
"Beli jajan dulu ya yank...."
Ucap Aruna kepada Digo yang saat ini mereka berdua sudah pulang sekolah dan tentu saja Aruna semangat sekali karena ingin ikut Digo ke kantor, entah mengapa perempuan cantik itu tiba-tiba ingin menempel terus dengan suaminya, bukan karena tidak percaya dengan suaminya atau takut jika suaminya macam-macam di luar tetapi entahlah kehamilan Aruna ini membuat Aruna menjadi manja dan tidak mau ditinggal oleh Digo, dan selalu nempel melulu..padahal saat ini terlihat sekali wajah Aruna yang sudah kelelahan.
"Iya yank, mau makan di mana?"
"Nggak makan, kita mampir ke mini market dulu aja, aku mau beli beberapa cemilan, tadi kan sudah makan di kantin."
Digo menganggukkan kepalanya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, lalu berbelok ke arah minimarket tentu saja mengikuti perintah dari istri cantik yaitu dan kali ini juga memang tidak mau berdebat.
Ya bukan karena terpaksa mengajak Aruna ke kantor tetapi yang pastinya Digo merasa khawatir dengan Aruna, Aruna sendiri sedari tadi pagi sampai siang di sekolahan juga tidak pernah diam kakinya terus melangkah lincah ke sana kemari, hingga membuat Digo khawatir tetapi tidak dengan pemilik tubuh indah itu bahkan Aruna sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya sedang hamil semuanya baik-baik saja.
Dan memang benar setelah pulang sekolah, Aruna bersemangat sekali untuk ke kantor Digo, entah apa yang akan dicari di sana, ya jelas perempuan cantik itu benar-benar tidak mau ditinggal di rumah.
__ADS_1
Setelah sampai di minimarket, Digo langsung saja mengikuti Aruna untuk masuk ke dalam minimarket, ia pun tidak akan membiarkan istrinya sendiri, yang terlebih nanti jika Aruna memborong makanan ringan itu di dalam, yang pastinya bukan masalah uang tetapi kasihan jika Aruna membawa barang belanjaan sendirian.
Dan benar saja, semua makanan favorit Aruna di borongnya, yang entahlah membuat Digo menggelengkan kepalanya, bukan karena tidak mampu membayar tetapi ia juga bingung bagaimana nanti Aruna bisa menghabiskan semua makanan itu yang mana jumlahnya sangat banyak sekali, tidak seperti biasanya waktu Aruna belum hamil.
"Yakin mau menghabiskan semuanya yank? jangan marah dulu, bukannya apa-apa tetapi aku heran deh sama kamu, sejak hamil Kamu doyan makan, tapi nggak masalah aku malah senang jika kamu mau makan tidak mual mual apalagi muntah..."
"Yakinlah, kalau aku nggak yakin nanti kamu yang bakal ngabisinnya.."
Digo menelan ludahnya agak kasar, laki-laki itu tentu saja tidak mau menghabiskan makanan yang sudah dibeli oleh Aruna, ya mana mungkin ia akan makan makanan manis sebangsa coklat itu pastinya Digo enggak mau, tetapi jika ia tidak menuruti Apa yang diucapkan oleh Aruna, maka sudah dipastikan jika Aruna nanti akan ngambek.
Setelah membeli banyak makanan, Digo kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor, ia sengaja tidak buru-buru karena memang pertemuan dengan klien penting dan juga dengan Papi Rendra dan mertuanya itu masih 1 jam lagi, berarti masih ada waktu untuk ia bisa bercengkrama dengan istrinya terlebih lagi membawa Aruna saat ini dalam kondisi hamil, Digo memang haruspelan-pelan tidak boleh terburu-buru nanti akan membahayakan anak dan istrinya itu.
