
"Cieee... Suami impian sudah datang tapi kenapa sendirian, bini lo mana Di?"
"Iya kenapa lo sendirian? serius nih jangan jangan yang lo boncengan gak mau atau jangan-jangan Aruna ngambek karena semalam habis lo perkosa sampai berulang kali..."
"Betul!! rambutnya saja masih basah nggak sempat ngeringin, pasti lo semalam juga nggak tidur, lihat tuh matanya!!"
Baru saja Digo memarkirkan motornya dan belum juga turun dari motor tetapi keempat sahabatnya sudah memberondong berbagai macam pertanyaan yang membuat Digo hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Pertanyaan lo membuat gue pusing, tetapi kalian semua benar kalau semalam gue memang tidak tidur, tetapi gue tidak perkosa Aruna, kan kita sudah sah sebagai suami istri jadinya hal itu wajib dilakukan setiap malam, bahkan kalau perlu setiap saat pasti gue lakukan.."
"Busyett... Nggak menyangka gue kalau seorang ketos yang alim dan juga tidak neko-neko akhirnya kecanduan juga dengan anu anu bahkan sepertinya jika gue menerawang, lo juga tidak akan pernah lepas dari barang milik Aruna, benar kan?"
"Sial!!"
Digo mengumpat kesal kepada keempat sahabatnya yang mana malahan mereka mengingatkan dengan kejadian semalam dan juga memang benar jika Digo tidak bisa melupakan malam panas semalam, di mana memang ia benar-benar merasa puas dan kecanduan, ingin lagi dan lagi menerkam Aruna.
"Hahaha ketos juga manusia dan pastinya lo mengumpat kita-kita karena lo teringat kejadian semalam kan? gila gila .. berapa ronde semalam lo lakuin hingga bini lo nggak masuk?"
"Rahasia !! yang jelas gue belum tidur dari semalam!"
Keempat sahabat Digo terus saja menggoda Digo, di mana memang ia melihat Digo yang senyum-senyum sendiri, pasalnya tidak ada yang lucu tetapi mereka semua tahu jika Digo membayangkan hal yang dilakukannya semalam dan tentu saja itu sah dan tidak ada yang melarang, terlebih lagi Digo sudah sah menjadi suami Aruna dan pastinya itu dilakukan juga dengan ibadah.
__ADS_1
Berbeda dengan Digo yang senyum-senyum sendiri ketika masuk sekolah, Aruna yang baru saja membuka matanya seketika kaget karena melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.15 yang berarti jika ia tidak segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap maka bisa dipastikan jika dirinya akan terlambat pergi ke sekolah, dan tentu saja hukuman sudah menanti di depan mata.
Aruna sebenarnya tidak masalah jika tiap hari dihukum, tetapi keadaan sekarang berbeda .. ia yang sudah menjadi istri Digo pasti suaminya itu akan dengan terang-terangan menghukumnya di sekolah, kalau tidak hukuman di sekolah pastinya hukuman nanti malam diranjang, itu yang sempat dibicarakan oleh Diego semalam yang mana Digo menginginkan jika Aruna tidak terlambat sekolah dan juga tidak membolos, bahkan Digo juga menginginkan jika Aruna masuk peringkat 10 besar di kelasnya dan tentu saja itu membuat Aruna pusing karena semuanya tidak mungkin terjadi.
Dan pastinya ada hukumannya jika Aruna tidak mengindahkan apa yang diucapkan oleh Digo, tentunya hukumannya adalah hukuman diranjang dan beberapa kali Digo menginginkan, Aruna tidak boleh protes.
"Sialan memang tu Digo, benar-benar gila!!"
Aruna semakin mengumpat kesal suaminya, di mana ia yang sudah tersadar dan melihat tubuhnya yang tidak memakai baju sama sekali hanya selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya itu dan juga ketika ia menurunkan kedua kakinya, ada rasa perih di bagian bawah dan tentu saja itu semua yang melakukan adalah Digo.
"Apakah setiap malam pertama harus seperti ini?"
