
"Kenapa sayank, sepertinya kamu tidak rela jika aku ikut bergabung ke dalam perusahaan Papah?"
Jelas saja sebenarnya bukan itu jawaban yang akan dikeluarkan hanya saja ia ingin menggoda istrinya, ia yakin jika istrinya tidak mengapa jika dirinya ikut bergabung ke dalam perusahaan Papah Adi, tetapi Digo menangkap ada sesuatu di balik pandangan mata Aruna saat ini sesuatu yang disembunyikan Aruna entah apa itu, Digo harus cari tahu dulu.
"Bukan begitu, entah kamu tahu atau tidak, aku dari dulu memang tidak tertarik untuk memimpin sebuah perusahaan, meskipun aku yakin dan sadar diri jika anak Papa hanya aku satunya dan juga Papa dulunya adalah anak tunggal, jadi sudah pasti dan sewajarnya jika aku akan mewarisi semuanya dan aku harus ikut terjun dalam perusahaan. Tetapi aku sama sekali tidak tertarik, boro boro tertarik.. otakku juga tidak mumpuni untuk belajar masalah bisnis, kamu tahu sendiri kan aku bagaimana? meskipun yang dikatakan orang aku cantik dan menarik dan mereka pasti berpikir jika aku juga mempunyai otak yang cerdas, tetapi tidak sama sekali. Aku bahkan tidak bisa apa-apa. Tetapi aku sadar diri, kalau tidak aku yang mewarisi dan menjalankan nya, lalu harus siapa lagi? anak Papa hanya aku dan keturunan Papa hanya aku, jika menunggu sampai anak aku lahir pastinya itu masih lama, dan kita tidak tahu hidup dan mati seseorang itu kapan."
Jawab Aruna panjang kali lebar yang membuat Digo menggelengkan kepalanya pelan, benar-benar istrinya ini jika bicara memang suka benar meskipun otaknya jauh di dari kata pandai tetapi pemikiran Aruna sudah lebih dewasa dan apa yang dikatakan oleh Aruna itu memang benar jika Aruna lah satu-satunya pewaris tunggal perusahaan Papah Adi dan semua kekayaan yang dimiliki Papah Adi .
"Lalu kenapa? apa kamu takut aku tidak memperhatikan kamu nanti setelah aku ikut bergabung ke perusahaan Papa?"
Lagi dan lagi Diego mencoba menggoda istrinya, salah satu pemikiran Digo mengapa Aruna sepertinya berat untuk mengiyakan permintaan Papahnya kalau dirinya bergabung di perusahaan milik Papah Adi, tentu saja Aruna pasti berpikir jika nanti Digo bergabung ke perusahaan Papanya, pastinya sedikit waktu untuknya dan juga belum apa-apa Digo selalu pulang malam, bahkan jarang menghabiskan waktu berdua, hanya malam saja dengan bercinta di atas ranjang Digo sesekali ngobrol.
"Ih apa-apaan.. bukan itu, aku hanya takut saja jika otak kamu nanti tidak mampu. Dan kamu tidak sanggup menjalankannya atau malah salah satunya harus dieliminasi dan pastinya kalau itu terjadi kamu akan mengecewakan semuanya, aku tidak mau hanya gara-gara Papa aku, kamu mengorbankan bisnis kamu dan juga bisnis keluarga kamu."
__ADS_1
Ya jawaban Aruna sangat realistik, meskipun di dalam hati bukan hanya itu saja dan memang benar yang dikatakan oleh Digo kalau Aruna sedikit ragu jika nantinya Digo tidak ada waktu untuk nya, bahkan mungkin perhatian Digo juga akan terbagi dengan beberapa banyak pekerjaan.
"Lalu, kalau nggak aku yang jalanin terus siapa lagi sayank? apa kamu mau?"
Dengan cepat Aruna menggelengkan kepalanya, ia memang sudah pernah mengatakan ini kepada kedua orang tuanya kalau tidak bisa menjalankan bisnis dan tidak bisa ikut bergabung ke dalam perusahaan Papanya karena Aruna mempunyai keinginan yang lainnya tentu saja Papah Adi waktu itu hanya diam sejenak sembari beliau berpikir siapa yang akan memimpin perusahaan nya nanti.
