My Crazy Husband

My Crazy Husband
Merasa Lega


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Om?"


Tanya Digo sekali lagi di mana dokter Vicky memang benar benar belum memberikan jawaban yang membuatku penasaran sekaligus khawatir dengan diamnya dokter Vicky itu.


Tak lama kemudian dokter Vicky itu tersenyum kemudian menepuk kedua pundak diikuti dengan kedua tangannya lalu menatap ke arah Digo memberi isyarat supaya adikku harus tetap tenang menghadapi masalah ini namun dokter Vicky juga belum berani untuk mengatakan kabar buruk yang akan diterima oleh Digo nantinya.


"Alhamdulillah, kondisi Aruna sudah membaik meskipun ia harus dijahit di bagian kepalanya karena terbentur aspal tadi."


Ucap dokter Vicky yang membuat Digo menghela nafasnya lega apa yang ditakutkan tidak terjadi karena istrinya selamat lalu bagaimana dengan kondisi anak yang ada di dalam perut Aruna yang mana dokter gigi tidak mengatakan secara gamblang kondisi bayi yang ada di dalam perut Aruna itu hanya menyebutkan jika Aruna tidak apa-apa.


"Tetapi maaf sekali lagi Di, Om berat untuk mengatakan ini kepada kamu tetapi kamu harus tabah."


Digo yang tadi laga dan juga mengembangkan senyumannya lagi-lagi ia harus menatap ke arah wajah dokter Vicky yang mana dokter Vicky kali ini benar-benar serius dan menetap ke arah Digo dengan mata yang sedikit sendu tentu saja Digo yakin ini tidak berita yang baik akan dikatakan oleh dokter Vicky kepadanya.


"Maaf sekali lagi, Om tidak berhasil menyelamatkan anak yang ada di dalam kandungan Aruna, benturan itu cukup keras sehingga mengakibatkan Aruna keguguran."


"Tidak!!!"


Teriak Digo ketika dokter Vicky sudah menjelaskan tentang keadaan calon anak yang ada di dalam perut Aruna itu sepertinya Digo tidak terima bahkan ia terisak setelah mendengar penjelasan dari dokter Vicky 


"Kamu harus sabar dan juga tabah di Aruna membutuhkan kamu Aruna butuh kamu sebagai penguatnya kamu tidak boleh seperti ini..."


Dokter Vicky sekali lagi kemudian menepuk pundak di grup lalu memberikan kode kepada Dito untuk menenangkan Digo beliau atau bagaimana perasaan Digo saat ini apa yang sudah diidam-idamkan sejak lama ternyata harus hilang begitu saja hanya karena sebuah kelalaian dari orang yang benar-benar tidak bertanggung jawab.


"Tidak om! om pasti salah anak aku tidak mungkin pergi, Aruna tidak mungkin keguguran aku harus bertemu dengan Aruna, Aku harus memastikan semuanya sendiri!!"


Teriak Digo yang mana ia ingin sekali masuk ke dalam ruang lgd sementara Aruna masih dalam penanganan di sana meskipun lukanya tidak begitu parah tetapi ada beberapa yang harus dicek sebelum keluar dari ruangan IGD.


"Kamu tenang di sini di sebentar lagi istri kamu akan keluar tetapi kondisi Aruna masih sangat lemah dia belum sadarkan diri dan pastinya nanti terlihat sok kamu harus menguatkannya kamu tidak boleh mendapat beban pikiran Aruna dan berusaha untuk membuatnya senang Om tahu apa yang kamu rasakan pastinya kamu dan Aruna juga merasakan kesedihan yang sama tetapi mungkin ini semua adalah takdir yang mana kita sebagai manusia tidak bisa melawannya."


Tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan oleh dokter Vicky melihat Digo terpukul tetapi inilah kenyataannya bahwa memang Aruna keguguran dan janin ada di dalam perut Aruna itu tidak bisa terselamatkan.


