My Crazy Husband

My Crazy Husband
Seperti Ada Sesuatu Yang Terjadi


__ADS_3

"Kak Nathan."


Seketika Aruna kaget melihat jika ada Nathan yang juga berada di sini padahal sepengetahuan Aruna Nathan juga tidak diperbolehkan oleh keluarga nya, tapi mengapa laki-laki itu juga berada di kafe yang sama.


"Hai.. nakal ya sudah dibilangin tidak boleh keluar, mengapa kamu malah keluar."


Ucap Nathan dengan tersenyum kemudian ia duduk di depan rumah sembari menggoda calon istrinya.


"Sama kalau gitu, Kak Nathan juga sama .. mengapa malah keluyuran ke sini bukannya kak Nathan juga tidak boleh keluar rumah?"


Nathan kembali tersenyum kemudian mengacak rambut Aruna yang nampak gemas siang ini, entahlah Nathan semakin yakin jika ingin memperistri Aruna dan tidak akan melepaskan Aruna apapun yang terjadi.


"Aku bosen dek, tidak enak ternyata berdiam diri di rumah, bukannya apa-apa tetapi aku yang sudah terbiasa beraktivitas, eh malahan disuruh di rumah.. padahal ini zaman modern dan kita juga hati-hati juga tidak neko-neko dan kebetulan sekali langkah kakiku mengajak aku ke sini, eh ketemu dengan kamu.. lalu kamu ngapain juga di sini, dek?"


Nathan sama sekali tidak curiga apakah mungkin Aruna juga sama dengan dirinya yang bosen berdiam diri di rumah, ya mungkin saja seperti itu.


Tidak mungkin kan aku menjawab kalau aku habis bertemu dengan sahabat adik kamu Kak...


"Sama, aku juga bosan .. lagi pula dari tadi Mama cerewet sekali tidak mengizinkan aku ke mana-mana, pada hal aku bosan kalau disuruh berdiam diri di rumah, karena tidak ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


Keduanya sama-sama tersenyum, tetapi senyuman mereka mengandung makna yang berbeda-beda, jika Nathan penuh dengan cinta dan kasih sayang untuk Aruna dan bahagia sekali bisa mendapatkan Aruna dan ingin segera menikahi Aruna, tetapi berbeda dengan Aruna..perempuan cantik itu terpaksa tersenyum karena tidak mungkin ia bermuka masam di depan Nathan, yang jelas-jelas Aruna ingin menghargai Nathan bukan karena ia ada rasa dengan laki-laki itu tetapi karena ia menghargai perhatian dan juga menghormati Nathan seperti kakak kandungnya sendiri.


"Kalau gitu kita makan siang ya dek.. temani aku makan, Aku lapar sekali."

__ADS_1


Nathan tidak menawari Aruna makan karena ia masih melihat gelas dan juga piring yang ada di depan Aruna dan untung saja gelas kopi milik Dino tadi sudah dibersihkan oleh pelayan tinggal makanan dan minuman yang baru saja Aruna pesan yang ada di atas meja.


Aruna hanya bisa mengganggukan kepalanya, ia tidak mungkin kabur dari kafe ini yang mana Nathan hanya ingin ditemani olehnya saja tidak ingin macam-macam, apalagi ini di tempat umum dan juga Aruna tidak keberatan untuk sekedar menemani Nathan makan siang.


"Kamu mau pesan lagi dek? pesan saja nanti aku yang bayar."


Sepertinya tidak enak jika Nathan makan sendirian meskipun ia tahu jika Aruna baru saja menyantap makan siangnya.


"Bolehkah, aku ngemil ya? nggak apa-apa kan?"


"Nggak masalah sayank, apapun yang kamu makan Aku pasti ngizinin yang penting itu sehat untuk kesehatan kamu. Lagi pula aku tidak terlalu mempermasalahkan soal bentuk tubuh kamu, mau kamu kurus atau gemuk .. mau kamu makannya banyak, sekalipun aku tidak peduli.. yang jelas aku cinta kamu apa adanya dan aku menerima kamu apa adanya."


