
Aruna memaksakan senyumannya, ia tidak mau berdebat lagi di depan Digo, meskipun di dalam hatinya ia cemas, takut saja jika dalam pertandingan basket nanti Digo kalah, karena yang setahu Aruna memang suaminya itu tidak pernah bermain basket atau pun malah memenangkan pertandingan, yang ia tahunya Rian adalah kapten basket yang selalu menjuarai pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan di sekolah ataupun di tingkat nasional.
Tentu saja Aruna takut jika suaminya dan juga Ryan itu bertaruh dan mempertaruhkan dirinya yang mana menurut pemikiran Aruna itu setiap yang menang akan mendapatkan dirinya dan tentunya Aruna tidak setuju dengan itu meskipun ia belum begitu mencintai Digo tetapi ia sudah menyerahkan semuanya untuk Digo dan pelan-pelan akan belajar mencintai suaminya.
"Nah gitu cantik, iya sayank jangan khawatir .. percaya ya sama suami kamu, pasti suami kamu ini akan menang dalam pertandingan nanti dan kamu juga tidak perlu berpikiran yang tidak tidak, tidak ada yang mempertaruhkan kamu di sini meskipun aku nanti kalah, kamu tetap menjadi istriku, dan tidak akan pernah aku lepaskan."
Aruna menganggukkan kepalanya, ia harus percaya kepada suaminya kalau memang tidak akan terjadi apa-apa nanti setelah pertandingan itu berakhir.
Melihat Aruna yang tersenyum, Digo segera menggandeng tangan Aruna kemudian membawa istrinya itu masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi bel berbunyi.
"Nanti kita langsung saja ke rumah Mama ya, tidak usah pulang ke rumah Mami dulu."
Ujar Digo yang memang sudah berencana akan menginap di rumah Mamanya Aruna karena ini weekend dan pastinya mereka tidak perlu repot-repot untuk membawa pakaian ganti karena di sana sudah ada pakaiannya dan juga masih ada pakaian Aruna yang memang sengaja ditinggal di sana.
"Iya, tapi beneran nggak usah ke rumah Mami dulu?"
"Nggak perlu sayank, aku sudah bilang sama Mami kalau malam ini kita akan menginap di rumah Mama dan kamu tidak perlu khawatirkan itu, aku tahu kamu lupa pamit sama Mami dan juga Papi kan?"
Lagi lagi Aruna menganggukkan kepalanya, padahal ia yang sudah merencanakan semuanya ini, supaya weekend ini menginap di rumahnya tetapi ia sendiri yang lupa bahkan tadi pagi ketika sudah bertemu dengan Digo, Aruna juga lupa kalau nanti pulang sekolah langsung saja ke rumah Mama, jadinya Aruna juga belum berpamitan kepada Mami dan juga Papi.
__ADS_1
"Aku tahu kamu lagi memikirkan aku jadi lupa semuanya, tidak masalah sayank... mereka mengerti kok asalkan kita tidak tinggal di sana saja, Mami pastinya tidak akan khawatir."
Ya sekuat apapun Digo meminta untuk pindah dari kediaman Narendra, Mami dan Papi Rendra tetap saja menolak dengan alasan Digo dan Aruna masih sangat muda, mereka berdua masih membutuhkan bimbingan kedua orang tuanya dan juga sekaligus untuk mengawasi gerak-gerik Digo di luar sana.
Kedua orang tua Digo juga tidak mau jika Digo salah langkah apalagi Digo yang masih sangat muda dengan pergaulan teman-temannya yang sangat tidak sewajarnya membuat kedua orang tua Diego cemas, meskipun mereka tahu jika Digo tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar batas apalagi saat ini Digo sudah mempunyai istri tetapi rasa khawatir itu juga masih menyelimuti kedua orang tua Digo hingga mereka berdua memutuskan supaya Aruna dan juga Digo tetap tinggal di rumah ini, entah sampai kapan yang pastinya Mami dan juga Papi tidak ingin pasangan pengantin baru itu cepat-cepat pindah dari kediaman Narendra.
