
Deg
Ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Digo membuat Aruna diam seketika, perempuan cantik itu merasa tersentil dengan apa yang barusan diucapkan oleh suaminya di mana memang selama ini Aruna tidak pernah melayani Digo sebaik mungkin hanya Aruna pasrah jika Digo menginginkan dirinya bahkan mungkin saja Aruna terbilang hanya menerima tetapi tidak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sepertinya malam ini Digo protes, meskipun mereka baru menikah beberapa hari yang lalu tetapi Digo tau betul jika Aruna sama sekali belum mencintainya bahkan istrinya itu mungkin saja belum memaafkan atas perbuatan yang sudah dilakukan sebelum menikahi Aruna.
Tetapi Digo selama ini juga tidak berdiam diri, ia memang salah sudah melakukan sesuatu yang bahkan membuat Aruna membencinya tetapi semuanya sudah Digo bayar lunas, bertanggung jawab atas semuanya, bahkan Digo bukan hanya sekedar bertanggung jawab saja tetapi laki-laki itu juga mencintai Aruna sepenuh hati dan memberikan perhatian khusus untuk istrinya namun siapa sangka jika memang hati Aruna belum tergerak untuk bisa mencintai Digo seperti cinta Digo kepadanya.
Merasa tersentil dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya Aruna dengan cepat membuka kancing kemeja suaminya itu, yang memang posisinya saat ini Digo sudah menarik tubuh Aruna ke dalam dekapannya hingga dengan mudah Aruna membuka satu persatu kancing kemeja yang memang mungkin ini yang diinginkan oleh suaminya.
Aroma wangi tubuh Aruna membuat Digo memejamkan mata, laki-laki itu mencium dalam dalam harum tubuh Aruna, bukan hanya rambut Aruna saja yang wangi tetapi semuanya bahkan sepertinya Digo sudah dimabuk kepayang dengan aroma yang membuatnya tidak bisa melepaskan istrinya kali ini.
"Aku tahu jika kamu masih belum menerima pernikahan ini bahkan aku juga tahu jika kamu belum mencintaiku apalagi memaafkanku, tetapi setidaknya perlakukan aku sebagai suamimu. Aku tidak ingin minta apapun dari kamu atau mau minta macam-macam kepada kamu, hanya saja aku minta dilayani sebagai layaknya seorang suami bukan hanya kamu yang pasrah saja ketika bersama denganku tetapi aku minta hati kamu juga tulus dan ikhlas menerimanya."
Lagi lagi ucapan dari Digo membuat dada Aruna sesak, memang selama ini ia salah, ia hanya pasrah diperlakukan begitu oleh suaminya, menerima apapun yang Digo minta tanpa ada perasaan dari dalam hatinya.
Mungkin Aruna juga belum menjadi istri yang baik untuk suaminya, tidak menyiapkan apa kebutuhan Digo kecuali laki-laki itu yang minta.
"Maaf, Aku akan mencoba untuk menjadi istri yang baik."
Ya hanya itu yang diucapkan oleh Aruna, memang ia mengakui kesalahannya namun kenangan buruk dengan Digo sebelum digo menikahi nya masih terngiang dipikiran Aruna dan itu salah besar, karena Digo sudah menebusnya dengan perhatian dan cinta kasih sayang yang diberikan oleh Digo padanya.
Atau memang semuanya belum cukup untuk menebus kesalahan Digo, atau harus Aruna melihat Digo meninggalkannya baru Aruna bisa merasakan betapa tulusnya cinta dan kasih sayang yang tercurah dari suaminya itu?
Mungkin saja seperti itu, Digo harus pergi dulu dari kehidupan Aruna supaya Aruna benar benar merasa kehilangan sosok suaminya yang begitu mencintainya, tetapi sayang sekali Digo tidak tega untuk membuat Arun mencarinya apalagi membuat Aruna menangis.
__ADS_1
"Terima kasih sayang aku akan menunggu itu."
Cup
Satu kecupan di kuberikan di kening Aruna kemudian cuman itu beralih di bibir Aruna dengan posisi saat ini yang Digo masih mendekat erat tubuh Aruna.
Dan tanpa terasa ciuman yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi panas, Digo bahkan sudah membawa tubuh Aruna ke atas ranjang dengan tangannya yang sudah terampil membuka satu persatu pakaian yang dikenakan oleh Aruna hingga istrinya itu tidak menggunakan sehelai kain pun dan Digo menghempaskan semua pakaian Aruna di tempat yang tidak semestinya.
