
Keduanya kini sama-sama diam dengan Nathan yang memandang wajah cantik Aruna dari dalam jarak yang dekat mungkin inilah pertemuan terakhir dirinya dengan Aruna maka dari itu Nathan akan memandang arona sepuas mungkin.
Sedangkan Aruna, perempuan cantik itu memalingkan wajahnya bukan karena tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Nathan tetapi dari dulu memang Aruna tidak mau juga ada orang yang memandang ke arahnya meskipun itu bukan tatapan tajam seperti membunuh tetapi sama saja pandangan akan membuat Aruna menjadi risih dan bagaimana.
Jangankan orang lain, Digo saja yang notabenya adalah suaminya sendiri juga Aruna melakukan seperti itu ia paling tidak suka ditatap sedemikian dekat dengan laki-laki yang entahlah ada rasa malu atau rasa Apa yang dirasakan oleh Aruna.
"Kamu tambah cantik dek, sayang sekali kamu tidak bisa aku miliki.."
Aruna memalingkan wajah karena malu dan juga bisa langsung saja mengarahkan pandangan matanya ke arah Nathan bukan karena ia senang dengan pujian akan tetapi, entah sampai saat ini mengapa Nathan belum bisa move on dari dirinya.
"Jangan gombal kayak gitu, tidak cocok dengan kakak dan aku berharap kedekatan kita kan kakak tidak mengartikan yang lebih sorry bukannya apa-apa tetapi memang..."
Shutttt....
Dengan cepat Nathan menaruh telunjuknya di bibir Aruna ia belum ingin mendengar penjelasan Aruna kali ini yang mana mungkin sebentar lagi nanti akan berangkat ke Singapura tetapi malahan memilih untuk memandang wajah cantik Aruna terlebih dahulu dan mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hatinya setelah itu baru ia menanyakan bagaimana perasaan Aruna kepadanya.
Ya meskipun nanti sakit tetapi Nathan harus mendengarnya ia tidak mau pergi dari Indonesia dengan membawa rasa penasaran terlebih lagi yang mengharapkan istri orang.
"Nanti saja penjelasannya Aku hanya ingin memandang wajah cantik kamu dan mengatakan apa yang ada di dalam hatiku ini mungkin kamu bilang aku ini lebay atau bagaimana tetapi inilah aku dek.... Jujur saja kedekatan kita selama 10 hari membuat aku begitu melayang dan juga bersemangat entahlah mungkin memang benar aku yang belum bisa move on dari kamu aku yang belum bisa menghilangkan rasa cintaku ini kepadamu tentunya kebersamaan kita selama ini membuat aku menginginkan lebih dari sekedar hubungan aku dan kamu yang sebagai adik dan kakak ipar meskipun aku tahu rasanya itu begitu sulit dan tidak yakin jika kamu akan menganggap aku lebih seperti itu."
"Tetapi hari demi hari kita lalui bersama kamu juga senang dengan apa yang aku lakukan terlihat bahagia meskipun di dalamnya aku pun juga tidak tahu apa yang kamu rasakan dan sempat aku berpikir apakah kamu juga menaruh rasa padaku terlihat dari cara bicara kamu dan senyuman kamu yang terlalu manis untukku... Aku tahu jika kamu menikah dengan diku bukan karena kamu mencintaiku karena sebuah pertanggungjawaban dari Digo yang membuat kamu berada di sini dan aku juga tahu awal kita bertemu kamu juga tidak mencintai aku hanya aku yang ada rasa sama kamu dan tapi aku sebagai laki-laki yang memandang cinta sama kamu dan benar-benar mencintai kamu tidak akan menyerah sebelum aku tahu bagaimana isi hati kamu sebenarnya."
"Dan 10 hari yang sudah kita lalui bersama membuat aku berpikir dan juga apakah memang benar cinta kamu sudah punya aku hanya untukmu dan kamu? Jujur deh aku ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan ini meskipun aku harus merebutmu dari Digo tetapi juga Kamu memang mencintai aku, aku akan lakukan itu. Hingga akhirnya aku tidak bisa memandang Perasaan cintaku ini kepadamu dan saat itu di datang tentu saja aku mengatakan kedekatan kita selama 10 hari di sini dan aku percaya diri sekali jika kamu memang mencintaiku hingga malam itu kita adakan pertandingan siapa yang kalah dia yang harus meninggalkan Indonesia karena aku yakin pastinya digoyang sudah mendengar apa yang aku katakan dia akan mengalah karena dia tahu kalau kamu cinta sama aku dan pastinya aku tahu diriku adikku itu adalah laki-laki yang begitu menyayangi pasangannya dan mungkin saja di kulakukan supaya kamu bahagia..."
Aruna terhenyak mendengar ucapan dari Nathan ia tidak tahu menahu tentang bagian yang ini yang membuat Aruna menggelengkan kepalanya pelan jadi begitu rupanya hingga akhirnya Digo memutuskan untuk mengalah saja karena rasa cintanya yang begitu besar untuknya membuat Digo mengalah lebih baik mengalah supaya dirinya bisa berbahagia dengan lelaki yang dicintainya tidak tahu saja jika Aruna sama sekali tidak cinta kepada Nathan hanya perasaan sayang dan nyaman saja dengan Nathan dan sebagai kakaknya saja tidak lebih dari itu.
Nathan yang melihat Aruna diam saja langsung saja mengambil tangan Aruna laki-laki itu ingin memastikan sekali lagi dengan perasaan Aruna saat ini yang memang tidak ada namanya sama sekali di hati atau memang Nathan masih bersih keras berpikir jika Aruna itu mencintainya.
Aruna yang mendapatkan perhatian dari natang langsung saja melepaskan tangannya ia tidak mau Natan salah paham dengan apa yang sudah dilakukan dengan apa yang sudah dikerjakan selama ini tentu saja ini saatnya Aruna untuk mengakhiri kesalahpahaman yang terjadi.
"Maaf Kak...."
"Apa memang selama ini waktu kita dekat kamu tidak mempunyai perasaan sama sekali sama aku apa hanya aku yang merasa jika aku terlalu mencintaimu dan berharap lebih dari hubungan yang selama ini kita jalin atau memang sebenarnya kamu mencintai aku hanya saja kamu tidak enak dengan Digo katakan sejujurnya Aruna karena ini merupakan sesuatu yang paling penting untuk aku dengan jangan membuat aku terlalu berharap lagi padamu meskipun aku memang sebenarnya masih berharap jika kamu berpisah dengan Diego dan aku kembali merebut apa yang jadi milikku dulunya."
Aruna kembali mendongakkan wajahnya menatap tajam mata Nathan saat ini yang memang benar dimata-natan itu tidak ada kebohongan sama sekali karena tahu jika Nathan itu memang benar-benar mencintainya tetapi sayang sekali dari dulu sampai sekarang tidak ada rasa sama sekali kepada Nathan selain rasa sayangnya hanya sebagai kakak saja tidak lebih dari itu dan mungkin memang benar pertemuan kali ini untuk mengatakan perasaannya sejujurnya supaya Nathan tidak terlalu berharap lebih padanya lagi.
"Maaf Kak bukan karena aku ingin mengecewakan Kakak atau bagaimana tetapi Jujur saja dari dulu sampai saat ini aku tidak mempunyai rasa sama sekali kepada Kak Nathan, aku hanya menganggap Kak Nathan sebagai kakakku saja tidak terlebih dari itu dan untuk kedekatan kita selama beberapa hari ini mungkin saja aku terlalu berlebihan yang mau kakak ajak kemanapun sehingga Kakak berpikir lebih dari itu."
********
Aruna mulai mengungkapkan perasaannya kepada Nathan yang memang benar tidak ada rasa sekali dari dalam hatinya untuk Nathan meskipun ia tahu ucapannya ini akan membuat mantan kecewa tetapi memang itu harus ia lakukan sebelum semuanya terlambat sebelum nonton berpikir lebih lanjut lagi tentang hubungannya selama ini.
"Yakin tidak ada nama aku di dalam hatimu, Dek?"
Nathan bertanya sekali lagi di mana ia sudah mendengar pengakuan dari Aruna perasaan Aruna kepadanya yang hanya sebatas itu saja tidak lebih dari itu bahkan tidak ada rasa cinta di dalam hati Aruna untuknya.
"Iya Kak maaf."
Mendengar jawaban dari Aruna, Nathan menghela panjang mungkin memang benar selama ini ia hanya geer saja dan berharap lebih dari Aruna yang nyatanya Aruna memang tidak bisa tergapai Aruna mencintai Digo bukan dirinya.