Aruna berusaha untuk berjalan ke kamar mandi meskipun ia berjalan dengan menyeret kedua kakinya tetapi tidak masalah, daripada ia tidak bisa mandi dan juga tidak berangkat sekolah, meskipun samar-samar semalam Digo mengizinkan untuk dirinya tidak masuk sekolah hari ini tetapi Aruna tidak mungkin melakukannya karena hari ini adalah ulangan matematika di mana ia sama sekali tidak bisa mengerjakan tanpa bantuan sahabatnya.
"Ini gila!! Kenapa badan gue jadi tatoan seperti ini, padahal sebelumnya kan putih sekali..."
Aruna sudah berada di dalam kamar mandi, ia menatap darinya di depan cermin yang mana Aruna langsung menggelengkan kepalanya karena melihat semua tubuhnya yang sudah dihiasi tanda cinta dari suaminya itu yang mana Aruna tidak percaya jika semua ini Digo yang melakukannya.
"Itu manusia atau macan, yang sukanya gigit .. aduh bagaimana cara ngilanginya, pastinya digosok saja tidak akan hilang!!"
Di dalam kamar mandi selain mengumpat kesal suaminya, Aruna juga memikirkan bagaimana caranya untuk menghilangkan bekas bekas cinta yang diberikan oleh suaminya. Kalau yang di dada.. Aruna tidak mempermasalahkan sama sekali tetapi di leher, yang nampak banyak sekali tanda cinta yang diberikan oleh Digo.
__ADS_1
Aruna memang belum pernah melakukan ini, ia jadi tidak tahu dengan apa yang akan dilakukannya untuk menghilangkan bekas-bekas ini, kalaupun ditutup dengan plaster pastinya nanti akan kelihatan dan berapa banyak plester yang harus digunakannya.
Hingga Aruna menyingkirkan sejenak tenang pikiran itu di mana ia harus segera menyelesaikan mandinya agar tidak terlambat berangkat ke sekolah.
Aruna mandi dengan sangat cepat, ia tidak mau nantinya terlalu lama di kamar mandi, lagi pula badannya juga pegal-pegal dan bagian bawahnya juga sangat perih meskipun antara sadar dan tidak sadar semalam Aruna merasakan juga suaminya sedang mengobati sesuatu di bawah sana.
Beberapa menit kemudian, Aruna sudah tampak cantik dan segar, ia bahkan tidak menyangka jika suaminya sudah mempersiapkan seragam dan juga peralatan ke sekolahnya, berikut juga dengan buku-buku yang sudah dimasukkan ke dalam tas sesuai dengan jadwal pelajaran hari ini.
"Kenapa rasanya masih seperti ini? sepertinya milik Digo masih tertinggal di sana."
Aruna yang sudah siap, segera keluar dari kamarnya ia pun sudah menemukan cara untuk menutupi tanda cinta dari Digo, yang mana kebetulan sekali Aruna mempunyai peralatan make up meskipun ia sendiri tidak pernah memakainya.
Hingga Aruna dengan pelan-pelan turun ke bawah, di mana ia harus menyapa kedua mertuanya yang sepertinya masih ngobrol-ngobrol di ruang makan meskipun jalan Aruna sedikit tidak terbiasa dan sakit, namun ia mencoba untuk menahannya.
"Pagi Mami, pagi Papi.. maaf aku terlambat bangun, jadi tidak bisa bantuin Mami di dapur."
Sapa Aruna kepada kedua mertuanya itu di mana memang keduanya masih asik mengobrol di ruang makan dan pastinya sudah selesai sarapan pagi ini.
"Pagi sayank, sarapan dulu ya.. tadi Digo sudah berpesan supaya Mami menemani kamu sarapan dan mengapa kamu berangkat ke sekolah sayank? apa tidak istirahat saja di rumah? Digo sudah ngizinin kamu loh hari ini untuk tidak masuk?"
Dengan cepat Aruna menggelengkan kepalanya, meskipun rasanya masih tidak nyaman dan juga sakit tetapi ia harus masuk sekolah hari ini.
__ADS_1