Ya Tuhan apa yang harus gue lakukan, laki-laki di depan gue ini sangat baik sekali mana mungkin gue bisa menyakiti laki-laki sebaik kak Nathan, tapi gue juga tidak mungkin menerima pernikahan ini karena gue bukan perempuan yang baik-baik...


Lagi lagi Aruna bingung dan juga merasa bersalah, terlebih lagi dengan perhatian yang diberikan oleh Nathan padanya yang membuat Aruna berpikir bagaimana nanti jika Nathan sudah mengetahui semuanya bagaimana perasaan laki-laki itu...


Aruna tersenyum, bingung sendiri ia ingin menyampaikan apa kepada Nathan. Hingga akhirnya makanan yang di pesan itu tiba dan keduanya sama-sama menikmati makan siang ini meskipun dengan versi yang berbeda.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah sama-sama menghabiskan makanan yang ada di atas meja, lalu Nathan menatap cantik wajah Aruna yang sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan oleh Aruna.


"Sepertinya ada sesuatu yang kamu pikirkan, ada apa dek? Kamu bisa cerita sama aku."


Bagaimana harus menceritakan semuanya ini, aku saja tidak tahu harus mengawali semuanya ini dari mana..

__ADS_1


"Oh tidak apa-apa Kak, aku hanya kepikiran tentang orang rumah saja..bagaimana kalau mereka mencari aku, sedangkan aku sendiri tadi pergi tanpa pamit alias kabur."


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu pulang saja.. aku anterin ya."


Tentu saja Nathan tidak akan membiarkan Aruna pulang sendirian, ia khawatir dengan calon istrinya itu.


Aruna menggeleng, tidak mungkin ia diantarkan oleh Nathan .. apa jadinya aksi kabur-kaburan nya nanti diketahui oleh kedua orang tuanya dan ia juga bingung jika berada di samping Nathan seperti saat ini.


"Aku pulang sendiri saja Kak, lagi pula aku tadi perginya kabur-kaburan, kalau Kak Nathan nanti yang mengantarkan pasti akan ketahuan oleh Papah dan Mama."


"Tapi dek, aku khawatir .. tidak apa-apa ya, nanti aku yang bicara sama kedua orang tua kamu kalau aku yang mengajak kamu pergi, jadinya kamu tidak dimarahin oleh mereka."


Astaga.. terbuat dari apa hati laki-laki yang ada di depanku, sayang sekali mengapa aku tidak bisa tersentuh sedikitpun dan juga mengapa aku harus ditakdirkan seperti ini, jika mungkin saja malam itu tidak terjadi, aku akan berusaha untuk menerima semuanya ini namun semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur tetapi sebelum aku melangkah untuk lebih lanjut .. aku harus akhiri semuanya, aku tidak mau orang sebaik Kak Nathan itu menyesal nantinya karena sudah menyukai aku..


Dan lagi lagi, ia menyesali keadaan ini mengapa ia harus terjebak oleh kakak dan adik dengan situasi yang berbeda.


"Tidak perlu kak dan terima kasih, aku sudah memesan taksi dan mungkin sebentar lagi sampai, kakak langsung pulang saja." ucap Aruna yang tidak mau merepotkan Nathan dan tidak kalau Nathan terlalu berharap padanya.


"Ya sudah kalau begitu, aku temani kamu menunggu taksi di depan ya"


Aruna menganggukkan kepalanya, tidak salah jika Nathan menemaninya dan juga hanya sekedar menemani tidak mengantarkan ia pulang.


Beberapa menit kemudian, taksi yang dipesan oleh Aruna sudah berada di luar kafe dan dengan cepat Aruna pamit kepada Nathan untuk segera pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Dek, tunggu aku nanti malam.. aku sangat mencintaimu dan mengharapkan kamu menjadi istriku dan jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku akan menerima kamu apa adanya..."


Nathan menarik tangan Aruna dan tidak membiarkan Aruna untuk masuk ke dalam taxi...laki laki itu menatap calon istrinya dengan tatapan yang entah, antara bahagia dan juga gelisah, entahlah... seperti ada sesuatu yang terjadi nanti malam tapi Nathan belum tau itu.


__ADS_2