Sudah tidak ada yang dibicarakan lagi yang nyatanya perasaan Nathan dan arona saat ini saling terungkap di mana cinta Nathan bertepuk sebelah tangan dengan arona dan harapan Nathan selama beberapa hari ini dekat dengan Aruna bisa membuat hati Aruna luluh nyatanya tidak sama sekali masih tetap sama saja hati Aruna tidak bisa berpaling darinya dan hanya menganggapnya sebagai kakak saja tidak lebih toh nyatanya saat ini Aruna malahan sudah mencintai Digo.
Hampir satu setengah jam mereka berdua ngobrol panjang dan lebar tentu saja mengenai perasaan masing-masing hingga akhirnya Nathan harus bersiap-siap untuk menuju ke Singapura yang pastinya perasaan Nathan saat ini sudah lega di mana ia sudah mendengar jawaban sendiri dari Aruna meskipun sakit tetapi kenyataannya seperti itu daripada dan tidak mendengar dari mulut Aruna sendiri ini lebih baik.
"Maaf jika selama ini aku terlalu berharap lebih padamu, dek...tetapi Jujur saja rasa di dalam hatiku ini baru hilang sama sekali nama kamu masih ada di dalam sini."
Tunjuk Nathan di dadanya yang mana membuat hati Aruna sedikit sakit melihat itu entah mengapa memang tidak ada rasa sama sekali untuk Nathan meskipun Nathan adalah laki-laki yang sangat tampan dan juga dewasa tetapi semuanya itu tidak bisa membuat hati arona menjadi luluh.
"Aku yang minta maaf Kak karena aku semua jadi seperti ini Kakak jadi meninggalkan Indonesia.."
"Itu semua bukan salah kamu memang takdir yang membuat aku seperti ini tapi entahlah aku bisa melupakan kamu di sana atau tidak yang jelas untuk saat ini mungkin saja aku harus menghilang dulu membiasakan diriku tanpa kamu tapi yang jelas aku juga tidak tahu endingnya nanti apakah aku bisa melupakan kamu atau malahan cinta ini semakin dalam untuk kamu."
Aruna tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa mencintai dan membenci itu adalah hak setiap manusia ia hanya berharap jika Nathan menemukan seseorang nanti di sana dan secepatnya melupakan dirinya.
"Boleh peluk?"
Saatnya Nathan pamit undur diri tetapi ia ingin sekali memeluk Aruna yang terakhir kalinya meskipun sebenarnya Nathan bisa langsung memaksa dan menarik tubuh Aruna namun ia tidak mau melakukan itu ia menghargai Aruna dan tidak bisa gegabah untuk memeluk Aruna tanpa izin yang nantinya malahan akan membuat dirinya kesusahan sendiri takut jika Aruna nanti malam marah padanya.
Dengan cepat Aruna mengganggukan kepalanya ia yakin jika hanya sekedar pelukan saja karena Nathan tidak akan berani macam-macam padanya dan itu tidak menganggap sesuatu itu berlebihan ia mungkin saja perpisahan terakhirnya bersama dengan Nathan.
Grepp
Mendapat anggukan kepala dari Aruna, Nathan langsung saja menarik tubuh Aruna dan memeluknya laki-laki itu menghirup aroma wangi dari rambut Aruna yang begitu membuatnya candu begitu juga dengan aroma tubuh Aruna ingin sekali Nathan egois membawa Aruna pergi dari Indonesia dan menyembunyikan Aruna supaya tidak diketahui oleh Digo tetapi niatan Nathan itu ia urungkan ia tidak mau membuat Aruna sedih karena ia tahu kebahagiaan Aruna itu dengan dikuburkan dengan dirinya.
"Jangan pinta aku untuk melupakanmu Dek atau jangan meminta aku untuk tidak mencintaimu lagi aku tidak tahu sampai kapan rasa cintaku ini akan hilang untukmu tetapi yang jelas semua yang aku aku lakukan itu tulus dari dalam hatiku aku juga tidak pura-pura untuk mencintai kamu.."
Nathan melepaskan bukannya tidak mungkin ia memeluk Aruna dalam jangka waktu yang lama.
"Aku pamit jika ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku jika perlu bantuan juga jangan sungkan-sungkan untuk memberitahukan kepadaku dan satu lagi jika kamu bosan dengan Digo cepat beritahu aku karena aku dengan siap akan menjemput kamu."
Ujar Nathan dengan mengedipkan sebelah matanya iya tentu saja tidak hanya menggoda Aruna tetapi ia terus dari dalam hatinya dan berharap memang Aruna bosan dengan Diko atau Digo selingkuh di belakang Aruna supaya Nathan bisa bergerak cepat untuk membawa Aruna pergi dari Indonesia.
"Eh doanya jelek banget kalaupun aku bosan atau diku selingkuh nantinya apakah Nathan mau menerima aku lagi aku bukan perawan lagi terlebih lagi juga hanya aku banyak pastinya Kak Nathan tidak mau mendekati aku."
Ucap Aruna dengan bercanda yang nyatanya ia tidak berharap seperti itu tidak mungkin ia bosan dengan suaminya pastinya juga akan melakukan segala macam cara supaya kehidupan rumah tangganya tidak monoton seperti itu dan soal selingkuh pastinya mustahil jika Digo melakukan itu dan Aruna berharap jika rumah tangganya nanti bersama dengan Digo baik-baik saja.
"Tidak masalah meskipun kamu tidak perawan lagi atau anakmu banyak sekali aku masih kuat untuk menghidupi kamu dan anak-anakku coba saja kalau kamu berani. Dan ingat kata-kataku jika Digo meninggalkanmu atau kamu sudah bosan dengan diriku segera hubungi aku aku akan siap untuk membawa kamu pergi."
Cup
Satu cuman mendarat di kening Aruna yang membuat Aruna melototkan matanya bisa-bisanya Nathan mencium dirinya di tempat umum seperti ini ya meskipun cuman itu hanya berlabuh di kening saja tetapi membuat arona kaget dan juga malu melihat keadaan sekitar yang mana banyak dari orang-orang yang sudah berlalu lalang dan mestinya ia sendiri juga canggung ketika mendapatkan ciuman dari Nathan.
"Aku pamit ya hati-hati kamu di sini jaga kesehatan kamu dan jangan pernah memblokir nomor ku meskipun aku jauh tetapi aku ingin sekali mendengar suaramu dan melihat wajahmu."
Aruna yang terdiam dan masih berada di tempat nya hanya menganggukkan kepalanya perempuan cantik itu melambaila. tangan ketika Nathan sudah pergi menjauh dari dirinya yang entahlah ada perasaan sesuatu yang sesak di dada Aruna bukan karena Aruna mencintainya tetapi karena rasa bersalahnya terhadap Nathan yang membuat Nathan seperti ini andai saja Aruna beberapa hari kemarin tidak bersama dengan Nathan pastinya kejadian ini tidak akan terjadi dan akan tetap berada di Indonesia bersama dengan kedua orang tuanya .
*****
Shittt!!!
Setelah bertemu dengan klien penting dan membicarakan soal pekerjaannya Digo langsung saja mengambil ponselnya yang sedari tadi memang diselent di ketidak mau di ponselnya terus berbunyi dan mampu pekerjaannya karena yakin itu semua bukan dari Aruna tetapi dari fans Digo yang setiap hari selalu menerornya.
Digo mengeryitkan alisnya manakala ia melihat banyaknya informasi dari anak buahnya jika Aruna pulang sekolah itu tidak langsung pulang ke rumah tetapi malahan menuju ke bandara dan yang membuat Digo mengamalkan tangannya ternyata istrinya itu menemui Nathan yang ada di bandara dan entahlah Apa yang dibicarakan oleh Aruna dengan mata karena itu tidak membuka video Aruna dengan Nathan untuk lebih lanjut karena Digi sudah cemburu dengan menyaksikan foto-foto Aruna yang tersenyum manis menatap ke arah Nathan.
Digo yang kebetulan sudah selesai meetingnya langsung saja bergegas untuk keluar dari perusahaan tentu saja sembari menahan rasa cemburunya ketika melihat foto antara istrinya dengan Nathan dan laki-laki itu saat ini segera melajukan mobilnya untuk menuju ke bandara.
Sesekali Digo melirik ke arah jamnya yang nyatanya sebentar lagi nonton akan terbang ke Singapura dan pastinya ia juga menyusul ke sana tidak akan bertemu dengan Nathan tetapi bertemu dengan istri yang sangat dicintainya itu.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Digo mengumpat kesal karena ia membiarkan arona pulang sendirian kalau tahu seperti ini maka Digo akan membawa Aruna ke perusahaannya saja dan bersama dengan dirinya tidak melawan Aruna bersama dengan Nathan.
Meskipun Aruna sudah menyatakan cintanya kepada Diko tetapi rasa cemburu itu tetap saja bersarang di dalam diri di kota lebih lagi ia tahu dengan siapa Aruna ngebel tadi yang pastinya ikut juga yakin sampai saat ini matan masih belum bisa move on dari istrinya dan masih mencintai istrinya.
