
Remon melajukan motornya dengan kecepatan tinggi laki-laki itu biasa balapan ketika di Bandung dan juga ketika sudah di Jakarta maklumlah Remon bukanlah laki-laki yang baik ia pada dasarnya memang sudah nakal dari dulunya oleh karena itu orang tuanya memindahkan Remon ke Jakarta dengan tujuan supaya Remon bisa berubah karena adanya abang sepupunya di sini yang orang tua Remon sendiri begitu tahu pasti jika Abang sepupunya itu akan mendidik Remon dengan sangat baik.
Ya Remon memang takut dengan Abang sepupunya tetapi sayang sekali satu Minggu tidak bersama dengan Abang sepupunya membuat Remon kembali berulang laki-laki itu bahkan tidak pulang sama sekali dan mementingkan geng motornya dan juga suka balapan tengah malam.
Apalagi pergaulan bebas sekarang membuat Remon tidak jauh-jauh dari namanya perempuan meskipun Remon tidak menggunakan narkoba dan sebagainya tetapi keluar masuk klub sudah menjadi makanannya setiap harinya bahkan Remon juga tidak sedih dan keluar bersama dengan perempuan cantik yang akan melayani nafsunya.
Motor Remon melaju dengan kecepatan tinggi karena perempuan yang dituju saat ini sudah menunggunya dan tentu saja Remon tidak akan melewatkan kesempatan itu karena penawaran yang diberikan oleh perempuan itu cukup menggiurkan kan bahkan Remon bisa dengan puas mengeluarkan sesuatu yang sudah dipendam sejak kemarin.
Di tempat yang lain, Aruna sudah menengok ke kanan dan kiri perempuan cantik itu tentu saja saking senangnya karena akan menikmati es teh yang memang sangat menggiurkan padahal Aruna sudah tidak sabar untuk menenggaknya dan tidak mau diantarkan oleh Digo sampai ke warung itu.
Brakk....
"Aruna....."
Teriak Digo tiba-tiba ketika melihat istrinya sudah jatuh karena ditabrak oleh motor yang melaju sangat kencang tetapi motor itu tidak jatuh sama sekali dan sialnya pengendara motor itu hanya melirik sekilas ke samping kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Berbeda dengan Aruna, perempuan cantik itu langsung saja tergeletak di tengah jalan dan alhasil Digo yang melihat kejadian itu berteriak lalu berlari untuk menghampiri istrinya.
"Aruna sayank, bangun..."
Tidak dapat diungkapkan lagi kata-kata Digo saat ini, laki-laki itu pun menangis karena melihat darah yang keluar dari bawah istrinya meskipun Aruna tidak memejamkan mata tetapi melihat kondisi Aruna saat ini Digo sangat khawati dan kesehatan Aruna.
__ADS_1
"Sakit Di, sakit..."
Aruna kesakitan menahan kepalanya dan sesuatu yang sangat sakit di bagian perutnya tentu saja Digo berteriak untuk memanggil orang yang lewat buat itu dan menyelamatkan nyawa istri dan juga anaknya.
Suasana panik di depan sekolah an meskipun sudah banyak siswa-siswa yang pulang tetapi tidak jarang orang-orang yang nongkrong di warung itu berhamburan keluar untuk melihat bagaimana kejadian hingga Aruna tertabrak.
Begitu juga dengan keempat sahabat Digo yang saat ini siap sedia langsung saja mengambil motor digoyak mobil digoyang kebetulan sekali Digo tidak menguncinya dan dengan cekatan Digo langsung saja mengendarai mobil itu meminta Digo untuk segera membawa Aruna masuk ke dalam mobil.
"Sayang bertahan sayang, kamu dan anak kita nggak apa-apa."
Ucap Digo yang menenangkan Aruna sembari ia menggendong dan memasukkan Aruna ke dalam mobil meskipun perasaan Digo sudah cemas dan khawatir dengan apa yang menimpa Aruna, terlebih lagi darah yang keluar begitu banyak dan ia tidak mau apa yang ditakutkan terjadi.