"Hiks....hiksss.. tidak mungkin, tidak mungkin!!"


Sepeninggal dokter Vicky, Digo masih terisak dan ditemani oleh Dito laki-laki itu benar-benar bersedih atas apa yang sudah terjadi dengan istrinya dan tentu saja ini adalah pukulan terberat bagi Digo , anak yang selama ini diidam-idamkan dan sudah ada tetapi mengapa dengan cepat harus diambil kembali dan tentu saja ia tidak tahu lagi bagaimana nanti menjelaskan kepada Aruna karena baik dirinya maupun Aruna salah satu menyayangi anak itu.


"Sabar Di, kita pasrahkan semua kepada di atas mungkin ini jalan terbaik untuk kamu dan Aruna tetapi yang jelas kamu harus kuat Kamu tidak boleh berat jadi seperti ini kasihan Aruna nantinya. Hapus air mata kamu sebentar lagi Aruna akan keluar dari ruangan itu dan kamu tidak perlu khawatir gue sudah hubungi kedua orang tua lu dan kedua orang tua Aruna mereka berdua dalam perjalanan ke sini."


Iya Dito mencoba untuk menguatkan sahabatnya meskipun ia sendiri juga bersedih melihat tikus seperti ini padahal tikus lama bersama dengan dirinya dan juga ketika sahabatnya lainnya tidak pernah merasa terbuka kok atau menangis sampai seperti ini tetapi ini memang benar-benar ujian bagi Digo,yang mana harus kehilangan anak yang ada di dalam kandungan Aruna itu.


Yang pastinya Dito juga tahu jika sudah dari tadi kedua orang tua diikutin juga kedua orang tua Aruna belum dikabari sama sekali hingga akhirnya di tobat inisiatif untuk memberi kabar kepada keempat orang tua itu karena Dito yakin Aruna dan Digo membutuhkan mereka untuk berada di sini.


"Laki-laki itu benar-benar brengsek awas aja gue nggak akan pernah memaafkannya dan dia harus membayar atas semua yang terjadi pada istri dan anak gue!!"


Tersirat aura kemarahan terpancar di dalam mata Digo ketika ia mengingat Bagaimana seorang laki-laki menabrak istrinya hingga tubuh Aruna terpental yang akhirnya menyebabkan juga harus kehilangan anak yang ada di dalam kandungan Aruna itu.


Sungguh kalau Digo bisa memutar waktu ia tidak akan mengizinkan istrinya itu untuk menyebrang sendirian bahkan Digo akan melewatkan hari ini supaya kejadian ini tidak akan pernah terjadi dan Digo bisa mengusap lembut perut arona dan melihat perut Aruna yang semakin membesar dan juga melihat Aruna melahirkan tetapi sayang sekali semua sudah terjadi semua sudah digariskan dan Digo mau tidak mau harus menerima semuanya ini.


Pintu ruangan IGD terbuka dan menampilkan perawat yang saat ini mendorong berangkat Aruna seperti apa yang diucapkan oleh Dito, Digo mengusap air mata yang sedari tadi menetes meskipun tidak dipungkiri hati laki-laki itu benar-benar sedih melihat kondisi istrinya apalagi mendengar kabar jika Aruna keguguran namun apa yang diucapkan oleh Dito benar bahwa Digo tidak boleh menampilkan kesedihannya meskipun itu sangat sulit dilakukan tetapi demi Aruna Digo harus pura-pura tidak menunjukkan semuanya ini Aruna harus kuat dan Digo harus bisa meyakinkan Aruna tentang semuanya ini dan berusaha untuk selalu menguatkan atas apa yang sudah terjadi.


"Temani Aruna jangan berpikir yang tidak-tidak kalau urusan dengan laki-laki itu serahkan pada gue dan yang lainnya tugas lo hanya menemani Aruna dan membuat Aruna bahagia."