Hingga akhirnya mobil dikemudikan oleh sudah berada di bandara laki-laki itu menyakitkan alisnya ketika melihat mobil Vina yang juga berada di sana berarti aroma ke bandara bukan sendirian melainkan bersama dengan Vina
Sedikit Nathan bisa bernafas lega dengan adanya mobil Vina di sini dan itu otomatis pertemuannya bukan hanya saja tetapi sahabat juga ada di sini.
"Brengseekk!!"
Dan ketika kita sudah masuk ke dalam bandara laki-laki itu lagi dan lagi merasa sesak di dalam dadanya ketika melihat pemandangan yang begitu menyesakkan hatinya melihat pena akan memeluk tubuh Aruna dan mencium Aruna tentu saja sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya Digo merasa sangat cemburu dan keberatan karena diperlakukan seperti itu meskipun ia tahu bagaimana perasaan aroma kepada anak dan tetap Nathan yang mempunyai rasa dengan Aruna membuat Digo menjadi was-was.
Hingga akhirnya Digo hanya membiarkan saja adik kan itu berlangsung sekali juga tangan laki-laki itu terkepal ingin rasanya ia memberi tonjokan kepada Nathan
Dan saat Nathan sudah mulai menghilang untuk masuk ke dalam pesawat sementara kalau masih ada di dalam usahanya dikubur niat untuk menghampiri istrinya itu pasti saja dengan kedatangannya.
"Ehem..."
Laki-laki itu berdehem. Digo juga tidak menarik tangan Aruna atau memeluk Aruna yang dilakukannya saat ini adalah melihat bagaimana ekspresi Aruna yang telah membohonginya.
"Eh Di, ada di sini sudah lama?"
Jelas aja Aruna kaget dengan kedatangan teguh yang diabadi padahal ia sama sekali tidak memberitahukan kepada suaminya tentang dirinya yang menemui binatang siang ini dan juga kenapa tiba-tiba Digo berada di sini tentu saja itu membuat Aruna kaget dan hanya melongo saja tidak bisa berbuat apa-apa.
Digo sendiri tidak menjawab, laki-laki itu malah menatap tajam ke arah Aruna sembari memikirkan hubungan apa yang pantas diterima oleh istrinya itu yang sudah berbohong kepadanya.
Aduh ngenyerim juga matanya, apa jangan jangan Digo melihat jika tadi kak Nathan yang meluk aku? kalau iya gawat ini bisa marah-marah tuh orang..
Aruna sebisa mungkin untuk menetralkan perasaannya iya memang tidak tidak ada apa-apa dengan akan tetapi melihat ekspresi wajah Digo, Aruna menjadi takut dan Aruna berpikir jika Digo sudah melihatnya dan ini adalah bahaya yang besar untuk Aruna.
"Di Maaf aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu aku juga tidak ada apa-apa dengan nata nanti aku jelaskan ya, senyum dulu dong Kamu kan tahu juga aku cintanya sama kamu."
Aruna mencoba untuk merayu di ketentuan saja ia pelan-pelan mendekati suaminya yang saat ini berekspresi datar dan dingin tentunya Aruna tidak mau jika sampai Digo marah-marah atau mendiamkannya meskipun arona sendiri itu salah tetapi ia pastinya akan berkata jujur kepada Digo nanti setelah semuanya selesai.
Bukan maksud Aruna untuk membohongi Digo iya yang sama sekali tidak ingin diiku nantinya malahan marah-marah dan ikut untuk menemui Nathan yang jelas bukan membuat suasana yang membaik tetapi malah mengajukan semuanya jika diketahui kalau dirinya menemui Nathan tadi.
"Sayang jangan marah ya yuk pulang Apa kamu tidak kangen sama aku?"
Oh tidak.... Kenapa ucapan istriku sangat manis sekali terlebih lagi wajahnya yang berekspresi seperti itu sangat menggemaskan Aku tidak tahu jika seperti ini tetapi aku harus pura-pura marah dengan Aruna bisa-bisanya dia berbohong padaku dan tidak mengatakan jika bertemu dengan Nathan..
Aruna mencoba untuk merayu Digo dengan ucapan-ucapannya yang manis dan juga perempuan cantik itu juga berusaha untuk memeluk tubuh tigo tetapi sayang sekali Digo langsung saja mengangkat tangannya karena ia tidak mau dipeluk Aruna.
"Eh kenapa nggak mau dipeluk yank, aku memang salah tetapi jangan gini dong apa kamu memang benar-benar tidak kangen sama aku apa kamu tidak tertarik dengan istri kamu yang cantik ini?"
Tentu saja Aruna kaget ketika tangan Digo menepisnya pelan-pelan yang biasanya laki-laki itu selalu saja menempel padanya tetapi entahlah kali ini tikus seakan-akan tidak mau disentuh oleh Aruna itu yang membuat Aruna menjadi bingung Ada apa sebenarnya.
Sedangkan Digo yang mencoba menahan sesuatu yang seberat di bawah sana hanya karena melihat ekspresi arung yang menggemaskan itu sih Joni sudah tidak tahan langsing untuk memangsa Aruna memang sih Joni ini benar-benar tidak tahu diri mendengar suara Haruna yang lemah lembut seperti itu saja sudah berubah bentuk dan ukurannya belum lagi melihat Haruna yang tanpa busana.
Namun Digo mencoba mengendalikan semuanya ia akan memberikan pelajaran kepada istrinya terlebih lagi saat ini istrinya yang habis dipeluk oleh Nathan ia tidak ingin ada bekas Nathan sekalipun di badan istrinya oleh karena itu di melarang Aruna untuk mendekatinya.
"Masuk ke mobil dan tunggu hukuman dariku."
Ucap Digo dengan wajah datar dan juga sinisnya kemudian meninggalkan Aruna begitu saja dan menunggu arwah di dalam mobil.
Sementara Aruna ia hanya menepuk keningnya sendiri ia tahu pastinya nanti Digo akan marah-marah padanya dan semuanya itu memang salah Aruna yang tidak jujur kepada suaminya tadi.
******
Digo menunggu Aruna di dalam mobil karena Aruna tadi mengatakan jika ia ingin menghampiri Vina dulu dan mengatakan kepada pihak kalau Aruna pulang bersama Digo tentu saja laki-laki itu tidak berekspresi sama sekali meskipun sebenarnya iya tidak ingin mengajukan istrinya.
Tetapi rasa cemburu yang membayangiku membuatku harus melakukan seperti itu mungkin saja dengan cara ini Aruna nanti bisa merayunya dan Aruna bisa menunjukkan keseriusannya kalau Aruna memang mencintai dirinya.
Sembari menunggu Aruna, Digo membuka kembali ponselnya ia yang tadi belum melihat seluruh video yang dikirimkan oleh anak buahnya itu kini saatnya di ku melihatnya.
Dan benar sekali saat ibu sudah melihat penuh video yang dikirimkan oleh anak buahnya itu beberapa waktu yang lalu mengembangkan semuanya senyumannya ia meskipun sudah tahu jika Aruna tidak mungkin akan menghianatinya tambah bersemangat lagi ketika ia mendengar ucapan dari Digo maupun Aruna tentang apa yang dikatakan tadi berikut juga dengan pernyataan arona yang saat ini sudah mencintai dirinya.
Ya meskipun Digo sudah tahu semuanya tetapi Digo masih memasang wajah datar ia ingin tahu bagaimana caranya istrinya itu merayunya dan bagaimana caranya supaya Aruna itu membujuknya lagi pula Aruna juga sudah berpelukan dengan Nathan dan itu berarti diiku tidak ingin ada bau-bau tubuh Nathan yang masih melekat di tubuh Aruna.
Kamu memang harus dibeli pelajaran sayang dan aku ingin melihat bagaimana cara kamu untuk merayu aku bagaimana cara kamu untuk membuat aku tidak marah lagi..
Digo memang berencana seperti itu iya masih saja pura-pura marah dan ingin melihat bagaimana kesungguhan dari istrinya.
Hingga akhirnya Aruna yang sudah membuka pintu mobil yang susah jadi aku memasukkan ponselnya ia kembali ke setelan awal yaitu bermuka datar dan pura-pura marah dengan Aruna.
"Di masih marah nanti aku jelaskan bukan maksud aku untuk membohongi kamu.."
__ADS_1
Aruna yang baru masuk ke dalam mobil dan melihat ekspresi wajah suaminya mendadak menjadi takut karena benar-benar Digo saat ini tidak tersenyum ataupun memperlakukan dirinya dengan sangat manis apakah memang jika suaminya itu benar-benar cemburu dan juga benar-benar marah dengan tindakannya.
