
Dan benar sekali,.setelah apa yang diucapkan oleh Vina tadi, Aruna segera menyelesaikan soal-soalnya, perempuan cantik itu bahkan tidak memperdulikan bagaimana jawabannya nanti akankah benar atau salah, yang penting ia harus mengisi semuanya dan segera keluar dari kelasnya.
Sama seperti Aruna, Vina pun demikian.. ia yang memang otaknya 11 12 dengan Aruna segera menyelesaikan soal-soalnya dan berniat untuk segera pergi ke lapangan untuk melihat pertandingan basket yang membuat seisi sekolah ini heboh.
Siapa yang tidak ingin melihat pertandingan basket itu, antara ketua OSIS dengan ketua basket yang nyata-nyatanya memang si ketua OSIS itu tidak pernah sama sekali memperlihatkan kemampuan nya di bidang basket, kalau Riyan tidak usah diragukan lagi .. ia sudah berkali-kali meraih juara pertandingan basket dan tentu saja itu membuat penasaran siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.
"Gue udah, lo gimana?"
Tanya Aruna kepada Vina dengan sedikit berbisik, Aruna takut jika guru killer di depannya itu nanti mengira jika dirinya sedang meminta jawaban kepada sahabatnya itu.
Tidak membuka suaranya, tetapi Vina menganggukkan kepalanya dan pertanda jika memang Vina juga sudah selesai mengerjakan soal sama seperti dirinya.
"Oke gue duluan setelah itu lo nyusul."
Setelah mengatakan itu, Aruna segera berdiri .. ia tidak lupa mengambil ponselnya dan mengecek lagi apakah memang benar semua soal sudah dijawabnya dan tentu saja Aruna tidak berharap lebih dari soal-soal ini yang mana memang ia sama sekali tidak begitu paham, maklum saja otaknya yang tidak seencer otak suaminya yang membuat Aruna kebingungan menjawab soal-soal matematika.
Aruna yang sudah berdiri segera mengumpulkan lembar soal itu di depan kemudian ia bergegas keluar dari kelas dan tentu saja itu tidak membuat teman-temannya kebingungan ataupun bertanya-tanya, mengapa Aruna bisa secepat itu meninggalkan kelas karena mereka tahu jika Aruna ingin segera menuju ke lapangan menemui kekasihnya.
Setelah Aruna keluar, disusul oleh Vina.. kemudian semua teman-teman Aruna juga berbondong-bondong untuk mengumpulkan jawaban dari soal matematika itu, mereka semua juga penasaran karena pastinya pertandingan basket yang dilakukan oleh Digo dan juga Riyan itu sudah dimulai dan pastinya mereka juga penasaran siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.
Aruna sendiri bergegas menuju ke lapangan yang mana memang di sana sudah ramai banget meneriakkan nama suaminya dan juga Rian, tentu saja Aruna mendadak menjadi sedikit cemburu manakala banyak perempuan-perempuan yang mengidolakan suaminya bahkan Aruna sendiri mendengar perempuan-perempuan itu dengan terang terangan ingin memiliki Digo.
__ADS_1
"Gila, kak Digo ganteng banget. Senang deh jadi pacarnya. Apalagi tubuhnya yang pelukable jadi ingin dipeluk.."
"Iya ternyata kak Digo juga bisa jago basket, pesona Kak Rian kalah.. kalau seperti ini gue sendiri dukung kak Digo.."
"Eh ngomong-ngomong Kak Digo punya pacar atau belum sih? kalau belum .. gue mau daftar, pengen banget deh dipeluk Kak Digo, lihat saja keringat yang membasahi tubuhnya membuat kak Digo semakin macho saja."
"Lo lupa atau lo tidak ingat jika Kak Digo sudah mempunyai pacar, kak Aruna.. yang pastinya Kak Digo sangat mencintai Aruna, jadi ngiri deh dengan Kak Aruna pastinya setiap hari dipeluk oleh kak Digo."
Ujar gadis-gadis centil kelas 10 di mana mereka saat ini terpesona dengan tubuh Digo ,dan bukan hanya tampannya Digo saja yang terlihat ganteng dan juga macho tetapi permainan basket Digo yang membuat mereka terpesona, mereka semua tidak menyangka jika Digo mempunyai kemampuan yang jauh lebih besar daripada Ryan.
