
"Aruna, lo dipanggil Pak totok di ruangan OSIS."
Seketika itu juga Aruna melongo kemudian ia melihat ke arah Vina yang sama-sama tidak percaya mengapa Aruna bisa dipanggil oleh pembina OSIS di ruangan OSIS tentunya, apakah Aruna melakukan kesalahan? yang nyatanya tidak bahkan Aruna tadi pagi juga tidak datang terlambat.
"Lo buat kesalahan lagi sama anak osis?"
Tanya Vina yang sepertinya ia juga tidak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan temannya tadi yang mengatakan jika Aruna dipanggil oleh Pak Totok ke ruangan Osis sekarang dan berpikir jika Aruna sudah melakukan kesalahan dengan Digo dan anak buahnya itu.
"Tidaklah, mana mungkin gue melakukan kesalahan dengan Digo dan anak buahnya itu yang ada malahan mereka yang tadi pagi menghadang gue ketika di gerbang, lagi pula.. lo juga lihat sendiri gue tadi datangnya pagi dan tidak terlambat."
Aruna juga bingung, ada apa dirinya dipanggil ke ruangan OSIS saat ini yang mana sama sekali Aruna tidak mempunyai kesalahan sedikitpun ataupun membuat onar di sekolahan ini.
"Daripada Lo penasaran mendingan segera lo nemuin Pak Totok sebelum Pak Totok itu nanti marah-marah, lo tau sendiri kan Pak Totok itu satu paket dengan Digo yang nyatanya mereka berdua itu kompak jika sudah menghukum lo."
Aruna menganggukkan kepalanya, gadis cantik itu langsung saja meninggalkan Vina untuk menuju ke ruangan OSIS.
Sebelum masuk, Aruna mengetuk pintu terlebih dahulu, meskipun ia adalah gadis yang barbar tetapi kesopanan tetap harus dijaga apalagi ini adalah di sekolahan, tidak mungkin Aruna nyelonong begitu saja dan tiba-tiba masuk ke dalam.
"Masuk."
Setelah mendengar suara dari Pak Totok dan mempersilakannya masuk, Aruna membuka handle pintu kemudian langsung masuk ke dalam ruangan OSIS.
Sial!! Kenapa ada dia?
__ADS_1
Ya baru saja Aruna melangkahkan satu kakinya ke dalam ia sudah melihat Digo dan keempat sahabatnya yang berada di sana yang membuat Aruna jadi bingung ada apa sebenarnya dan juga Aruna tidak suka dengan pandangan mata kelima laki-laki tampan yang saat ini menatap ke arahnya.
"Duduk Aruna, ada yang ingin bapak sampaikan sama kamu."
Pak totok tahu jika Aruna saat ini penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan juga Pak totok tidak ingin berlama-lama untuk menceritakan kepada Aruna lalu meminta Aruna untuk segera duduk.
"Kamu terpilih sebagai sekretaris baru di mana sekretaris lama mengundurkan diri dan ingin mengajukan pindah dari sekolahan ini."
"Apa?"
Kaget, tentu saja. Aruna kaget dengan apa yang diucapkan oleh Pak totok yang mana ia dinobatkan sebagai sekretaris, apa-apaan ini dan bagaimana bisa dirinya yang tidak tahu apa-apa dan juga tidak mempunyai pengalaman sama sekali bisa dijadikan sebagai sekretaris.
"Tidak bisa Pak, saya sama sekali tidak mempunyai pengalaman di bidang itu,.lagi pula kenapa bapak bisa menjadikan saya sebagai sekretaris, apa tidak ada kandidat lainnya selain saya dan itu pastinya tidak mungkin karena saya tidak mau bekerja sama dengan ketua OSIS yang songong itu."
Kebiasaan Aruna gadis cantik itu kalau sudah berbicara ya tanpa pandang bulu lagi, selama ia sudah mengenal, ya bicaranya seperti itu dan saat ini Aruna mengatakan yang sejujurnya kalau dirinya tidak mempunyai pengalaman sama sekali, bahkan sudah mengatakan jika tidak mau bekerja sama dengan Digo.
