
Digo membenarkan ucapan Aruna, ia juga tidak menyalahkan sikap Aruna yang menerima bantuan Nathan karena memang pada pagi seperti ini semua taksi penuh bahkan jarang ada yang lewat depan rumahnya saking sudah penuhnya dan sudah dibooking oleh orang-orang.
"Maafkan aku yank, aku terlalu cemburu sama Bang Nathan..."
Aruna hanya menganggukan kepalanya, ia paham betul apa yang dirasakan oleh Digo meskipun Aruna sendiri belum mencintai Digo sepenuhnya tetapi melihat ekspresi Digo seperti itu pastinya Aruna sadar jika tidak ada suami yang akan rela jika istrinya pergi dengan laki-laki lain apalagi laki-laki itu menaruh rasa padanya.
"Dan ini kipas angin dari Bang Nathan?" Aruna menganggukkan kepalanya.
Arina sendiri merasa bersalah karena menerima pemberian dan laki-laki lain tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi yang mana ia sudah memakai kipas angin itu meskipun Aruna tidak memintanya, namun tetap saja pastinya akan menimbulkan masalah di antara dirinya dan juga Digo.
"Ini buat aku saja, nanti aku belikan kamu yang baru lagi."
Sampai di sini Aruna paham jika suaminya memang benar-benar posesif, selain cemburu ..Digo juga sepertinya akan sedikit mengekangnya terlebih lagi untuk berinteraksi dengan laki-laki, padahal Nathan adalah kakak kandung nya sendiri tapi entah mengapa Digo secemburu dan seposesif itu kepada dirinya.
Aruna sendiri tidak mau membantah, bukan karena ia tidak berani sama Digo tetapi ia malas saja jika harus berdebat dengan laki-laki yang ada di depannya yang malangnya laki-laki itu sekarang sudah sah sebagai suaminya.
"Ya sudah aku keluar dulu ya sayank dan nanti istirahat kita ke kantin bareng."
Digo mendekati wajah Aruna kemudian ia melihat ke arah bibir Aruna yang membuat nya candu dan sepertinya mencium bibir Aruna merupakan keahlian Digo saat ini.
Tetapi Aruna yang tahu betul apa yang akan dilakukan oleh Digo segera menutup mulutnya, bagaimana mungkin saat ini mereka berada di dalam kelas dan dilihat oleh teman-temannya Digo akan mencium bibirnya meskipun ia dan Digo sudah sah menjadi suami istri.
"Ini di sekolah Di, ingat!!"
Hampir saja Digo tidak bisa mengontrol dirinya kalau Aruna tidak mengingatkan bisa-bisa ia tadi mencium bibir Aruna di depan teman-teman Aruna meskipun sebenarnya itu hal wajar yang dilakukannya tetapi sebisa mungkin Digo akan menjaga Aruna di tempat umum dan tidak akan melakukan sesuatu yang mungkin saja akan berpengaruh buruk terhadap Aruna.
"Sorry sayank, habis bibir kamu candu banget ... nanti saja kalau di rumah.."
Dengan cepat Digo berdiri kemudian mengusap lembut rambut Aruna dan memberikan ciuman sebentar di kening Aruna dan sontak saja perhatian dan juga perlakuan yang diberikan oleh Diego itu membuat teman-teman Aruna melongo, mereka hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Digo di mana perlakuan Digo berbeda kepada Aruna dan Miranda, jika dulu kepada Miranda .. Digo sendiri tidak pernah memperlihatkan kemesraannya bahkan tidak pernah ada perhatian kecil untuk memperlakukan kekasihnya itu namun dengan Aruna, Digo begitu cepat perhatian dan juga menunjukkan rasa sakit kasih sayangnya, padahal keduanya adalah musuh bebuyutan.
Aruna menghela nafas panjang, ketika suaminya sudah keluar dari kelas. Ia sendiri menoleh ke kanan dan ke kiri dan ternyata apa yang dilakukan oleh Digo tadi terlihat oleh teman-temannya bahkan semua pada berbisik tentang kejadian yang baru saja dialami.
