My Crazy Husband

My Crazy Husband
Aku Tendang


__ADS_3

"Tidak perlu khawatir, meskipun banyak perempuan yang suka sama aku tetapi kamu tenang saja hati aku hanya milik kamu, Aruna dan cintaku hanya untuk kamu..."


Jawab Diego sembari berbisik melihat ke arah Aruna ia sepertinya paham kalau istrinya saat ini sedang cemburu.


"Oh ya masa sih?"


"Masih belum percaya dengan apa yang sudah aku katakan Oke nanti malam awas aja kamu tidak akan aku buat tidur biarkanlah besok dihukum dihukum kalau perlu kita bolos lagi supaya Digo junior cepat segera lonceng!!"


"Gila!!"


Akhirnya keduanya menghentikan obrolannya manakala Papi Rendra meminta Digo untuk memproyeksikan proyek yang akan dikerjakan bulan depan dan Digo dengan begitu mengutarakannya hingga semua orang kagum dan terpana dengan apa yang dikeupkan itu padahal ini adalah pertama kali Digo melakukannya tetapi Digo yang masih muda dan juga mempunyai pikiran-pikiran positif itu dengan sangat bagus membawakannya.


Hingga Aruna yang duduk di sampingnya pun merasa tersebar sama dengan suaminya yang nyatanya memang Digo itu kepintarannya luar biasa bukan hanya dalam pelajaran saja dan juga di atas ranjang tetapi di dalam bisnis perusahaan pun ikut dengan cepat bisa menguasainya.


Hingga akhirnya beberapa jam kemudian berapa dadakan yang dipimpin oleh Papi Rendra itu berakhir dengan semuanya berjabat tangan kepada Papi Rendra dan digub karena mereka semua akan ikut dari proyek besar yang diselenggarakan oleh perusahaan di ke bulan depan yang pastinya itu akan menambah keuntungan untuk perusahaan Digo.


"Setelah ini kalian mau ke mana langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu?"


Sepertinya Papi Rendra tidak mau mengekang Digo, beliau yakin betul dengan kemampuan yang dimiliki terlebih lagi tikus sudah menunjukkan kemampuannya meskipun tidak belajar sama sekali dan hanya melihat sekilas sesaat tetapi Digo dengan apik sudah membuat semua orang terparah dan kagum melihatnya.


"Terserah istriku saja."


"Ya sudah kamu pakai mobil Papi saja biar Papi pulang sama Nathan, Papi tahu jika kamu ke sini tadi pakai taksi kan karena motor kamu, kamu tinggal di sekolahan lagi pula ada-ada saja kamu sebagai ketua OSIS bisa-bisanya bolos sekolah apa tidak malu-maluin itu?"


"Kenapa Papi bisa tahu pasti dikasih tahu sama Mami?"


"Bukanlah, Papi tadi ditelepon sama kepala sekolah kamu dan mengatakan jika kamu dan Aruna bolos sekolah setelah mendapatkan hukuman ada-ada saja kalian makanya dalam bergadang nanti malam supaya besok tidak terlambat ke sekolah lagi pula apa kamu tidak kasihan dengan Aruna di setiap malam harus kamu hajar dan tidak kamu perbolehkan untuk tidur."


"Kasihan sih sebenarnya tetapi mau bagaimana lagi Digo sudah kecanduan Pi..."


"Dasar gila kamu di bisa-bisanya mengatakan seperti itu!!"


Digo kemudian pamit kepada Papi Rendra dan juga Nathan ia sudah mengantongi kunci mobil papi Rendra di mana memang malam ini ingin mengajak istrinya itu sekedar jalan-jalan sebentar atau menikmati kuliner di sepanjang jalan ini dan nanti setelah kenyang baru kemudian pulang ke rumah.


"Kita mau ke mana? bukannya sebaiknya pulang ke rumah dan istirahat?"


