinya Nathan mengajaknya makan malam dulu, yah dalam arti kata kencan pertamanya dengan Nathan sebelum menjadi istri Digo.
"Nggak papa kan kita makan di sini? Sekalian Aku ingin mengingat masa masa dulu waktu kita kencan pertama kalinya."
Dan benar apa yang dipikirkan oleh Aruna, Nathan sengaja mengajaknya ke sini, entah apa yang ada di pikiran Nathan saat ini hingga malahan mengajak dirinya makan ke sebuah tempat yang merupakan kenangan yang harus Nathan kubur, tidak malah terus mengingatnya karena tidak mungkin kenangan itu akan kembali lagi sementara Aruna sendiri sudah menjadi istri dari Digo.
"Terserah Kak Nathan saja."
Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Aruna, tidak mungkin jika Aruna menolak terlebih lagi mobil sudah berhenti dan pastinya baik Nathan maupun dirinya jadi sudah siap-siap untuk keluar dari mobil.
Tapi kalau tadi Nathan meminta makan di mana Aruna juga tidak bisa menjawabnya, ia paling malas jika ditanya ingin makan apa dan juga di mana dan jawabnya juga sama, terserah dan terserah saja.
Hingga akhirnya keduanya saat ini sudah keluar dari mobil dengan Natha. yang terlebih dulu keluar dari mobil dan langsung saja berada di depan pintu Aruna, mungkin saja jika Aruna tidak cepat-cepat keluar dari mobil itu Nathan sudah lebih dulu membukakan pintu untuk Aruna.
Mereka berjalan beriringan dengan sekali Nathan mencuri pandang ke arah Aruna, bagaimana ia bisa melupakan perempuan cantik yang ada di sampingnya saat ini karena semakin hari Aruna tambah cantik saja, apakah itu berarti ia tidak boleh menghapus rasa cintanya kepada Aruna dan terus-menerus mengharapkan Aruna supaya Aruna bisa berpisah dengan Digo dan ia yang akan menggantikan posisi Digo?
Ah kalau begitu rupanya Nathan jahat sekali, ia menyumpahi supaya kedua pasangan itu berpisah, tetapi Jujur saja di dalam hatinya masih ada rasa untuk Aruna bahkan sama sekali tidak hilang meskipun Nathan sudah berulang kali untuk menyadarkan diri sendiri jika Aruna memang bukan untuknya.
Lagi dan Lagi aruna hanya pasrah saja ketika Nathan sudah memberi tempat dan tempat itu pas sekali mengingatkan keduanya saat itu di mana memang kebetulan tempat yang dipilih Nathan itu kosong.
Keduanya saat ini sudah memesan menu kesukaan masing-masing yang pastinya sembari menunggu, Nathan membuka suaranya.. tidak mungkin mereka itu hanya diam-diam seperti ini karena Nathan tahu pastinya Aruna merasa canggung dengan dirinya.
"Kamu masih mengingatkan Dek tempat ini? dan juga di sini pertama kalinya aku mengajak Kamu kencan?"
Aruna kembali melebarkan senyumannya ia tidak mungkin memanyunkan bibitnya di depan Nathan padahal sejatinya ia canggung dan juga jengkel ketika diingatkan tentang masa lalu terlebih lagi ia tidak mungkin membuat Nathan kembali berharap padanya.
"Aku masih ingat kak tetapi maaf kakak mendingan tidak perlu mengingatkan lagi karena kondisi kita berbeda, saat ini aku sudah bersuami dan aku berharap kakak bisa movement dariku atau mungkin aku yang GR dengan perhatian Kakak selama ini tetapi masih banyak perempuan-perempuan di luar sana yang tentunya lebih dari aku dan aku berharap kakak bisa secepatnya mencari perempuan itu."
Nathan tersenyum, ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Aruna yang mungkin orang lain juga mendengarnya akan merasa sakit hati atau bagaimana tetapi tidak dengan Nathan.
"Kamu memang benar dan kamu tidak GR, sampai saat ini aku masih belum bisa move on dari kamu tetapi aku sadar diri, aku tidak akan melebihi batasan, aku hanya ingin bersama dengan kamu saja l,nmenikmati hari-hari berdua dengan kamu, ya anggap saja jika aku adalah orang suruhan Digo untuk menjaga dan melindungi kamu dan kamu tidak perlu khawatir, aku tahu diri dan tidak mungkin aku merebut kamu dari Digo."
Aruna jadi jengkel sendiri, daripada seperti ini lebih baik ia tadi tidak menerima ajakan Nathan untuk pergi pulang bersama dengannya terlebih lagi ini hanya berdua saja, jika nanti ujung-ujung nya nanti Nathan malahan kembali mengingat kan tentang kejadian waktu itu sebelum Aruna menikah dan menjadi istri dari Digo.
"Tidak usah dipikirkan, ayo makan Dek.. kamu pasti lapar."
__ADS_1
Tidak ingin semakin kacau saja, Nathan meminta Aruna untuk makan dan ini kebetulan juga sudah waktunya jam makan siang pastinya perempuan cantik yang ada di depannya saat ini sudah lapar begitupun dengan dirinya.
Aruna menganggukkan kepalanya kemudian mengambil makanan yang sudah tersaji di meja, ia sama sekali masih merasa canggung dan tidak menyangka, bagaimana mungkin di saat suaminya pergi ke Jepang malah saat ini bersama dengan Nathan, kalau memang seperti ini lebih baik Aruna pulang ke rumah Mamanya saja biar lebih aman dan pastinya tidak akan menimbulkan huru-hara di dalam rumah tangganya.