
Pagi-pagi sekali Digo sudah siap untuk berangkat sekolah, bukan memang kebetulan tetapi memang setiap hari Digo melakukan seperti itu karena ia mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk pergi ke sekolah setiap paginya dan sebagai ketua OSIS, ia harus menjadi panutan kepada teman-temannya yang mana Digo juga setiap pagi sebelum bel berbunyi menjaga gerbang dan mengawasi setiap kali ada teman-temannya yang sedang terlambat.
Untuk pagi ini Digo lebih pagi berangkat ke sekolahnya, bukan karena apa-apa tetapi karena ia ingin pergi ke rumah Aruna dulu, ia yakin jika Aruna tidak berangkat ke sekolah tetapi tidak masalah, ia yang sudah berstatus sebagai tunangan Aruna harus memperhatikan Aruna dan membuat perempuan cantik itu nyaman bersanding dengannya nanti.
"Pagi, Mi..Pi, Bang!"
Sapa Digo setelah turun ke bawah dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan di mana saat ini keluarganya sudah berkumpul di sana dan tentu saja untuk melaksanakan sarapan setiap hari dilakukannya.
"Pagi juga, sarapan dulu Di, sepertinya kamu buru-buru sekali."
Ujar Mami Nana yang membalas sapaan Digo dan melihat juga putra bungsunya itu buru-buru sekali ingin pergi ke sekolah.
"Maaf Mi, aku langsung berangkat saja tidak ikut sarapan, mau ke rumah Aruna dulu memastikan jika Aruna baik-baik saja."
Jawab Digo dengan tersenyum manis, bukan maksud dirinya ingin membuat cemburu Nathan tetapi memang nyatanya seperti itu, Digo dari semalam mengkhawatirkan Aruna karena berulang kali ia mengirimkan pesan kepada Aruna, namun Aruna tidak membalas sama sekali hanya dibaca saja tetapi tidak dibalas.
Sedangkan Nathan, ia hanya terdiam sembari melihat ekspresi wajah Digo yang sepertinya bahagia sekali sudah mendapatkan Aruna, ya meskipun secara tidak langsung Nathan sudah sedikit demi sedikit mampu berdamai dengan hatinya, tetapi rasa sakit itu masih ada namun Nathan mencoba untuk menepisnya dan mencoba untuk menerima kenyataan yang ada.
"Oh ya sudah kalau begitu, salam buat calon mantu Mami dan kamu jangan aneh di sana."
"Siap Mi, nanti akan aku sampaikan .. Aku pergi dulu, dah semuanya..."
Setelah salim kepada kedua orang tuanya dan pamitan, Digo segera meninggalkan ruang makan.. laki-laki tampan itu pergi meninggalkan rumahnya dengan menggunakan motor karena itu lebih cepat dan Digo rasanya lebih nyaman menggunakan motor daripada mobilnya, mungkin besok jika Aruna sudah sembuh maka ia akan memakai mobilnya untuk menjemput Aruna dan mengantarkan Aruna pulang.
Sepanjang perjalanan, Diego senyum-senyum sendiri... ia bahkan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis pujaannya itu yang mana sejak semalam Digo tidak bisa tidur membayangkan bagaimana wajah cantik Aruna dan membayangkan jika dirinya sudah sah sebagai suami Aruna.
__ADS_1
Terlihat lebay, tetapi itu kenyataannya.. Digo yang baru saja merasakan apa itu jatuh cinta, ia tidak akan pernah melepaskan perempuan yang sangat dicintai dan akan terus membuat Aruna bahagia sampai nanti.
Hingga akhirnya motor Digo sudah sampai di depan gerbang rumah Aruna, Pak satpam segera membuka pintu gerbang karena ia sudah tahu siapa yang datang ke rumah ini.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam."
Jawab serempak Papa Adi dan juga Mama Dina, di mana mereka berdua baru saja selesai sarapan dan bergegas untuk melanjutkan aktivitasnya pagi ini.
"Digo sarapan dulu nak, tapi Aruna belum masuk sekolah hari ini katanya masih tidak enak badan."
