My Crazy Husband

My Crazy Husband
Bertemu Ivan


__ADS_3

Arunanya menganggukan kepalanya, ia turun dari atas motor Digo dengan pura-pura tersenyum tetapi sebenarnya ada rasa khawatir di dalam diri Aruna takut jika nanti setelah di dalam, Digo kembali cemburu karena melihat pemilik cafe itu, yang ternyata dirinya bukan hanya kenal saja, tetapi jika ditelisi lebih lanjut dan dilihat dari mata pemilik cafe itu, pasti Digo tahu jika Ivan, pemilik cafe itu menyukai dirinya dan itu yang membuat Aruna Lagi dan lagi sepertinya ogah-ogahan untuk masuk ke dalam.


Namun sayang sekali, ia yang sudah menyetujui untuk ikut bergabung nongkrong sekaligus makan siang di sini bukan tidak mungkin jika tiba-tiba Aruna membatalkan, dengan alhasil dan tidak jelas bisa-bisa nanti suaminya akan lebih curiga padahal, ia dan Ivan sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun juga hanya sebatas kenal saja karena seringnya Aruna nongkrong di sini.


Untuk Ivan yang memang ada rasa sama Aruna, Aruna sendiri tidak memikirkan itu, sejak awal memang ia tidak mempunyai rasa sama sekali dengan laki-laki itu hanya sebagai teman saja bahkan sudah menganggap Ivan sebagai kakaknya sendiri yang memang enak diajak cerita dan berbagi kisah bukan berarti kalau sudah seperti itu hati Aruna terpaut dengan Ivan.


Dengan sangat posesifnya, Digo menggandeng tangan Aruna, ia sama sekali tidak akan melepaskan istri cantiknya itu di mana cafe ini kebetulan tidak sepi tetapi tidak rame-rame banget hanya ada beberapa orang dan tentunya usianya berkisar sama seperti Digo yang membuat Digo sendiri menggelengkan kepalanya rasanya tidak ingin masuk ke dalam dan membawa Aruna.


Ia tahu resikonya mempunyai istri yang sangat cantik dan menarik seperti Aruna sedangkan yang masuk ke dalam kafe itu saja semua mata laki-laki memandang ke arah Aruna dan Digo tahu, namun sebisa mungkin juga harus mengendalikan perasaan nya, ia tidak mau terbakar cemburu dan merusak momen di mana Aruna bisa diajak nongkrong dengan teman-temannya.


"Lama banget, kalian habis ngapain sih? jangan jangan kalian anu dulu di sekolah atau malam minggat ke hotel?"


Dino  sedari tadi sudah tidak sabar menunggu kedatangan Digo dan begitu melihat Digo bersama dengan Aruna, langsung saja menerocos dengan beberapa pertanyaan, pikirannya yang memang negatif dari dulu mengatakan itu kepada Digo,  maklum saja Dino adalah Playboy kelas kakap di mana yang ada di dalam pikirannya itu berkisar tentang anu anu melulu.


"Ngawur !! kalaupun iya tidak masalah, aku dan Aruna sudah sah menjadi suami istri dan pastinya kita mau ngapain aja itu bebas, bukan seperti Lo lo pada yang hanya macarin anak orang setelah dapat manisnya lalu ditinggalin."


Jelas saja Digo tidak tersinggung dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu yang mana memang otak dan mulut sahabatnya itu tidak pernah terfilter, suka sekali berpikiran negatif dan ngomong ngawur tanpa disaring atau dilihat di mana tempatnya dulu tetapi itulah yang membuat kelima laki-laki itu bersahabat dengan sangat akrab bahkan tidak ada rasa cemburu atau iri ataupun ada persaingan di antara kelimanya begitu juga dengan mereka yang mendapatkan pasangan, tidak ada dari kelima itu yang sama-sama menyukai satu orang perempuan yang sama karena selera mereka kebetulan berbeda-beda.