Astaga apalagi kesalahanku kenapa aku harus selalu berhubungan dengan Digo, apakah ini juga termasuk karma darimu Tuhan, setelah kemarin Engkau menjodohkan aku dengan seorang lelaki dan yang ternyata laki-laki itu adalah kakak kandung dari Digo dan kini Engkau memberikan aku tugas semacam ini yang pastinya bukan hanya saja tugasnya yang berat tetapi bersama dengan Digo itu yang sangat berat dan aku tidak suka...
Mau tidak mau Aruna harus menerima keputusan dari Pak totok yang mana memang dirinya tidak bisa berkutik lagi, semua sudah dibahas .. sepakat semuanya sudah diputuskan.
"Kalau begitu saya permisi dulu masih ada waktu lima belqs menit untuk kalian ngobrol-ngobrol tentang rencana apa yang akan dilakukan setelah ujian semesteran ini dan pastinya Aruna, kamu tidak perlu khawatir selama ada Digo pastinya semua tugas-tugas kamu bisa terselesaikan dengan baik."
Sepertinya Pak totok tahu dengan isi hati Digo, meskipun beliau tidak mengatakan secara langsung jika memang sengaja memilih Aruna tetapi Pak totok juga pernah muda dan ia tahu jika laki-laki itu sudah jatuh cinta dengan perempuan pasti dari ekspresi wajahnya itu sudah terlihat.
__ADS_1
"Oke Aruna silakan duduk, ada sesuatu yang ingin gue bahas sama lo."
Digo tersenyum kemudian meminta Aruna untuk duduk di sampingnya yang nyatanya ini adalah sesuatu yang langka untuk Digo kalau dirinya bisa sedekat ini dengan Aruna meskipun Digo tau jika Aruna saat ini masih jengkel dan juga marah padanya.
"Ini pasti ulah lo, apa sih kesalahan gue hingga lo menjerat gue seperti ini? apa tidak cukup jikalau setiap hari hukum gue terlambat?"
Melihat ekspresi Digo yang senyum-senyum sedari tadi membuat Aruna menjadi curiga kalau ini semua adalah saran dari Digo dan tentu saja ini adalah jebakan dari Digo yang mana ingin membuatnya menderita.
"Yah, lo tidak perlu tahu alasannya mengapa, tetapi yang pasti gue ingin selalu dekat sama lo."
Aruna menggelengkan kepalanya, ia bingung dengan apa yang diucapkan oleh Digo, ingin selalu dekat nya, maksudnya bagaimana ? Aruna bingung untuk bisa menemukan jawabannya apa yang sampai saat ini Aruna juga belum tahu jawabannya.
"Kalau begitu kami permisi dulu sepertinya harus belajar untuk ujian berikutnya."
Ya keempat sahabat Digo yang gila itu meninggalkan Digo dan Aruna mereka tahu jika Digo ingin berduaan dengan Aruna saat ini dan mungkin saja juga akan melancarkan aksi gilanya itu.
"Lo kalian jangan pergi, kenapa pada pergi semuanya, gue nggak mau berada di sini sama ketua OSIS yang gila dan songong itu. Hei .. kenapa kalian tega ninggalin gue di sini, kalau gue nanti kenapa-napa bagaimana, kalau gue nanti..."
Cup
Satu ciuman mendarat di bibir Aruna, yang mana ini adalah ciuman kedua yang Digo berikan kepada Aruna.
"Lo?"
__ADS_1
Cup
Sepertinya melihat Aruna yang ingin kembali mengumpat dirinya, Digo dengan cepat membungkam bibir Aruna itu meskipun hanya menempel saja tetapi ia sudah puas bahkan ia tahu jika Aruna saat ini juga menikmati apa yang sudah ia lakukan.