"Ayo To, cepat sedikit, ngebut kalau bisa.."
Dito sendiri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ia was-was dengan kondisi Aruna saat ini yang memang masih sadar tetapi terlihat lemas terlebih lagi darah yang keluar dari kepala dan juga kaki Aruna yang membuat Digo tidak bisa berpikir baik-baik.
"Sakit sayank, aku sudah tidak kuat lagi..."
Ucap Aruna yang berkali-kali ingin memejamkan matanya tetapi Lagi Dan Lagi Digo mengguncang tubuh Aruna supaya Aruna bertahan dan tetap membuka matanya.
Tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana hancurnya perasaan Digo saat ini melihat perempuan yang dicintainya itu lemah di pangkuannya Digo sendiri mengejar mengapa ia membiarkan istrinya itu membeli sendirian mengapa ia tidak ngeyel saja tadi kalau dirinya yang akan memberikannya mengapa ia menuruti apa yang diinginkan oleh Aruna kalau yang ngeyel pasti kejadian ini tidak akan sampai terjadi.
__ADS_1
"Cari tahu siapa laki-laki tadi To, gue nggak ingin dia bebas ataupun bahagia di atas penderitaan gue.."
Ya meskipun ia masih mencemaskan keadaan Aruna dan calon anaknya tetapi Dito masih ingat betulnya laki-laki yang menabrak Aruna seperti disengaja dan ia berjanji akan membuat perhitungan dengan laki-laki itu dan meminta Dito untuk mencari siapa sebenarnya lagi-lagi tadi yang membuat istrinya tidak berdaya seperti ini.
"Dimas dan yang lainnya sudah mengurusnya, lo tenang saja dan fokus lo saat ini ke Aruna, jangan berpikir yang lain lagi dan untuk masalah laki-laki itu serahkan sama kita-kita."
Iya Dito gerak cepat untuk menghubungi teman-temannya meskipun satu tangan yang menyetir tetapi tangan satunya bisa digunakan untuk menghubungi keempat ketika sahabatnya itu di mana mereka masih berada di sekolah dan menyelidiki Apa sebenarnya terjadi apakah memang benar kecelakaan tadi disengaja atau tidak.
Hingga akhirnya mobil yang dilanjutkan oleh di sesudah sampai di rumah sakit, Digo bergegas untuk keluar bersama dengan Dito dan juga berteriak memanggil petugas UGD supaya bisa menyelamatkan istrinya.
"Digo, kenapa ini?"
Kebetulan sekali yang menangani Aruna adalah Dokter Vicky, di mana Digo sangat mengenal dokter itu karena dokter Vicky adalah teman baik dari Papah Adi dan juga Papi Rendra, tentu saja Digo tidak bisa menjelaskan hanya gelengan kepala yang mengisyaratkan jika ia khawatir terhadap kondisi Aruna dan juga calon anaknya.
"Kamu tunggu di sini, biar om yang memeriksa kondisi istri kamu."
"Tapi Om, aku mau bersama dengan Aruna, Aku mau di samping Aruna?"
"Tidak bisa Di, Kamu di sini, pastinya istri kamu baik-baik saja."
Tidak bisa masuk ke ruang IGD Digo akhirnya pasrah ditemani oleh Dito, kedua laki-laki itu begitu sangat cemas dengan kondisi Aruna saat ini terlebih lagi Digo sudah membayangkan yang tidak tidak mengenai istri dan juga calon anaknya.
__ADS_1
"Sabar Di, lo harus kuat demi Aruna. Dan Lo tidak boleh sedih karena Aruna butuh lo."
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Dito meskipun ia juga sama khawatirnya dengan Digo atas kondisi Aruna dan berharap jika Aruna dan calon anak mereka itu baik-baik saja tetapi kemungkinan-kemungkinan buruk sudah melintas di pikiran Dito meskipun ia bukan Dokter ataupun Tuhan yang akan menentukan semuanya, namun melihat kondisi Aruna saat ini dituju juga berpikir yang tidak-tidak.