"Iya iya gue tahu yang sudah sah dan halal tetapi tidak segitunya kali Di, baru turun dari motor saja lo udah gandeng Aruna, takut banget sih jika Aruna digondol orang, lagian ini di tempat umum dan juga ada kita-kita, yang pastinya siapa yang berani merebut Aruna dari sisi lo, kalau ada yang berani pastinya kita yang akan maju duluan."


Segitu dekatnya persahabatan mereka, jangankan ada yang merebut Aruna dari tangan Digo, ada yang melirik Aruna saja mereka siap-siap pasang badan dan melindungi Aruna bahkan mereka sudah seperti saudara kandung Digo sendiri yang mana jika satu kesusahan maka yang lainnya akan membantu dan ikut merasakannya begitu juga dengan Digo yang saat itu jatuh cinta mereka sepertinya juga ikut-ikutan senang dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Digo,  meskipun belum sepenuhnya Digo merasakan kebahagiaan itu karena cintanya belum terbalaskan oleh Aruna meskipun saat ini Digo sudah menikahi Aruna dan sah menjadi suami Aruna, tetapi rasa cinta Digo yang diberikan untuk Aruna belum terbalaskan.


"Gue percaya sama kalian, udah pada pesan makan?"


"Belum, kita nungguin kalian, kalau minum sih udah berapa gelas yang sudah kita minum."


"Oke gue pesenin dulu seperti biasa kan?"


Keempat sahabat Diego mengangguk kompak karena mereka sama-sama sudah tahu kebiasaan makanan apa yang dimakan ketika nongkrong siang-siang begini.


"Sayank kamu makan apa? Mau makanan kesukaan kamu atau makan yang lainnya atau mau mencoba menu baru di cafe ini?"


Ya jelas saja Digo menanyakan itu kepada Aruna karena Digo tidak tahu saja kalau Aruna sebenarnya sudah sering berada di cafe ini yang mana Digo sendiri tahunya ini adalah pertama kali untuk Aruna dan memang tidak salah jika Digo tidak mengetahui kalau ini ada tempat nongkrong Aruna juga karena mereka selalu tidak pernah bertemu saat berada di sini.


Aruna melihat ke arah Digo rupanya suaminya itu sedang main tebak-tebakan dengan dirinya apakah mungkin suaminya itu tahu dengan makanan kesukaannya?


"Emang kamu tahu makanan kesukaanku sok-sok-sokan nawarin segala? dan sepertinya tahu banget tentang apa yang ku suka dan apa yang tidak aku suka?"


Iya Digo yang sudah beranjak dari duduknya kemudian duduk kembali lalu mengambil tangan Aruna dan mencium punggung Aruna dan kejadian itu sontak membuat keempat sahabat yang menggelengkan kepalanya yang nyata nyatanya perlakuan yang tidak baik dari karena itu malah dibalas dengan sebuah ciuman dan senyuman manis dari Digo.


"Apa yang tidak aku tahu tentang kamu? semuanya pun aku tahu. Nasi goreng seafood spesial bukan atau mie goreng spesial extra pedas?"


Aruna merutuki dirinya di dalam hati, kenapa juga Digo tahu semua yang ia sukai bahkan Aruna sendiri tidak percaya laki-laki seperti Digo yang Aruna tahu sedari dulu tidak menyukainya malahan tahu semuanya apa yang ada di dalam pikirannya.


"Benarkan tebakanku? aku bilang apa? apapun yang kamu lakukan apapun yang kamu pikirkan dan apapun yang kamu sukai dan tidak kamu sukai, Aku tahu semuanya."


Aruna jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi ia lalu mengucapkan makanan apa yang ingin dimakan siang ini dan Digo pun menganggukan kepalanya kemudian berdiri untuk memesan makanan buat Aruna dan dirinya dan keempat sahabatnya.


Selepas kepergian Digo, ke empat sahabat Digo saat ini memandang ke arah Aruna bagaimana mungkin jika Digo se cinta itu dengan Aruna sementara Aruna sendiri belum ada respon apapun dengan Digo bahkan nada bicara Aruna sendiri masih sama seperti dulu, masih ketus dan juga jutek.


