My Crazy Husband

My Crazy Husband
Aku Mau Kerja


__ADS_3

"Digo.... Apa tadi belum cukup?"


Jelas saja Aruna kaget mendapati Digo yang saat ini sudah berada didekatnya dan langsung saja menyerangnya ia pun berpikir apa jangan-jangan suaminya itu tidak puas sudah melakukan berulang kali padanya.


"Belum sayank meskipun aku melakukan itu berulang padamu tetap saja aku menjadi candu bukan karena aku tidak puas sama kamu tetapi sebaliknya karena aku puas maka aku ingin mengulanginya lagi dan lagi tubuh kamu begitu candu untukku dan sepertinya aku tidak akan menghentikan permainan ini. Lagi pula kamu nakal sekali kamu sudah membuat aku cemburu kamu sudah membuat aku kepanasan bahkan aku kesel karena kamu dekat dengan laki-laki lain."


Ujar Digo dengan sembari menghentakkan sesuatu di bawah sana dan memulai kegiatan panasnya itu.


Sementara Aruna tidak bisa berbuat apa-apa lagi iya kalau sudah berhadapan dengan Digo ini rasanya pasrah tidak bisa menolak ataupun apa-apa yang jelas ia sudah memasrahkan hati dan juga tubuhnya untuk di entah bagaimana nanti akhirnya pernikahan ini Aruna hanya bisa menjalani dan berusaha sebaik mungkin.


Malam pun tiba setelah menuntaskan semua perasaannya untuk Aruna dan sudah melakukan berulang kali kegiatan yang mengenakkan itu Digo akhirnya turun untuk makan malam karena di bawah sana sudah ada kedua orang tuanya dan juga Nathan yang kebetulan malam ini Mami Nina memang sengaja mengundang Nathan untuk makan malam bersama.


Seperti biasa semua orang di sana makan sembari ngobrol dan itu memang sudah menjadi tradisi karena tidak hanya makan saja namun sekedar untuk mencurahkan isi hati atau menanyakan sesuatu kegiatan yang sudah dilakukannya seharian ini.


"Kapan kamu akan bergabung dengan Papi dan Nathan di perusahaan? tugas kamu saat ini sudah banyak dan kamu juga mempunyai tanggung jawab terhadap Aruna?"


Aruna melihat ke arah Digo sepertinya ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya ini atau memang Aruna tidak peka ketika Digo sudah berbicara tentang pekerjaannya yang jelas Aruna bingung sendiri saat ini dan tidak mungkin ia bertanya ia hanya menjadi pendengar setia saja mungkin nanti kalau sudah sampai di dalam kamar Aruna baru menanyakan kepada Digo.


"Besok aku mulai bekerja Pi dan Papi tenang saja aku tau tanggung jawabku yang sekarang sudah mempunyai istri dan sebentar lagi akan mempunyai anak dan pastinya Aku tidak akan melupakan itu kebahagiaan istri dan anak-anakku itu nomor satu dan aku tidak akan membuat mereka terlantar."


Jawab Digo yakin karena memang ia sudah berpikir dan memutuskan untuk segera bergabung dengan perusahaan Papinya dan belajar untuk memimpinnya karena cepat atau lambat perusahaan itu akan beralih tangan padanya jika nanti Digo sudah siap meskipun sebenarnya itu adalah perusahaan itu sendiri namun Digo masih belum ada apa-apanya dibanding dengan papa dan juga Nathan hingga ia akhirnya hanya mengambil keuntungan dari perusahaan itu saja tanpa ikut andil di dalamnya.


Tapi setelah ia menikah mau tidak mau juga harus ikut terjun ke sana dan berusaha bekerja keras untuk membahagiakan dan memberikan kenyamanan untuk Aruna dan anaknya kelak.


"Bagus kalau kamu bisa berpikir seperti itu besok pulang sekolah Papi tunggu di kantor."


"Siap Pi, tapi aku nganterin Aruna dulu setelah pulang sekolah baru ke kantor."


Papi Rendra menganggukan kepalanya memang melihat perubahan Digo saat ini luar biasa terlebih lagi setelah menikah, Digo menjadi lebih bucin dan prosesif terhadap istrinya padahal jika Digo mau Aruna bisa pulang dijemput oleh sopir dan Digo langsung menuju ke kantornya saja karena memang kebetulan berbeda arah tetapi namanya Digo, putra bungsunya itu juga sudah mengenal cinta maka ia akan menjadi pencemburu dan positif tidak mau jika armadi antar jemput oleh orang lain.