Diego menganggukkan kepalanya kemudian laki-laki itu bergegas menghampiri istrinya sementara tidak menghubungi ketika sahabatnya untuk membahas tentang kejadian ini yang mana Dito terlebih dahulu memastikan jika kedua orang tua Digo dan juga kedua orang tua a runa sudah berada di sini baru kemudian laki-laki itu akan keluar sebentar untuk mengurus masalah kecelakaan ini.


********


Digo dan Aruna saat ini sudah berada di ruang perawatan Aruna tentu saja Digo menginginkan perawatan yang terbaik untuk istrinya itu.


Laki-laki itu terus memandangi wajah cantik Aruna yang saat ini nampak meskipun Aruna belum ada tetapi ia tahu jika istrinya itu pasti merasakan sesuatu sama dengan dirinya kehilangan seseorang yang begitu diimpikannya.

__ADS_1


Ingatan-ingatan kejadian beberapa hari yang lalu dimana mereka berdua sama-sama bersendal kurung membayangkan betah palucunya dengan kehamilan Aruna melihat Aruna dengan perut yang besar dan juga sama-sama merawat buah hati mereka dengan penuh kasih sayang tetap tapi semuanya hilang begitu saja nadanya dalam waktu sekejap.


Tidak dipungkiri Bagaimana rasa sedihnya hati Digo saat ini diriku sendiri yang tidak mengandung sudah terbuku seperti ini bagaimana nanti jika Aruna mengetahui tentang keadaan calon anaknya yang sudah tiada pastinya Digo tidak bisa membayangkan lagi Bagaimana kondisi istrinya setelah ini.


Tidak mau meninggalkan Aruna bahkan kedua orang tua di gudang juga kedua orang tua Aruna sudah sampai di rumah sakit mereka semua kaget dengan kejadiannya benar benar mendadak dan juga benar-benar membuat mereka merasa kehilangan.


"Di sebaiknya kamu makan dulu biar mama yang jagain Aruna di sini."


Sudah sedari tadi baik Mami Nina maupun Mama Dina meminta Digo untuk makan menyusul Papi Rendra juga Papa Adi yang berada di kantin tetapi jawaban diku tetaplah sama Digo hanya menggelengkan kepalanya pelan meskipun tidak bersuara tetapi kedua orang tua itu tahu jika Digo memang sengaja tidak makan mungkin menunggu sampai Aruna benar-benar sadar atau ingin menemani Aruna di sini.


"Mami belikan makanan ya, Kamu bisa makan di sini?"


"Tidak perlu Mi, aku tidak lapar nanti saja jika Aruna sudah bangun."


Akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibir tigo yang mana saja dari tadi Didik Tuhannya bukan dengan air mata yang terus membasahi pipinya Digo juga belum menceritakan kejadian yang menimpa Aruna secara detail namun keempat orang tuaid itu sudah mendengar jenderal sendiri dari Dito yang mana Dito memang sengaja menunggu kedua orang tua diiku dan juga kedua orang tua Aruna datang ke sini dan menjelaskan semuanya setelah itu laki-laki itu baru beranjak untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya.


Dan juga keempat orang tua itu tidak mungkin bertanya yang lebih detail lagi kepada Digo beliau tahu jika Digo saat ini sedang terpukul dan cukup mendengar cerita dari Dito saja mereka sudah paham dan mereka sudah tahu apa yang terjadi dengan Aruna saat ini dan juga yang terjadi dengan anak yang ada di dalam perut Aruna.


"Mamah dan juga Mami ke kantin saja, susul papa dan juga Papi biar aku di sini."


Mami Nina dan juga mama Dina saling pandang kamu Dian mereka berdua menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruang perawatan Aruna.


Mereka berdua tahu jika Digo ingin berdua bersama Aruna dulu tidak ingin diganggu atau tidak ingin ditanya apapun juga mungkin Digo masih sok dengan kejadian yang menimpa istrinya ini.


"Euhhh....."


