
Setelah selama dua malam dan juga dua hari di rumah mertuanya kini pagi hari nya Digo pamit untuk pulang.
Tentu saja hari ini adalah hari Senin di mana Digo dan Aruna sudah bangun sejak tadi pagi, dan sudah bersiap-siap untuk ke sekolah . Padahal jarak tempuh rumah Papah Adi dengan sekolah tidak begitu jauh tetapi karena tugas dan kewajiban Digo yang menjabat sebagai ketua OSIS begitu juga Aruna yang menjadi sekretaris osisi mengharuskan mereka berdua untuk tiba lebih awal di sekolah dan itu tidak masalah bagi Digo, tetapi bagi Aruna sangat aneh meskipun Aruna juga sudah terbiasa untuk masuk ke kelas pagi-pagi seperti ini, namun rasanya masih sangat lucu bahkan dirinya di awal awal pertama kali masuk ke sekolahan merasa ada sesuatu yang mengganjal dan pastinya belum terbiasa.
"Mah, Pah.. kita berdua pamit ya weekend kita menginap di sini lagi."
Ujar Digo berpamitan kepada kedua mertuanya setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi ini. Selain pamit ke sekolah, Digo juga berpamitan untuk membawa pulang Aruna kembali ke rumahnya karena mereka berdua masih harus tinggal di rumah keluarga Narendra, dan hanya sesekali menginap di sini.
"Hati-hati dan sering-sering menginap di sini supaya Papa bisa berbincang bincang lebih banyak dengan kamu tentang perusahaan."
Digo menganggukkan kepalanya, rasanya memang ia sudah yakin dan mantap untuk bergabung ke perusahaan Papah Adi, yang entah lah nanti bagaimana cara Digo untuk menjalankan semua perusahaan dan juga semua bisnisnya, tapi Digo yakin jika jika ia bisa melakukan semuanya.
Papah Adi pasti nya juga berpikir matang matang tentang keinginan nya untuk mengajak Digo bergabung di perusahaan nya, karena Papah Adi yakin jika Digo mempunyai kemampuan ekstra yang pastinya bisa membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga dan otaknya yang encer pastinya bisa menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi.
__ADS_1
"Papa jangan membebani Digo, Papah tau jika Digo masih sekolah dan juga masih harus menjalankan perusahaannya sendiri dan tentunya banyak juga bisnis yang dijalani jadi Papa jangan lagi meminta bantuan kepada Digo."
Protes Aruna yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Papah nya, Aruna yang berpikir jika Papahnya masih muda dan masih sanggup untuk menjalankan perusahaan tetapi mengapa secara tidak langsung Papah Adi akan mengalihkan semuanya kepada Digo. Lagi dan lagi bukan karena Aruna iri dan cemburu tetapi kasihan dengan Digo karena memukul beban dan tanggung jawab yang sangat besar.
"Kalau begitu kamu saja ikut Papa ke kantor."
"Tidak bisa Pah!!"
Dengan cepat Digo menjawab apa yang diucapkan oleh Papah Adit, ia pun sudah berbicara panjang lebar dengan Papah Adi jika istrinya tidak boleh berurusan dengan namanya bisnis dan perusahaannya, meskipun nanti Aruna juga tidak hanya tinggal diam di rumah, tetapi memegang sebuah perusahaan membuat Digo menjadi ketar-ketir sendiri.
"Sudah sudah Papa tahu kok kalau Digo itu tidak akan membiarkan kamu bekerja di perusahaan Papa, karena dia sangat cinta sama kamu jadi kamu tenang saja Aruna, Papa juga yakin meskipun Digo tidak melarang kamu, kamu pun juga tidak mau terjun ke dalam dunia bisnis."