"Kenapa? kamu sudah tidak sabar untuk aku maksa lagi?"


"Kamu memang gila bukannya begitu apa kamu tidak lelah, aku takut besok kita terlambat sekolah lagi dan tidak mau bolos kasihan tapi malu dengan kita kalau sampai kepala sekolah mengadu tentang kelakuan kita yang suka bolos."


"Haha kirain sayank kamu sudah tidak sabar untuk aku terekam. Sebentar saja Kita makan malam dulu setelah itu pulang."


Aruna hanya terdiam, ia pasrah dibawa suaminya ke mana yang mana memang ia nyaman berada di samping Digo terlebih lagi kalau nanti pulang ke rumah dan mendapati Nathan sudah berada di rumahnya pastinya Aruna merasa canggung lebih baik bersama dengan Digo saat ini meskipun tubuhnya sudah terlihat jelas.


"Makan di sini tidak apa-apa kan yank, apa kamu alergi kalau makan di pinggiran jalan seperti ini?"


"Alergi ? yang ada malah kamu yang tidak pernah makan di sini."


"Eh kamu jangan salah meskipun aku pergaulannya seperti ini dan suka keluar masuk gelap hanya untuk menemani sahabat-sahabat aku tetapi aku paling suka makan di sini di samping harganya murah makanannya juga enak-enak dan kamu jangan khawatir di sini terjamin kebersihannya."


Digo segera membukakan sabuknpengamanan untuk istrinya kemudian meminta Aruna untuk segera turun karena perutnya telah sarapan sekali.


"Kamu mau makan apa sayank, di sini menunya serba sambal dan juga penyetan?"


"Ayam bakar penyet saja seperti ini enak Di, tapi beneran kamu tidak apa-apa kan makan di sini?"


Sepertinya Aruna ragu dengan suaminya apa memang benar di ku suka makan di sini kalau arona si ia memang sudah terbiasa makan di sini bersama dengan Vina dan tidak ada masalah sama sekali dan pastinya di memerhatikan mobilnya di depan warung makan ini karena Digo pernah melihat Aruna bersama dengan Vina yang makan di sini.


"Tidak apa-apa kalau aku kenapa-napa pastinya aku tidak akan memarkirkan mobilku di depan sana dan aku memilih untuk pergi ke restoran saja meskipun Aku adalah pengusaha restoran tetapi makan di sini jauh lebih enak."


Keduanya saat ini sudah duduk di lesehan di mana tempat paling nyaman untuk makan dengan menikmati aneka penyetan yang ada di depannya serta sambal penyet yang begitu pedasnya membuat nafsu makan mereka bertambah berkali-kali lipat.


"Bagaimana yank enak kan?"


"Kebalik seharusnya aku yang menanyakan seperti itu karena aku yang sudah terbiasa makan di sini dan dalam bagaimana kamu tahu kalau ini adalah makanan kesukaanku dan warung ini adalah warung favorit aku di mana Aku sering makan bersama dengan Vina?"

__ADS_1


"Kamu lupa betapa besar rasa cintaku padamu hingga aku pun tahu di mana kamu menghabiskan waktumu bersama dengan Vina dan tentunya salah satunya ada di warung ini. Dan pastinya aku paham betul tempat-tempat di mana kamu nongkrong bersama teman-temanmu hanya saja satu yang aku kecolongan yaitu di cafe tempat Bang Ivan aku belum pernah sama sekali melihat kamu kisahnya makanya aku mengira itu adalah pertama kali kamu datang ke sana kalau pun aku sudah tahu kamu berulang kali ke sana bahkan melihat Bang Ivan yang jatuh cinta sama kamu aku tidak akan pernah mengajakmu untuk datang ke sana."


Mendadak wajah Digo menjadi murung ketika ia mengingat bagaimana laki-laki itu ngefans dengan istrinya bahkan sudah berani-berani yang mengatakan cinta pada Aruna di depannya sendiri dan itu membuat rasa cemburu Digo kembali menyeruak di dalam dada.


