
Terlihat jelas raut wajah Digo saat ini ya sedang khawatir menunggu berita dari Om Rendy pasalnya dari tadi Om Rendy hanya menatap Digo tanpa mengatakan suara membuatku getar-ketir ia takut jika terjadi sesuatu kepada Aruna
"Bagaimana Om, Aruna tidak apa-apa kan Om?"
Sekali lagi Digo menanyakan itu kepada Om Rendy yang ternyata malahan Om Rendy hanya melihatnya sembari tersenyum dan itu malah menambah rasa kekhawatiran dari Digo.
Om ini bagaimana sudah tahu dokter dan aku dari tadi khawatir tetapi mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya kepada aku atau memang benar penyakit arus serius atau jangan-jangan?
Om Rendy itu tersenyum kemudian menepuk bunda Digo lalu melihat ke arah Papi Rendra dan juga Mami Nina.
"Aruna tidak apa apa hanya kelelahan saja dan juga kondisinya belum stabil dan untuk lebih jelasnya sebaiknya kamu bawa istri kamu ke dokter kandungan untuk memastikan apakah prediksi yang saya periksa tadi benar jika Aruna saat ini sedang mengandung."
Ujar Om Rendy dengan tersenyum kemudian menepuk pundak Digo lagi yang sepertinya Digo memang belum sadar dengan ucapannya bahkan Digo kaget dengan apa yang diucapkannya.
"Apa? jadi Aruna hamil?"
Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan Digo saat ini antara kaget, tidak percaya dan juga senang ia bahkan meneteskan air matanya mendengar kabar jika istri nya hamil meskipun itu hanya prediksi dari Om Rendy saja yang bukan merupakan dokter kandungan tetapi Digo yakin jika istrinya itu memang benar-benar hamil.
Om Rendy pun menganggukan kepalanya kemudian meminta Digo untuk membawa Aruna ke dokter kandungan untuk memastikan apakah prediksinya itu benar atau tidak karena Aruna juga sudah sadarkan tentunya untuk mendapatkan penanganan yang serius karena saat ini meskipun Aruna sudah sadar tetapi kondisinya masih lemah masih membutuhkan vitamin dan juga cairan.
"Alhamdulillah jadi aku mau menjadi papa.."
Bukan hanya Digo saja yang senang tetapi kedua orang tua jadi kau juga tersenyum sana yang mengucapkan syukurnya atas karunia yang diberikan tuhan pada keluarga Narendra yang pastinya Mami Nina saat ini begitu gembira karena ia yang sudah lama mendamba mendambakan seorang cucu kini akhirnya terkabul dan pastinya nanti setelah Aruna melahirkan Mami Nina akan mengurangi aktivitasnya dan akan membantu Aruna untuk mengurus anaknya.
Digo pun mengingat ucapan dari dokter Rendy kemudian ia yang ingin masuk ke dalam untuk menemui istrinya namun tiba-tiba pintu ruangan IGD itu dibuka dan Aruna sudah didorong oleh beberapa suster keluar dari sana.
"Sayang..."
Digo tersenyum melihat kondisi istrinya tidak apa-apa meskipun wajah Aruna masih pucat dan terlihat lemas namun kebahagiaan ini merupakan nilai yang tak terhingga dalam hidup Digo dan sepertinya arunanya diam saja karena laki-laki itu perempuan cantik itu belum tahu jika dirinya hamil.
"Aku kenapa Di? aku sakit apa kenapa perutku masih tidak enak dan juga kepalaku pusing?"
Tanya Aruna yang saat ini tangannya digenggam oleh Digo dengan brangkar Aruna yang didorong untuk menuju dokter kandungan di kebun tidak akan mengatakan dulu kepada Aruna ia takut jika nanti membuat kecewa Aruna dan akan menyatakannya nanti setelah bertemu dengan dokter kandungan dan memeriksa kondisi Aruna.
"Kamu tidak apa-apa sayang nanti aku jelaskan kita temui dokter dulu untuk memeriksa kondisi kamu lebih lanjut."
Ya sebisa semua mungkin Digo tidak mengatakan dulu tentang Aruna yang sudah hamil Iya ada dua kemungkinan ya kalau Aruna menerima kehamilannya atau kalau orangnya tidak menerima karena mengingat selama ini Aruna masih belum mau hamil dan mungkin saja Aruna tidak tahu jika yang setiap malam ia konsumsi itu adalah pil kesuburan bukan penunda kehamilan.
Aruna hanya diam iya bukan tidak percaya dengan ucapan suaminya tetapi jika memang ya tidak apa-apa mengapa ia harus dibawa ke ruangan khusus yang pastinya sedikit aneh bagi Aruna entah kenapa dirinya tidak langsung saja dimasukkan ke ruang perawatan tetapi malahan harus ke ruangan dokter dan arunaku tidak tahu kemana ia dibawa dan dokter apa yang akan memeriksanya namun dari wajah tampan Digo terlihat jika laki-laki itu bukannya bersedih atau khawatir atau bagaimana tetapi malah sepertinya bahagia.
"Aneh.."
Semakin aneh pula ketika kedua mertuanya juga tersenyum dan memberikan ciuman di kening Aruna tentu saja ia tidak tahu apa yang terjadi dalam dirinya mengapa terlihat tiga orang dewasa di sana nampak bahagia.
"Dokter kandungan...."
Gumam Aruna ketika ia sudah sampai di depan ruangan yang bertuliskan sebuah nama berikut dengan title nya di belakang.
Ya meskipun Aruna bodoh tetapi ia tahu ruangan apa yang ia masuki saat ini dan meskipun itu tidak mengatakan apapun juga terbersit rasa kekhawatir di diri Aruna mengapa suaminya malah membawa masuk ke sini bukan langsung ke ruang perawatan saja.
"Di...."
Aruna mendongakkan wajahnya kemudian ia menatap ke arah wajah tampan di Kuningan instan ingin mendapatkan jawaban dari apa yang ada di dalam pikiran Aruna saat ini.
"Jangan berpikiran yang macam-macam nanti saja tunggu kamu diperiksa dulu."
Ucap Digo yang tahu jika istrinya saat ini membutuhkan jawaban dari apa yang dipikirkannya meskipun Aruna tidak bertanya mengapa dirinya berada di sini dan apa yang terjadi dengan dirinya tetapi juga sudah tahu jika istrinya itu sedikit curiga karena di bawa ke ruang dokter kandungan.
Aruna yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa ia hanya terdiam dan memikirkan segala sesuatunya apakah memang benar ia hamil atau memang ada penyakit serius di dalam perutnya mengingat setiap malam aroma selalu mengkonsumsi pil penunda kehamilan dan sudah beberapa bulan bahkan hampir 1 tahun ini Aruna mengkonsumsinya.
Ya kalau Aruna hamil itu tidak menjadi masalah meskipun ia sedikit kecewa karena tidak memprediksi atau belum siap dengan kehamilannya tetapi jika ada penyakit yang ada di perutnya ataupun rahimnya yang menyebabkan Aruna akan sulit mempunyai anak itu yang menjadi kekhawatiran Aruna saat ini.
Semoga tidak terjadi apa-apa,.maafkan aku juga selama ini sudah bergaul dengan kamu dan maafkan aku jika belum bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Ya Aruna bukannya tenang dan tidak memikirkan apapun tetapi ia malah berpikirnya tidak tidur dia takut saja jika pemeriksaan kali ini itu bertambah berdampak fatal bagi dirinya terlebih lagi nanti terdampak bagi kesuburan rahimnya.
"Sudah siap Ibu Aruna..."
Lamunan Aruna buyar mengenai tentang penyakit yang bersarang itu punya seketika hilang karena dokter cantik yang berada di depannya itu meminta Aruna untuk segera menuju ke ruang periksa dan pastinya Aruna melakukan kepalanya ia juga penasaran apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
*****
"Ha??"
