
Digo segera menggenggam tangan Aruna setelah ia meminum air yang diberikan oleh Aruna itu, kemudian segera berlalu dari lapangan.
Ia juga melihat Miranda yang ingin menghampirinya maka dari itu Digo cepat-cepat untuk pergi dari sana karena tidak ingin jika Miranda mengganggu kemesraannya dengan Aruna pastinya Aruna akan semakin kesal padanya dan tidak akan Lagi percaya padanya jika Miranda terus mendekatinya.
Tidak hanya Digo saja yang keluar dari lapangan itu tetapi keempat sahabatnya dan juga Vina mengikuti langkah Digo,.mereka semua pergi ke ruangan Osis tempat di mana ia akan berganti baju tentu saja ruangan OSIS itu memang menjadi ruangan khusus untuk Digo dan yang lainnya di saat tidak dipakai untuk rapat dan kegiatan-kegiatan sekolahan.
Tentunya semua pakaian ganti Digo dan sahabat-sahabat nya itu berada di sana karena mereka tadi juga berganti pakaian di ruangan itu.
"Sayank, bantu aku untuk mengganti pakaiannya ya?"
Ujar Digo dengan menatap manis ke arah Aruna hingga membuat Aruna melototkan matanya tentu saja ia mendengar apa yang diucapkan Digo dan tidak menyangka jika suaminya itu benar-benar gila, masih ada sahabat-sahabatnya dan juga Vina tetapi mengapa ucapannya seperti itu terlalu vulgar sekali apalagi ini di sekolahan bukan di rumah atau di kamar pribadinya.
"Jangan Gila lo Di, ini di sekolahan bukan di rumah yang lo bisa bebas sesuka lo."
Yang menjawab bukan Aruna , tetapi Dino yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah sahabat nya itu sepertinya memang Digo lagi pengen-pengennya, pengen dimanja dan juga pengen yang lainnya membuat Dino langsung saja menyerobot jawab sebelum Aruna membuka suaranya.
"Berisik! ada lo yang jaga di sini gue ke dalam dulu."
Tidak mendapatkan jawaban dari Aruna, Digo malahan menjawab seperti itu kepada Dino dan langsung saja ia menarik tangan Aruna ke sebuah ruangan di mana memang di dalam ruangan OSIS terdapat ruang khusus untuk berganti pakaian yang memang ukurannya tidak terlalu besar tetapi muat untuk 5 orang berganti pakaian di sana.
"Apa-apaan kamu Di? Ini di sekolah, jangan macam-macam.. gue nggak mau."
__ADS_1
Ujar Aruna yang akhirnya membuka suaranya, ia sudah was-was dengan suaminya yang mana melihat mata Digo sedari tadi menginginkannya. Aruna paham betul di mana ekspresi suaminya itu ketika menginginkan dirinya ataupun tidak.
"Tidak masalah sayank, lagi pula jika orang tahu itu malah lebih bagus berarti kamu tidak ada yang lagi mengganggu di sini."
"Jangan gila!! aku keluar ya, kamu ganti pakaian dulu di sini."
Jelas saja Aruna tidak mau, ia segera meninggalkan Digo tetapi sayang sekali baru satu langkah Digo langsung saja menarik tangan Aruna dan dengan cepat menutup pintu itu lalu menguncinya.
"Di sini saja yank, bantu aku ganti pakaian.. aku tidak akan macam-macam paling cuma satu macam. Aku kangen sama kamu sayank."
Kangen-kangen dari mana ... padahal setiap hari bertemu, pagi siang sore malam bahkan baru saja mereka bertemu tetapi mengapa diriku segombal itu.
Aruna tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya berdiri sembari melihat suaminya berganti pakaian bahkan Aruna sendiri tidak memalingkan wajahnya karena percuma saja Digo pasti nantinya akan meminta ini itu dan juga Aruna sudah melihat semuanya, lagi pula percuma di dalam ruangan ini hanya ada mereka berdua saja.
Ucap Digo setelah membuka kaosnya lalu meminta seragamnya yang saat ini dipegang oleh Aruna dan kemudian perlahan laki-laki itu memposisikan dirinya seakan-akan ia balita yang ingin dipakaikan pakaian oleh ibunya.