Sementara Nathan hanya menjadi pendengar seperti Aruna, ia sudah tahu bagaimana rencana yang akan dijalankan oleh Digo dan tentu saja Digo dan juga Papi Rendra mempunyai perusahaan masing-masing dan ketiganya itu meskipun saling membantu tetapi mereka mempunyai kekuasaan sendiri-sendiri yang mana diantara Digo dan Nathan masing-masing sudah diberikan dan diwarisi harta kekayaan yang sama sama besarnya dari Papi Rendra jadi tidak ada namanya iri diantara keduanya.

__ADS_1


Sementara Papi Rendra berbicara dengan Digo, Nathan menyempatkan diri untuk mencuri perhatian ke arah Aruna di mana Aruna saat ini masih asik menyantap makanannya dan Aruna sama sekali tidak berani menatap ke arah depan tentu saja ia takut jika melihat ke arah datang takut jika melukai perasaan laki-laki itu.


Laki-laki itu sampai saat ini masih belum bisa merupakan Aruna yang mana nama Aruna masih berada di dalam hatinya dan entahlah semakin lama Nathan berusaha untuk melupakan Aruna maka semakin dalam perasaan terhadap Aruna tetapi Nathan tahu diri jika arona tidak mungkin menjadi miliknya karena saat ini sudah menjadi istri dari adik kandungnya sendiri dan juga Nathan berusaha untuk tidak akan mengganggu rumah tangga Digo dengan Aruna.


Digo merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini di mana ia sedari tadi sedikit melirik ke arah Nathan yang melihat ke arah istrinya itu meskipun Aruna tidak membalas tatapan dari Nathan tetapi di kota uji Abang kandungnya itu masih mempunyai rasa dengan arona namun Digo juga tidak ingin menciptakan perpecahan di dalam keluarga ini dengan Nathan yang sudah tinggal diapertemen membuat Digo bisa bernafas dengan lega setidaknya tidak setiap hari istrinya itu bertemu dengan Nathan.


Gini amat mempunyai istri yang cantik dan banyak disukai oleh laki-laki jadi hidupku tidak tenang...


"Mi, Pi, Bang kami ke kamar dulu karena harus mengerjakan tugas sekolah."


Dirasa Digo dan Aruna sudah selesai makan malam dan juga Digo sudah ngobrol banyak dengan Papi Rendra laki-laki itu mengajak istrinya untuk segera menuju ke kamar ia tidak mau lama-lama berada di sini bukannya tidak suka berkumpul dengan keluarganya hanya saja Digo merasa cemburu ketika istrinya ditatap begitu tajam oleh Nathan.


"Masih sore Di, Mami juga ingin ngajak ngobrol-ngobrol Aruna dulu sebentar."


"Besok saja Mi, Aruna banyak pr-nya."


Pastinya bukan hanya alasan dari Mami Nina saja karena perempuan itu belum ngobrol banyak dengan menantu cantiknya di mana setelah dikomunikasi Aruna dan Aruna dibawa ke rumah ini hampir saja tidak ada waktu bagi Mami Nina untuk ngobrol-ngobrol ataupun shopping bareng dengan Aruna bukannya arona tidak mau tetapi Digo saja yang mendominasi istrinya hingga membuat Mami Nina tidak bisa punya waktu banyak dengan Aruna.


"Biarkanlah Mi, lagi pula mereka berdua masih sekolah meskipun statusnya sudah menikah tetapi lucu juga harus ngerjain PR terlebih lagi nanti punya anak.."


*****


"Aku mau kerja Di."


Mereka berdua kini sudah berada di dalam kamar dengan Aruna yang mengambil buku pelajaran dan menyelesaikan soal-soal untuk dikumpulkan besok sementara Digo ia masih duduk di atas ranjang sembari melihat ke arah istrinya yang sepertinya sedang mau membutuhkan bantuannya tetapi di seketika kaget karena arona tiba-tiba meminta ingin bekerja.


Lalu pekerjaan apa yang akan dilakukan istrinya itu sementara dirinya masih sanggup dan begitu sangat cukup untuk membiayai semua yang diperlukan oleh Aruna bahkan uangnya juga tidak akan kurang meskipun Digo sendiri tidak bekerja.


"Tidak boleh, tidak ada sejarahnya perempuan dikelurga Narendra itu bekerja."


"Tapi bukannya Mami juga bekerja?"

__ADS_1


"Memang kerja sayank, tetapi bukan seperti yang kamu lihat, Mami adalah pemilik putik yang pastinya di sana hanya memantau pekerjaan dari karyawannya saja dan setiap butik membutuhkan Mami dengan siap bisa pulang dan menemani Papi kemanapun Papi pergi. Papi juga sebenarnya tidak mengizinkan Mami untuk di luar sana tetapi daripada Mami nanti uring-uringan sendiri dan tidak ada temannya maka mau tidak mau tapi mengijinkan tapi ya itu tadi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku."