Aruna sendiri tadi menggebu-gebuk untuk melihat pertandingan suaminya di mana ia memang penasaran dan merasa khawatir, takut saja kalau Digo kalah dalam permainan ini tetapi setelah ia sampai di lapangan, Aruna mendengus kesal malakala mendengar suara-suara yang sampai ke telinganya jika banyak adik kelas yang menginginkan Digo dan sepertinya memang pesona Digo tidak bisa tertandingi.
Ya Aruna malahan kepikiran tadi pagi di mana Digo dengan ganasnya melakukan sesuatu atas tubuhnya dan juga dengan berkeringat tentu saja itu tidak akan mengurangi kadar ketampanan Digo, bahkan itu akan membuat Digo semakin macho saja.
"Nggak usah dibayangin, tadi pagi sudah dapat .. nanti juga sampai rumah dapat lagi."
Aruna menoleh ke arah sumber suara di mana Vina yang saat ini sudah berdiri di sampingnya dan melihat ke arahnya, ya saat ini sedang memandangi Digo. Tentu saja Vina paham betul dengan pikiran Aruna saat ini yang mana memang benar-benar terpesona dengan apa yang dilakukan oleh Digo, apalagi Digo saat ini yang nampak lebih macho, pastinya Vina berpikir juga Aruna sedang membayangkan adegan bercinta dengan Digo di atas ranjang.
"Ngayal .. anak di bawah umur mana tahu begituan."
"Hahaha atau kamu kesel dengan suara-suara adek kelas tadi? jangan dihiraukan, yang penting lo adalah pemenangnya dan juga gue yakin Digo tidak akan tertarik dengan modelan seperti itu."
__ADS_1
Aruna tidak menanggapi, ia hanya mengedikkan bahunya sembari melihat ke sekeliling lapangan, apakah memang masih ada tempat kosong untuk dirinya dan juga Vina duduk untuk melihat pertandingan suaminya.
"Yuk ke sana, nggak usah dipikir yang nggak-nggak. Digo orangnya setia kok, saat nya kita lihat pertandingan suami dan juga pacar lo!"
"Pacar? enak aja!!"
Vina terkekeh geli kemudian ia menarik tangan Aruna dan membawanya ke sebuah tempat yang mana tempat itu memang kosong, sengaja dikosongkan atau entahlah yang penting keduanya saat ini bisa melihat pertandingan Digo dengan Riyan.
Melihat istrinya sudah duduk di sebuah kursi dengan menatap ke arahnya, Digo semakin bersemangat.. bukan karena tadi ia tidak semangat karena tidak ditungguin oleh Aruna, tetapi kali ini lebih semangat lagi dan akan membuktikan jika memang ia menjadi suami Aruna dan bisa diandalkan, terlebih lagi ia tidak mau kalah dari Ryan yang mana sudah menantangnya.
Berulang kali Digo tersenyum ke arah Aruna, dengan Digo juga mengedipkan sebelah matanya tentu saja itu disambut Aruna dengan tersenyum manis yang mana malahan membuat semua orang yang ada di sana menjadi baper melihat keromantisan antara Aruna dan Digo.
"Cie cie..yang sudah senyam senyum, udah sekarang sana bilang kalau lo cinta sama Digo, kalau perlu teriakin aja dari sini pasti tuh laki lo akan berbunga-bunga dan langsung saja memasukkan bola berkali-kali ke dalam ring."
Ujar Vina yang dari tadi masih memperhatikan interaksi antara Aruna dengan Digo, ia gemas sekali dengan sahabat nya itu di mana belum mengakui kalau sebenarnya Aruna juga cinta sama Digo, tetapi gengsi dan juga egonya Aruna yang masih tinggi.
"Nggak, gue nggak mau jadi orang gila di sini.. enak saja teriak-teriak seperti itu. Lo nggak dengarkan tadi dibelakang yang sudah berteriak teriak dan menjadi risih telinga gue, apa mereka nggak tahu kalau ada gue di sini sepertinya memang sengaja deh.."
"Hahaha cemburu bilang Bos, Mereka aja tidak malu mengungkapkan kata-kata cinta untuk Digo kenapa lo yang sudah sah malahan nggak mau."
Lagi lagi Vina tertawa melihat kecemburuan Aruna yang mana memang benar jika suara-suara di belakang itu membuatnya risih dan tidak konsentrasi untuk melihat pertandingan bola basket, bukan hanya Aruna saja tetapi Vina juga merasa risih apalagi nampak adik kelas yang kecentilan itu yang seakan-akan memberikan perhatian lebih kepada Digo dan tentunya itu merusak pendengaran, jadi mereka berdua tidak bisa menikmati pertandingan ini dengan tenang.
__ADS_1