"Jangan mulai, sebaiknya kamu habiskan saja makanan kamu setelah itu pulang jangan suka cemburu yang berlebih-lebihan bukannya kamu sadar kalau aku sekarang ini sudah menjadi istri kamu dan pastinya Aku tidak akan mempermainkan pernikahan kita."


Keduanya sudah menghabiskan makanan masing-masing hingga akhirnya semuanya sudah habis tak tersisa dengan Digo cepat-cepat membayarnya lalu meminta Aruna untuk segera masuk ke mobil karena sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Kalau sampai kemalaman pulang ke rumah bisa-bisa Digo tidak mendapatkan jatah sama sekali dari arona karena Aruna tidak mau diajak enak-enak jika kemalaman yang nantinya besok pagi akan terlambat untuk ke sekolah.


Beberapa menit kemudian, Digo sudah sampai di rumahnya ia dengan cepat menggenggam tangan Aruna untuk masuk ke dalam kamar dan tentunya setelah sampai di dalam kamar Digo meminta Aruna untuk segera membersihkan diri, ia tahu jika istrinya itu pasti gerah dengan semua yang menempel di dalam tubuhnya dan inilah kesempatan emas untuk Digo sembari meminta istrinya untuk ke kamar mandi diiku juga melepaskan bajunya laki-laki itu akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk membuat warna menjerit nikmat di dalam kamar mandi.


"Astaga apa yang kamu lakukan Di, ini sudah malam apa kamu tidak ada bosan-bosannya kemarin sudah banyak melakukan ini hari ini apa kamu mau lagi?"


Lagi-lagi Aruna dikagetkan dengan suaminya yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam dengan keadaan tanpa memakai pakaian pun yang membuat Aruna sekitar berpikir kalau duduk ingin melakukannya lagi.


"Aku tidak akan bosan bosan memangsa kamu sayank karena kamu betul-betul membuat aku candu sekali, saja setelah itu kita tidur."


Aruna pasrah,  tidak ada yang bisa dilakukannya ia menerima setiap sentuh-sentuhannya diberikan oleh Digo hingga akhirnya beberapa jam kemudian keduanya sudah keluar dari kamar mandi dengan Aruna yang mengerucukkan bibirnya karena bukan hanya satu ronde saja tetapi Digo melakukannya tiga ronde dan itu membuat Aruna kedinginan selama berada di dalam kamar mandi.


"Dasar nyebelin!! bilangnya cuma satu tetapi kenapa malah sampai 3, kamu tidak lihat aku kedinginan seperti ini .. awas aja kalau nanti sampai di atas ranjang kamu melakukannya lagi akan kutendang kamu!"


Digo memandang istrinya dengan tertawa, ia tahu jika apa yang dilakukannya itu keterlaluan memangsa Aruna di dalam kamar mandi yang pastinya membuat Aruna kedinginan.


Cup


"Maafkan suamimu ini yang begitu tergila-gila sama kamu, sebentar aku buatkan susu hangat dulu,.kamu tunggu di sini."


Digo keluar dari dalam kamar ia berencana akan membuat kopi dan susu hangat untuk Aruna tidak mau istrinya nanti kedinginan sebelum tidur meskipun dengan memeluk tubuhnya saja semua akan menjadi hangat tetapi Dengan meminum susu Aruna dipastikan kondisinya akan cepat.


"Belum tidur Di?"


"Bang Nathan juga belum tidur?"


"Seperti yang kamu lihat, aku dan Papi baru pulang beberapa menit yang lalu dan pastinya Aku tidak bisa tidur kalau sudah telat seperti ini, kamu mau ngapain?"


"Bikin kopi dan susu hangat untuk Aruna."