"Digo sayang beneran deh aku nggak diapa-apain sama Kak Nathan, aku tadi memang berniat untuk menemui Kak Nathan dan ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi."
Sama sekali Digo tidak menggubrisnya hingga arona yang sudah memasang sabuk pengaman langsung saja membukanya kembali perempuan cantik itu kini mendekati tubuh Digo tetapi sayang sekali Digo dengan cepat menebusnya karena ia tidak mau ada bahunya masih menempel ke tubuh arona.
"Stop!! Jangan dekat-dekat sama aku!!"
Tentu saja itu membuat Aruna melongok Apa kesalahan sebesar itu hingga diikuti tidak mau didekati olehnya bahkan Aruna ingin memeluk diikut dan memegang tangan gigiku tetapi dengan cepat Digo langsung menepisnya.
"Di Kamu kok gitu banget sih aku sudah menjelaskan!!"
"Menjelaskan apanya kamu sendiri bohong sama aku kalau mau langsung pulang ke rumah tetapi kenyataannya apa kamu mau bertemu dengan Bang Nathan."
Aruna yang sudah tidak bisa berkata-kata apalagi langsung saja memasang sabuk pengamannya karena ia tahu jika Digo sangat parah padanya dan ingin segera pulang.
"Tapi aku tidak membohongi kamu, Aku kan tadi tidak bilang kalau mau langsung pulang ke rumah aku hanya bilang jika aku pulang dengan Vina jadi aku tidak salah sama sekali kan hanya saja aku memang tidak mengatakan sama kamu jika aku ketemu dengan Kak Nathan itu juga ada alasannya di.."
Ya Aruna memang bukan tipe perempuan yang mudah ditindas terlebih lagi ia dulunya yang memang gadis barbar dengan segala tingkahnya tetapi ia bisa berubah menjadi anak yang manis ketika bersama dengan seseorang yang juga manis bulanan pun saat ini juga menuduhnya jika Aruna berbohong tapi padahal sama sekali Aruna tidak membohongi Digo dan memang benar Aruna tidak mengatakan jika langsung pulang ke rumah hanya mengatakan jika pulang bersama dengan Vina saja.
"Ckkk...ngeyelan."
Keduanya kini saling terdiam dan Digo langsung saja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang pastinya tidak mungkin diikut terus-menerus mendiamkan Aruna karena ia melihat Aruna dengan ekspresi wajah seperti ini begitu saat menginginkan Aruna menjadi menggemaskan dan juga tidak tahan lagi.
Lebih lagi Aruna yang mendekatinya memperhatikannya dan juga ingin memeluknya tetapi laki-laki dan lagi diikuti tidak mau ada aroma atau pun datang yang menempel di tubuh Aruna maka dari itu Digo tidak melanjutkan mobilnya untuk ke rumah melainkan ke sebuah hotel yang kebetulan sekali berada tidak jauh dari bandara.
"Loh kok ke sini?"
Aruna tentang mengelongo bukannya pulang ke rumah tetapi malah juga mengajaknya ke hotel, apa ini juga salah satu hotel milik Digo?
Astaga mampus gue, gue akan dieksekusi lagi masak sore-sore begitu sudah dieksekusi tidak tahu saja jika bagian bawah masih sedikit ngilu....
"Mau turun atau tetap di sini kalau tetap di sini aku tinggal?"
Digo dengan cepat membuka sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobil tentu saja Aruna Lagi dan lagi menggelengkan kepalanya ia tidak tahu maksud dari Diego yang sedari tangan sepertinya marah padanya tetapi mengapa malam membawa dirinya ke hotel.
Tidak mungkin juga juga memangsanya dengan ekspresi wajah Digo seperti ini atau mungkin Digo ingin bertemu dengan seseorang di hotel ini dan meminta dirinya untuk menemaninya yaitu yang ada di pikiran Aruna saat ini.
Tidak ingin berada di dalam mobil sendirian Aruna akhirnya keluar dari mobil ia segera berlari untuk sejajarkan dirinya dapat di samping Digo manakala suaminya itu sudah lebih dulu berjalan di depannya.
Ingin rasanya Aruna mengumpat kesal terhadap suaminya yang malah masih bersikap cuek dan meninggalkan dirinya padahal tidak tahu saja semua dilakukannya itu demi keutuhan rumah tangganya supaya Nathan tahu jika memang tidak ada rasa dari dirinya untuk Nathan supaya Nathan bisa menemukan seseorang yang benar-benar dicintai dan mencintainya.
Aruna hanya bisa pasrah jika suaminya memang benar-benar marah dengannya saat ini dan memang semuanya itu kesalahan arona iya yang salah karena tidak memberitahukan Digo sebelumnya kalau dirinya itu akan menemui Nathan ya padalanya menemuinya bagaimana jika Digo nanti tahu jika Nathan memeluk dan mencium keningnya pasti suaminya itu akan marah besar dengannya.
Hingga akhirnya Nathan sudah membuka pintu kamar tentu saja ini bukan kamar yang biasanya dipakai oleh orang-orang atau cek tetapi ini adalah kamar istimewa di rumah hotel ini adalah milik Papi Rendra sendiri dan tentu saja semua karyawan yang ada di sana tahu jika Digo adalah putra dari pemilik Papi Rendra yang langsung saja memberikan kunci kamar yang spesial yang diperuntukkan untuk keluarga dari pemilik hotel ini.
******
"Sayank, aku benar-benar minta maaf jangan kamu mendiamiku seperti itu..."
Tidak tahan mereka ekspresiku hanya diam saja meskipun saatnya sudah berada di dalam kamar tetapi suaminya itu masih berekspresi dan datarnya seakan-akan ingin menguliti Aruna saat ini.
"Cepat masuk ke dalam kamar mandi bersihkan tubuhmu, Aku tidak ingin ada bau Nathan menempel di tubuh kamu!"
"Ha?"
Tentu saja Aruna melongo mendengar ucapan dari Digo yang mana ia tidak menyangka jika suaminya tahu jika kaki Nathan sudah memeluknya bahkan mencium keningnya dan itu yang membuat diriku marah besar padanya saat ini.
Aruna sendiri tidak menjawab ucapan dari Digo yang langsung saja menuju ke kamar mandi dan tanah ia nanti akan memakai pakaian seperti apa adonan tidak peduli yang jelas ia tidak mau suaminya marah besar kepadanya.
Aruna dengan berada di bathup, ia juga menggosok tubuhnya dengan sangat bersisi hingga tidak ada aroma dari parfum Nathan yang menempel di tubuhnya padahal memang tidak ada mungkin hanya aroma Nathan itu yang menempel di seragam sekolahnya tetapi tidak dengan tubuhnya.
30 menit kemudian Aruna yang sudah berendam supaya digunakan tidak marah-marah lagi, seketika bingung ia harus melakukan apa karena memang tidak ada pakaian ganti di dalam kamar ini hanya handuk saja yang mungkin itu tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya.
"Sial Apa memang Digo sengaja tidak memberikan pakaian ganti untukku bahkan handuk di mana saja tidak ada apakah aku harus keluar dengan memakai pakaian seperti ini yang nyatanya tidak menutupi semuanya..."
Terpaksa Aruna yang sudah lama berada di dalam kamar mandi dan juga tubuhnya sudah kedinginan langsung saja mengambil handuk itu dan menunaikan di tubuhnya meskipun tidak semuanya tetapi aset-aset berat badan penting dari dirinya sudah tertutup lagi boleh juga tidak masalah toh jika ia keluar dari kamar mandi yang melihatnya adalah suaminya bukan orang lain.
Ceklek..
Dengan ragu-ragu Aruna membuka pintu kamar mandi tentu saja dengan menggunakan handuk seperti ini rasanya tidak nyaman sekali tetapi apalah daya Aruna sendiri tidak bisa berbuat banyak karena memang tidak mungkin jika dirinya meminta untuk mengambilkan handuk atau pakaian ganti untuknya.
Mendengar bunyi pintu kamar mandi terbuka Digo yang sudah duduk di atas ranjang tentu saja mengedarkan pandangan matanya ke samping ia tahu jika istrinya itu baru saja mandi karena tercium dari aroma sabun dan sampo kesukaannya.
Ya seperti yang sebelumnya Digo sudah memerintahkan kepada pihak hotel untuk menyediakan sabun dan shampo seperti yang di kuinginkan tentu saja semuanya itu supaya menghilangkan orang tubuh dari natanya malaikat di tubuh Aruna dan pastinya diiku tidak mau menyentuh arona jika arona masih tercium aroma dari Nathan tentu saja Digo yang posesif dan juga protektif terhadap istrinya itu tidak main-main bahkan ia tidak mau didekati oleh Aruna sebelum Aruna benar-benar membersihkan diri.