Selain kaget Aruna juga bingung, pasalnya ia masih modern tapi mengapa dipanggil ibu-ibu apa memang tampangnya sekarang yang sudah tidak seimut dulu hingga dokter itu memanggil dirinya dengan nama ibu atau ada yang lainnya?
Sekilas pikiran Aruna kembali melayang-layang yang berpikir yang tidak tidak akan berpikir jika memang sesuatu terjadi di dalam tubuhnya hingga membuat suami dan kedua mertuanya sampai ikut masuk ke dalam ruangan ini.
"Ayo sayang? biar dokter ini memeriksa kamu."
Digo yang melihat arunanya diam saja kemudian laki-laki itu membawa tubuh istrinya untuk berada di ruang perawatan yang jelas saja di sana sudah terdapat perlengkapan yang begitu banyaknya yang pastinya cuma apakah memang benar istrinya itu hamil atau tidak.
Aruna hanya diam, dan perempuan cantik itu tidak tahu apa yang dilakukan sementara Digo sudah membawanya untuk berbaring dan pastinya Aruna juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya dan apa yang akan dilakukan oleh dokter itu.
"Berdoa dulu ya semoga memang hasilnya positif."
Ujar dokter cantik sembari tersenyum kemudian beliau mengoleskan gel di perut Aruna yang membuat Aruna tambah bingung saja pasalnya mendengar kata-kata positif, Aruna yang sudah entahlah perasaannya itu campur aduk positif apa mungkinkah dirinya hamil pada selama ini Aruna mengkonsumsi pil penunda kehamilan dan tidak pernah telat atau mungkin memang kebobolan seperti yang diberitakan jika memang ada yang sudah mengkonsumsi pil itu tetapi tetap saja bisa hamil.
Sedangkan Digo, laki-laki itu berada di samping Aruna dan memegang tangan Aruna ia tahu bagaimana perasaan Aruna saat ini campur aduk antara penasaran dan juga terkejut dengan apa diucapkan oleh bu dokter cantik di ku juga berpikir jika Aruna mungkin nanti akan sok dan belum siap sih jika dinyatakan hamil tetapi semuanya sudah terjadi tidak mungkin juga diiku tidak menerima semuanya padahal jelas-jelas itu adalah keinginan Digo.
"Bapak dan Ibu sudah bisa melihat di layar itu di sana ada satu buah titik Dan itu adalah calon anak kalian."
Bu dokter itu mengarahkan semacam alat di perut Aruna kemudian menggeser-geserkan mencari letak. Calon buah hati dari Digo dan Aruna.
"Maksud dokter apa?"
Aruna tentu saja tidak paham tetapi berbeda dengan Digo laki-laki itu di dalam hati mengucapkan rasa syukurnya dan rasa senangnya karena apa yang diinginkan terkabul Aruna hamil.
"Ibu Aruna positif hamil kehamilan saat ini berumur kurang lebih 6 minggu masih sangat rawan oleh karena itu dijaga dengan sebaik-baiknya."
"Alhamdulillah.."
Ucap Digo dan juga kedua orang tuanya setelah itu Digo memberikan ciuman di kening dan juga kedua pipi Aruna tanda ia sangat bahagia tetapi sayang sekali berbeda dengan Aruna yang hanya terdiam perempuan cantik itu tidak tahu harus mengekspresikan seperti apa yang pasalnya memang ia benar-benar kaget dan tidak menyangka jika dirinya akan hamil seperti ini dan juga ia pikir Dengan meminum dan menunda kehamilan itu setiap malam maka dirinya tidak akan hamil meskipun Digo juga setiap hari menyerangnya tetapi mengapa malahan dokter mengatakan jika dirinya hamil
"Hamil?"
Masih tidak percaya lagi hingga Aruna mengatakan itu Kepada Digo hingga akhirnya Digo pun melakukan kepalanya dengan masih menggenggam tangan Aruna.
"Iya sayang Kamu hamil, itu kamu bisa melihat di sana buah cinta kita masih kecil."
Ya tidak ada ekspresi sama sekali dari Aruna, Aruna juga tidak tersenyum ataupun senang perempuan cantik itu masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya mungkinkah dokter kandungan itu salah memprediksi jika ada janin di dalam rahimnya atau bagaimana.
"Dokter tidak salah melihat kan?"
Pertanyaan dari Aruna membuat Digo tercengang meskipun ia tidak kaget jika istrinya nanti akan sulit menerima kehadiran buah hatinya tetapi setidaknya jangan begitu ekspresinya namun dikubur rusak untuk segera menenangkan dirinya dan juga menenangkan Aruna memang resikonya begini karena Digo diam-diam sudah menukar pil itu dan hasilnya dalam waktu 1 bulan Aruna hamil tetapi Aruna sendiri tidak tahu dengan apa yang sudah Digo lakukan.
"Saya tidak saat melihat ibu dan saya juga sudah melakukan berulang kali dan hasilnya tetap sama ada positif hamil memang kenapa apakah anda tidak senang dengan kehamilan ini? Maaf Ibu Aruna banyak di luar sana perempuan-perempuan yang sudah lama menginginkan untuk memiliki keturunan tetapi sayang sekali mereka tidak diberi keturunan meskipun usianya sudah lanjut tetapi anda yang masih sangat muda sudah beruntung bisa hamil secepat ini."
Ujar dokter cantik itu yang merasa jika Aruna memang belum siap untuk hamil dokter itu juga maklum karena melihat dari kondisi Aruna yang masih sangat lemah dan juga umur Aruna yang masih berusia muda dan juga dokter itu tahu jika pasangan suami istri ini masih sekolah tetapi tidak masalah selama pola makannya dan juga kesehatannya diatur itu tidak akan mempengaruhi kesehatan janin dan ibunya.
Aruna terdiam ucapan dari dokter itu membuat dirinya merasa bersalah tetapi sebenarnya Aruna juga belum mampu untuk hamil terlebih lagi ia yang masih ingin bermain dengan teman-temannya dan masih sekolah bagaimana nanti jika semua orang tahu jaga dirinya hamil padahal tinggal beberapa bulan lagi dirinya lulus apakah Aruna akan putus sekolah dan dikeluarkan dari sekolah itu yang menjadi alasan kenapa Aruna tidak mau hamil di usia masih muda ini dan juga masih sekolah.
"Bukan begitu dokter yang saya khawatirkan usia saya masih sangat muda dan juga saya sekolah saya takut tidak bisa membagi waktu antara urusan sekolah dengan kehamilan saya dan juga saya takut karena salah belum siap untuk menjadi Ibu lagi pula saya sudah minum pil penunda kehamilan tetapi mengapa saya masih hamil?"
Ya ucapan dari Aruna membuat dokter itu terkejut tetapi tidak dengan Digo dan kedua orang tua digoyang mana mereka sudah paham betul jika ini nanti akan membuat Aruna sok atau mungkin Aruna tidak bisa menerimanya Karena mereka juga dari awal melihat tanda-tanda Aruna seperti orang hamil antara percaya dan tidak percaya tetapi jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa menolaknya.
"Kehamilan di usia muda memang beresiko tetapi jika diimbangi dengan kondisi kesehatan ibunya dan juga pola makan serta istirahat yang teratur insya Allah tidak berpengaruh apapun yang jelas lama kehamilan ibu muda itu tidak perlu stress atau memikirkan yang tidak tidak dan asupan makanan yang harus dijaga serta istirahatnya. Kalau masalah telepon udah kehamilan itu memang tidak 100% itu bisa dipercaya untuk menunda kehamilan bahkan banyak yang kebobolan setelah meminum itu atau menggunakan alat kontrasepsi yang lainnya jadi semuanya itu sudah diatur dan ini merupakan anugerah yang besar untuk ibu Aruna."