Aruna yang melihat kelakuan Digo hanya menggelengkan kepalanya, namun ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, lebih cepat ia membantu Digo maka lebih cepat pula ia keluar dari sini dan teman-temannya di luar sana tidak berpikir yang macam-macam jika dirinya dan Digo sudah melakukan sesuatu yang nyatanya memang tidak ada yang terjadi di sana, ya mungkin saja tidak terjadi tetapi entah apa nanti yang akan dilakukan Digo selanjutnya.
Setelah seragamnya selesai kini giliran Digo yang membuka celana olahraganya tentunya Aruna sedikit memalingkan wajahnya karena ia tidak mau matanya yang suci ini ternoda dengan kelakuan Digo yang tidak tahu malu.
Tentunya bukan hanya sekedar membuka celana olahraganya saja tetapi tangan Digo dengan cepat menarik tangan Aruna untuk memegang sesuatu yang sedari tadi sudah berubah bentuk dengan ukurannya.
__ADS_1
Sudah kuduga pasti akan berakhir seperti ini.
Aruna tentunya tidak ingin memegang sesuatu yang ia sendiri sudah tahu bagaimana bentuk dan ukurannya ia masih waras, ini masih di sekolah dan tidak mungkin jika ia akan melayani suaminya meskipun Digo sudah sah menjadi suaminya dan tidak masalah jika Aruna dan Digo melakukan sesuatu tetapi pasalnya ini bukan di rumahnya melainkan ini sekolah yang mana sekolah tempat untuk menuntut ilmu bukan untuk macam-macam terlebih lagi statusnya Digo saat ini sebagai ketua OSIS, tidak mungkin ketua OSIS melakukan sesuatu yang di luar batas terlebih lagi status pernikahan mereka tidak banyak orang yang tahu bahkan hanya sahabat yang juga teman baik Digo maupun Aruna saja.
"Kamu gila Di, sebaiknya aku keluar saja!"
Lagi dan lagi Aruna mengumpat ke arah suaminya dan tentunya ia juga paham jika Digo tidak akan mempan dengan apa yang diucapkan oleh Aruna, laki-laki itu malah tersenyum sembari mengambil celana panjangnya dan memakainya sendiri.
Memang tidak ada niatan sama sekali untuk bercinta dengan Aruna di sini tetapi entahlah setiap kali melihat wajah cantik Aruna, senjata Digo mulai berubah bentuk dan ukuran, itu yang membuat Digo kadang-kadang tidak bisa mengendalikan dirinya dan terus ingin memangsa Aruna hingga tidak mengenal waktu dan tempat di mana ia akan melakukan itu.
"Sudah kan? ayo cepat keluar sudah ditunggu yang lainnya"
Aruna merasa lega karena sepertinya Digo tidak meneruskan niatannya untuk bercinta dengan dirinya meskipun Aruna sedari tadi sudah getar-ketir apalagi ia sempat melihat bagian bawah Digo yang sepertinya memang sudah berubah bentuk dan ukurannya tetapi Aruna yakin jika suaminya itu masih waras tidak melakukan sesuatu di sini.
Lagi dan lagi Digo tidak menjawab tetapi laki-laki itu malam tersenyum manis kepada Aruna yang membuat Aruna malahan bingung kenapa suaminya cengar-cengir seperti itu tidak mengatakan apapun juga dan juga tidak menurutinya.
Grepp
Tetapi kebingungan Aruna tercajawab sudah ketika Aruna akan keluar dari ruangan itu tiba-tiba Digo menarik tubuh Aruna dan meletakkan tangan itu di pinggang Aruna hingga keduanya saat ini berada dalam jarak yang sangat dekat dengan hembusan nafas dari Digo bisa Aruna rasakan dengan aroma mint yang benar-benar membuat Aruna nyaman dan candu bila berada di dekat suaminya.
"Mau keluar dari sini? tidak semudah itu sayank, lagi pula aku sudah menang dan aku ingin hadiah dari kamu"
__ADS_1
Saat ini Digo sudah menatap tajam ke arah Aruna, laki-laki itu tersenyum manis dan mendekatkan bibirnya, tentu saja Aruna tahu apa yang diinginkan oleh suaminya saat ini.