"Digo perhatian dan cinta banget sama lo Run? apa yang lo pikir kan lagi? apa lo tidak berniat untuk membalas perasaan cinta Digo sama lo?"


Dimas yang sudah geregetan dengan sikap Aruna langsung saja memberikan pertanyaan itu, di mana bukan karena Dimas tidak menyukai Aruna yang nyatanya dicintai oleh sahabatnya itu tetapi perlakuan Aruna yang membuat ia tidak bisa terima bahkan sampai secinta itu sahabatnya kepada Aruna namun tidak ada manis-manisnya Aruna memperlakukan Digo bahkan Dimas yakin juga Aruna belum menerima pernikahannya dengan Digo dan belum mencintaiku.


"Jangan sampai lo kehilangan Digo baru lo tahu betapa besarnya rasa cinta Digo sama lo, gue hanya mengingatkan saja Run supanya lo tidak menyesal nantinya. Dan sorry bukannya gue mau mencampuri urusan pribadi lo sama Digo namun gue sebatas sebagai sahabat Digo merasa kasihan dengan Diego dengan apa yang sudah lo lakuin, oke Digo memang salah dia sudah berbuat di luar batas sebelum nikahin lo tapi semuanya dia lakuin karena dia benar-benar cinta sama lo dan tidak mau kehilangan lo dan buktinya dia bertanggung jawab dengan semuanya bahkan tidak meninggalkan lo setelah kejadian itu dan lo sendiri juga dapat merasakan bagaimana perhatian cinta dan kasih sayang diberikan oleh Digo bahkan mungkin jika lo minta Digo untuk mengorbankan nyawanya, Digo pun akan melakukannya. Lalu apa yang membuat lo ragu dengan cinta tulus yang diberikan sama Digo?"


Tidak ada jawaban dari Aruna membuat Dimas kembali lagi memberondong beberapa pertanyaan dan juga pernyataan yang selama ini dipendamnya mungkin Dimas bukan tipe laki-laki yang suka mengobrol apapun itu Dimas adalah laki-laki yang pendiam tetapi sekali bicara laki-laki itu akan mengucapkan sesuatu yang pedas melebihi cabe setan dan omongan tetangga.


Bukan merasa disudutkan, di sini Aruna hanya menanggapi apa yang diucapkan oleh Dimas yang memang tidak ada salah dengan ucapan Dimas itu, Aruna juga tidak tersinggung dengan semuanya ini hanya saja mungkin Aruna sendiri belum bisa menerima semuanya sepertinya terlalu mendadak dirinya yang masih di usia belum genap 17 tahun sudah menyandang sebagai status istri terlebih lagi suaminya adalah seseorang yang ia benci Dan juga seseorang yang sudah mengambil apa yang dijaganya selama ini.


"Gue tahu, gue tahu jika Digo cinta banget sama gue tetapi bukan berarti gue langsung bisa jatuh cinta sama dia, kalian tahu sendiri kan bagaimana dulunya gue sama dia, teman baik-baik juga tidak, dan juga tidak bisa berdamai namun Digo dulu adalah musuh gue dan tidak semudah itu membalikkan telapak tangan, tidak semudah itu membuat gue bisa menerima semuanya ini. Namun gue akan berusaha sebisa mungkin untuk bisa menerima juga sebagai suami gue dan akan berusaha untuk jatuh cinta sama dia. Gue bukan tipe perempuan yang suka mengobrol tubuh gue kemana-mana yang artinya gue hanya menginginkan pernikahan ini sekali seumur hidup dan gue juga hanya ingin disentuh oleh laki laki yang sama tidak untuk berulang kalinya. Untuk itu kalian tidak perlu khawatir, gue tidak ada niatan untuk membunuh anak orang apalagi membuat dia kecewa dan terluka dengan sikap gue, mungkin saja gue saat ini butuh waktu karena semua tidak gampang dan semua butuh proses."