*****
Setelah dari ruang perawatan dokter kandungan Digo langsung saja membawa istrinya itu untuk menuju perawatan kelas khusus tentu saja jadi pilihan ruangan yang paling nyaman di rumah sakit ini.
Selama bersama Digo, Aruna tidak mengatakan aku juga ia masih bingung tentang kehamilannya yang mana tidak menyangka jika beliau selama ini ia konsumsi tidak bisa membuat dirinya hamil bah kan malahan membuat dirinya hamil apa yang salah apa memang pilihannya sudah kadaluarsa atau bagaimana?
__ADS_1
Tetapi yang jelas yang arona rasakan saat ini adalah belum siap Iya benar-benar belum siap untuk mengandung terlebih lagi sebentar lagi ia akan menempuh ujian nasional dan sebelum itu ada ujian praktek bagaimana Aruna bisa melalui semuanya sedangkan ia sudah berbadan dua.
"Sayang apa kamu tidak suka?"
Ya kini saatnya Digo berbicara 4 mata dengan Aruna setelah kedua orang tuanya itu pamit untuk membawakan baju ganti arona dan juga Digo yang pastinya Digo merasa jika istrinya itu memang benar benar belum siap dan mungkin saja arona kecewa dengan apa yang dilakukannya nanti jika Digo mengatakan yang sebenarnya.
Aruna menghela nafas panjang ia memamerkan wajahnya dan sepertinya tidak mau melihat wajah diriku karena Aruna berpikir ini semua kesalahan digoyang selalu saja menancapkan si Joni itu ke dalam inti Aruna tanpa jejak sekalipun ia meskipun Aruna sudah menunda kehamilan tetapi tetap saja jika digas terus-menerus maka itu akan jadi juga.
"Kamu kan tahu Di, Aku belum ingin hamil aku masih ingin sekolah dan menamatkan sekolahku dulu lagi pula tinggal beberapa bulan lagi kita lulus sekolah dan tentu saja di sela-sela itu ada ujian nasional dan ujian praktek kalau sudah seperti ini mana bisa aku mengikuti semuanya."
Ucap Aruna dengan masih memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap ke arah suaminya perempuan cantik itu juga mengucapkan kata-kata itu dengan cemburu dan nada yang sedikit ketus.
"Maka dari itu tinggal beberapa bulan saja kita lulus tidak masalah untuk masalah ujian praktek nanti aku akan bicarakan dengan kepala sekolah dan pastinya kepala sekolah mengerti kamu tidak hamil di luar negeri kita sudah menikah dan pastinya itu adalah anak aku dan aku akan bertanggung jawab semuanya jangan jadikan kehamilan kamu ini beban buat kamu."
Digo mendekati istrinya ia tahu istrinya saat ini dengan bingung dan juga sedikit kecewa padahal Digo tidak memberitahu tentang dirinya yang sudah menukar pil itu bagaimana nanti jika Aruna sampai tahu mungkin saja Aruna akan membenci Digo.
"Enteng sekali kamu bilang di kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan kamu tinggal membikin dan tidak hamil Apa kamu tahu sekarang perasaanku bagaimana jujur saja aku belum siap jujur saja aku kecewa sama kamu!!"
Sepertinya memang emosi Aruna saat ini sudah stabil perempuan cantik itu malah marah-marah dan gini duduk sembari menatap ke arah suaminya Aruna juga mengusir suaminya dan tidak mau didekati oleh Digo.
"Sayang jangan kecewa, semua ini adalah pemberian dari Tuhan aku rasa kamu memang belum siap tetap baik semuanya sudah diatur dan sudah seharusnya kita bersyukur karena mendapatkan sesuatu secara lebih cepat."
Digo tidak mungkin marah dengan istri yang meskipun beberapa kali Aruna mencoba untuk mengusirnya dan tidak mau bersama dengan Digo tetapi di saat seperti inilah Dika harus menenangkan istrinya.
Ya, Digo bingung .. ia begitu senang dengan kehamilan istrinya tetapi melihat istrinya yang kecewa bahkan sampai menangis membuat di Kusuma ketidak tenang entahlah padahal satu bulan yang lalu ia menggebu untuk membuat Aruna hamil tetapi saat Aruna sudah hamil perasaan Digo bercabang-cabang bukan karena tidak senang tetapi melihat ekspresi Aruna yang seperti itu sepertinya memang bukan saatnya untuk Aruna hamil.
"Pergi kamu Di, Aku benci sama kamu! aku tidak ingin melihat wajah kamu karena gara-gara kamu aku hamil!!"
Emosi Aruna benar-benar tidak semua stabil bahkan saat ini Aruna berteriak mengusir Digo. Aruna bahkan masih tidak terima jika dirinya saat ini hamil meskipun kenyataan seperti itu tetapi yang masih bisa menghabiskan masa depannya dengan temannya bukan karena ia tidak mau mengandung anak Digo.
Digo yang mendapat perlakuan seketika sadari istri yang mencoba untuk menahan diri dan semua ini salahnya ia yang terlalu egois hingga membuat Aruna seperti ini tidak tahu saja jika efek dari apa yang sudah dilakukan yaitu berimbas pada Aruna yang tampak dan seakan-akan tidak menerima anaknya.
Tetapi Digo yang masih waras ia berusaha untuk tidak terpancing emosi ia karena semua ini ulahnya ia menginginkan karena mengandung tanpa mengatakan semuanya kepada Aruna dulu atau kedua orang tuanya hingga pada akhirnya Aruna yang menjadi seperti ini.
"Keluar Kamu Di! aku ingin sendiri dan tolong jangan ganggu aku dulu!!"
Iya masih ingin memahami tentang dirinya sendiri bagaimana mungkin ia bisa hamil padahal ia sudah meminum pil pencegah kehamilan itu setiap malamnya bahkan tidak ada yang terlewat sedikitpun juga tetapi, perasaan Aruna yang kacau saat ini membuat ia tidak bisa mengontrol emosinya.
"Oke sayang, tenang ya tenang Aku akan keluar tetapi aku hanya di depan saja jika kamu butuh apa-apa hubungi aku."
Diego yang tadinya menjauh dari arona karena arona berteriak dan mengusir Digo lalu mendekati istrinya dan meletakkan ponsel Aruna di samping Aruna dan ia juga tidak akan pergi jauh dari sini hanya berdiri di depan pintu sembari mengamati istrinya siapa tahu memang Aruna butuh sesuatu dengannya.
Cup
"Aku sayang kamu dan yakinlah jika kita akan melewati semuanya jangan berpikir jika nanti aku akan mengekangmu karena kamu hamil dan melahirkan anak kamu masih bisa bebas bersama dengan teman-teman kamu bahkan juga kamu masih bisa kuliah meskipun kamu hamil dan kita akan menjaga anak kita bersama-sama dan merawatnya."
Satu ciuman Digo berikan di kening Aruna tentu saja dengan membisikkan kata-kata mutiara supaya arena bisa tenang Digo yakin jika mungkin Aruna diberitahu secara pelan-pelan dan diyakinkan maka perempuan cantik itu tidak akan emosi seperti ini diketahui jika Aruna sok dan masih belum percaya pada setiap malamnya Aruna selalu mengkonsumsi Pil penunda kehamilan tetapi mengapa juga bisa kebobolan.
Aruna tidak menjawab apapun ia masih kecewa dengan siapa antara anda sendiri tidak tahu karena ingin menyalakan Digo tetapi tidak mungkin setiap malam juga Aruna menikmati Apa yang dilakukan oleh Digo jadi semua ini bukan salahnya namun Aruna juga masih belum percaya dan terima jika ia harus hamil saat ini bahkan Aruna sudah berencana ingin kuliah dulu nanti setelah Aruna masuk ke kampus dan mulai pelajaran di kampus baru ia akan memikirkan tentang rencana kehamilan.