"Nah kamu sendiri juga tidak mau, lagi pula dengerin aku sayank.. kalaupun kamu mau menjalankan perusahaan Papa ,aku yang tidak rela .. aku yang tidak setuju jika kamu ikut terjun ke sana. Bukannya aku membatasi ruang gerak kamu atau tidak memperbolehkan kamu untuk berada di luar tetapi kalau terjun ke perusahaan, aku memang tidak mengizinkan, aku takut jika kamu nantinya tidak bisa membagi waktu antara aku, anak-anak dan juga pekerjaan, karena memang dunia bisnis itu sangat kejam dan membutuhkan banyak tenaga dan waktu untuk berada di luar rumah."
Aruna masih saja bingung dengan ucapan dari suaminya, meskipun Digo sudah menjelaskan panjang kali lebar tetapi rasanya ada yang janggal, sepertinya suaminya juga tertekan dan terpaksa mengiyakan permintaannya, entah itu karena apa.
"Tidak bisa dan tidak boleh. Sudah aku katakan kamu tidak boleh ikut terjun ke perusahaan papa!!"
Sedikit penekanan tetapi Digo tidak membentak Aruna, hanya saja memang ia tidak suka jika seorang perempuan itu bekerja di kantor, terlalu banyak kisah yang sudah Digo pelajari yang pastinya itu berbahaya buat istrinya, apalagi Aruna sangat cantik dan menarik pastinya banyak klien bisnisnya nanti yang akan memandang Aruna, akan merebut Aruna dari sisinya.
__ADS_1
"Jujur saja sayank, Papa sedikit mengancam aku."
Setelah hampir 5 menit diam, akhirnya Digo mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi meskipun ia tidak tertekan tetapi ini harus dibicarakan kepada istrinya karena Digo tidak ingin ada rahasia-rahasiaan dengan Aruna.
"Mengancam, mengancam kamu bagaimana?"
Pastinya Aruna kaget mendengar ucapan Digo yang Aruna tahu Papahnya itu lemah lembut dan tidak marah meskipun Aruna pernah melakukan suatu kesalahan besar, tetapi Papa Adi bisa bersikap dewasa dan tidak memarahinya, apalagi ini mengancam.. mengancam? mengancam bagaimana yang di maksud Digo?
"Ya seperti yang aku utarakan tadi, kalau aku tidak mau meneruskan perusahaan Papa, maka Papah akan meminta kamu yang akan terjun ke perusahaan, karena Papa tahu aku tidak suka jika kamu bekerja di luar dan menjalankan bisnis ini."
"Astaga Papa bisa-bisanya seperti itu..."
Ada rasa lega di dalam hati Aruna, ternyata ancaman Papanya mengenai perusahaan dan juga dirinya, meskipun Aruna tidak percaya bisa-bisanya Papanya itu melakukan seperti itu tetapi Aruna berpikir jika Papa Adi memang sudah menemukan kandidat yang cocok untuk meneruskan perusahaan yang menggantikan beliau nanti,sembari menunggu anak-anak Aruna dan Digo yang akan ikut memimpin perusahaan.
__ADS_1
"Maka dari itu mau tidak mau aku terima keputusan Papah, sebenarnya aku sedikit takut untuk bergabung ke sana, kamu tahu sendiri kan perusahaan Papah itu sangat besar meskipun perusahaan keluarga aku dan perusahaan Papah Adi itu seimbang, tetapi aku belum pernah sama sekali terjun ke dalam proyek yang perusahaan Papa Adi pegang. Namun aku berusaha sekuat tenaga untuk belajar dan bisa membanggakan Papa, karena Papa pasti mempunyai pikiran yang berbeda.. kenapa Aku diminta untuk menjalankan perusahaannya dan aku tidak akan pernah mengecewakan beliau ataupun mengecewakan kamu."