My Crazy Husband

My Crazy Husband
Awas Saja


__ADS_3

Setelah turun dari mobilnya Vina yang dikemudikan oleh Rian, Aruna bergegas untuk menghampiri Pak satpam, ia juga tidak masuk ke dalam dulu sebelum Rian benar-benar meninggalkan depan rumahnya.


Tentu saja bukan Aruna tidak mau masuk ke dalam rumahnya dulu tetapi ia yakin jika kedua orang tuanya juga tidak ada di rumah dan percuma saja, malahan yang ada di pikiran Aruna saat ini takut jika Digo sudah sampai di rumah dan dirinya belum ada di sana pastinya suaminya itu nanti akan marah dan berbuat sesuatu, sesuka Digo sendiri.


"Non Aruna nggak mau masuk dulu?"


Sapa Pak satpam yang melihat anak dari majikannya itu masih berdiri di depan gerbang, tentu saja sepertinya Pak Satpam itu melihat Aruna yang celingukan, seperti nya sedang gelisah dan tidak seperti biasanya padahal biasanya kalau sudah sampai buru-buru langsung masuk ke dalam rumah dan Pak Satpam juga melihat jika Nona mudanya itu tadi tidak diantarkan oleh sahabatnya atau suaminya tetapi dengan laki-laki lain yang pastinya ada sedikit rasa tanda tanya di dalam pikirannya Pak satpam itu, siapa laki-laki yang mengantarkan anak majikannya,  tetapi Pak satpam ragu untuk menanyakannya bahkan dirinya juga tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadi orang lain.


"Tidak usah Pak, besok aja kalau weekend ke sini lagi, lagian pasti Mama dan Papah juga tidak ada di rumah. Aku pergi dulu dan jangan bilang kepada Mama dan Papa kalau aku tadi ke sini sebentar, rahasia.."


Aruna memberikan beberapa lembar uang merah kepada Pak satpam tentu saja supaya Pak satpam itu tutup mulut dan tidak memberitahu kepada kedua orang tuanya, nanti malah kedua orang tuanya bertanya-tanya untuk apa Aruna berdiri di depan gerbang sementara tidak masuk ke dalam rumah dan diantarkan dengan laki-laki yang bukan suaminya, pasti nanti akan merembet ke mana-mana dan Aruna tidak mau itu.


"Siap non rahasia terjamin... Mau ke mana lagi?"


"Mau ke rumah Mami, lagi nunggu taksi. Bener ya Pak ini rahasia dan bapak juga tidak boleh bilang kalau tadi aku dianterin oleh Rian."


"Siap lagi non, aman pokoknya.."


Setelah taksi dipesan Aruna sampai,.perempuan cantik itu segera pamit kepada Pak satpam dan masuk ke dalam taksi. Aruna meminta Pak sopir itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai di rumah mertuanya dengan cepat yang pastinya ia harus lebih dulu sampai di rumah sebelum Digo pulang.


Beberapa menit kemudian, taksi yang ditumpangi Aruna sudah sampai di rumah keluarga Narendra tentu saja setelah membayar, Aruna bergegas turun lalu ia menyapa sebentar pak satpam yang saat ini membukakan pintu gerbang untuk Aruna.


Lega rasanya mendapati suaminya yang belum pulang karena ia melihat tidak adanya motor digo yang parkir di garasi. Aruna bisa tersenyum dengan lega ia bergegas untuk masuk ke dalam dan tentu saja langsung menuju ke atas.

__ADS_1


"Mumpung tidak ada Digo dan pasti dia pulangnya nanti sebelum makan malam."


Sesampainya di dalam kamarnya, Aruna bergegas untuk mengambil pakaian ganti ia ingin memakai daster seksi yang biasanya dipakai ketika di rumah. Memang Aruna sengaja membawa pakaian kesukaannya itu ke sini bukan untuk menggoda Digo tapi untuk dipakainya di saat Digo pas tidak ada di rumah tentu saja itu nyaman sekali bagi Aruna, tidak membuat dirinya gerah dan enak aja untuk dibuat tidur seperti ini.


Aruna yakin sekali jika suaminya akan pulang beberapa jam lagi dan pastinya Aruna bisa bebas menggunakan pakaian kesukaannya itu meskipun terlihat sedikit minim dan juga menerawang namun ia juga tidak akan keluar dari kamarnya.


Tentunya Aruna juga tidak lupa untuk mengunci pintu, seperti biasanya setiap ia pulang ke rumah mertuanya sendiri, yang pasti Aruna mengunci pintu karena Digo juga sudah membawa pintu kunci pintu kamarnya sendiri, bukannya apa-apa Aruna hanya menjaga jaga, lagi pula sekarang Nathan sering tidur di rumah ini yang pastinya supaya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, apalagi saat ini Aruna yang menggunakan pakaian yang menggoda iman yang pastinya siapa saja yang melihat tubuh Aruna saat ini akan terpana.


"Mumpung Digo masih lama pulangnya, aku bisa santai-santai."


Ujar Aruna setelah ia keluar dari kamar mandi dan menatap dirinya di pantulan cermin, ia begitu senang karena bisa memakai pakaian ini yang terlihat nyaman dan juga sempriwing..tidak gerah di cuaca yang panas ini dan cocok sekali digunakan keadaan panas, meskipun di dalam kamar sudah ber-ac tetapi bagi Aruna menggunakan pakaian yang tipis dan juga menerawang itu akan membuat lebih nyaman.


Sedangkan di tempat lain, Digo baru saja menyelesaikan rapat osisnya, laki-laki itu tidak bisa langsung pulang ke rumah karena asisten pribadinya yang ada di perusahaan sudah menghubunginya sedari tadi dan meminta Digo untuk menuju ke perusahaan.


"Kenapa lo, sudah kangen sama Aruna?"