******
Tetapi sayang sekali rencana hanyalah tinggal rencana hingga Aruna mau tidak mau menerima anak ini meskipun ia sedikit kecewa tetapi entahlah Aruna masih belum siap jika dirinya mengandung.
Hingga Aruna hanya berdiam diri di atas ruang perawatan sementara Digo sudah berada di depan mungkin saja memang Digo memberikan kesempatan Aruna untuk berpikir supaya Aruna tidak emosinya menjadi jadi dan akan membahayakan dirinya serta anak yang ada di dalam kandungan Aruna.
"Bagaimana Aruna ,Di? mengapa kamu malah di sini?"
Khawatir dengan kondisi Aruna yang setelah keluar dari ruangan dokter kandungan, beliau melihat menantunya yang tidak senang seakan-akan kehamilan ini merupakan bencana bagi Aruna dan meminta tahu itu mamina juga tidak menyalahkan Aruna sebab di usia seperti Aruna itu masih sangat muda dan ingin bergaul dengan teman-temannya tetapi malahan sudah mengandung dan pastinya yang ada di pikiran Aruna saat ini Aruna nanti tidak akan bebas ke mana-mana dan kegiatan dan juga aktivitasnya terbatas karena dirinya hamil bukan itu saja bahkan Aruna mungkin juga berpikir dia akan merawat anak itu sendirian jadi repot dan tidak punya waktu untuk sekedar memanjakan dirinya di salon.
Tetapi semua terjadi tidak mungkin juga apa yang sudah dianugerahkan di dalam perut Aruna itu dihilangkan karena memang itu adalah anugerah yang paling besar untuk Digo dan juga Aruna meskipun Aruna masih belum menerimanya tetapi Mami Nina dan semuanya percaya jika pastinya Aruna lambat laun akan bisa menerimanya semua ini mungkin karena hanya butuh waktu dan juga proses saja.
"Aruna mengusir aku Mi, dia sepertinya kecewa dengan kehamilannya. Aku bingung apa yang harus aku lakukan sementara aku menginginkan anak itu tetapi melihat Aruna, Aku Jadi menyesal."
Saat ini sedang berdiri di samping Mama Nina ia juga menunduk sesekali menghapus air mata yang sudah menetes di pipinya meskipun diiku tidak terlihat menangis namun jika putranya ini terlihat lemah bahkan mungkin saja karena kepikiran Aruna membuat Digo menangis.
Lalu apa tadi menyesal Mama Nina mengirimkan alisnya pasalnya ia baru saja mendengar kata menyesal dari Digo dan apa itu artinya Mami Nina juga belum tahu.
"Maksud kamu apa Di? Menyesal?"
"Maafkan aku, Mi.. itu semua gara-gara aku, aku yang membuat Aruna hamil."
Mami Nina semakin tidak mengerti saja, bukan karena Mami Nina bodoh atau bagaimana beliau paham betul bahwa yang membuat Aruna hamil adalah diikuti tapi mama Nina tidak tahu maksud dari ucapan itu karena yang Mami Nina tahu setiap hari pastinya Digo memangsa Aruna dan tidak mungkin juga arona hamil namun yang jadi masalah saat ini mengapa Aruna bisa hamil padahal karena sudah bilang kepada dia meminum berpecah kehamilan dan pastinya nomina juga tahu setiap harinya Aruna selalu datang bulan tetapi bulan ini mengapa tidak dan itu yang menjadi pertanyaan dan tanda tanya besar di dalam benak Mami Nina saat ini.
"Bukankah memang Kamu yang menghamili Aruna kamu yang memangsa Aruna setiap harinya hingga membuahkan hasil seperti itu lalu kenapa harus disesali?"
"Mami kan sudah tahu juga Aruna setiap malam itu selalu mengkonsumsi pil penunda kehamilan dan satu bulan yang lalu aku menukar pil itu dengan pil kesuburan."
"Astaga...."
Mami Nina menggeleng dan tidak percaya kenapa putranya itu malahan memilih jalan seperti itu tidak dibicarakan lagi dengan Aruna pantas saja Aruna nampak sok ketika mengetahui kalau dirinya hamil berpikir jika memang Aruna sudah mengiyakan dan siap untuk kehamilan kali ini tetapi kenyataannya tidak putranya itu yang malah membuat kistur dan juga huru-hara seperti ini.
"Mama tidak tahu nanti jadinya jika Aruna tahu kalau kamu yang sudah mengganti pin itu dan pastinya Mami memang senang kalau Mami punya cucu tetapi cara kamu yang salah kenapa kamu tidak bicarakan ini dulu sama Aruna biar semuanya tidak salah paham seperti ini Mama pikir Aruna siap untuk mengandung makanya Aruna tidak mau minum itu tak tahu kamu yang mengganti pilnya."
"Aku dari awal memang menginginkan jika Aruna hampir secepatnya bahkan satu bulan yang lalu pas aku menukar pil itu aku berharap jika Aruna cepat hamil karena aku memang menginginkannya tetapi aku tidak berpikir bagaimana nanti jika Aruna sampai marah atau tidak menginginkan anak aku."
Ya mungkin saja Apa yang dirasakan oleh Digo saat ini adalah Menyesal menyesal mengapa ia tidak konsultasi dengan Aruna berbicara baik-baik dengan istrinya itu malahan dengan egois yang digunakan pil penunda kehamilan itu dengan pil kesuburan dan akhirnya begini, Aruna tidak terima jika dirinya hamil dan itu sangat membahayakan untuk Aruna dan juga calon anak yang dikandung oleh Aruna saat ini.
Sedangkan Aruna , ia yang membutuhkan sesuatu langsung saja turun dari betnya kemudian Aruna mencari keberadaan Digo tidak mungkin ia berteriak ataupun menghubungi suaminya karena ia tahu jika Digo berada di depan.
Digo juga tidak mungkin meninggalkan dirinya maka dari itu Aluna pelan-pelan turun dari ranjangnya kemudian membuka pintu kamar secara perlahan-lahan.
Dan pastinya pintu itu terbuka tetapi tidak ada suaranya hingga Aruna mendengar sendiri apa yang diucapkan oleh Digo barusan.
Aruna yang mendengar itu langsung saja menutup mulutnya. Antara kaget dan juga tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya bisa bisa suaminya seperti itu.
"Kamu keterlaluan Di, Kamu jahat! kamu kejam kamu egois Aku tidak menyangka jika kamu melakukan seperti itu Kamu tahu sendiri kan aku bukannya tidak mau mengandung anakmu tetapi aku belum siap saja menerima semuanya ini."
Sontak mendengar ucapan dari Aruna, Digo menoleh ke belakang tentu saja Digo kaget ketika Aruna sudah berdiri di depan pintu masalahnya ia tidak menyangka dan juga tidak mendengar jika Aruna membuka pintu dan sudah berdiri di belakangnya.
"Sayang bukan maksud aku seperti itu.. aku bisa menjelaskan.."
Digo yang melihat Aruna masuk ke dalam ruangan dengan menutup pintunya yang sangat keras untuk ia khawatir dan di grup langsung saja mengikuti Aruna dan ingin menjelaskan ia tidak mau jika masalah ini sampai berlarut-larut, pasalnya baru saja ia senang dengan berita kehamilan Aruna tetapi sedetik kemudian ia harus sedih melihat kondisi Aruna saat ini.