"Lo beruntung banget sih Run, gila aja si ketos itu bisa sayang banget sama lo, gue bisa lihat dari tatapan matanya dan itu berbeda saat dia pacaran sama Miranda.."
Rina, salah satu teman Aruna mengomentari apa yang baru saja dilihatnya tadi dan mereka juga tidak percaya jika si ketos yang tampan dan populer di sekolah ini bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya terhadap Aruna.
"Iya sepertinya Digo benar-benar cinta dan sayang sama lo dan gue rasa lo bakalan dinikahin deh sama Digo setelah lulus sekolah nanti."
Bukan bakalan lagi, tetapi gue memang sudah dinikahin sama Digo...
Aruna hanya diam sembari mendengarkan apa yang diucapkan oleh teman-temannya itu yang mana memang semuanya benar jika Digo begitu sayang dan cinta padanya, tetapi sampai saat ini Aruna sendiri belum mempunyai rasa cinta sebesar yang diberikan Digo padanya.
"Sudah?"
Tanya keempat sahabat Digo ketika sudah keluar dari kelas Aruna, mereka semuanya khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Digo, apalagi kalau Digo yang cemburu itu marah-marah kepada Aruna.
__ADS_1
"Sudah tenang saja kalian, gue nggak mungkin marah sama Aruna, lo kan tahu sendiri jika gue cinta dan sayang banget sama dia..."
Mereka semua menganggukkan kepalanya dan tahu betul apa yang dirasakan oleh Digo, mungkin saja memang Digo cemburu karena terlalu cinta dan sayang kepada Aruna. Tetapi tiba tiba, rasa kagum mereka seketika hilang manakala mereka melihat Digo yang sudah membuang kipas angin kecil ke tempat sampah.
"Gila seposesifnya itu Digo!! kipas anginnya tidak bersalah saja bisa menjadi sasarannya apa lagi manusia..."
Meskipun sebenarnya Digo sendiri juga tidak mau membuang barang-barang dan lebih memilih untuk diberikan kepada orang lain tetapi nyatanya itu tidak.. Digo setelah keluar dari kelas Aruna dan membawa kipas angin pemberian dari Nathan, langsung memasukkan kipas angin itu ke dalam tong sampah.. ia tidak mau jika Aruna menyimpan barang-barang pemberian dari laki-laki lain kecuali dari dirinya tentunya terlebih lagi itu pemberian dari Bang Nathan yang jelas-jelas Digo tahu kalau Bang Nathan masih menyimpan rasa untuk Aruna.
Digo tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh keempat sahabat, yang jelas Aruna saat ini adalah miliknya dan Digo akan berusaha untuk mempertahankan pernikahannya, ia tidak peduli dengan apapun di sekelilingnya termasuk dengan abangnya, jika memang nanti Bang Nathan akan menghancurkan rumah tangganya, Digo juga siap-siap untuk menabuhkan genderang permusuhan kepada saudara kandungnya itu yang mana saat ini Aruna adalah prioritas pertamanya, bukan orang lain.
Bel istirahat berbunyi, Aruna segera menutup bukunya dan ingin ke kantin karena perutnya terasa lapar sekali.
Aruna jadi bingung, sementara Vina tidak masuk pagi ini dan ia harus ke kantin sendirian ... tidak mungkin juga ia menunggu Digo atau menghampiri ke kelas Digo.
Brakk..
"Enak ya pagi-pagi sudah diberikan dua buah kartu unlimited dari Digo, apa yang lo lakukan sehingga dia bisa memberikan kartu kartu sakti itu, atau jangan-jangan Lo sudah menukar tubuh lo dengan kartu itu?"
Lagi lagi Miranda membuat masalah, entah dari mana perempuan gila itu mengetahui jika tadi pagi Digo baru saat memberikan dua buah kartu sakti kepada Aruna dan tentu saja Miranda yang menjadi panas karena selama berpacaran dengan Digo, Miranda sendiri tidak pernah diberikan kartu sakti itu bahkan Digo juga jarang sekali mengajak Miranda dan apalagi memberikan perhatiannya lebih buat dirinya.
"Kepo!!"
