
"Maaf..."
Hanya itu yang terucap dari bibir Aruna, ia tidak mungkin berkata terlalu banyak di depan Nathan meskipun dari awal memang Aruna tidak ada rasa sama sekali kepada Nathan, namun melihat kenyataannya di depan mata saat ini kalau dirinya sudah menjadi istri dari adik kandung Nathan sendiri membuat Aruna menjadi tidak enak, bahkan gara-gara Aruna... Nathan harus keluar dari rumah itu dan memilih tinggal sendiri di apartemen.
"Tidak usah minta maaf, lagi pula kita sekarang saudara meskipun kamu tidak menjadi istriku tetapi kamu adalah adik iparku, istri dari adik kandungku sendiri...so.. jangan tidak enak padaku dek, lagi pula dari awal memang aku yang memaksa kamu untuk bertunangan denganku, padahal kamu sendiri sudah ingin menolaknya bahkan aku tahu kamu tidak mempunyai rasa cinta sama aku."
Lagi lagi Aruna menjadi tidak enak hati ketika Nathan sudah mengungkapkan rasa cinta dan memang semua tidak salah padanya hanya mungkin keadaan saja yang belum memihak kepada Nathan kali ini.
Tidak ada jawaban dari Aruna, perempuan cantik itu malah memainkan rambutnya yang masih terlihat basah meskipun ia tadi pagi berusaha untuk mengeringkannya, tetapi karena waktu yang tidak cukup membuat Aruna membiarkan saja masih seperti itu.
"Ada kipas angin kecil di sana, kamu bisa memakainya.. keringkan rambutmu sebelum sampai di sekolah."
Sedari tadi Nathan memperhatikan rambut Aruna, ia tahu juga Aruna buru-buru dan tidak sempat untuk mengeringkan rambutnya atau mungkin sudah dikeringkan tetapi tidak tuntas karena waktu yang semakin mengejarnya dan ia tahu apa yang sudah dilakukan oleh Digo semalam kepada Aruna.
Harusnya aku yang berada di posisi Diego semalam dan memilikimu seutuhnya, selamanya..
Tidak dipungkiri sampai saat ini Nathan masih kecewa dan juga patah hati, tetapi ia tidak bisa terus-menerus larut dalam dirinya seperti ini yang mana semakin ia patah hati maka semakin ia berjauhan dengan Aruna dan meskipun ia tidak bisa memiliki Aruna, setidaknya Aruna tidak membencinya dan ia bisa dekat dengan Aruna sebagai seorang kakak dan adik.
Aruna mengambil kipas angin kecil itu kemudian perempuan cantik itu langsung saja mengeringkan rambutnya dengan perlahan-lahan dan untung saja berkat bantuan dari Nathan seketika rambutnya tidak terlalu basah lagi.
Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Nathan sudah sampai di depan pintu gerbang dan tentu saja Aruna terlambat meskipun baru terlambat 5 menit namun ia melihat ke arah gerbang di mana pintu itu masih terbuka sedikit.
"Terima kasih kak dan ini aku kembali lagi kipas anginnya."
"Tidak perlu, ambil saja lagi pula tidak ada gunanya buat aku."
__ADS_1
Iya kipas angin itu tidak berguna lagi, memang Nathan sengaja menyimpan benda-benda kecil yang sekiranya bisa digunakan untuk Aruna nantinya ketika ia sudah menikah dengan Aruna, tetapi semuanya hanya sia-sia saja karena Nathan tidak jadi menikah dengan Aruna malah Digo yang menikahi arona namun Nathan juga tidak kecewa karena barang itu bisa dipakai oleh Aruna.
Aruna hanya menganggukkan kepalanya ia tidak mungkin menolak pemberian dari Nathan apalagi ia sudah memakainya
Kemudian perempuan cantik itu membuka handle pintu dan bergegas untuk keluar dari mobil Natan.
"Dek, tunggu sebentar."
Ucap Nathan yang saat ini ingin mengatakan sesuatu kepada Aruna sepertinya Nathan tidak ingin Aruna keluar dari mobil.