Digo yang masih memegangi tangan Aruna dan memandang wajah cantik Aruna tiba-tiba kaget ketika mendengar suara Aruna melengkung tentu saja laki-laki itu tersenyum dan cepat-cepat menghapus air matanya ia tidak mau juga Aruna melihat jika dirinya juga bersedih.


"Sayang kamu sudah bangun?"


Kemudian mengusap pipi Aruna yang pastinya karena saat ini sudah membuka matanya dan tentu saja tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Aku di mana Di?"


"Kamu di rumah sakit sayang dan kamu harus banyak istirahat tidak boleh berpikir yang macam-macam."


Mengingat itu semua dan juga mendengar jawaban dari Diego Aruna tipe-tipe meneteskan air matanya ia ia langsung ingat semua tentang kejadian tadi sehingga kemudian perempuan cantik itu teringat sesuatu karena kondisi badan saat ini benar benar terasa sakit semuanya.


Tangan Aruna terulur untuk memegangi perutnya meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi tetapi ia bisa merasakan jika telah terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


"Anakku tidak apa-apa kan Di?"


Tanya Aruna mencoba memastikan meskipun sebenarnya ia tahu jika sudah tidak apa-apa ada apa-apa lagi di dalam perutnya.


Bukan karena Aruna sudah diberitahu oleh Digo ataupun dokter yang menanganinya tadi tetapi filing Aruna kuat kalau benturan keras yang menimpanya tadi membuat ia harus kehilangan calon anaknya.


Seketika air mata Digo tumpah, ia pun harus menjelaskan kepada Aruna tetapi tidak mungkin juga ia merahasiakan semuanya ini dari Aruna. Aruna harus tahu dengan kondisinya dan juga kondisi tentang anaknya yang sudah tiada.


"Kita harus ikhlas sayang, kita harus ikhlas dan juga sabar, Tuhan lebih sayang dia daripada kita."


"Tidak!! itu tidak mungkin di aku belum bertemu dengan dia aku belum melihatnya tumbuh Aku juga belum merawatnya tetapi mengapa dia harus pergi duluan apa semua ini karena untukku Aku yang dari awal tidak menginginkan dia dan Tuhan mengambilnya begitu saja? Sejujurnya aku sangat menyayangi anak ini di Kamu tahu kan aku juga menginginkan dia tumbuh dan keluar dari perutku nantinya kita akan merawat bersama-sama tetapi mengapa dia harus pergi juga semua ini salah aku di semua ini karena kesalahanku dulunya yang tidak menginginkan dia?"


Teriak Aruna histeris, bahkan Aruna menyalakan dirinya sendiri karena apa yang sudah terjadi padanya dulu iya yang tidak menginginkan anak yang di dalam perutnya itu maka dari itu Aruna menganggap semuanya adalah karma karma untuknya yang sempat tidak mau menerima anak ini.


Melihat kondisi istrinya, Digo langsung saja memeluk Aruna ia harus menguatkan Aruna dan menenangkan Aruna menyadarkan kepada Aruna bahwa semua ini bukan karena untuk Aruna semua ini adalah musibah yang pastinya ada di ada di rahasia dibalik semuanya ini.


Keduanya saat ini sering berpelukan saling menghargai satu sama lain dan mencoba untuk ikhlas menghadapi semuanya ini tentu saja kesedihan di keduanya belum juga usaha karena mereka benar-benar tidak menyangka dengan kejadian ini akan kehilangan sesuatu yang paling berat di dalam hidupnya.


Aruna masih sesenggukan, ia masih dalam pelukan Digo, yang mana Digo sendiri sebenarnya juga tidak pernah melihat kondisi istrinya, seperti ini disebut juga sama seperti Aruna menangis sejati jadinya tetapi ia laki-laki ingat dengan perkataan Dito yang mana ia tidak boleh ikut bersedih dan harus menguatkan Aruna.