*****
"Apalagi yang mau kamu jelaskan Di? kamu tidak memikirkan aku? Kamu egois kamu hanya memikirkan dirimu sendiri bahkan sama sekali tidak memperdulikan bagaimana aku nantinya kita masih sekolah dan aku juga masih ingin kuliah meskipun aku sudah menjadi istri kamu itu tidak masalah yang paling penting aku bukan tidak ingin memanggil anak kamu namun semua itu ada waktunya Aku bahkan sudah memikirkan nanti setelah aku masuk kuliah aku mau melakukan program kehamilan supaya kamu dan aku senang tetapi Apa yang kamu lakukan bahkan kamu sendiri tidak mengatakan semuanya ini sama aku kamu malah menukar pil itu dengan pil yang lainnya dan itu yang membuat aku kecewa."
Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Aruna saat ini hancur bukan hanya karena ia yang baru saja menerima kabar jika dirinya hamil dengan kondisi yang tidak stabil dan juga belum siap untuk mengandung tetapi kecewa karena suaminya yang terang-terangan membohongi dirinya bahkan Digo pun tidak mengatakan apapun juga kalau Digo sudah menukar pil itu.
Bagaimana mungkin Digo akan mengatakan kepada kamu, jika pil nya sudah di ketukar bisa-bisa arona nanti ngamuk dan juga membenci Digo. Dan inilah hasilnya diku yang sudah menutup rapat-rapat rahasia ini dan tentu saja setelah Aruna tahu dari mulutku sendiri meskipun itu secara tidak langsung aroma menjadi kecewa ia tidak menyangka suaminya selama ini mencintainya suaminya selama ini dibangga-banggakan dan juga aroma sudah merencanakan semuanya itu tertutup dengan kebohongan Digo dan rasa kecewa Aruna kepada Digo.
"Maafkan aku sayang maafkan aku, aku terlalu ingin mempunyai anak dari kamu aku tidak ingin kehilangan kamu dan aku ingin membuat keluarga kecil kita bahagia dengan adanya anak di tengah-tengah keluarga kita."
Digo masih saja berusaha untuk meminta maaf kepada Aruna bahkan laki-laki itu saat ini sudah menarik tubuh Aruna untuk dipeluknya ia tahu sekarang Aruna sudah berada juga terdapat padanya tetapi tidak mungkin jika Digo hanya membiarkannya meskipun berusia untuk mengusir Digo dengan memukul-mukul dada di kota tapi kali ini Digo tidak akan pergi dari hadapan aroma bahkan ia ingin terus menemani arona tidak masalah jika tubuhnya Kamu rekam karena pukulan dari istrinya itu bahkan Aruna juga sesekali memakai Digo dan mengatakan kata-kata kasar kepada Digo tetapi diku berusaha untuk tenang Digo berusaha untuk menyikapi semua ini dengan tangan terbuka dan akan dada ia yakin jika semuanya permasalahan yang dihadapi dirinya dengan Aruna itu akan segera terselesaikan.
"Apa selama ini kamu tidak baik dengan aku kamu kurang percaya jika aku benar-benar mencintai kamu apa juga kamu masih kurang pasti dengan perhatiannya aku berikan hingga kamu memilih untuk menghadirkan anak di tengah-tengah kita Apa kamu tidak percaya jika suatu saat aku akan hamil meskipun itu tidak sekarang Apa kamu juga tidak sabar menunggu hingga saatnya tiba?"
Aruna masih belum bisa ditenangkan oleh digo bahkan perempuan cantik itu saat ini sudah meronta-rontak untuk dilepaskan dari pelukan Digo tetapi yang namanya Digo dalam suatu seperti ini ia tidak akan mungkin meninggalkan Aruna bahkan tidak melepaskan pelukan dari Aruna terserah jika istrinya nanti akan mengumpat atau bagaimana yang jelas memang kali Aruna harus bisa ditenangkan Aruna harus bisa diberi pengertian supaya tidak semena-materi dirinya dengan nantinya akan berakibat fatal terhadap janin yang dikandung oleh Aruna.
"Bukan begitu sayang bukan begitu. Aku tidak meragukan kamu, aku juga percaya sama kamu tetapi entahlah rasa ingin memiliki anak dari kamu itu begitu besar jika sampai aku tahu kamu bila ku seperti ini dan sangat tidak menginginkan anak dalam waktu dekat ini aku pun tidak ingin melakukannya maafkan aku sayang maafkan aku."
Ya penyesalan memang datang terlambat tetapi semuanya sudah terjadi terlebih lagi sudah ada nyawa di dalam perut Aruna Jadi tidak mungkin Digo akan menyesal berlarut-larut yang ia lakukan adalah menyadarkan arona ia berkali-kali ia menyadarkan Aruna bahwa janin yang dikandung aroma ini adalah pemberian dari Tuhan.
"Tapi bagaimana mungkin Di, kita masih sekolah kita belum menyelesaikan ujian nasional dan juga dua minggu lagi akan ada ujian praktek apakah aku harus tidak ikut bagaimana nanti jika semua orang tahu jika aku hamil apakah aku harus dikeluarkan dan aku akan putus sekolah dan juga pastinya kamu nanti akan menggenggam aku Aku tidak boleh kemana-mana hanya mengurusi anak di rumah aku tidak mau itu Aku tidak bisa jika harus diatur-atur seperti itu dan aku juga tidak mau putus sekolah aku masih mau melanjutkan kuliah dan aku masih mau bersama dengan teman-temanku."
Ya Aruna masih belum percaya bahkan ia juga masih ragu dengan dikucikan nanti diikuti tidak akan mengekangnya.
"Aku kecewa sama kamu Di, Aku kecewa sama kamu!!"
Aruna semakin memberontak karena tidak ada ucapan dari Digo, ya Digo lebih memilih diam daripada ia menyahut tetapi Aruna tetap saja memberontak dan mengatakan sesuatu yang tidak didengar hingga akhirnya pelukan ikut terlepas begitu saja dari Aruna.
Digo menghela nafas kasar melihat Aruna yang seperti itu kalau dan juga tidak terima dengan kehamilan ini juga memecahkan maknanya apakah keputusannya ini adalah keputusan yang terbaik supaya Aruna bisa menikmati masa mudanya supaya Aruna bisa bebas ke mana-mana padahal yang dipikirkan arona itu salah diikuti tidak akan pernah mengekangnya bahkan Digo juga tidak akan meminta Aruna untuk mengurus semuanya Digo pastinya akan menyewa Baby sister untuk meringankan beban Aruna dan Digo juga tidak mempermasalahkan kalau arona pergi duluan teman-temannya atau melajukan kuliah nanti.
__ADS_1
"Oke kalau begitu mau kamu Apa kamu ingin menggugurkan anak itu? Oke terserah saja ... terserah apa mau kamu yang jelas aku tidak menyesal sudah melakukan seperti itu dan aku memang menginginkan anak itu!!"
Ya sepertinya kesabaran Digo sudah habis ia yang sudah meminta untuk arona menenangkan diri menyadarkan Aruna dengan ucapan yang baik-baik dan dengan nada yang tidak tinggi tetapi sepertinya Aruna menolak itu Aruna masuk ke dan tidak terima jika saat ini hamil hingga terpaksa dihukum mengucapkan kata-kata yang di kos sendiri tidak mau dengar dan berharap Aruna juga tidak akan mengikuti apa yang Digo ucapkan tadi.
Deg
Aruna tentu saja kaget mengapa semuanya bisa berucap seperti itu entahlah ia antara tidak ingin hamil dan juga kecewa dengan di kota tapi tidak mungkin jika aroma akan membunuh udara dagingnya sendiri meskipun sebenarnya ia masih tidak terima dengan kehamilan ini.
"Aku tunggu keputusan kamu!!"
*****
Dengan berat hati Digo melakukan seperti itu, bahwasanya ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menenangkan Aruna.
Untuk mengatakan seperti itu bukan karena kemauannya di dalam hati, tetapi melihat Aruna seperti itu Digo hanya pasrah saja.