Aruna hanya mencebikkan bibirnya kesal, rupanya pagi-pagi ini moodnya dibuat tidak enak dengan kelakuan Papanya yang mencoba membuatnya malu di depan Digo, tentu saja setelah beberapa nasehat dari Papah dan juga Mamanya, Aruna masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Ya selama menginap 2 hari dan 2 malam di rumah mamanya Aruna diberi petunjuk-petunjuk dan juga nasehat bagaimana menjadi istri yang baik, tentu saja Aruna akan berusaha semaksimal mungkin meskipun pernikahan yang dilakukannya karena cinta, dan dulu padahal ia sangat membenci suaminya tetapi Aruna akan berusaha dengan sebaik-baiknya menjadi istri yang baik walaupun nanti pada akhirnya Aruna sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
"Tidak perlu kamu pikirkan, aku tidak masalah. Aku sudah terbiasa mengatasi semuanya sendirian."
Ucap Digo yakin yang saat ini sudah mengemudikan mobilnya dengan satu tangan yang mengusap lembut kepala Aruna, ia tahu jika istri nya sedari tadi memikirkan tentang ucapan Papanya yang terkesan memaksa Digo untuk ikut bergabung di perusahaan Papah nya.
"Terbiasa? bagaimana mungkin? kamu sendiri sebelum menikah dengan aku tidak pernah pergi ke perusahaan dan pekerjaanmu hanya nongkrong di cafe dan juga keluar masuk club malam, tetapi setelah kamu nikahi aku semuanya berubah, apa kamu tidak keberatan menanggung semuanya?. Aku bisa minta uang jajan sama Papa jika kamu keberatan dan daripada melihat kamu yang banting tulang seperti itu dan juga kelelahan pastinya aku juga tidak akan sanggup untuk melihat kamu."
Mendengar ucapan dari istrinya, Digo langsung saja meminggirkan mobilnya, bukan karena ia merasa rendah di mata Aruna tetapi sekali lagi ia harus menyadarkan Aruna bahwa semua tanggung jawab Papah Adi sudah dipindah tangan kepada dirinya dan dirinyalah yang bertanggung jawab dengan Aruna saat ini.
Tidak mungkin membiarkan Aruna meminta uang jajan dari Papah Adi, sementara dirinya masih sanggup untuk menyukupi kebutuhan Aruna bahkan meskipun Digo tidak terjun ke perusahaan langsung, Digo masih mampu untuk menghidupi Aruna memberikan kehidupan yang layak untuk Aruna, bukan hanya uang jajan saja tetapi untuk Aruna shoping dan berfoya-foya tentu saja Digo masih kuat.
"Sayank, jangan berkata seperti itu. Aku emang dulunya suka keluar masuk club dan juga sering nongkrong, bahkan aku sendiri jarang pergi ke perusahaan Papa tetapi sekarang berbeda, jangan samakan aku yang dulu dengan sekarang, sekarang aku mempunyai kamu mempunyai tanggung jawab penuh sama kamu meskipun bisa saja aku tidak mau terjun langsung ke kantor tetapi uang tetap mengalir di dalam rekeningku, tetapi tidak seperti itu.m aku harus belajar bersikap dewasa supaya bisa membuat kamu bangga. Tentu saja semua tanggung jawab Papah sudah dipindahkan ke akum Aku yang bertanggung jawab atas kamu jadi jangan pernah berpikir untuk meminta uang jajan atau apapun juga dari Papa karena suami kamu yang tampan dan juga bertanggung jawab ini masih mampu untuk menghidupi kamu bahkan kamu berfoya-foya saja setiap hari aku masih sanggup sayang."
__ADS_1
Digo menarik tubuh Aruna, dengan matanya menatap wajah cantik Aruna yang semakin mempesona dan tidak ingin mengedipkan mata.
Perlahan-lahan wajah tampan Digo mendekati wajah Aruna tentu saja mata Digo beralih kepada bibir Aruna yang siap disantap yang membuat candu dan setiap hari ingin menciumnya, bahkan kalau bisa.. Digo tidak akan membiarkan laki-laki lain untuk melihat Aruna yang sangat menggoda itu.