Nathan mengangguk kemudian ia meminum kopinya sembari melihat ke arah Digo, ia baru ingat jika tadi sore ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


"Kamu harus hati-hati dengan Pak Joyo dan putrinya, sepertinya mereka merencanakan sesuatu dan juga sepertinya putrinya itu menaruh rasa pada kamu."


Digo menghampiri Nathan, kemudian ikut duduk dengan kakaknya itu di mana pembahasan ini sepertinya menarik karena Digo sendiri juga berpikiran ke arah sana yang mana tadi sore melihat  Nadia dan juga Papinya yang sepertinya mereka memang merencanakan sesuatu.


"Pantas saja sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka berdua."


"Memang mereka licuk seperti tidak jahat tetapi mempunyai akal yang licik. Pastinya Pak Joyo gagal meminyay aku untuk dijadikan menantunya kini giliran sasarannya ada di kamu terlebih lagi tadi aku melihat putrinya itu yang menatap kamu tanpa berkedip meskipun status kamu saat ini sudah menikah tetapi mereka yang licik pasti juga mempunyai rencana untuk menghancurkan rumah tangga kamu, bukannya aku ingin menakut-nakuti kamu tetapi kamu harus waspada, apalagi perusahaan Pak Joyo juga ikut dalam proyek besar bulan depan."


"Aku tahu Bang dan terima kasih Aku juga berpikiran seperti itu tetapi kalau bisa aku ingin menyaring perusahaan-perusahaan mana yang akan bergabung dengan proyekku karena aku berpikir lagi jika proyek itu akan aku bagi menjadi dua di mana Aku sendiri yang memilihnya dan salah satunya aku akan menyingkirkan Pak Joyo dari timku."


"Bagus aku juga sependapat dengan kamu di mana Aku juga tidak begitu menyukai dia bukan hanya otaknya saja yang kurang tetapi karena pikirannya terlalu licik dan menghalalkan segala macam cara dan sebaiknya kita memang harus berhati-hati padanya bukan cuma perusahaan kamu saja tetapi perusahaan aku dan perusahaan tapi sekarang menjadi incarannya."


"Aku paham."


Meskipun sebenarnya Baru kali ini Digo terjun masuk ke dalam perusahaan tetapi ia sudah mempelajari bagaimana seluk buruk dari perusahaan itu dan juga klien klien Papinya yang sudah bergabung dengan perusahaan Rendra di mana ada beberapa yang memang diikuti tidak suka dengan pendapat maupun pikiran-pikiran mereka yang jelas saja salah satunya adalah dengan Pak Joyo terlebih lagi dengan cerita Nathan kali ini.


"Ya sudah aku ke mana dulu kasihan Aurora sudah menunggu susunya."


Nathan menganggukkan kepalanya memang ia tidak bisa ngobrol-ngobrol banyak dengan Digo saat ini di mana Aruna yang ada di dalam kamar dan membutuhkan Digo dan sepertinya cepat atau lambat Natan harus menghapus nama Aruna dari dalam hatinya.


Bayangan Aruna masih ada dalam pikiran nya, akan tetapi dengan cepat laki-laki itu menghapus pikiran-pikirannya ia memang pernah jatuh cinta dengan Aruna bahkan sampai sangat ini hatinya masih terbang dengan Aruna namun ia juga sadar kalau cintanya itu salah bahkan sampai kapanpun Arora tidak akan dimiliki karena ia tahu Digo bagaimana Digo mempertahankan seseorang yang dicintainya terlebih lagi mereka sudah sah dan pernikahan itu bukan main-main.


"Dan memang sudah waktunya aku untuk melupakan kamu Run, dan menganggap kamu seperti adik kandungmu sendiri yang tanya-tanya memang sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan kamu dan aku tahu jika di ku benar-benar sangat mencintaimu dan sekarang aku ikhlas jika Digo yang memilikimu."


Nathan kemudian beranjak dari dapur laki-laki itu langsung saja menuju ke dalam kamarnya dan beruntung sekali kamar Digo sudah kedap suara yang berarti nata tidak akan pernah mendengarkan apapun dari dalam kamar tidur.