Sontak saja mata juga tidak berkedip sama sekali ketika melihat Aruna yang sudah basah dengan menggunakan hantu yang hanya dililitkan sampai dada itu Digo benar-benar takjub dengan tubuh istrinya meskipun sudah ia pakai barangkali tetapi Aruna masih sama tidak menunjukkan tanda-tanda jika Aruna itu berubah tambah gemuk atau bagaimana malahan terlihat semakin seksi dan mempesona.
Bukan hanya Mata Digo yang tidak bisa terpejam, si Joni pun sudah bangun dan berubah bentuk serta ukurannya merasa ada sesuatu yang ingin segera Joni memasuki Karena tidak tahan hanya dengan melihat Aruna yang nampak basah dengan aroma yang begitu memabukkan.
Digo yang iman nya tipis ketika melihat Aruna langsung saja berdiri laki-laki itu dengan segera mendekati istrinya.
Tidak langsung memeluk tubuh Aruna tetapi Digo melihat Aruna dari atas ke bawah menuju aroma tersebut Aruna yang benar-benar wangi dan benar-benar tidak adanya parfum dari Nathan sama sekali.
Greepp
Hingga akhirnya laki-laki itu yang sudah memastikan jika memang tidak ada campur tangan dari Nathan segera memeluk tubuh Aruna rapat-rapat Jujur saja jika sudah tidak hanya berlama-lama memandang tubuh Aruna tanpa mengeksekusi istrinya nakal itu.
Sedangkan Aruna perempuan cantik itu sudah merinding manakala ditatap sedemikian hingga oleh suaminya yang mana suaminya benar-benar menakutkan jika seperti ini Aruna sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini setelah Digo memeluknya yang pastinya adegan panas akan berlangsung di kamar hotel ini dan entah sampai kapan Digo akan mengurungnya di sini.
"Nakal sekali kenapa nggak bilang kalau mau bertemu dengan bang Nathan?"
Digo yang masih memeluk Aruna mengatakan seperti itu hingga Aruna melepaskan pelukan dari Digo dan mendongakkan wajahnya tentu saja saatnya Aruna menjelaskan secara lengkap mengapa ia tidak memberitahukan diikutan akan jadian tadi.
Aruna menjelaskan panjang lebar tentang Apa yang dirasakan dan juga dipikirkan tadi begitu juga dengan pertemuannya dengan Nathan tidak ada yang terlewatkan sedikit pun juga dan berharap suaminya akan menanggapi dengan manis tapi sayang sekali Diego malah sepertinya tidak mendengarkan laki-laki itu hanya memandang wajah cantik Aruna saja dan tidak berkedip.
"Sudah?"
Aruna menganggukan kepalanya ia memang sudah mengatakan semuanya tetapi tidak mengatakan jika Nathan memeluk dan juga menciumnya terlebih lagi ia tahu pastinya suaminya itu cemburu toh juga dari ucapannya tadi disebut sudah tahu jika Nathan sudah memeluknya.
"Oleh karena itu kamu mau dipeluk dan dicium oleh Nathan?"
"Aku kan hanya menganggap Kak Nathan sebagai kakak kandungmu saja lagi pula dia hanya memelukku sebentar dan juga mencium di kening bukan di bibir atau di pipi.."
"Hmmm alasan saja untuk itu Kamu harus benar-benar dihukum sayank..."
"Eh...."
Dengan cepat Digo menarik pinggang Aruna kemudian meraih bibir Aruna yang sangat bagus yaitu laki-laki ia tidak akan melepaskan Aruna yang ini bahkan ingin memangsa Aruna lama supaya Aruna tahu tentang kesalahannya karena Digo benar-benar cemburu mendapati istrinya hanya berdua saja dengan Nathan terlebih lagi Nathan yang sudah berhasil memeluk dan mencium kening Aruna.
*****
Beberapa bulan kemudian...
Baik Digo maupun Aruna kini Sudah menginjak kelas 12 dan tinggal selangkah lagi keduanya lulus dari SMA dan juga kuliah.
Ya Digo sudah menolak semua beasiswa beasiswa yang ditawarkan kepadanya bahkan beasiswa untuk kuliah di London pun Digo sudah menolaknya dengan alasan ia tidak mungkin meninggalkan istrinya dan juga tidak mungkin untuk membawa istirahat untuk melawan di sana bukan karena tidak mampu untuk membayar kuliah istrinya tetapi dengan kemampuan Aruna yang pas-pasan juga tidak ingin menambahi beban istrinya dan akhirnya memutuskan untuk kuliah saja di kota ini sembari mengurusi perusahaannya.
Ya selama beberapa bulan ini Digo memang dia mengenai Aruna dan alat kontrasepsi yang Aluna minum tiap malamnya bukan karena Digo tidak tahu atau tidak ingin menegur Aruna tetapi juga mengingat ucapan dari memindah beberapa waktu yang lalu yang mana ucapan Mami Nina itu menyadarkan untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu mengingat Aruna masih sangat muda dan juga keduanya masih sama-sama sekolah.
Tetapi Jujur saja dari lubuk hati Digo yang paling dalam diku menginginkan anak dari Aruna bukan karena tidak percaya dengan cintanya Aruna namun ia lebih senang jika arona hamil dan melahirkan anak-anak yang lucu untuknya.
Tetapi Digo juga tidak mau egois ia tidak akan memaksa Aruna untuk hamil secepat ini meskipun Digo berkeinginan untuk itu tetapi memaksa Aruna dan mengatakan semuanya itu sama saja membuat Aruna jadi berpikiran yang tidak tidak hingga akhirnya dikepungkan sendiri ia juga tidak akan mengatakan apapun tentang keinginan juga yang mempunyai anak kepada Aruna biarkanlah juga memendamnya sendiri dan biarkanlah nanti jika sudah waktunya Aruna pun akan siap dengan kehamilannya.
"Lo kenapa?"
Ya pulang sekolah Digo memutuskan untuk ngobrol-ngobrol dengan Keempat sahabatnya berbeda dengan arona yang memilih untuk berdua dengan Vina saja karena beberapa bulan ini mereka berdua jarang untuk bisa jalan bersama dan ini adalah kesempatan untuk para perempuan cantik itu bisa mengajukan waktunya bersama tidak ada yang menghalanginya ataupun tidak ada Digo yang mengikutinya.
Dan saat ini Digo dan yang lainnya sudah berada di cafe seperti biasanya sepulang sekolah mereka nongkrong sebentar sebelum Digo kembali ke perusahaannya.
"Entahlah gue bingung?"
"Tentang Aruna lagi?"
Dino yang paling mengerti bagi mana Digo langsung saja mencarinya pertanyaan terlebih lagi ia tahu beberapa hari ini sahabatnya itu menurutmu meskipun tidak dilihatkan di depan Aruna tetapi Dino tahu apa yang sedang dirasakan oleh Digo.
Digo menganggukkan kepalanya siapa lagi yang tidak ada di dalam pikirannya itu selain Aruna tetapi masalahnya saat ini bukan karena arunya tidak mencintainya atau Aruna mempunyai laki-laki lain tetapi karena sebuah anak.
"Anak?"
"Yah lo tau sendiri kan sejak gue menikah dengan Aruna gue ingin banget mempunyai anak dari nya tetapi lo tau juga jika Aruna masih memakai alat kontrasepsi bahkan sampai saat ini dia juga masih mengkonsumsinya setiap malam. Gue bingung ingin rasanya gue menceritakan semuanya jika itu tidak bagus untuk kesehatannya dan gue menginginkan anak darinya tetapi gue takut jika itu semua nanti berpengaruh terhadap hubungan gue sama dia namun Jujur saja aku sangat mendambakan anak dari hubungan kita berdua ini."
Ya Digo bercerita gamblang terhadap tempat sahabatnya yang jelas mereka berempat itu bisa menjaga rahasia dan juga bisa menjadi pendengar yang baik bahkan bisa mencari solusi tentang apa yang sedang diresmikan oleh Digo.
"Berarti sampai sekarang lo belum menceritakan semuanya kepada Aruna jika lo tahu apa yang Aruna perbuat?"
"Belum, atas saran Mami... Gue diminta diam saja.."
Dino menganggukkam kepalanya ia hanya memiliki otak cerdas jika sudah berkenaan dengan seorang perempuan langsung saja muncul itu di kepalanya tentu saja ide itu segera ia ucapkan kepada Digo.
"Lo bener-bener ingin punya anak dari Aruna?"
"Ya iyalah istri gue cuma Aruna dan tidak mungkin gue miliki anak dari perempuan yang lain lo tahu sendiri kan bagaimana cinta gue dengan Aruna dan pastinya anak gue nanti yang akan mewarisi semua kekayaan gue tapi lo tau sendiri Aruna pasti tidak mau untuk hamil saat ini."