Aruna menoleh ketika tangannya sudah dipegang oleh Nathan, seperti mengisyaratkan apa yang akan dikatakan oleh Nathan selanjutnya.
"Ada apa lagi apa kak, Kakak mau bicara apa padaku?"
Nathan hanya terdiam, padahal ia ingin sekali mengungkapkan rasa cintanya kepada Aruna namun sepertinya itu hanya sia-sia belaka karena meskipun Nathan mengatakan beribu-ribu kali rasa cintanya kepada Aruna, yang pastinya Aruna tidak akan pernah menjadi miliknya.
Nathan hanya mampu mengatakan itu di dalam hati kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan, tanda kalau tidak ingin mengatakan apapun juga kepada Aruna.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu ya kak dan terima kasih sekali lagi, oh iya kak Nathan hati-hati di jalan."
Sedikit perhatian dari Aruna membuat Nathan tersenyum, tetapi ia sadar jika itu hanya perhatian layaknya adik kepada kakaknya bukan karena perasaan cinta yang dimiliki Aruna kepadanya.
"Bukankah itu mobil Bang Nathan? siapa yang berada di mobil kak Nathan saat ini?"
Ucap keempat sahabat Digo yang memang bertugas di pintu gerbang, seketika memusatkan pandangan matanya ke arah depan di mana ia mengenal betul mobil Nathan dan ingin melihat siapa yang diantarkan Nathan ke sekolah pagi-pagi begini.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat Aruna yang keluar dari mobil Nathan.
"Aruna? wah gila-gila ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana kalau Digo nanti tahu, pastinya dia akan ngamuk!!"
Meskipun mereka mencoba berpikiran positif tetapi tetap saja ia takut jika Digo melihat Nathan pagi-pagi ini sudah mengantarkan istrinya, pastinya juga akan marah-marah terutama marah kepada Nathan yang mana akan membuat hubungan kekeluargaan mereka menjadi kacau.
"Shittt.. mampoos!!"
Aruna keluar dari mobil Nathan dan segera berlari menuju ke gerbang sekolah namun ia menghentikan langkah kakinya sejenak ketika melihat keempat sahabat Digo yang saat ini berada di pintu gerbang dan sepertinya mereka melihat jika ia baru saja diantarkan oleh Nathan.
"Nyonya Digo baru datang.. oh ya lo udah telat 5 menitdan pastinya lo harus dihukum lari 5 kali putaran.."
Dimas dengan tatapan mata membunuh langsung saja menatap ke arah Aruna di mana ia memang sengaja mengekspresikan wajahnya seperti itu supaya Aruna takut, padahal ia sama sekali tidak ingin membuat istri dari sahabat nya itu kelelahan apalagi menghukum dengan 5 kali putaran karena bagi Dimas maupun yang lainnya tahu Aruna sudah kelelahan karena semalam habis dimangsa oleh Digo.
"Sialan!! gue nggak mau minggir ... gue mau masuk ke kelas sebelum guru datang!!"
Aruna mencoba untuk menerobos keempat laki-laki tampan itu tetapi nyatanya tidak bisa karena mereka masih kekeh dengan berdiri di belakang pintu gerbang.
"Oh tidak bisa, lari dulu baru gue bukain atau gue bilang sama Digo kalau lo barusan diantarkan oleh Bang Nathan!!"
"Sialan .. kalian sukanya ngadu!! Minggir!!"
Tidak mau berdebat terlalu lama dengan laki-laki tampan dan menyebalkan, Aruna dengan cepat mendorong tubuh ke tempat laki-laki itu kemudian ia segera masuk ke dalam.
Aruna juga bahkan tidak peduli dengan hukuman yang akan diterimanya, toh ia juga hanya telat 5 menit dan bisa dipastikan jika guru yang akan mengajar di kelasnya belum masuk jadi ia bisa sedikit selamat pagi ini.
__ADS_1
"Aruna ... awas aja nanti gue bilangin Digo kalau lo habis diantar oleh Bang Nathan!!"