__ADS_1


*****


"Sayank sudah ya jangan menyalahkan diri kamu sendiri semua itu bukan sama kamu... Yang salah itu ada laki-laki yang sudah menabrak kamu, aku harus membuat perhitungan dengan dia karena dia kamu dan anak kita tidak terselamatkan!!"


Meskipun ada rasa kesedihan di dalam benak Digo saat ini tetapi ia masih memendam rasa emosi terhadap laki-laki yang sudah melihat tidak Aruna yang membuat istrinya terpukul seperti ini dan kehilangan anaknya sungguh tidak juga tidak membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi pada dirinya.


"Kalau aku menurut Apa kata kamu, kalau aku tidak menginginkan minum es itu pasti semuanya tidak terjadi semuanya gara-gara aku di aku yang salah Aku yang membuat anak kita tiada itu semua karena aku, aku yang tidak menginginkan semua ini... ini semua salahku salahku..."


Sepertinya Aruna belum bisa tenang hati semuanya ini ia masih saja menyerahkan dirinya sendiri bahkan ketika pelukan di kulepas Aruna memukul dadanya sendiri seakan-akan ia menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya beberapa waktu yang lalu yang mana arona tidak menginginkan anaknya alhasil anaknya benar-benar tiada sebelum Aruna dapat melihat wajahnya.


Melihat kondisi istrinya seperti itu kembali Digo memeluk Aruna menahan tangan Aruna supaya tidak memukul dadanya yang nanti akan berakibat aroma bisa menyalakan dirinya sendiri.


"Sayank jangan seperti ini, aku sudah bilang ini semua bukan salah kamu ini semua takdir, kamu harus ikhlas kita harus ikhlas menerima semuanya."


Kali ini Digo tidak akan melepaskan pelukannya ia takut jika Aruna nanti berikutnya tidak tidak karena kondisi Aruna yang belum stabil.


"Apa yang dikatakan oleh suami kamu benar nak jangan menyalahkan diri kamu sendiri semuanya takdir lagi pula kalian masih muda masih bisa untuk membuatnya lagi nanti setelah kamu benar-benar sembuh."


Seperti ada firasat dari seorang ibu, Mama Dina dan juga membina guru-guru menuju ke ruang perawatan Aruna dan beliau melihat jika Aruna masih terpukul dan dalam peluruhan suaminya.


Meskipun semua orang yang tidak yang ada di sini tidak tahu bagaimana kondisi rahim Aruna setelah mendapatkan penurunan keras itu tetapi Mama Dina berusaha mengeluarkan arona berusaha membujuk aroma supaya arona bangkit dan meyakinkan jika di Aruna akan bisa mengandung lagi suatu saat nanti.


"Apa mungkin Mama? pasti sudah mendengar cerita bagaimana tadi aku terjatuh saat tabrakan itu perutku terbentur dan aku takut jika aku tidak bisa hamil lagi."


Ya selain menyesali dirinya atas kejadian yang menimpanya saat ini Aruna juga khawatir takut jika suatu saat ia memang tidak bisa hamil lagi karena benturan itu takut jika rahimnya diangkat atau terjadi sobekan yang membuat ia akan sulit atau bahkan tidak bisa mempunyai anak sama sekali.


Mendengar ucapan itu Digo menggelengkan kepalanya pelan ia kemudian melepaskan pelukan Aruna dan  menatap wajah cantik Aruna yang saat ini masih berlinangan air mata.


"Jangan mendahului takdir sayang percayalah semuanya akan baik-baik saja kita bisa mempunyai anak lagi."


Digo tidak mau berprasangka buruk dulu karena ia juga belum mendapatkan penjelasan dari dokter kandungan tentang kondisi kesehatan Aruna baru ia mendapatkan informasi tentang anaknya yang tidak diselamatkan tetapi Digo tidak mendapatkan informasi tentang kondisi rahimAruna saat ini.