"Itu mah gampang lo tahu kan setiap malam Aruna selalu meminum pil kontrasepsi itu?"
Digo mengangguk yakin karena ia sempat memperhatikan istrinya jika setiap malam selalu mengkonsumsi pil itu tetapi Digo pura pura tidak tahu saja.
"Gue punya ide gimana jikalau ganti itu dengan penyubur kandungan tentu saja itu nanti tidak akan membuat Aruna curiga."
Bagaimana ia bisa mengganti pil itu sementara Digo sendiri tidak tahu bagaimana bentuk dari pil penyubur kandungan yang diucapkan oleh Dino.
"Nggak ngerti, bagaimana jika Aruna nanti curiga, Lo tau sendiri kan Aruna itu paling jika menyangkut sesuatu yang seperti itu?"
"Gampang, gue punya saudara yang kerja di apoteker yang pastinya dia tahu menang tentang pil penyubur kandungan dan juga pil kontrasepsi dan pastinya itu aman bukan hanya untuk menyuburkan kandungan Aruna tetapi gue yakin jika sekali masuk Aruna pasti akan hamil."
Digo memikirkan ucapan dari Dino yang mana memang ia sudah ngebet banget ingin mempunyai anak dari Aruna tetapi Digo bingung untuk mengatakan kepada Aruna bahkan ia juga tidak berani untuk meminta kepada Aruna takut saja istrinya nanti masih tidak siap dan berimbas dengan hubungannya namun mendapatkan ide dari Dino membuat Digo seketika langsung saja tersenyum ia memang tidak tahu menahu bagaimana bentuk berbagai hal itu tetapi dari ucapan Dino, ia yakin jika memang ada yang sama persis dengan berkontrasepsi.
"Oke, gue setuju tapi nanti jika Aruna benar-benar hamil lalu dia marah bagaimana?"
"Lo itu pintar dalam segala hal tetapi hal begini saja lo goblok, tinggal Lo jelasin saja sama Aruna lagi pula kelas 3 ini kita tinggal beberapa bulan saja setelah itu kita lulus dan tentu saja jika bulan depan Aruna hamil dan pastinya selama 3 bulan terakhir ini pasti perut Aruna itu tidak terlihat dan lo harus benar-benar meyakinkan Aruna dengan kehamilannya ini tidak akan mengganggu aktivitas Aruna sama sekali."
Ya seperti orang pengalaman saja Dino mengatakan itu Kepada Digo, yang jelas saja Digo langsung setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dino memang tidak salah jika Aruna hamil saat ini karena tinggal beberapa bulan lalu lulus dan tentu saja dengan kehamilan Aruna yang masih kecil itu tidak akan mempengaruhi apapun juga dan juga akan berusaha keras untuk meyakinkan Aruna tidak akan membatasi Aruna jika istrinya itu ingin jalan-jalan dengan teman-temannya.
*****
Tidak menunda-nunda waktu lagi setelah keluar dari cafe Diego mengajak Dino langsung bertemu dengan saudara dino yang kebetulan bekerja sebagai apoteker tentu saja saudara Dino itu benar benar bisa memastikan jika obat yang akan dikonsumsi oleh Aruna itu tidak salah.
"Ini..."
Beberapa pil penunda kehamilan dan juga pil penyubur kandungan dengan berbagai merek yang jelas fungsinya sama-sama.
Digo mengambil salah satu Pil penunda kehamilan itu dan ia mengingat betul jika belum diambilnya untuk persis dengan yang diminum Aruna setiap malamnya.
__ADS_1
"Ini ini yang biasanya istri aku minum Om.."
Apoteker yang merupakan Om dari Dino itu melakukan kepalanya kemudian ia mengambil kehamilan yang tentunya sama persis bentuk dan ukurannya dengan pil penunda hamil itu dan jelas saja digunakan langsung mengambil kedua-duanya untuk melihat secara teliti supaya nanti aturan tidak curiga.
"Istri Kamu pastinya kalau minum tidak memperhatikan tulisan apa-apa banyak yang jelas ini dan ini salah dan oh yakin jika istri kamu itu nanti tidak akan curiga jika kamu sudah menukarnya."
Digo menganggukkan kepalanya yang mana memang ia pernah melihat Aruna minum pil itu tanpa melihat bungkusnya langsung saja mengalir itu buru-buru kemudian meminumnya dan jelas saja Digo langsung tersenyum karena ia yakin juga akan membaca komposisi dari pil itu.
Setelah ngobrol panjang kali lebar dan juga kemudian membayar obat yang sudah dibelinya itu kemudian diundur diri mempengaruhi jalan-jalan bersama Vina di mall tentu saja di keburu-buru untuk ke rumah itu dulu sebelum ia kembali ke perusahaan.
Iya memang rutinitas setiap sore Digo yang seperti itu pulang sekolah langsung ke perusahaan dan pastinya nanti pulangnya tidak mula-mulaan sebanyak istrinya tidak protes dan dihubungi ujian Nasional akan segera berlangsung dan pastinya Digo ingin Aruna mendapatkan nilai yang baik nanti di ujian nasional.
"Gue cabut dulu ya, thanks.."
"Sama-sama kita kayak siapa aja dan jangan lupa meskipun lo sudah kasih minum pil itu tetapi tetap juga ga setiap malam supaya keponakan gue langsung jadi."
"Kalau itunya pastilah mana mungkin gue absen tiap malamnya."
Kedua laki-laki itu segera menuju ke motornya masing-masing dengan Digo yang langsung cepat melajukan motornya untuk menuju ke kediamannya Narendra yang pastinya ia tidak mau juga sampai arina curiga dan menghasilkan jika nanti malam Aruna akan meminumnya.
Dan benar saja sesampainya di rumah Digo sudah menanyakan kepada asisten rumah tangganya yang mana memang mengatakan jika karena belum pulang sama sekali bukan digemaran tetapi Digo malah senang lagi pula Aruna juga sudah pamit kepada Digo ingin nonton sore ini dan pulangnya tentu saja nanti sebelum Digo pulang dari kantor.
Kembali lagi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini Digo bergegas untuk menuju ke kamarnya kampung Aruna belum pulang iya segera menukarkan pil penunda kehamilan itu dengan pil penyubur kandungan yang pastinya rencananya akan berhasil jika arona mulai mengkonsumsi pil itu nanti malam dan juga karena tidak akan curiga sama sekali dengan pil yang sengaja digo tukar .
"Maafkan aku sayang, bukan karena aku ingin membatasi semua gerak-gerik kamu tetapi aku memang benar-benar ingin mendapatkan keturunan dari kamu dan tidak masalah meskipun aku tahu kita masih sangat mudah tetapi aku yakin kita akan membesarkan anak kita dan tentu saja mempunyai anak bukan berarti kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang kamu inginkan yang pastinya dengan ini keluarga kita akan menjadi harmonis."
Bergegas menuju kamarnya itu kemudian memasukkan dan pil penunda kehamilan itu di sakunay, Digo juga tidak bergegabah ia juga tidak bodoh membatik itu persembahan tempat yang diperlakukan saat ini adalah masuknya ke dalam tas dan entah nanti Digo akan membuang nya ke mana, Digo sendiri tidak tahu.
Setelah menukar pil itu, Digo merapikan semuanya ia pura-pura tidak tahu saja jika Aruna menaruh di laci yang memang sebelumnya diikuti tidak pernah membuka laci itu maka dari itu yang tadinya Aruna menaruh bel itu ke dalam tas berlangsung saja guna mengeluarkan pil itu dari dalam tas jendelanya di raja yang pastinya Aruna juga tahu tipe tidak akan pernah membuka laci itu karena memang tidak apa-apa hanya di dalam sana.
Tetapi sayang sekali Digo yang entah kebetulan mencari apa menemukan pil itu yang memang berada di paling bawah di antara tumpukan buku-buku yang sudah tidak terpakai yang pastinya Digo sendiri curiga mengapa Aruna mengkonsumsi pil itu bukan hanya dulu saja sebelum diketahui jika Aruna memang mengkonsumsi pil penduduk kehamilan ke dalam tas yang pastinya tikus semakin yakin jika istrinya itu tidak mau mengandung dalam waktu dekat ini.
Setelah semuanya beres Digo keluar dari rumah dan ia akan berpikir positif supaya tidak terjadi apa-apa dan juga tidak akan menaruh curiga kepada Aruna yang pastinya ada beberapa rasa saja tidak tahu dan semoga malam ini, Aruna juga tidak akan curiga.
Sedangkan Aruna perempuan cantik itu kini bersama dengan Vina menonton bioskop tentu saja ia sudah hidup dengan digo yang pasti banyak lagi mengirimkan orang kepercayaan Digo, semuanya sudah aman yang nyatanya memang Nathan beberapa bulan berada di Singapura tidak pernah mengganggu sekali mengirimkan pesan dan juga menelpon arona dan itu pun juga hanya menanyakan kabar arena saja tidak lebih dari itu.