Sentuhan-sentuhan lembut dari Digo membuat Aruna merasakan sensasi yang berbeda, tidak dipungkiri memang Digo sudah berhasil menguasai tubuhnya bahkan apa yang sudah dilakukan Digo itu membuat Aruna candu.
Jujur saja, Aruna tidak bisa menolak ketika suaminya sudah berada di atasnya bahkan saat ini sudah bermain-main di arena sensitif Aruna yang membuat perempuan cantik itu melingkarkan tangannya di leher Digo.
Digo tersenyum, meskipun ia tahu jika Aruna hanya menikmati apa yang dilakukan tetapi Digo yakin jika istrinya itu benar benar merasakan sesuatu kenikmatan dan kepuasan yang sudah ia lakukan, begitu juga dengan Digo.
Tidak ada yang bisa membangkitkan sesuatu di bawah sana kecuali Aruna, meskipun Miranda atau perempuan seksi lainnya bertel@njang dada di depannya, namun itu tidak akan bisa membangunkan ular piton yang tertidur, hanya Aruna lah yang bisa membuat sesuatu itu bisa berubah bentuk dan ukuran.
Sepertinya Digo malam ini terlalu bersemangat hingga membuat Aruna menjerit, perempuan cantik itu protes ketika suaminya melakukan sesuatu yang mungkin di luar batas.
"Mana bisa pelan sayank, kamu nakal.. kamu membuat si ularku jadi sesak hingga dia tidak mampu untuk bergerak pelan."
Aruna tidak menjawab bahkan ia sama sekali tidak melakukan apapun juga tetapi kenapa suaminya malah sepertinya kesulitan untuk menggerakkan bagian bawahnya.
Hingga akhirnya beberapa jam kemudian, Digo sudah berhasil mengeluarkan sesuatu yang yang akan menumbuh kan benih-benih cinta di dalam rahim Aruna tetapi Digo masih berada di posisinya yang tetap berada di atas Aruna dengan senjata yang masih menempel di inti Aruna.
"Kamu sangat luar biasa sayank, aku semakin mencintaimu.."
__ADS_1
Padahal Aruna tidak melakukan apapun juga tetapi mengapa Digo semakin tergila-gila pada Aruna, bahkan sepertinya Digo puas dengan apa yang sudah dilakukannya bersama dengan istrinya.
"Dapat salam dari Papa, kata Papa beliau ingin menimang cucu secepatnya."
Akal-akalan kamu saja, mana mungkin Papa mengatakan seperti itu. Papa tahu jika aku masih kecil dan tentu saja anak kecil tidak bisa membuat anak kecil, apalagi harus mengurus anak kecil, Aku bisa apa pasti hanya akal-akalan kamu saja...
"Weekend ke rumah Papa dan Mama ya Di, aku kangen sama mereka."
Tidak ingin menanggapi soal anak yang pastinya Aruna akan kalah jika berdebat mengenai anak dengan Digo akhirnya Aruna mengubah obrol lainnya meskipun sebenarnya ia tidak tahan dengan apa yang dilakukan suaminya yang masih menempel di atasnya bahkan Digo juga tidak mencabut ular piton dan masih berada di tempatnya.
"Weekend kita nginep di rumah Papa dan Mama sekalian bawa seragam untuk hari Senin, kita hari Senin berangkat langsung dari rumah Mama saja."
Senyum Aruna seketika mengembang manakala suaminya setuju dengan apa yang diinginkan apalagi bukan hanya sekedar berkunjung saja di rumah kedua orang tuanya namun Digo juga menyarankan untuk menginap di sana dua malam.
"Terima kasih Di..."
"Sama-sama sayank, tetapi apakah hanya ucapan terima kasih saja yang kamu berikan kepada suami kamu ini?"
Aruna melongo, bukannya ia pura-pura tidak tahu.. tetapi mengapa Diego meminta imbalan yang tentu saja tidak berupa uang dan Aruna pasti paham betul dengan apa yang diinginkan oleh suaminya.
"Satu ronde lagi, habis itu kita mandi..."
"Tadi kan sudah dua ronde, apa kamu tidak capek?"
Aruna memang pandai beralasan padahal bukan suaminya yang capek tetapi dirinya sendiri bahkan Aruna juga malas untuk mandi malam-malam tetapi kalau tidak mandi mungkin saja Aruna tidak bisa tidur untuk nanti malam.
__ADS_1
"Habisnya kamu nakal sekali kenapa menjepit dia, jadinya dia menginginkan kamu lagi.."
Astaga apa yang aku lakukan kenapa aku reflek memberikan sentuhan itu di bawah..