Untuk kali ini Aruna tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Digo, memang ia sudah tahu jika kedua orang tua Digo tidak akan melepaskan mereka berdua untuk tinggal terpisah meskipun Aruna sendiri masih canggung untuk berada di kediaman Narendra l, terlebih lagi saat ini ada Nathan yang sudah tinggal bersama mereka lagi.
Bukannya Aruna takut jatuh cinta dengan Nathan tetapi memang seharusnya ia menjaga jarak dengan Nathan karena ia tahu jika Nathan itu dulunya mencintainya dan mungkin saja sampai saat ini masih mencintainya sehingga tidak baik jika mereka berdua terlihat berdekatan meskipun Aruna sendiri tidak mempunyai perasaan kepada Nathan.
Cup
"Iya deh, tapi sepertinya agak sedikit terlambat karena sebelum istirahat ada ulangan matematika dan pastinya kamu tahu sendiri gurunya killer dan suka menghabiskan waktu dan memakan waktu istirahat."
"Tidak apa-apa sayank, yang penting kamu ada di sana dan aku akan membuat kamu bangga dan kamu bisa melihat kehebatan Aku."
"Selain di atas ranjang tentunya."
Bisik Digo di telinga Aruna yang mana laki-laki itu memang sangat mesum sekali terlebih jika sudah berdekatan dengan istrinya pastinya Digo susah mengendalikan diri dan hawanya ingin langsung memangsa Aruna saja.
__ADS_1
"Cie cie yang wajahnya sumringah sekali, apa sudah jatuh cinta sama suami?"
Tanya Vina Kepada Aruna tentu saja Vina mengatakan itu sedikit berbisik karena sudah ada teman-teman yang di kelas, ia menjaga privasi Aruna yang mana Aruna memang tidak ingin hubungi pernikahan antara dirinya dengan Digo itu tersebar luas, cukup Aruna menjadi kekasih Digo atau mungkin saja tunangan dari Digo tetapi untuk status pernikahannya, Aruna masih merahasiakannya dulu.
"Berisik.. kepo banget!"
Aruna sendiri sedikit tersenyum tentu saja ia memikirkan bagaimana nanti jika memang benar ia jatuh cinta dengan Digo yang notabeknya Digo adalah musuh bebuyutan, dan tidak ada salahnya jika memang Aruna mencintai suaminya sendiri tetapi tidak lucu juga, dulu Aruna yang sangat membenci Digo tetapi kini malah berbalik menjadi sangat mencintai laki-laki.
"Sudahlah.. kalau cinta bilang saja cinta nanti kalau digondol orang baru tau rasa dan aku lihat sepertinya si ketos itu benar-benar serius sama lo. Dia benar-benar cinta sama lo, tidak seperti lo yang sebenarnya cinta tetapi pura-pura saja cuek."
Aruna tidak menanggapi Apa yang diucapkan oleh Vina meskipun memang kenyataan nya memang benar jika sudah ada rasa dari dalam dirinya untuk Digo tetapi untuk menyatakan perasaannya sepertinya masih terlalu dini, masih ada bayang-bayang kelakuan Digo yang masih belum bisa Aruna lupakan.
"Oh ya aku denger-denger nanti ada pertandingan antara Riyan dengan Digo, gila mereka berdua sepertinya memang semangat sekali untuk ngerebutin lo."
Aruna hanya mengganggukan kepala, sepertinya memang gosip di luaran sana itu sudah cepat beredar apalagi pertandingan antara Rian dengan Digo yang pastinya mereka semua mengira jika pertandingan itu bukan hanya semata-mata untuk menguji siapa yang paling bisa diandalkan dalam olahraga basket tetapi juga mereka semua berpikir pertandingan itu dilaksanakan karena ingin memperebutkan dirinya.
"Gue sudah tahu, sebenarnya gue udah larang Digo tetapi dia kekeh mau melanjutkan pertandingan ini, entah apa yang ada di dalam pikiran Ryan dan Digo mengapa mereka berdua masih seperti anak kecil."
Aruna meletakkan bolpoinnya perempuan cantik itu menatap ke arah Vina yang mana sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Aruna, tentu saja Vina memperhatikan sesuatu yang sudah ditutupi Aruna sejak tadi.
__ADS_1