Aruna mengucapkan itu dengan menatap satu persatu ke empat sahabatnya Digo dimana mereka semua menunggu penjelasan dari Aruna yang mana Aruna sendiri tahu penjelasannya akan membuat keempat sahabatnya Digo jadi berpikir lebih tentang dirinya.


"Kita sih berharap secepatnya lo bisa mencintai Digo  itu saja, kita bukannya tidak suka sama lo kita mendukung apapun yang dilakukan oleh Digo terlebih lagi kita juga tahu lo itu perempuan yang baik-baik dan sesuai dengan standar kriteria perempuan idaman Digo, namun ya itu tadi gue minta secepatnya lo bisa membalas rasa cinta yang Digo berikan pada lo hanya itu saja, Run."


"Gue paham, doakan saja semoga gue bisa cepatnya jatuh cinta sama Digo."

__ADS_1


"Aminn Amin yang kencang yank aku. Dan terima kasih kasih atas pengakuannya, aku tahu jika kamu belum menerima pernikahan ini tetapi aku yakin jika kamu perlahan lahan akan mencintaiku dan menerima semuanya."


Digo tiba-tiba sudah berada di belakang Aruna kemudian lagi dan lagi ia menggenggam tangan Aruna dan mencium punggung tarung tangan Aruna, sepertinya Digo tidak bosan-bosannya mengungkapkan rasa cinta dan perlakuan manisnya untuk Aruna yang mana ia bahkan sudah mendengar sendiri jika istrinya itu memang belum bisa menerima semuanya ini bahkan juga belum bisa menerima dirinya tetapi mendengar pengakuan kalau Aruna akan berusaha untuk menerima dan juga berusaha untuk mencintai dirinya Digo mendadak mempunyai semangat lagi untuk berjuang lebih dan lebih mempertahankan pernikahan ini.


Memang pernikahannya diawali dengan sesuatu yang tidak menyenangkan itu tidak akan bertahan lama Digo percaya itu, tetapi ia juga percaya cepat atau lambat laut dengan dirinya yang begitu mencintai dan menyayangi Aruna dan juga tidak menduakan Aruna, pikiran-pikiran itu akan terhapus begitu saja karena pastinya arona akan meleleh dengan apapun yang ia lakukan padanya.


"Sorry..."


"Tidak masalah sayank, aku paham dengan apa yang ada di pikiran kamu dan di dalam isi hati kamu."


Sementara keempat sahabatnya Digo hanya saling memandang, entah mengapa Digo menjadi sebucin itu pada Aruna meskipun mungkin hatinya sudah disakiti berulang kali secara tidak langsung oleh Aruna namun Digo masih tetap mempunyai cinta yang besar kepada Aruna.


"Sudah kalian jangan mengintograsi istriku, aku takut kalau Aruna tidak mau gabung lagi sama kita nantinya."


"Hahaha Kalau Aruna tidak mau gabung lagi sama kita, tinggal lo culik aja Aruna dan bawa sekalian untuk nongkrong sama kita, gampang kan..lagi pula punya istri cantik bukan harus didiamin di rumah terus, kasihan nanti Aruna kalau lo hanya mengurung dia di dalam kamar..."


"Bukannya gue ngurung Aruna di dalam kamar tetapi sepertinya mata-mata lelaki yang ada di luar sana perlu dikondisikan, tidak tahu apa jika Aruna sudah ada yang memiliki, dari tadi gue tidak nyaman berada di sini, sejak gue datang semua laki-laki sudah memandang ke arah Aruna padahal gue menggenggam tangan Aruna dengan sangat erat apa itu kurang apa itu tidak cukup membuktikan jika Aruna sudah ada yang memiliki?"


"Kan tidak salah matanya, mata memang untuk melihat terlebih lagi istri Lo memang cantik dan menarik kalau lo tidak ingin Aruna dilihat orang lain ya sudah lo kurungin aja Aruna di kamar dan jangan biarkan Aruna pergi dari kamar itu supaya hanya lo saja dan melihat, tetapi kalau Aruna ngamuk-ngamuk dan ngambek sama lo, kita-kita juga tidak akan tanggung jawab.."