Mama Dina mempersilahkan calon mantannya itu masuk bahkan juga menawarinas harapan tetapi Digo membalas dengan menggelengkan kepalanya karena memang pagi ini ia tidak mood makan sebelum bertemu dengan Aruna.
"Terima kasih Ma, aku sarapannya nanti saja. Aruna bagaimana, apa dia sudah sarapan dan minum obat?"
"Tadi Mama sudah masuk ke kamar Aruna dan Mama sudah menawarinya makan, tetapi katanya nanti saja. coba kamu bujuk Aruna untuk makan dan minum obat, siapa tahu berhasil..."
"Iya Mah, aku akan membuat Aruna makan dan minum obat.."
"Ya sudah kalau begitu Mama sama Papa tinggal dulu ya, makanan Aruna ada di meja makan atau kalau kamu tidak tahu bisa minta tolong bibi dan langsung saja naik ke atas, karena sepertinya Aruna masih betah berada di dalam kamarnya."
Kedua orang tua Aruna percaya dengan Digo, lagi pula Digo pasti tidak akan macam-macam lagi dengan Aruna mengingat kondisi putrinya seperti itu toh juga meskipun macam-macam Digo adalah calon suami Aruna dan juga sudah mendapatkan apa yang ia inginkan sebelum sah menjadi suami Aruna.
Digo mengangguk pelan, kemudian salim kembali kepada kedua calon mertuanya itu hingga akhirnya kedua orang tua Aruna beranjak meninggalkan Digo untuk melakukan aktivitas hari ini dan kemudian Digo langsung saja menuju ruang makan di mana di sana masih ada bibik yang sedang beres-beres meja makan.
__ADS_1
"Sarapan untuk Aruna mana Bik, biar aku yang membawakan ke atas."
"Ini Mas Digo."
Digo mengambil sarapan untuk Aruna kemudian ia bergegas untuk menuju ke lantai atas di mana kamar Aruna berada dan niat Digo memang sengaja datang ke sini untuk melihat Aruna sekaligus untuk menyuapi sarapan Aruna a dan meminumkan obat untuk Aruna.
Tok..tok
Digo mengetuk pintu dengan satu tangannya memang sengaja ia tidak bersuara takutnya jika ia bersuara nanti Aruna tidak mau melihatnya masuk ke kamar ini.
"Masuk saja Mah, tidak dikunci."
Jawab Aruna dari dalam sepertinya Aruna mengira jika yang mengetuk pintu adalah Mamahnya padahal tidak.
CeklekĀ
Mendapatkan jawaban dari Aruna, Digo langsung saja masuk ke dalam kamar .. laki-laki itu tersenyum ketika melihat Aruna yang masih bersandar di atas ranjang dengan ekspresi Aruna yang terkejut bahkan sepertinya Aruna juga tidak yakin jika dirinya pagi-pagi sudah berada di sini.
Kenapa dia ada di sini, bukannya sebentar lagi harus ke sekolah?
Sebenarnya Aruna tidak membenci Digo secara umum tetapi hanya saja ia masih belum bisa berdamai dengan hatinya, antara rasa kecewa dan juga merasa bersalah dengan Digo dan juga Nathan yang membuat Aruna masih tidak mau membuka mulutnya dan tidak mau berdamai dengan hatinya untuk saat ini
"Pagi sayank, Aku bawakan sarapan untuk kamu bukan bawakan sih sebenarnya yang masak adalah Mama tetapi aku ke sini untuk menyuapi kamu sarapan pastinya kamu belum makan kan?"
Aruna tidak menggubris bahkan ia malahan memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap wajah Digo padahal wajah Digo sangatlah tampan pagi ini dan tersenyum manis kepadanya.
__ADS_1
"Diam berarti mau."
Meskipun melihat ekspresi Aruna seperti itu tetapi Digo tidak masalah, mungkin memang benar Aruna butuh waktu, Aruna butuh proses untuk mendamaikan hatinya dan Digo akan sabar untuk melihat perubahan Aruna meskipun itu sangat kecil.