Tidak mau berdebat dan berurusan panjang dengan Miranda, Aruna mendorong tubuh Miranda kemudian ia meninggalkan kelasnya . Bukan karena Aruna takut dengan Miranda tetapi ia malas saja menanggapi ocehan ocehan Miranda yang tidak berguna itu terlebih lagi mau Digo memberikan kartu atau uang yang banyak pun itu sah-sah saja karena memang Aruna menerima apapun yang sudah diberikan oleh Digo dan itu adalah hak Digo.
"Dasar perempuan gila!!"
"Eh..."
Aruna menghentikan langkah kakinya sejenak ia menoleh ke samping yang ternyata ada Rian yang berada di sana, dan entah dari mana laki-laki itu gerak cepat untuk menghampirinya padahal sewaktu Aruna keluar dari kelas, tidak ada seorangpun yang mengikutinya dari belakang bahkan kelas Digo juga masih tertutup rapat.
"Santai saja masih pagi jangan mengumpat... BTW Lo mau ke mana? kenapa sendirian? apakah Vina tidak masuk?"
Bukan karena Rian pura-pura tidak tahu saja jika Aruna sudah menjalin hubungan dengan Digo hanya saja Rian yang jatuh cinta dengan Aruna tidak mau ketika dirinya bersama Aruna menyinggung tentang laki-laki yang saat ini menjadi rivalnya itu, pada hal Rian pasti tahu sendiri kalau Digo sudah keluar dari kelas pastinya Digo yang akan bersama dengan Aruna bukan Vina lagi tetapi entah mengapa yang Rian tanyakan adalah Vina.
"Vina ijin, Ikut bokapnya keluar kota dan gue mau ke kantin, lapar.."
"Gue temenin, kasihan cewek cantik jalan sendirian nanti kalau ada yang nyulik gimana?"
Seketika Aruna langsung menggelengkan kepalanya permasalahannya dengan Nathan saja tadi pagi yang mengantarkan dirinya ke sekolah itu sudah membuat Digo cemburu dan hampir emosi dengan dirinya terlebih lagi kalau saat ini ia pergi bersama dengan Rian ke kantin, bagaimana dengan sikap dirinya nanti sampai di dalam rumah yang pastinya Digo akan memberikan hukuman yang tidak main-main padanya.
"Tidak perlu!! Aruna ke kantin sama gue dan gue peringatkan lagi, lo tidak usah ganggu Aruna lagi..karen Aruna milik gue..."
Beberapa menit yang lalu setelah guru keluar dari kelas Digo, laki-laki itu dengan cepat menuju ke kelas arona tentu saja didampingi dengan keempat sahabatnya yang selalu setia mengawal Digo kemana-mana, tetapi sayang sekali yang ada di dalam kelas Aruna hanyalah Miranda dengan Aruna sendiri yang tidak berada di dalam kelas.
Digo yang melihat Miranda dari dalam kelas Aruna dengan antek-anteknya dan langsung saja keluar, ia paham betul jika istrinya itu sedang berdebat dengan Miranda dan saat ini pergi dari kelas untuk menghindari Miranda.
__ADS_1
Hingga akhirnya Digo menemukan Rian yang bersama dengan Aruna, dan kembali lagi laki-laki itu mengepalkan tangannya ... rasa cemburu yang tadi pagi masih menjalar di tubuhnya kini bangkit lagi ketika melihat Aruna bersama dengan Ryan meskipun tidak terlihat mesra ataupun bagaimana namun yang jelas saja Digo yang baru cinta cintanya dan sayang-sayang dengan Aruna tidak mungkin akan membiarkan Aruna bersama dengan laki-laki lain.
"Maafkan Aku, gurunya tadi lama keluarnya.. kamu nggak apa-apa kan?"
Dengan cepat Digo mengambil tangan Aruna, ia menggenggam tangan Aruna dengan sangat mesranya, memperlihatkan kemesraan dan rasa sayangnya kepada Aruna di depan Ryan.
"Aku nggak papa, tapi laper."
"Ya sudah kita ke kantin ya makan..."
"Dan lo jangan pernah ganggu Aruna lagi, Aruna adalah milik gue .. siapapun itu..gue tidak akan membiarkan laki-laki lain mendekati Aruna."