"Dan pastinya gue juga tidak mau lah dikurung di dalam kamar,nmemang gue seperti kucing peliharaan apa yang tidak bisa bebas kemana-mana."


Sedikit mencair hati Aruna melihat keempat sahabat Digo yang sepertinya sudah paham betul dengan perasaannya dan tidak menatapnya dengan tatapan yang tajam seperti tadi, mungkin dengan pernyataan Aruna itu membuat keempat sahabat Digo menjadi berbeda pemikirannya dan bisa menerima Aruna saat ini.


"Kalau itu terjadi , jangan biarkan Digo masuk kamar lo dan juga hukum dia dengan tidak memberikan jatah enak-enak tiap malamnya."


"Sialan kalian!!  jangan ngeracunin istri gue seperti itu kalau Aruna benar-benar ngambek, habis kalian semua!!"


"Segitu takutnya lo nggak mendapatkan jatah Di!!"


"Jelas saja, bagaimana gue tidak bisa tidur jika tidak memeluk Aruna dan juga tidak mendapatkan sesuatu yang enak-enak, pastinya lo sendiri sudah paham dan khatam tentang ini."


"Aw... Sakit sayank."


Dengan cepat Aruna mencubit perut Digo di mana suaminya itu berbicara tanpa berfilter yang membuat dirinya malu, ya meskipun Arun belum mencintai Digo sepenuh hatinya namun hubungan pernikahannya dengan Digo membuat Aruna mau tidak mau menyerahkan seluruh hidupnya pada Digo dan memberikan apapun yang diinginkan oleh Digo tetapi tidak mengumbarnya di tempat umum apalagi di depan keempat sahabat Digo yang jelas-jelas mulutnya tidak bisa dikondisikan.


Tidak ingin membuat suaminya semakin ngawur saja dan menatap dirinya yang begitu romantis di tempat umum ini, Aruna langsung saja mengambil nasi goreng seafoodnya di mana memang ini adalah menu spesial di cafe ini yang mana adalah salah satu makanan kesukaan Aruna dan entah dari mana suaminya itu tahu jika ini adalah menu kesukaannya apalagi mereka berdua memang belum pernah kencan bersama.


Mereka berenam menikmati makan siang ini dengan sesekali sahabat-sahabat Digo ngobrol-ngobrol yang entah apa itu yang diucapkannya apa memang bermanfaat atau sekedar hiburan saja untuk mencairkan suasana.


Ya mau tidak mau anggota mereka tambah satu,n bukan karena Aruna masuk ke dalam anggota mereka tetapi secara tidak langsung Aruna yang sudah sah menjadi istri di mau tidak mau harus diikutkan ke manapun jika mereka akan nongkrong dan itu pun jika Digo tidak keberatan dan mereka pastinya harus sedikit mengubah tema obrolannya, ya meskipun mereka tahu Aruna bukan perempuan yang jaim ataupun perempuan yang tidak suka dengan obrolan-obrol seperti ini tetapi mereka takut saja jika memang ucapan-ucapan yang tidak sama sekali itu membuat Aruna tidak nyaman jika bersama dengan mereka.


"Mau nambah lagi atau gimana,.sepertinya kamu lapar banget?"


Dari tadi bukannya makan tetapi Diego memperhatikan istrinya yang makan dengan begitu cepat padahal tadi sewaktu istirahat di kantin Aruna juga sudah makan tetapi mengapa pulang sekolah Aruna makan dengan sehat lama dengan sangat lahapnya.


"Tidak usah Di, ini sudah lebih jauh cukup lagian aku kenyang sekali."


"Beneran gak mau nambah nanti tidak kuat lo layanin aku di atas ranjang?"