Setelah mengatakan itu Digo langsung saja keluar dari rumah Aruna ia tidak tahu lagi bagaimana nasibnya juga aroma benar-benar ingin menggugurkan bayi di dalam tanggungannya itu bahkan saat ini Digo sudah tidak bisa berpikir jadi lagi bagaimana caranya supaya bisa meluluhkan hati Aruna.
Di depan sana sudah ada Mami Nina dan juga mama Dina, 2 perempuan cantik itu berusaha untuk menenangkan Digo yang memang Mami Nina sempat untuk memberitahukan kepada Mama Dina tentang Aruna masuk rumah sakit dan juga kehamilan Aruna tetapi Mami Nina yang berinisiatif sendiri mungkin saja Aruna saat ini butuh dukungan dari ibu kandungnya supaya Aruna bisa yakin untuk membesarkan anak dari yang ada di dalam kandungannya dan tidak putus atas atau tidak kecewa dengan apa yang sudah terjadi.
"Maafkan Digo, Mah...aku yang salah tidak memikirkan Aruna hingga Aruna tidak terima jika Aruna saat ini hamil, bahkan marah sama Digo. Dan memang Digo yang salah dan diterima jika Aruna tidak menginginkan anak itu."
Digo memeluk tubuh Mama Dina memang semuanya salahnya. Iya yang menggebu gebu ingin mempunyai anak tanpa mengatakan terlebih dulu kepada Aruna dan juga harus terima jika nanti Aruna benar-benar tidak menginginkan anak itu benar-benar membutuhkan kandungannya.
"Mama tahu apa yang kamu rasakan di itu semua bukan salah kamu biar Mama yang bicara dengan Aruna mungkin saja Aruna belum paham betul apa yang ia lakukan Aruna masih sakit ia masih kecewa dan masih juga belum yakin dengan kondisinya saat ini percayalah sama mama aroma aroma Aruna bukan perempuan aja karena pasti akan menerima semua ini. dan sebaiknya kamu tenang-tenangi diri kamu sendiri Kamu juga butuh waktu untuk berpikir untuk saat ini biarkan Mama yang menemani Aruna dan kamu jangan memperlihatkan diri kamu di depan rumah bukannya Mama ingin memisahkan kamu dengan Arma tetapi memang Aruna perlu diberi waktu sebentar mungkin saja dengan tidak adanya kamu di sampingnya Aruna bisa berpikir lebih jernih dan aroma akan merasa kehilangan kamu. Mama percaya kalau kalian bisa melewati semua ini dengan baik."
Digo pun menganggukkan kepalanya kemudian ia memeluk tubuh Mama mertuanya itu dan mengiyakan apa yang diucapkan oleh Mama Dina meskipun sebenarnya ia berat untuk tidak bertemu dengan Aruna dan menemani Aruna saat-saat ini juga khawatir jika Aruna nanti malam berpikir ingin menghilangkan anak yang ada di dalam rahim Aruna.
"Sebaiknya kamu sama mami ke kantin saja kita sarapan dulu pasti kamu tadi di sarapan kan dan jangan membuat kondisi kamu sakit dengan seperti ini pasti Aruna sedih jika kamu nanti sakit."
Ya kedua perempuan yang sudah tidak mudah lagi itu berusaha untuk menenangkan putranya masing-masing dan bertugas sedemikian hingga Mama Dina yang sudah mendengar cerita panjang dan lebar dari merasa khawatir dengan kondisi anak dan menantunya beliau juga tidak menyalahkan Diego tetapi menyayangkan tindakan Aruna yang seakan-akan tidak mau mengandung anak Digo dan di saat inilah Mama Dina akan meyakinkan Digo dan berharap Aruna tidak mengambil langkah yang bisa membuatnya menyesal.
Sementara Mami Nina, ia bertugas untuk bisa membuat diigo menjadi waras dan memperhatikan kesehatan di, minimal tahu jika sedari pagi Digo belum memasukkan nasi ke dalam perutnya dan sepertinya memang nafsu makan Digo tidak ada karena Digo memikirkan Aruna dan calon anaknya.
Akhirnya memilih untuk meninggalkan ruang perawatan Aruna dan mempercayakan semuanya kepada Mama mertuanya itu juga mengikuti saran dari mami Nina supaya ia pergi ke kantin untuk sarapan karena semuanya butuh proses dan digunakan harus tetap waras untuk menjaga Aruna.
Ya setelah mendengar semua cerita dari mami Nina dan juga Digo, Mama Dina langsung saja membuka pintu ruang perawatan Aruna tentu saja ia melihat putrinya yang sedang meringkuk entahlah Apa yang dipikirkan yang dirasakan oleh Aruna saat ini padahal biasa-biasanya perempuan hamil itu sangat sekali senang sekali meskipun kondisinya tidak stabil bahkan mengeluarkan pusing dan juga mual tetapi kenapa dengan putrinya itu yang malahan merasa tidak senang dengan anugerah yang sudah dihadiahkan untuknya.
"Tidak kangen Mamah,.nak?"
Tidur dengan membelakangi pintu, ia tidak melihat dan juga mendengar jika pintu itu terbuka dan ketika mendengar suara dalam dari mamahnya Aruna langsung saja menoleh ia yang sadari tadi menangis berusaha untuk menghapus air matanya supaya tidak terlihat di depan Mamah Dina tetapi sayang sekali Mama Dina pun sudah tahu apa yang barusan dilakukan oleh putrinya itu.
Tidak ingin membuat Aruna bangun dari tempat tidurnya Mama Dina mendekati Aruna kemudian memeluk Putri cantiknya itu yang saat ini sudah dimiliki oleh orang lain
"Bagaimana mungkin aku tidak kangen sama Mama? Mama jahat kenapa lama tidak menemui Aruna."
Ya terakhir 1 bulan yang lalu Aruna menginap di rumah mamanya dan setelah itu mama dan papa punya pergi ke luar negeri Karena ada urusan bisnis dan Baru kali ini mereka dipertemukan kembali dan tentu saja sebenarnya Aruna tidak ingin bertemu dengan mama maupun Papanya dengan kondisi seperti ini tetapi tidak mungkin jika Digo hanya diam saja dan tidak memberikan kabar kepada kedua orang tuanya.
"Sini peluk Mama,.anak mama sudah dewasa dan pastinya anak mama bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak."
Ya Mama tidak langsung saja memeluk putrinya itu dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang seakan-akan menyindir Aruna yang pastinya untuk saat ini Aruna juga tidak tahu apa yang ia lakukan dan apa yang akan terjadi dengan kehidupannya nanti.
Memikirkan tentang ucapan Digo tadi, Aruna memang belum memikirkan tentang anak bahkan dirinya juga belum siap untuk mengambil tetapi untuk menghilangkan nyawa yang sudah tumbuh di dalam rahimnya itu juga tidak mungkin meskipun Aruna tahu usia kehamilannya itu baru 6 minggu dan itu belum ada nyawa yang ditiupkan ke dalam rahimnya masih bisa jika Aruna yang bertekad untuk menghancurkan apa yang sudah ada di dalam rahimnya tetapi sekali lagi aroma karena perempuan yang kejam.
"Kita duduk di sofa saja ya, Mah..."
Mama Dina mengangguk kemudian ia membantu Aruna untuk duduk karena mama Dina percaya jika putrinya ini pastinya akan bercerita panjang dan lebar tentu saja meskipun Aruna tidak bercerita nanti mama Dina yang akan bercerita dan menyadarkan putrinya jika tindakannya ini benar dan lebih luar batas sebelum semuanya terlambat Aruna harus bisa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
*****
"Sekali lagi selamat yang sayank, atas kehamilan kamu."
Aruna tentu saja tidak membalas ucapan dari mama Dina, pasalnya ia masih bingung dengan Apa yang dirasakan di satu sisi ia memang tidak menginginkan dirinya hamil tetapi di sisi lain tidak mungkin ia membuang anaknya sendiri meskipun calon bayinya itu belum mempunyai nyawa di dalam perutnya.