__ADS_1


Digo sudah berada di dalam kamar ia pun segera menyerahkan segala susu kepada istrinya dan meminta Aruna untuk meminumnya.


"Jangan cemberut, Kamu tahu kan yang jika aku sudah bersama dengan Kamu pastinya tidak cukup hanya satu ronde saja lagi pula sedari tadi siang aku sudah menahannya yang pasti malam ini kamu tidak akan kulepaskan."


"Iya tapi tidak seperti ini lama sampe beberapa jam harus di kamar mandi, kamu tahu sendiri kan kalau aku itu tidak kuat dengan udara dingin."


"Maaf sayank, mau bagaimana lagi .. masih dingin, aku peluk ya?"


Meminum satu gelas susu hangat membuat tubuhnya terasa nyaman dan juga lebih hangat daripada tadi hingga akhirnya Aruna beranjak dari duduk kemudian menuju ke atas ranjang di mana matanya sudah lelah sekali dan kebetulan juga tidak ada PR untuk besok yang mana arona sudah menghubungi Vina dan memastikan apa ada tugas yang harus dilaksanakan untuk besok.


Melihat istrinya yang sudah masuk ke dalam selimut membuat Digo langsung saja ikut tidur di atas ranjang laki-laki itu malam ini tidak akan melakukan apapun mungkin nanti pagi saja sebelum keduanya berangkat ke sekolahan yang pasti ia melihat istrinya sudah kelelahan merasa kasihan.


"Kenapa sih kamu begitu, kamu cemburu tadi yank?"


Digo sendiri belum memejamkan matanya ia sesekali mengajak ngobrol istrinya yang mana masih gelisah sepertinya ada yang mengganjal di dalam pikiran Aruna.


"Wajar nggak sih kalau aku seperti itu Kamu adalah suami aku pastinya kamu bisa lihat sendiri bagaimana perempuan itu memandang kamu. Sepertinya dia juga tidak melihat aku sebagai istri kamu malah semakin asik melihat kamu tanpa berkedip."


"Sayank wajar itu kamu kan istriku dan terima kasih berarti kamu sudah menganggap aku suami kamu."


"Sejak kapan aku tidak mengganggu kamu suamiku meskipun pernikahan kita atas dasar keterpaksaan tetapi aku juga tahu diri tidak mungkin aku mempermainkan pernikahan ini terlebih lagi dengan kamu aku tahu dan aku salah karena aku belum benar-benar mencintai kamu tetapi akan aku usahakan."


"Terima kasih sayank, aku senang mendengarnya dan kamu tidak perlu khawatir aku tidak akan bekerja sama dengan perusahaan Pak Joyo di mana Aku tadi sudah membicarakan kepada bang Nathan kalau kita akan membagi dua tim itu tentu saja timku tidak ada perusahaan Pak Joyo yang mana memang bank Natal tidak menyukainya."


"Tetapi yakin mereka tidak akan melakukan apa-apa sama kamu sepertinya mereka licik sekali?"


"Selicik apapun asal kita tetap bersama dan kamu percaya sama aku pasti tidak akan yang bisa menghancurkan rumah tangga kita."


Digo mencium kening Aruna kemudian memeluk tubuh istirahat dengan sangat erat ia tahu bagaimana takutnya Aruna saat ini yang mana memang cukup bisa melihat dari ekspresi wajah Aruna itu tetapi yakin dan percaya kalau semuanya bisa teratasi.


Akhirnya kedua sudah terjauh terlelap dengan digoyang memeluk erat tubuh Aruna dan tanpa sadar Aruna juga melakukan yang sama entahlah sejak kapan Aruna belajar mencintai Digo meskipun itu belum seberapa tetapi arona akan berusaha.


*****


"Sekali lagi sayank masih ada waktu setelah itu kita mandi dan aku tidak akan mengganggu kamu di dalam kamar mandi!"