Brukk
Aruna yang memang anaknya pecicilan dan juga kencengnya setan tidak melihat-lihat ke depan yang mana saat ini Aruna dan Vina sudah keluar dari bioskop dan tanpa sadar Aruna menabrak seseorang karena jalannya tidak meli lihat bahkan perempuan cantik itu malah asik tertawa dengan Vina.
"Au...."
Aruna meringis manakala ia tidak sengaja menabrak tubuh seorang laki-laki hingga menyebabkan Aruna terjatuh di lantai dengan pantatnya yang terkena lantai mall itu tentu saja sedikit terasa sakit di area bawah Aruna.
"Run, lo nggak apa-apa, makanya kalau jalan lihat-lihat?"
Bukan laki-laki yang ditabrak oleh Aruna yang marah tetapi Vina ya memang sahabatnya satu ini memang kecilan tidak tahu malu kalau sudah jalan dengan Vina yang mana Aruna bebas menjadi dirinya sendiri bahkan kadang-kadang mulai membuat vina malu.
"Nggak papa gimana? lihat nih pantat gue sakit."
Jelas saja sakit karena Aruna sudah menabrak laki-laki itu langsung terpental atau mungkin pantatnya menyentuh lantai Untung saja keadaan di sana sepi jadi tidak banyak orang yang tahu tentang insiden ini.
Sedangkan laki-laki ditabrak oleh Aruna hanya berdiri sembari melihat tingkah anak tentu saja laki-laki yang mempunyai badan kekar itu tidak kenapa-kenapa yang nyatanya memang tubuh Aruna dan tubuh laki-laki itu kalah besar.
*****
Sejenak laki-laki itu juga memandang ke arah Aruna itu dan merasa kasihan dan juga terpana laki-laki sungguh tidak ada perempuan yang lebih cantik dari rumah saat ini yang mana saja laki-laki itu sudah menaruh rasa pada Aruna.
Entahlah mungkin saja laki-laki itu hanya tertarik dan terkesan dengan kecantikan Aruna atau memang benar-benar cinta pada pandangan pertama laki-laki itu sendiri juga tidak tahu yang jelas saat ini ia bahkan tidak berkedip melihat ke arah Aruna.
"Are you Oke?"
Jelas saja melihat perempuan yang meringis kesakitan, Firman tidak tega laki-laki itu mengeluarkan tangannya untuk membantu Aruna berdiri yang pastinya dengan mata yang masih melihat ke arah Aruna.
"Terima kasih Om aku baik-baik saja dan Maaf tadi aku tidak sengaja menabrak Om..."
Om? Apakah wajahku yang masih tampan ini sudah terlihat tua hingga Dia memanggilku dengan sebutan Om?
Aduh sayang sekali si Bos yang masih muda tetapi sudah dipanggil om namun jika dilihat-lihat memang pantas saja karena perempuan yang ada di depan Tuan Muda firman saat ini masih SMA dan pastinya dengan umur bos yang sudah hampir kepala itu memang sudah pantas seperti panggil Om Om.
Bukan hanya Firman yang mengumpat dalam hati tetapi asisten pribadinya Firman juga ucapan yang keluar dari mulut Aruna tentu saja mereka bingung kenapa laki-laki tampak seperti Firman ini malah dipanggil dengan om apakah Firman setelah itu ataukah memang benar jika Firman itu lebih pantas dipanggil om daripada dipanggil kakak atau yang lainnya?
Tentunya Aruna juga tidak mau menerima uluran tangan dari Firman yang mana ia belum mengenal satu laki-laki itu meskipun dari tampangnya Firman terlihat baik namun itu bukan muhrim masih ingat statusnya saat ini yang mana yang sudah mempunyai suami dan pastinya bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya itu berdosa dan akan menimbulkan kecurigaan di mata orang yang melihatnya.
"Oh oke bener nggak ada yang luka atau kita ke rumah sakit saja dekat sekalian kamu memeriksa diri kamu."
Tentu saja Aruna menggelengkan kepalanya mendengar kata Rumah Sakit Aluna langsung saja menggelengkan kepalanya perempuan cantik itu dibantu dengan Vina segera berdiri dan tidak ingin merasa kesakitan di area pantatnya meskipun masih ada rasa sakit di sana tetapi Aruna tidak mau jika dirinya harus dibawa ke rumah sakit.
Rumah Sakit meskipun ia tahu jika laki-laki yang ditabrak nya itu bukan sembarangan orang namun menarik juga akan sembuh sendiri ya memang seperti itu jika jatuh tiba-tiba badan pantatnya mencium lantai sudah bagus itu hanya padatnya saja tidak dengan muka Aruna yang mencium lantai, nanti bisa bisa wajah cantiknya akan memudar.
"Aku firman..."
Ya Aruna memang tidak mau ditolong oleh firman untuk berdiri tetapi laki-laki itu mengulurkan tangannya seraya berkenalan dengan Aruna yang pastinya ini adalah pertama kalinya Firman berkenalan dengan seorang perempuan setelah ia merasakan pada hati bertahun-tahun karena ditinggal menikah oleh sang kekasih.
Aruna yang masih belum antara menerima ukuran tangan Firman untuk berkenalan atau tidak langsung saja disenggol oleh Vina yang pastinya Vina sedari tadi merasa malu dengan tingkah lakuna sudah jatuh menabrak orang dan tidak mau ditolong oleh laki-laki itu hingga kini Aruna malah diam saja saat firman mengajak perkenalan.
"Hanya kenalan saja Apa susahnya sih daripada lo yang bikin malu di sini lagi punah lo tadi juga ngapain jalan cepat-cepat yang akhirnya malah menabrak laki-laki itu sudah dia sepertinya laki-laki yang baik, kenalan saja enggak masalah."
Bisik Vina di telinga Aruna yang mana Vina sendiri tadi memperhatikan Firman dan Vina yakin juga firman itu bukan laki-laki yang sembarangan melihat bentuk tubuh dan juga yang dikenakan oleh Firman itu menandakan jika Firman adalah seorang pengusaha dan juga mulai dari tampang Firman itu juga terlihat juga Firman bukan laki-laki yang jahat.
Dan pastinya Vina tahu betul kenapa Aruna hanya diam saja dan tidak membalas tangan firman karena Aruna teringat dengan Digo yang pastinya Aruna tidak mudah berkenalan dengan seorang laki-laki.
Ya akhirnya Aruna membalas uluran tangan dari Firman perempuan cantik itu juga menyebut kan namanya dan perkenalan dengan firman.
"Aruna...."
Dengan cepat Aruna melepaskan tangan firman ia tidak mau ada laki-laki lain yang salat malam lagi dengannya cukup matanya sudah membuatnya pusing dan hampir menghancurkan rumah tangganya tetapi tidak dengan laki-laki yang lain.
"Kalau gue eh aku, Vina Om temennya Aruna."
Jelas saja dengan sikap Aruna seperti itu membuat Vina langsung perkenalan dengan Firman , Vina yang dasarnya cenderung sama dengan Aruna segera menjabat tangan Firman lalu menyebutkan dirinya.
Firman tersenyum dan itu membuat asisten pribadi dan lagi melihat ekspresi dari perusahaan itu padahal selama ini tidak ada yang bisa membuat firman tersenyum kecuali orang tua firman tetapi ini hanya berkenalan dengan gadis yang masih berseragam putih abu-abu itu bisa membuat ekspresi firman berbeda.
"Bener kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa Om dan maaf sekali lagi aku tidak melihat tadi dan menabrak Om..."
Firman menggelengkan kepalanya tentu saja tidak masalah atau lebih lagi yang menabraknya adalah perempuan yang sangat cantik yang membuat dirinya terpesona.
"Aduh tapi itu jasnya menjadi kotor gara-gara aku."
Iya Aruna baru melihat jika jasnya firman terkena tumpahan minuman Boba, ya untungnya saja jasnya firman itu berwarna hitam jadi tidak sedih sedikit namun jika dilihat lebih dekat memang ada di sana dan itu membuat Aruna tidak enak.
"Jelas saja jas nya pasti mahal hargany seperti itu pada ketidaus mahal karena dia kalau orang yang mau di laundry itu kalau nggak lo disuruh ganti bagaimana gue sih yakin lu punya uang tetapi siapa tahu Jas itu adalah jas kenangan yang ada satu-satunya di dunia ini."
Begitu juga dengan Vina yang baru melihat jas milik Firman itu kotor terkena tumpahan boba, jelas saja Vina juga ketar ketir manakala nanti Firman tidak mau diganti jas nya atau tidak mau diganti dengan alasan yang macam-macam.