Melihat Aruna yang hanya terdiam dan juga menunduk dan memahaminya juga tahu jika putrinya itu baru saja menangis maka Mama Dina saat yakin mengeluarkan kata-kata mutiara dan semoga saja apa yang diucapkan oleh Mama Dina itu bersama masuk ke dalam hati ampunan dan Aruna akan semakin yakin jika memang apa yang sudah ada di dalam perutnya itu harus dijaga.
"Mama tahu jika kamu kaget kecewa dan juga marah sama suami kamu tetapi semua itu bukan salah Digo?"
"Bukan salah Digo bagaimana? jelas-jelas Digo yang sudah menukar kehamilan itu dengan hasil penyubur kandungan atau jangan-jangan Mama juga sudah membela diriku dan memihak kepada Digo daripada Putri kandung Mama sendiri?"
Ya Apa yang diucapkan oleh Aruna itu sudah dipikirkan oleh Mama Dina bahkan situasi seperti ini Aruna bisa-bisanya mencemburi Digo padahal bukan maksud Mama Dina untuk membela Digo atau membenarkan apa yang sudah dilakukan meskipun sebenarnya diiku juga salah dalam hal ini karena tidak mendiskusikan dulu terhadap Aruna dan mengambil langkah sendiri tanpa memperlibatkan orang lain.
Tetapi yang namanya sudah terjadi dan juga Aruna sudah hamil Jadi apa yang perlu diributkan lagi mungkin kesalahan diikuti tidak seberapa dibanding dengan Aruna yang seakan-akan tidak mau menerima anak yang sudah ada di rahimnya itu.
"Bukan begitu sayang kamu tahu sendiri kan dari dulu dari awal digo melakukan itu sama kamu bahkan dari dulu awal dia sudah menyentuh kamu Digo memang menginginkan anak dari kamu Dan berharap jika apa yang sudah dilakukan Digo pertama kalinya untuk membuahkan hasil sehingga kamu tidak akan pernah lari dariku diketahui jika kamu itu tidak mencintainya maka dari itu cukup berusaha untuk membuat kamu hamil, dan tentu saja jika kamu hamil makan Kamu tidak akan meminta Digo untuk meninggalkannya akan meninggalkannya meskipun cara yang dilakukan Digo itu adalah salah."
"Aku tahu Mah, tetapi bukan ini caranya .Aku masih sekolah aku juga masih ingin kuliah aku juga masih ingin jalan-jalan dengan teman-temanku bagaimana jika nanti teman-temanku tahu juga aku hamil maka aku juga akan dikeluarkan dari sekolah itu aku tidak mau putus sekolah meskipun aku bodoh tetapi aku ingin menamatkan sekolah dan juga harus pulang nanti bahkan aku juga sudah mempunyai keinginan untuk hamil tidak tetapi tidak saat ini."
Ya apa yang sudah Aruna katakan kepada Digo tadi diucapkan lagi kepada Mama Dina supaya mama Dina itu mengerti dengan apa yang dirasakan saat ini dan supaya tidak memihak kepada Digo saja.
"Mama tahu lagi pula kamu tinggal 3 bulan lagi lulus sekolah dan pastinya tidak akan ada yang tahu kalau kamu hamil, yang pastinya keluarga Digo dan juga Papa kamu akan merahasiakan semua ini juga perut kamu tidak terlihat kamu masih bisa lulus sekolah dan masih bisa melanjutkan kuliah, Digo juga tidak mungkin mengekang kamu dan meminta kamu untuk berada di rumah merawat anak kamu saja pastinya juga tahu bagaimana cita-cita kamu nantinya meskipun kamu kuliah dan lulus tetapi tidak bekerja tetapi Digo juga tidak akan membiarkan kamu putus sekolah ataupun tidak kuliah dan percaya sama mama Apa yang dilakukan Digo itu semata-mata karena dia tidak mungkin kehilangan kamu tetapi hanya itu yang dilakukan oleh Digo."
Kembali lagi Aruna hanya diam saja dan berusaha untuk menelaah Apa yang diucapkan oleh Mama Dina itu Aruna berkali-kali berpikir tetapi ia tidak menemukan jalan pikirannya yang ia rasa bahwa dirinya itu masih muda masih banyak cara supaya dirinya bisa bersenang-senang dengan teman-temannya bukan hamil untuk saat ini dan mengurusi anak-anak dan nantinya ia tidak akan bebas untuk ke mana-mana.
"Lagi pula coba kamu berpikir jika Digo mengatakan semuanya pada kamu dan meminta untuk Kamu hamil bahkan Digo juga menentang kamu saat kamu meminum pil penunda kehamilan Apa yang kamu lakukan pastinya kamu akan marah kamu juga tidak mau untuk hamil sekarang ini untuk itu memang dia yang berusaha untuk mengganti pil itu supaya membuat kamu hamil Apa itu salah coba bayangkan juga jika kamu di posisi Digo saat ini ya kamu sangat mencintai istri kamu Dan berharap mempunyai anak tetapi kamu sendiri masih tidak mau lalu apa yang kamu lakukan? Digo itu laki-laki normal, Digo juga laki-laki dewasa dan juga sudah matang dan mempunyai semuanya ia bahkan tidak akan membiarkanmu untuk mengurus anaknya nanti banyak cara yang bisa kalian lakukan supaya bisa seimbang antara sekolah dan juga mengurus anak dan percayalah apa yang suami kamu lakukan itu semata-mata bukan karena ia egois tetapi bumi menjaga keutuhan rumah tangga kalian. Kamu juga pastinya pernah mendengar banyak pasangan-pasangan yang menikah selama bertahun-tahun tetapi tidak dikarui anak dan juga banyak perempuannya sudah meminum pil penunda kehamilan hingga akhirnya menjadi kering dan sulit untuk mempunyai anak bahkan tidak bisa sama sekali kamu seharusnya bersyukur meskipun kamu sudah meminum itu hampir 1 tahun tetapi Allah berkehendak lain kamu dimudahkan kamu dilancarkan kamu tidak dibuat dengan kamu kering dan cepat mendapatkan anak apa kamu tidak mau bersyukur untuk itu Apa kamu masih tidak mungkin anak yang saat ini ada di dalam perutmu?"
Aruna terhenyak mendengar ucapkan terakhir yang keluar dari Mamah Dina itu, iya bukan perempuan yang kejam dan Aruna tidak hanya pernah mendengar satu atau dua kali saja tentang perempuan yang kesulitan hamil setelah mengkonsumsi penunda kehamilan berlebih lagi Aruna yang sudah mengkonsumsi itu selama 1 tahun bisa dibayangkan bagaimana jika kesulitan untuk hamil bahkan dokter akan memvonisnya jika dirinya mandul lalu apa yang terjadi dengan rumah tangganya yang sudah dipastikan pastinya Digo akan menikahi perempuan lain yang bisa memberikan keturunan anak untuknya Apa itu yang mau Aruna inginkan pastinya tidak tidak ada perempuan di dunia ini yang mau dimadu terlebih lagi tidak mempunyai anak karena kesalahannya sendiri.
"Mama yakin anak mama itu adalah perempuan yang kuat anak mama itu bukanlah perempuan yang kejam dan mama harap kamu bisa mencarinya semua ucapan mama dan memikirkan mata-mata sebelum kamu menyesal ketahuilah Aruna banyak perempuan di sana yang menginginkan posisi seperti kamu terlebih lagi kamu mempunyai segalanya dengan suami kamu yang tampan dan juga kaya raya apalagi yang perlu kamu ragukan saat ini?"
*****
"Mamah hanya tidak ingin kamu gegabah dalam mengambil keputusan, ini semuanya bisa dibicarakan baik-baik dan jangan pernah membenci diriku dengan tindakannya karena itu semata-mata dia lakukan demi kebahagiaan rumah tangga kamu."