Tetapi Digo percaya bahwa semua akan baik-baik saja tidak seperti yang dipikirkan oleh Aruna


"Tapi bagaimana jika aku memang tidak bisa hamil di aku ingat betul-betulan itu sangat keras sekali anak kita saja sampai tidak mau berada di dalam rahim aku bukan berarti aku juga harus kehilangan rahim yang ada di dalam perut aku ini. Lalu jika itu terjadi Bagaimana dengan aku pastinya kamu akan meninggalkan aku dan menikahi perempuan lain yang bisa memberikan kamu keturunan?"


Shuttt!!!


Digo membungkam bibir Aruna dengan jari telunjuknya meskipun sebenarnya ia ingin mencium lembut bibir Aruna namun untuk saat ini tidak seharusnya ia lakukan.


"Sudah aku bilang jangan mendahului takdir kita belum tahu bagaimana kondisi kamu dan pastinya selagi dokter tidak mengatakan apapun juga tentang rahim kamu berarti kondisi kamu masih baik-baik saja. Dan jika sampai itu terjadi Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu masih ada banyak cara supaya kita bisa mempunyai anak tanpa kita harus berpisah karena aku benar-benar mencintai kamu Aruna. Sudah ya sayang jangan berpikir seperti itu Aku panggilkan dokter dulu supaya kamu bisa lebih tenang nanti tentang kondisi kamu."


Rasanya ia tidak tahan lagi melihat Aruna saat ini di mana Aruna benar-benar terpukul tentang kehilangan anaknya dan juga pikiran Aruna yang mengatakan jika Aruna tidak akan mungkin tampil lagi.


Mau tidak mau supaya membuat istrinya tenang dan tidak berpikir yang buruk, Digo keluar dari ruang perawatan Aruna tentu saja mencari dokter spesialis kandungan yang benar-benar potensial di rumah sakit ini.


"Bagaimana kondisi istri saya dok, apa ada sesuatu yang parah mengenai rahimnya?"


Tentu saja setelah ia menemukan dokter yang menangani Aruna Digo langsung saja menanyakan gambar Aruna ia harus mempersiapkan diri sebelum kabar itu nanti tersampaikan oleh Aruna.


"Sementara ini nyonya Aruna baik-baik saja memang kondisi rahim Nyonya Aruna tadi ada luka sobek tetapi untuk memastikan Kita harus melakukan USG dulu untuk memastikan semuanya."


Digo mengelas nafas panjang rasanya ia tidak sanggup lagi jika harus menceritakan semua ini kepada Aruna terlebih lagi dengan kondisi rahim Aruna yang ada sedikit sobekan meskipun begitu dokter tidak memvonis jika a rumah tidak bisa hamil masih ada beberapa kemungkinan lagi dan dokter juga belum memastikan apakah sobekan itu parah atau tidak.


"Tuan Digo tidak perlu khawatir dan tidak perlu cemas dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang buruk kita belum tahu bagaimana luka itu berada dan tentu saja masih ada beberapa jalan yang akan ditempuh jika nanti kemungkinan-kemungkinan buruk itu terjadi."


Sepertinya dokter cantik itu tahu betul dengan apa yang dipikirkan oleh Digo karena dikuburkanlah keluarga pasien pertama kali dengan kasus seperti ini yang pastinya dokter cantik itu juga sudah berulang kali mendapati ekspresi wajah dari pasien maupun keluarganya jika mengenai kondisi rahim.


"Terima kasih Dokter lakukan terbaik untuk istri saya."

__ADS_1


"Sama-sama Tuan sebaiknya mari kita periksa Nyonya Aruna untuk memastikan semuanya."


Digo menganggukkan kepalanya kemudian ia keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan itu untuk kembali ke ruangan perapatan Aruna ia harus meyakinkan dirinya sendiri jika memang tidak terjadi sesuatu dengan rahim arona dan berpikir positif jika nantinya Aruna akan hamil lagi meskipun itu akan sangat sulit tetapi Digo yakin semuanya pasti akan baik-baik saja.


__ADS_2