Aruna melototkan matanya suaminya itu memang benar-benar gila, di tempat umum seperti ini dan di depan keempat sahabatnya bisa-bisanya mengatakan hal-hal yang berbau pribadi seperti itu bukan karena Aruna malu tetapi memang ia yang belum terbiasa saja hingga Aruna merasa ada sesuatu yang aneh dengan tatapan keempat sahabat yaitu kepadanya walaupun mereka senyum-senyum sendiri tetapi sepertinya mereka mengira jika dirinyalah yang suka diapa-apain oleh Digo hingga membuat Digo dengan begitu bebas yang memangsa Aruna.


"Otak kamu Di kenapa mesum seperti itu?"


"Sama istri sendiri bebas,kalau mesum dengan perempuan lain itu namanya yang tidak wajar.. yakin tidak mau nambah atau mau bungkus saja untuk dimakan di rumah nanti?"


"Nggak perlu Di, nanti kasihan simbok masakannya tidak ada yang makan."


Digo mengusap lembut-rambut Aruna di mana ia senang sekali mendapatkan istri seperti Aruna itu yang suka menghargai apapun yang sudah diberikan untuknya terlebih lagi tentang makanan bukan seperti perempuan-perempuan lainnya yang tidak suka makan di rumah bahkan Aruna sendiri senang dengan masakan rumahan terlebih lagi jika ia memasak itu adalah simbok orang yang sudah tua dan bahasa yang sudah banyak pengalaman dengan berbagai macam bumbu dan masakan.


Mereka melanjutkan makanan dan juga ngobrol-ngobrolnya, tetapi di sisi lain sedari tadi ada seorang laki-laki yang memperhatikan Aruna dengan Digo dan keempat sahabatnya itu di mana laki-laki itu adalah pemilik cafe yang menaruh rasa pada Aruna.


Ivan, bukan tidak melihat saat Aruna masuk ke dalam cafe bersama Digo tetapi laki-laki itu sedari tadi mengamati bagaimana Aruna dengan kelima laki-laki tampan yang Ivan sendiri kenal betul siapa mereka karena mereka adalah salah satu pelanggan tetap di kafe ini.


Bukan karena Ivan tidak mau menghampiri Aruna atau bagaimana tetapi ia melihat dulu apa yang sedang Aruna lakukan di sana sementara aroma hanya sendirian tidak bersama Vina tetapi bersama dengan kelima laki-laki itu dan tentu saja Ivan penasaran ada hubungan apa Aruna dengan laki-laki yang diketahui sebagai salah satu pewaris dari keluarga Narendra itu yang mana sedari tadi matanya tidak pernah berkedip melihat Digo yang sudah memperlakukan Aruna dengan sangat mesranya bahkan Ivan juga tidak menutup mata jika awal Digo dan Aruna masuk, Digo sudah menggandeng tangan Aruna dengan sangat erat.


Bukannya Ivan tidak tahu dengan arti tatapan mata Digo kepada Aruna ataupun tangan Digo yang menggenggam erat tangan Aruna, tetapi selama ini Ivan tidak pernah tahu jika Aruna sudah mempunyai pacar, bahkan Ivan sendiri yakin dan percaya Aruna masih jomblo tentu saja dirinya ingin maju untuk mendekati Aruna dan menjadi kekasih Aruna karena Ivan sudah mencintai Aruna sejak lama tetapi belum ada waktu yang tepat untuk mengatakan perasaannya ini.

__ADS_1


Sepertinya, dengan matanya sendiri Ivan yang melihat kedekatan Aruna dengan Digo membuat hatinya sedikit tersentuh dan juga cemburu manakala ia paham betul apa yang sudah dilakukan oleh Digo kepada Aruna, yang pastinya bukan hanya sekedar teman sekolahnya saja tetapi ada sesuatu hubungan yang spesial.


"Jangan hanya dilihatin saja bos, samperin dan tanyakan apa hubungannya Aruna dengan laki-laki itu."


Sepertinya salah satu pekerja di kafe itu sedari tadi memperhatikan Ivan yang tidak pernah melepaskan pandangan matanya ke arah Aruna yang mana dia menyarankan untuk Ivan mendekati Aruna dan menanyakan tentang siapa Digo sebenarnya.


"Begitu ya?"