Aruna terdiam mungkin ia akan mempunyai bisnis seperti Maminya sedangkan ia saja tidak mempunyai pegangan ia memang bukan Aruna miskin atau bagaimana atau orang tuanya tidak bisa memberikan dirinya modal namun usianya yang masih terlalu muda dan belum cukup pengalaman hingga membuat Aruna tidak mungkin untuk meminta sesuatu kepada suaminya.


"Lagi pula apa uang yang aku berikan itu kurang atau kamu membutuhkan kartu kartu lagi?"


Ini Digo sudah duduk di samping Aruna dengan tangannya menggenggam arah tangan Aruna yang sepertinya istrinya itu sedang meminta sesuatu.


"Bukan begitu Di, uang yang kamu berikan itu lebih dari cukup tetapi melihat kamu yang bekerja aku jadi tidak tega."


Iya mendengar apa yang diucapkan oleh Papi Rendra tadi Aruna bisa menangkap jika mulai besok suaminya harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun dari makan dan yang lainnya sudah ditanggung oleh Papi dan Mami tetapi untuk kebutuhan pribadinya dan juga Digo itu adalah kewajiban Digo sendiri dan Aruna juga tidak sampai hati membiarkan Digo bekerja di luar sana sementara dirinya pulang sekolah hanya tidur dan okang-ongkang kaki saja.


"Sayank, suami kamu itu bukan pekerja menjadi pelayan ataupun apa yang memerlukan banyak otot untuk menguras tenaga tetapi suami kamu ini bekerja di dalam perusahaan suami kamu ini punya perusahaan dan juga sebuah restoran jadinya hampir sama dengan yang Mami lakukan suami kamu ini hanya sedikit mencurahkan pikirannya saja supaya ada konsep-konsep yang masuk dan juga meneliti proyek-proyek yang akan dilakukan ke depannya. Jadinya kamu tidak perlu khawatir bekerja kalau lelah itu sudah biasa tetapi nggak mungkin juga aku hanya mengandalkan orang-orang kepercayaan aku untuk mengurus bisnisku sendiri sementara aku di sini hanya diam sembari menunggu laporan-laporan keuangan lebih pura Aku sekarang sudah mempunyai tanggung jawab yaitu kamu dan anak-anak kita nantinya aku tidak mau lengah dan juga gabah karena persaingan bisnis itu sangat ketat di sini."


Meskipun Aruna belum paham betul tentang perusahaan dan bisnis yang dijalani oleh suaminya namun ia sedikit lega karena suaminya bukan bekerja kasar tetapi bekerja di kantor dan restoran walaupun arona sendiri belum tahu di mana letak perusahaan dan juga restoran yang didirikan oleh suaminya itu.


"Lagi pula kalau kamu mau kerja, kamu mau kerja apa?"


Digo penasaran dengan pekerjaan yang akan digeluti oleh istrinya itu di mana tiba-tiba saja Aruna tidak ada angin dan tidak ada hujan ingin bekerja lalu pekerjaan seperti apa yang sudah ditawarkan oleh istrinya hingga membuat Aruna mengambil keputusan ingin bekerja.


"Beberapa waktu yang lalu kak Ivan nawarin aku untuk mengisi acara di cafe, iya itung-itung untuk nambahin uang jajan dan juga mengusir kegabutan jika aku lagi kesepian dan sendirian."


"Nyanyi gitu di cafe Ivan?"


Aruna menganggukan kepala nya tetapi berbeda dengan Digo yang langsung menggelengkan kepalanya jelas saja mendengar nama Ivan diikuti tidak akan pernah menyetujui apapun bentuk pekerjaannya ditawarkan untuk istrinya itu terlebih lagi pasti waktunya sore sampai malam dan sudah dipastikan diiku tidak bisa menemaninya.


Lagi pula iya tahu jika Ivan itu menaruh rasa pada suaminya dan tidak akan Digo mengizinkan laki-laki lain untuk merusak rumah tangganya.


"Emang kamu bisa nyanyi yank?"


"Kamu ngejek aku? aku bisa meskipun suara aku tidak semerdu dengan penyanyi-penyanyi yang sudah kondang dan memuja terbang tinggi."

__ADS_1


"Dan kamu pengen sekali nyanyi atau sekedar mengisi acara di kafe atau restoran?"


"Sebenarnya nggak pengen-pengen banget sih tapi daripada aku gabut dan tidak punya pekerjaan, lagi pula jika kamu sudah bekerja pastinya aku sendirian di sini belum lagi jika Mami ada acara."


__ADS_2