Firman itu tersenyum ia menggelengkan kepalanya meski jas nya kotor tetapi tidak bukan masalah yang jelaskan ini kotor ia berkenalan dengan seorang perempuan yang sangat cantik.
"Tidak perlu nanti dibersihkan juga akan hilang sendiri."
"Tapi aku enggak enak Om, Apa perlu aku laundry saja?"
Dan ini kesempatan untuk Firman yang mana yang melihat arenanya sudah tidak enak lagi dan lagi firman yang sebenarnya ada meeting sore ini mendadak ia akan membatalkannya dan firman juga berencana pulang lain untuk mengajak Aruna makan dulu ia tahu jika perempuan cantik itu banyak itu tidak enak karena merasa bersalah dengan dirinya.
"Kalau kamu tidak enak, bagaimana kalau kita makan bareng kebetulan aku belum makan dan tentunya kamu bisa menemani aku makan."
*****
Akhirnya mau tidak mau Aruna menemani makan siang Firman , merasa tidak enak karena Firman juga tidak mau jasnya diganti oleh Aruna ataupun di laundry.
Untung saja Aruna bukan makan berdua dengan firman saja melainkan di sana ada asisten pribadi Firman dan juga Vina yang membuat ia sedikit bisa bernafas dengan lega dan juga Aruna yakin jika di sekeliling mall ini tidak ada anak buah Digo yang sengaja untuk mengikutinya.
"Kalian masih sekolah, kelas berapa?"
Pertanyaan yang klasik sekali, tetapi Firman juga bingung mau bertanya apalagi dengan Aruna atau ngobrol tentang apa hingga akhirnya firman bertanya seperti itu padahal sudah jelas-jelas ragam yang dipakai oleh Aruna itu menunjukkan jika Aruna dan Vina masih menduduki bangku sekolah menengah atas dan tentunya kalau masalah kelas itu sudah ditebak jika seumuran Aruna itu kalau tidak kelas 11 dia juga kelas 12.
Sedangkan asisten pribadi Firman langsung saja melongo bahkan tidak percaya jika pertanyaan itu keluar dari bibir Firman sendiri pasalnya setelah bertahun-tahun dikhianati oleh kekasihnya firman jarang sekali berinteraksi dengan perempuan terlebih lagi menanyakan pertanyaan yang sangat rezeki ini bahkan firman juga selalu diam dan bersikap dingin terhadap perempuan tetapi entahlah di depan gadis ABG ini seakan-akan Firman mudah lagi dan juga firman yang dulu kembali lagi.
"Ya Om masih sekolah kan seragamnya masih putih abu-abu meskipun seragam aku, aku tutupin jaket. Masih kelas 12 sih Om yang sebentar lagi akan lulus iya sih kalau lulus kalau nggak ya mengulang lagi."
Jawab Aruna dengan seenaknya ya meskipun kelihatan tidak sopan tetapi itulah Aruna yang apa adanya dan tidak neko-neko yang pastinya Aruna menjawab pertanyaan dari firman itu tanpa melihat ke arah orangnya.
"Loh kok bisa ya lulus dong masak mau ngulang lagi apa nggak sayang ilmunya jika mengulang terus atau jangan-jangan sayang sama gurunya hingga nggak mau lulus?"
"Ih bukan begitu habisnya Om tahu sendiri pelajaran sekarang itu susah pasti juga tidak mengira juga aku itu bodoh di sekolah dia bisa naik kelas aja sudah bersyukur apalagi nanti lulus dengan nilai yang tinggi.."
Mendengar ocehan dari arena firman hanya menggilingkan kepalanya meskipun ia juga terkejut masa perempuan cantik seperti Aruna itu tidak pintar pada terlihat dari ekspresi wajah bentuk tubuhnya dan semuanya yang melekat di tubuh Aruna itu menandakan jika Aruna itu bukanlah orang yang main-main yang pastinya ada kelebihan di dalam diri Aruna dan firman mengira jika Aruna itu pintar tetapi kenyataannya tidak sama sekali.
"Aku tidak percaya.."
"Jangan percaya sama aku, itu musrik namanya ya kali Om kan hanya lihat dari wajah aku saja yang pasti semua orang juga tidak mengira jika aku itu bodoh nakal suka bolos dan suka terlambat datang ke sekolah tetapi inilah aku."
Aduh kenapa aku bisa bicara panjang lebar dengan orang itu padahal sama sekali aku tidak mengenal lagian juga mulut ini kenapa nyerocos sekali sih.
Aruna merutuki dirinya sendiri yang sudah berbicara panjang lebar dengan firman padahal ia sudah baru mengenal laki-laki itu sekarang dan belum tahu siapa firman sebenarnya tetapi entahlah rasanya arona memang nyambung berbicara dengan firman bukan karena ada sesuatu apapun tetapi Aruna berpikir Firman itu bukanlah orang jahat yang mungkin saja Firman kesepian hingga mengajak dirinya ngobrol.
Firman hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap lagi wajah cantik Aruna yang tidak membosankan terlebih lagi pembawaan Aruna yang begitu tenang dan juga ucapan dengan ucapan Aruna yang apa adanya tidak dibuat badan juga tidak cuma di depannya tidak seperti perempuan-perempuan yang Firman temui sehari-hari yang mana perempuan itu selalu menampakan kecantikannya membuat dirinya lebih baik di depan seorang laki-laki dan juga bersikap malu-malu serta jaim ya pokoknya tidak seperti Aruna.
Aruna yang sudah lama berada di mall ini langsung saja melihat jam yang melingkar di tangannya sepertinya sebentar lagi suaminya akan pulang dan itu berarti Aruna harus segera pulang dari sini ia sudah berjanji jika keluar rumah untuk jalan-jalan pulangnya tidak lebih dari pulang Digo dan Digo menuruti apa yang diinginkan oleh Aruna.
"Sepertinya aku sudah lama berada di sini Om takut ada yang nyariin nantinya kita permisi ya Om?"
Tentunya Enak tidak enak Aruna harus segera keluar dari mall ini ia tidak mau nanti Digo curiga dan mencarinya terlebih lagi ia baru saja berkenalan dan ngobrol dengan laki-laki ia Jujur saja menurut arunya juga tampan dan baik hati.
"Oh tidak masalah mau sekalian aku antar kan kebetulan setelah ini aku tidak ada acara apapun."
Ya bukannya sekedar basa basi tetapi Firman ingin mengenal lebih jauh lagi Aruna Di mana rumah Aruna dan siapa keluarga Aruna yang pastinya ucapan dari Firman itu juga setelah ini tidak ada acara apapun juga itu bohong hingga membuat asisten pribadi Firman Lagi dan lagi laki laki itu melongo karena ia berusaha aja meng-cancel rapat penting dengan dewan direksi dan malahan menawarkan untuk mengantarkan arona asisten pribadi Firman itu tahu jika hanya bukan sekedar untuk mengantarkan Aruna saja tetapi nanti setelah sampai di rumah pastinya Firman juga mampir ke rumah Aruna.
Lalu bagaimana dengan pertemuan dengan klien penting yang akan dilakukan satu jam lagi yang pastinya jika sampai itu terjadi asisten pribadi firman mau tidak mau harus mundurnya atau menundanya Lagi dan lagi dan itu yang membuat ia pusing tetapi tidak masalah selama ini firman memang tidak pernah dekat dengan perempuan dan mungkin saja arona India adalah perempuan satu-satunya yang bisa membuat Firman nanti bertekuk lutut dan akhirnya luluh juga dan bisa membuka hatinya lagi.
"Oh tidak usah Om kami tadi bawa mobil dan terima kasih atas traktirannya kita permisi ya Om."
Dengan cepat Aruna beranjak dari kursus itu disusul dengan Vina kedua perempuan cantik itu memang tidak perlu basa-basi lagi yang jelas semua ucapan terima kasih sudah berikan kepada Firman yang sudah kembali lagi meminta maaf terhadap apa yang sudah dilakukannya.
"Aruna..."
Aruna ketika tiba-tiba tangannya ditarik oleh firman lalu laki-laki itu menatap ke arah wajah cantik Aruna yang membuat Aruna sedikit demi sedikit melepaskan pegangan tangan Firman , ia tahu ini tidak boleh dilakukan terlebih lagi Aruna yang sudah bersuami dan takutnya jika Firman akan GR dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Boleh minta nomor ponsel kamu?"
Gila sudah gue prediksi pastinya Om ini meminta nomor ponsel Aruna kalau begini caranya gawat kalau Aruna memberikannya itu sama saja dengan Aruna cari mati lebih baik gue langsung menarik tangan Aruna saja supaya Aruna tidak memberikan ponsel itu dan supaya Om itu juga tidak memaksa Aruna...
__ADS_1