Keduanya kini sudah sampai di parkiran perusahaan Digo, Aruna segera turun dengan membawa dua tentengan plastik dan tentu saja wajah Aruna tidak bisa diprediksi lagi begitu senang bukan main, padahal ini bukan pertama kalinya Aruna main ke perusahaan tetapi memang benar setelah menikah dengan Digo inilah pertama kalinya Aruna menginjakkan kaki di perusahaan suaminya yang mana memang baru Digo rintis beberapa bulan yang lalu sebelum menikah dengan Aruna tepatnya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bawa kreseknya, tapi kamu jalannya di samping aku jangan di depan ataupun di belakang nanti kamu ilang atau Aku tidak mau kamu terburu-buru untuk cepat sampai ke ruangan aku."
Melihat istrinya yang membawa dua kantong kresek itu, Digo tidak tega, laki-laki itu segera mengambil alih kresek-kresek itu dan saat ini berpindah di tangannya, Digo tidak peduli bagaimana nanti tatapan karyawan itu ketika melihatnya yang penting istrinya tidak kenapa-napa tidak kelelahan dan bisa membuat Aruna senang.
Dan jelas saja seperti apa yang dipikirkan oleh Digo, banyak pasang mata yang melihat ke arah Aruna meskipun pernikahan Aruna dengan Digo tidak ada yang tahu bahkan mereka menganggap jika Aruna itu hanya sebagai tunangan Digo saja belum dinikahi oleh Digo tetapi tidak masalah, malah itu lebih baik bahkan mereka semua saat ini memandang ke arah Aruna dan Digo otomatis mereka saat ini menjadi pusat perhatian terlebih lagi dengan Digo yang membawa dua kresek berukuran besar di kedua tangannya, sementara dengan Aruna, santai saja berjalan di samping Digo yang wajahnya nampak cantik sekali.
"Pantas saja bos kita langsung saja melamar ternyata calon istrinya cantik seperti itu. Aku saja jika dijodohkan juga mau sekali, terlebih lagi auranya memang sangat mempesona dan juga seksi..."
Ujar salah satu karyawan Digo di mana ia tak berkedip melihat Aruna meskipun Aruna hamil tetapi sayang sekali perutnya belum terlihat bahkan saat ini tubuh Aruna nampak seksi tidak seperti kemarin-kemarin dan juga aura wajah Aruna memancarkan pesonanya yang membuat laki-laki di lobi kantor itu tidak berkedip memandang Aruna.
"Aku juga sama, Lagi pula kalau aku jadi Pak Bos aku pasti tidak langsung lamaran, langsung aku nikahin dan langsung aku sikat saja daripada nanti keduluan orang malahan bahaya, calon istrinya cantik seperti itu. Aku saja jika dianya mau sama aku, Aku juga mau..."
Digo menghentikan langkah kakinya sejenak, ia menoleh ke arah karyawannya saat ini yang tengah membicarakan dirinya dengan Aruna, bukannya ia mau marah-marah tetapi rasa cemburu di dalam hatinya ketika ada laki-laki menyanjung istrinya dan tentu saja itu memang resiko mempunyai istri yang sangat cantik dan oleh karena itu pula Digo jarang-jarang mengajak Aruna ke suatu tempat yang ramai, terlebih lagi banyak laki laki yang menatap ke arah istrinya, di samping karena tidak mau istrinya kelelahan, Digo juga tidak mau jika ada laki-laki yang terpesona dengan kecantikan Aruna.
__ADS_1
Melihat Digo yang menghentikan langkah kakinya, Aruna langsung saja memposisikan tangannya untuk melingkar ke lengan Digo yang saat ini tangan Digo masih memegang kresek besar yang berisi makanan makanan kesukaan Aruna itu.
"Tidak usah didengar yank, resiko punya istri yang cantik itu seperti itu, lagi pula aku cintanya sama kamu tidak sama mereka,harusnya kamu bangga karena sudah mendapatkan istri yang cantik seperti ke aku ayo sayang kita lanjut ke depan aku sudah ingin istirahat dan nyemil di atas."