"Iya memang harus begitu bos, bos seperti tidak pernah muda ada jal dan tidak pernah jatuh cinta.."


"Aku memang belum pernah jatuh cinta sama sekali dan pastinya Aruna lah  perempuan pertama yang sudah menarik hatiku, tetapi lo lihat sendiri Aruna sendiri merasa nyaman dengan Digo dan lainnya itu membuat hati aku sedikit sakit aku takut saja jika arona ada hubungan dengan pewaris Narendra itu."


"Oh iya ya saya lupa Bos, tetapi lebih baik bos memang menghampiri Aruna, saya tahu jika Bos itu kangen dengan gadis cantik dan manis yang belakangan ini tidak pernah datang ke sini."


Bukan hanya mengembangkan senyumannya memang benar jika selama ini ia kangen dengan Aruna karena Aruna beberapa hari ini tidak berkunjung ke sini dan tentu saja setelah kejadian beberapa hari lalu dengan Aruna jadi malas untuk lebih lanjut saat ini Aruna sudah menikah dengan Digo pastinya itu akan membatasi semua yang dilakukan oleh Aruna.


Hingga akhirnya Ivan memberanikan diri untuk menghampiri Aruna dan kelima laki-laki tampan itu dan ia tidak peduli dengan apapun nanti dan bagaimana kesan mereka yang jelas daripada Ivan penasaran dan hanya memandang wajah cantik Aruna dari kejauhan mendingan ia segera mendekati Aruna dan bisa melihat wajah cantik Aruna dalam jarak yang dekat.


"Permisi, boleh ikut gabung kan?"


Ivan dengan tenang dan begitu santainya menghampiri meja Digo dan teman-temannya itu yang mana ia saat ini memilih duduk di samping Aruna dan kebetulan sekali tempat duduk di samping Aruna itu kosong.


Astaga ancaman macam apa ini bisa bahaya jika Digo kalau Ivan menaruh rasa padaku..


Aruna yang seketika melirik sekilas ke arah Ivan tidak bisa berkata apa-apa, perempuan cantik itu hanya melihat ke arah suami dan yang lainnya yang nyatanya mereka langsung menganggukan kepalanya.


Digo dan yang lainnya tahu jika Ivan adalah pemilik kafe ini dan sudah pernah mereka nongkrong bahkan ngobrol-ngobrol bersama dengan Ivan dan tentunya tidak masalah jika Ivan itu gabung di sini.


Ya Digo juga  tidak masalah karena Digo tidak tahu saja jika istrinya itu mengenal baik Ivan bahkan Ivan lebih dari sekedar mengenal istrinya itu.


"Halo Bang Ivan ke mana saja, lama nggak ketemu sama Bang Ivan?"


Sapa Digo yang mencoba untuk akrab dengan Ivan, ya memang sebenarnya mereka akrab dan sepertinya Digo belum menaruh curiga sama sekali dengan Ivan.


"Gue nggak kemana-mana lagi Di, disini aja.. lo juga yang sepertinya jarang banget ikut kumpul hanya ada keempat sahabat lo saja."


"Oh ya lupa, sorry banget memang belakangan ini gue sibuk jadi nggak bisa nongkrong tetapi sekarang gue usahain deh nongkrong dengan yang lainnya karena ada seseorang yang pastinya akan ngintilin gue kemana-mana."


Digo melirik ke arah Aruna yang sepertinya kurang nyaman dengan adanya Ivan di sini dan Digo meraih tangan Aruna lalu menggenggamnya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Digo, seketika Ivan menggelengkan kepalanya pelan, apa yang ia rasakan begitu nyata saat ini di mana Digo dengan penuh perasaan menggenggam tangan Aruna dengan sangat lembut dan juga itu membuatnya cemburu.


"Oh ya Bang kenalin Aruna, pacar sekaligus tunangan aku."


Deg


Tidak bisa digambarkan lagi bagaimana perasaan Ivan saat ini di mana ia mengetahui kenyataan buruk jika perempuan yang sudah diincarnya itu saat ini sedang menjalin hubungan dengan laki-laki yang pastinya ia kenal betul siapa Digo.