Saat ini masih berada di atas tubuh Aruna dan sepertinya semalam mereka tidur begitu nyenyak hingga akhirnya pukul 03.00 pagi Digo sudah terbangun tentu saja ia segera mengeksekusi Aruna kembali.


Dasar Digo yang mempunyai otak mesum saat turun besar tidak puas sehingga ia mengulanginya lagi sebanyak dua kali dan itu membuat Aruna ketar-kejarnya ia tidak mau terlambat ke sekolah dan dihukum.


"Awas aja kalau nambah kamu akan aku tendang!"


Mendapat lampu hijau dari istrinya Digo segera mengeksekusi Aruna ia melakukan beberapa gaya yang belum pernah dilakukan hingga akhirnya sesuatu yang hangat sudah keluar dari bawah sana dan membasahi rahim Aruna.


"Love you, kamu atau aku duluan yang mandi atau kita mandi bersama-sama?"


"Aku duluan, Aku tidak mau mandi bersama-sama nanti kamu khilaf lagi dan kita akan terlambat ke sekolah."


Tanpa mendapatkan jawaban dari suaminya Aruna bergegas untuk pergi ke kamar mandi tentu saja iya mengambil selimut untuk melilitkan ke arah tubuhnya tidak mau nanti jika Digo khilaf.


Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi Aruna pun keluar ia sudah memakai seragam sekolahnya yang mana memang sudah dipersiapkan dan langsung dipakai di dalam kamar mandi takut saja juga macam-macam ketika melihat tubuhnya dan saat ini gantian Digo yang masuk ke dalam kamar mandi.


Melihat suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi Aruna segera mencari sesuatu di mana memang ia setiap malam mengkonsumsinya dan selama menikah dengan Digo Aruna tidak pernah lupa.


"Maafkan aku Di, bukan aku tidak mau punya anak dari kamu tetapi ini belum waktunya aku masih ingin mengejar mimpiku dan aku belum siap untuk menjadi seorang ibu."


Aruna kembali meminum pil pencegah kehamilan yang memang ia merahasiakan semuanya dari Digo termasuk dari mami mertuanya di mana memang belum ada yang tahu jika Aruna sengaja mengundang kehamilan ini tetapi ia berencana untuk jujur saja kepada Mami Nina yang mana sepertinya mana bisa menyimpan rahasia dan tahu betul apa yang dipikirkannya tidak seperti Digo yang maunya cepat-cepat punya anak tetapi tidak memikirkan bagaimana nasibnya nanti terlebih lagi usianya masih sangat muda dan juga masih kelas 2 SMA.


Aruna bukan memikirkan tentang dirinya sendiri tapi bagaimana nanti tumbuh kembang anaknya itu di mana ia dan Digo masih sibuk menyelesaikan sekolah dan pendidikannya takut saja jika malahan Aruna tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik dengan menyerahkan anaknya itu dengan baby sister atau Mamah dan maminya untuk itu Aruna memutuskan untuk menunda dulu saja kehamilannya mungkin nanti setelah ia lulus SMA baru Aruna mau memberikan apa yang Digo inginkan.


"Sudah siap?"


Ia pun segera mengambil tasnya lalu sarapan ke bawah kali ini mereka berdua sarapan bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Nathan.


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan dan Digo bergegas untuk meminta Aruna untuk segera pamitan dan menuju ke depan dan Digo hari ini memakai mobil saja karena ia tahu pastinya istrinya tidak nyaman lagi pula nanti setelah pulang sekolah diku juga harus ke restoran dan perusahaan supaya lebih cepat dan juga rapi walaupun pada akhirnya menggunakan motor itu lebih cepat daripada mobil namun ia juga memikirkan tentang Aruna kasihan kalau siang-siang membawa Aruna naik motor pastinya akan kepanasan.

__ADS_1


__ADS_2