"Dan mama yakin dengan apa yang kamu rasakan saat ini oleh karena itu Mama meminta Digo untuk tidak menemui dulu supaya kamu bisa berpikir dan supaya kamu juga merasa kehilangan betapa rasanya jika tidak ada di samping kamu Dan supaya kamu juga bisa memutuskan Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan."
Aruna masih saja terdiam ia bahkan sudah menyandarkan kepalanya di pundak Mama Dina dan langsung saja Mama Dina mengusap lembut rambut Aruna itu berharap jika putrinya itu akan sadar dan tidak akan menyia-nyiakan sesuatu yang sudah ada di rahimnya apalagi memutuskan untuk menggugurkan kandungannya.
"Sekarang makan dulu ya mama dengar kamu tadi pagi belum makan sama sekali ingat kamu sekarang tidak sendiri meskipun Mama tahu kamu belum siap untuk mengandung tetapi anak yang di dalam kandungan kamu untuk tidak salah mama suapin ya."
Masih tidak ada jawaban dari Aruna tetapi Mama Dina yakin jika putrinya itu saat ini lapar tidak hamil saja Aruna tidak bisa terpisah dari nasi dan camilan-camilan yang menemani setiap harinya apalagi saat ini aroma yang berbadan dua pastinya nafsu makannya meningkat meskipun nanti dimudahkan tetapi mau tidak mau harus ada sesuatu yang masuk ke dalam perut Aruna.
Tidak mau membuat putrinya kelaparan Mama Dina langsung saja mengambil makanan untuk Haruna kemudian menyuapi Aruna sedikit demi sedikit.
Hoek...hoekk...
Baru sekali saja sekali Aruna makan, tetapi Aruna sudah merasa mual dan ia sedikit berlari untuk menuju kamar mandi lalu menumpahkan apa yang sudah ia masuk ke dalam mulutnya itu.
"Keluarkan semuanya saja supaya kamu lega, nanti minum susu saja supaya tidak mual."
Seperti yang dilakukan oleh Digo tadi pagi mama di menekan tengkuk Aruna supaya Aruna bisa memudahkan suami semuanya beliau tahu betul bagaimana nikmatnya menjadi ibu hamil terutama dengan kondisi kehamilan yang masih sangat muda apalagi dengan Aruna yang belum sama sekali berpengalaman dan usia Aruna yang masih remaja dan pastinya semuanya ini akan sulit dilalui oleh aroma tetapi inilah masa-masa yang sangat menyenangkan masa-masa di mana tidak akan terlihatkan oleh Aruna dan pastinya Aruna akan kangen dengan masa-masa hamil seperti ini.
"Pahit mah tetapi aku lapar, namun sepertinya aku tidak bisa makan nasi."
"Mama tahu, tetapi itu tidak masalah hal yang wajar nanti minum susu saja biarkan Mama meminta Digo untuk membelikan susu hamil aneka rasa."
Ya lagi lagi Mama Dina memang harus melibatkan menantunya itu meskipun Digo tidak masuk ke dalam ruangan ya tetapi Mama Juni akan meminta Digo untuk membelikan susu hamil untuk Aruna yang tentunya dengan beraneka macam rasa supaya aroma tidak bosan dan supaya tidak mual.
Meskipun belum ada keputusan dari Aruna tetapi Mama Dina yakin jika putrinya itu tidak akan menjadi perempuan yang kejam dan akan mempertahankan kehamilannya ini.
"Sebaiknya kamu berbaring saja dulu sembari menunggu susunya datang, Mama tadi sudah mengirimkan pesan kepada Digo ntuk membelikan susu untuk kamu."
Aruna hanya menganggukkan kepalanya meskipun ia masih kecewa dengan Digo tetapi ia tidak bisa berbuat banyak terlebih lagi ada mama Dina di sini Aruna tidak bisa berkutik lagi ataupun marah-marah dengan Digo.
Saat ini Aruna sudah berada di atas badan membaringkan tubuhnya Aruna juga sedikit memejamkan matanya ketika ia merasa mual dan sedikit pusing entahlah apakah semua orang hamil seperti ini jelas saja jawabannya ia tetapi Aruna tidak tahu jika memang seperti ini.
"Tahu tidak sayang, dulu waktu Mama hamil kamu itu Mama sangat senang sekali meskipun setiap pagi mama harus mual dan muntah dan juga kondisi mamah yang tidak stabil bahkan Mama sempat dirawat di rumah sakit karena badan mama group tetapi Mama salat senang dan setelah kamu tumbuh di rahim mama berbulan-bulan mama merasakan kangen dengan situasi seperti itu di mana setiap hari Mama tidak merasakan mual lagi karena kondisi kamu di dalam rahim itu sudah semakin membaik dan sudah tumbuh besar. Dan apa yang Mama lakukan dulu ketika mendengar memahami dan mama juga sama juga tidak percaya jika mama diberikan kesempatan untuk hamil kamu secepatnya pada hal menurut riwayat keluarga dari nenekmu itu semuanya susah untuk mendapatkan anak bahkan nenek kamu dulunya itu hamil Mama itu hampir 10 tahun. Jadinya setelah Mama menikah dengan papa kamu Mama sangat ketar ketir, Mama khawatir takut saja jika Mama tidak bisa memberikan keturunan untuk papa kamu tetapi setelah satu bulan Mamah menikah dengan papa mama hamil dan ini untuk anak berumur yang sangat luar biasa sekali sampai papa kamu mengadakan syukuran secara besar-besarannya mengingat tentang riwayat keluarga Mama yang sulit mendapatkan keturunan."
Mendengar cerita dari Mama Dina , Aruna meneteskan air matanya entah mengapa ia merasa bersalah karena tidak terima dengan kehamilannya saat ini bahkan Aruna sendiri sudah mendengar cerita dari Madinah jika keturunan dari Mamah Dina itu benar-benar sulit untuk mendapatkan keturunannya, ya Mama Dina memang tidak berbohong terbukti adik dari neneknya Mama Dina itu lama sekali mendapatkan anak bahkan keturunannya juga malahan sampai setelah ini belum hamil juga dan aroma saronya bersyukur Aruna yang sudah meminum pil penunda kehamilan itu malahan bisa secepatnya hamil.
Ya Tuhan maafkan aku bukan bermaksud aku tidak bersyukur dengan apa yang sudah kamu engkau anugerahkan kepada diriku tetapi untuk saat ini aku memang belum siap untuk mengandung Aku tidak tahu bagaimana caranya hamil bagaimana caranya untuk merawat anak aku nanti setelah lahir dan bagaimana juga supaya aku bisa bersama dengan teman-temanku tanpa menelantarkan anak-anakku nantinya tetapi mungkin semua ini adalah anugerah yang begitu besar untuk keluarga kami...
Kembali lagi Aruna meneteskan air matanya meskipun sesekali ia menghapusnya dengan jari-jarinya tetapi tetap saja air mata itu terus mengalir menyesal yang pastinya ia setelah ia menyesal telah mengandung arona juga menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang menurutnya itu tidak pantas dilakukan oleh seorang perempuan yang pastinya Arora juga ingat betul masih banyak perempuan di luar sana yang ingin mendapatkan posisinya terlebih lagi ingin menjadi istri dari seorang Digo.
__ADS_1
Dan mungkin saja tanpa Digo mencari perempuan-perempuan yang mau mengandung anaknya perempuan itu sendiri sudah datang untuk melemparkan tubuhnya kepada Digo dan siap untuk menampung benih yang akan menghasilkan keturunan-keturunan dari lainnya tetapi mengapa Digo yang sangat mencintai Aruna dan meminta Aruna untuk hamil , malahan Aruna menyia-nyiakan kesempatan ini.