"Lo lihat ini, pasti lo tambah cemburu jika tahu Aruna tadi pergi bersama dengan Riyan."


Bukannya mengompori tetapi Dimas sebagai sahabat baik dari Digo, tentu saja mengatakan apa yang terjadi ... bukannya Dimas juga memata-matai Aruna namun tidak sengaja ketika Dimas tadi berada di luar ia melihat Ryan yang masuk ke dalam mobil Vina dan tentunya Dimas tahu juga Aruna juga berada di sana.


Digo langsung saja melihat ke arah ponsel Dimas di mana laki-laki itu langsung saja mengepalkan tangannya, tentu saja cemburu melihat Riyan yang sudah masuk ke dalam mobil Vina dan Digo juga tahu jika Aruna posisinya berada di samping pengemudi.


"Jangan cemburu, gue nggak bermaksud membuat lo panas dingin seperti ini, gue hanya menyampaikan semuanya saja sama lo."

__ADS_1


"Bagaimana mungkin gue nggak cemburu, gue harus buat perhitungan sama Rian supaya dia jauhin Aruna, sudah tahu jika Aruna milik gue kenapa masih dipepet terus aja."


"Sabar.. semua orang tahunya lo hanya sebagai pacar Aruna bukan sebagai suaminya Aruna, yang nyatanya pasti mereka mengira jika kalian masih pacaran saja, dan belum menikah jadi bisa ditikung."


"Sialan!! seharusnya gue umumkan sekalian jika Aruna adalah istri gue, jadi mereka tidak akan macam-macam lagi!!"


Digo jadi kesal, sepertinya ia memang harus membuat pengumuman jika Aruna adalah istrinya, mengingat banyaknya laki-laki yang saat ini sedang mendekati Aruna dan Digo tidak mau.


"Jangan macam-macam, nanti Aruna malah marah sama lo jika Lo memberitahukan kepada semuanya, ingat... lo sendiri dengan Aruna hubungannya masih seperti ini, meskipun Aruna adalah istri Lo tetapi lo tahu jika Aruna belum benar-benar bisa menerima lo, menerima yang lo lakuian saat ini, dan tentu saja yang Lo harus lakuin saat ini adalah mendapatkan cinta Aruna dan berusaha memberikan perhatian kepada Aruna, karena jika Lo sedikit-dikit cemburu seperti ini, Aruna pasti nya akan kesal dan geram sama lo. Meskipun gue tahu cemburu itu adalah wajar dan cemburu itu tandanya cinta, tetapi Lo harus tahu diri dan sadar diri jika memang Aruna itu bukan tipe perempuan yang bisa dikekang, meskipun sebenarnya Aruna juga tidak perempuan-perempuan bebas banget, namun Lo harus berusaha untuk memberikan kebebasan kepada Aruna, gue yakin jika istri lo itu tahu mana yang baik dan juga yang buruk, mana yang harus ia lakukan dan tidak."


Ujar Dino yang ikut nyambung obrolan antara Dimas dengan Digo, laki-laki itu memang belum pulang dan sengaja untuk pulang bareng nanti bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya meskipun tujuannya berbeda tetapi keluar dari sekolah dengan bersama-sama itu lebih menarik dan juga bersemangat.


Digo, lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya, laki-laki itu juga berpikir keras bagaimana caranya supaya Aruna bisa mencintainya seperti cintanya kepada Aruna, Digo juga tidak boleh gegabah.. apa yang akan dilakukannya itu harus melalui pikiran matang-matang, tidak boleh langsung melakukannya tetapi dipikir-pikir dulu, takut jika apa yang dilakukan itu salah, yang mana malah membuat Aruna semakin membencinya dan tidak akan mencintainya lagi.


"Okelah... Gue cabut dulu, harus ke perusahaan dan makasih atas info dan juga sarannya.."


Ujar Digo kepada sahabat-sahabatnya, ia juga melakukan tos ala laki-laki sepertinya biasanya yang dilakukan, kemudian segera melajukan motornya untuk menuju ke perusahaan . Digo yakin jika saat ini istrinya sudah sampai di rumah tetapi ia sendiri tidak punya waktu untuk pergi ke rumah hanya sekedar melihat istri cantiknya.


Digo juga berpikir jika ia semakin cepat ke perusahaan maka ia juga semakin cepat menyelesaikan pekerjaan, tertentu nanti ia juga cepat bertemu dengan Aruna dan tidak akan sampai malam-malam berada di perusahaan.


Digo sendiri merasa kesal, ia sudah kangen dengan istrinya dan akan memberikan perhitungan untuk Aruna, tetapi semua tidak berpihak kepada Digo karena ia tidak mungkin akan menelantarkan perusahaan nya begitu saja apalagi tadi asistennya yang ada di perusahaan itu mengatakan jika sampai Digo tidak datang dan menemui klien, maka semuanya akan dibatalkan dan tentu saja Digo tidak ingin proyek yang baru saja ditanganinya itu akan sia-sia belaka meskipun nilai proyek itu tidak bernilai tinggi namun ini adalah pertama kalinya Digo terjun langsung untuk menangani sebuah proyek dan pastinya itu juga akan membuat kebanggaan tersendiri untuk Digo.


Laki-laki itu juga sudah mengirimkan pesan kepada Aruna, tentunya ia khawatir jika Aruna sampai menunggunya, walaupun Digo sendiri tidak akan pulang malam dan akan pulang sebelum jam makan malam.

__ADS_1


Seperti tadi, ponsel Aruna hanya centang dua saja tidak terbaca sama sekali hingga Digo yang buru-buru segera meninggalkan sekolah kemudian menuju ke motornya untuk bergegas ke perusahaannya.


"Awas saja kamu sayank, habis nanti malam..."


__ADS_2