Ucap Digo kepada Rian di mana saat ini kedua pasang mata mereka saling bertatapan dan mengisyaratkan sebuah permusuhan.
"Oh ya kalau Aruna milik lo dan lo cinta dia dan juga sayang sama Aruna, jangan biarkan mantan lo nyakitin Aruna, lo tidak tahu saja Miranda baru saja dari kelas Aruna... Lagi pula sebelum janur kuning melengkung, gue akan tetap mengejar Aruna karena gue tahu Aruna tidak cinta sama lo tetapi lo yang memaksanya buat Aruna menerima lo..."
"Sialan!!!"
"Stop Di, aku lapar..."
Aruna yang melihat gelagat yang tidak enak antara Diego dengan Ryan langsung saja menghentikan ucapan mereka berdua, kalau diterus-teruskan maka keduanya akan semakin brutal dan tentu saja Aruna tidak mau jika hanya gara-gara dirinya Digo dan juga Rian bertengkar, apalagi status Digo saat ini ketua OSIS dan juga Rian yang merupakan ketua tim basket, mereka semua adalah laki-laki yang berpengaruh di sekolahan ini dan juga laki-laki yang berprestasi, tidak lucu juga mereka berdua berantem hanya karena merebutkan dirinya.
"Ryan sorry ya.."
Tidak ada respon sama sekali dari Digo membuat Aruna langsung saja menarik tangan Digo dan membawanya ke kantin.
Digo sendiri hanya diam saja, ia sebenarnya cemburu dan emosi terhadap Ryan yang berulang kali mendekati istrinya, tetapi dengan perlakuan Aruna yang manis seperti ini terlebih lagi Aruna menggenggam tangan Digo dengan begitu eratnya, membuat hati Digo seketika luluh, dan ia akan mengesampingkan emosi dan cemburunya dan lebih memilih menikmati sentuhan yang diberikan oleh istrinya itu.
"Aku lapar, kenapa kamu malah harus berdebat seperti itu dengan Rian?"
Ini keduanya sudah berada di kantin dengan Digo yang cepat-cepat memesan makanan untuk Aruna.
"Aku cemburu yank, bagaimana mungkin aku tidak cemburu .. Rian masih mengharapkan kamu padahal dia sudah tahu jika Kamu adalah milikku atau perlu aku kasih tahu jika kamu benar-benar sudah aku miliki dan kita sudah sah sebagai suami istri?"
"Jangan!! aku sudah bilang untuk sementara hubungan kita dirahasiakan dulu sebelum kita lulus. Maaf bukannya aku malu atau bagaimana lagi, kamu tahu sendiri fans kamu di sekolah ini banyak dan pastinya kita menikah dengan statusnya masih sebagai seorang pelajar itu akan menimbulkan huru-hara di sini.."
Hufhh
Lagi lagi Digo harus mengalah dengan apa yang diucapkan oleh Aruna padahal ia sudah menyusun rencana untuk melakukan resepsi besar-besaran atas pernikahannya dengan Aruna dan membeberkan kalau dirinya saat ini sudah sah menjadi suami Aruna dan pastinya itu dilakukan supaya tidak ada laki-laki yang berani mendekati Aruna.
"Tetapi, kamu harus bayar mahal dengan semuanya ini dan tidak ada penolakan lagi setelah sampai di rumah.."
Tidak mau berdebat kecil yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman dari diri Aruna, Digo pun tidak membahas tentang pernikahannya, yang saat ini menatap wajah cantik Aruna di mana hanya menatap saja sesuatu yang di bawah sana sudah bergerak-gerak dan pastinya ingin keluar dari sarangnya dan mencari tempat nyaman selama ini.
"Jangan macam-macam!! singkirkan tatapan matamu..jangan menatap aku seperti itu Di, ini di sekolah!!"
__ADS_1
Meskipun hanya ditatap seperti itu, tapi Aruna paham jika suaminya ingin macam-macam padanya padahal Aruna sendiri tidak meraba atau melihat bagian bawah Digo, namun Aruna paham dengan arti tatapan yang diberikan oleh Digo padanya