Dan jangan ditanyakan lagi hati Ivan saat ini, benar-benar hancur setelah ia lama merindukan Aruna karena tidak kelihatan berada di cafe ini namun akhirnya hari ini ia bisa melihat lagi wajah cantik Aruna dan senyuman manis Aruna, namun semuanya tiba-tiba terpatahkan kalau Digo sudah memperkenalkan Aruna sebagai tunangannya.


Bukannya sengaja Digo tidak tahu jika Ivan kenal dengan Aruna dan menaruh rasa pada istrinya itu hanya saja mungkin lebih baik jika Digo memperkenalkan Aruna bukan hanya sebagai pacar tetapi sebagai tunangannya. Yang pastinya Digo akan membuat nyali laki-laki yang memandang cantik ke arah istrinya itu menjadi ciut.


"Aruna, jadi kamu tunangan Digo, Dek, pantas saja tidak pernah kelihatan."


Aruna mau tidak mau mengganggukan kepalanya ia tidak mungkin membohongi dirinya karena memang saat ini sudah berstatus sebagai istri Digo meskipun Digo tidak memperkenalkannya sebagai istri dan itu karena permintaannya supaya status hubungan mereka dirahasiakan, namun Aruna juga tidak bisa menyangkal lagi terlebih lagi dengan Ivan yang nyata-nyatanya sudah menaruh rasa padanya ia tidak mau lagi dan lagi memberikan perhatian kosong kepada laki-laki yang menyukainya cukup Nathan saja yang sudah dibuat kecewa dan patah hati tidak dengan laki-laki yang lain.


"Bang Ivan kenal dengan Aruna?"


"Bukan hanya kenal lagi tetapi Aruna juga salah satu pelanggan tetap di sini,.di mana Aruna juga suka nongkrong bersama dengan Vina."


Jawab Ivan dengan tersenyum manis ke arah Aruna kemudian memandang wajah dan cantik Aruna dengan ekspresi yang berbeda dan di saat itulah Digo menggelengkan kepalanya, ia baru sadar dengan arti tetapan mata Ivan kepada istrinya itu yang mana sebagai seorang laki-laki ia paham betul kalau Ivan ternyata sudah kenal dengan Aruna dan memendam rasa dengan istrinya.


Wah gawat ini bisa-bisa ada perang dunia ke-2, lagipula masalah dengan Bang Nathan belum beres tetapi ini dihadapkan lagi dengan permasalahan yang sama, Digo kenapa sih lo harus mencintai perempuan yang benar-benar menarik dan digilai oleh laki-laki? dan siap-siap saja jika nanti tidak hanya ada Ivan tetapi ada laki-laki lain yang akan membuat kamu cemburu...


Ucap Dino di dalam hati yang sepertinya ia paham betul dengan arti tatapan kedua laki-laki yang ada di samping arona saat ini yang mana keduanya sama-sama memendam rasa dengan Aruna tetapi sayang sekali hanya Digo yang bisa mendapatkan Aruna meskipun Aruna belum mencintai Digo tetapi status pernikahan mereka yang sah membuat Digo menang saat ini.


Astaga mampus aku bagaimana jika Digo marah dan nanti malama menghukumku, mengapa juga kita harus makan siang di sini kalau aku sadar ini adalah tempat di mana Aku sering nongkrong dan bertemu dengan kak Ivan pastinya aku tidak akan mau diajak di sini biarlah aku di dalam kamar dan dimangsa Digo tetapi tidak melihat aura Digo itu yang mengerikan seperti ini.

__ADS_1


Aruna sekilas melirik ke arah suaminya itu yang mana Digo memang tersenyum tetapi senyuman itu mengandung arti berbeda, bahkan tatapan mata Digo sangatlah tajam, sepertinya Digo ingin mengatakan sesuatu dan meminta jawaban dari Aruna, apakah memang benar-benar jika dirinya itu sudah kenal lama dengan Ivan.


__ADS_2