My Crazy Husband

My Crazy Husband
Dipercepat


__ADS_3

"Aku kangen sama kamu, dek."


Setelah beberapa menit keduanya terdiam akhirnya Nathan mengucapkan suatu kalimat yang membuat Aruna kaget. Sedari tadi keduanya memang sama-sama terdiam, dengan Aruna malahan melamun memikirkan tentang nasibnya saat ini, terlebih lagi sekarang berada di samping Nathan yang mungkin sekali Nathan belum mengetahui kejadian sebenarnya dan juga Aruna akan menceritakan semuanya kepada Nathan, terlebih lagi lusa akan digelar pertunangannya dengan Nathan.


Aruna menoleh ke arah Nathan, ia kemudian tersenyum dan tidak menanggapi lagi apa yang diucapkan oleh laki-laki yang saat ini berstatus sebagai calon tunangannya itu, bahkan kalau bisa Aruna ingin kalau Nathan tidak mengucapkan kata-kata apapun yang nantinya akan membuat Nathan terluka, bukan membuatnya GR dengan ucapan manis yang sudah dikeluarkan oleh Nathan.


"Tapi sayang sekali, kemarin kamu nginep di rumah Vina ya, padahal malam minggu aku ingin mengajak kamu kencan, ya hitung-hitung perkenalan sebelum kita bertunangan."


Aruna semakin melongo saja, padahal ia tidak mengatakan apapun kepada Nathan jika kemarin malam menginap di rumah Vina, ia juga tidak mengabari sama sekali kepada Nathan setelah pulang dari sekolah itu.


Astaga jangan-jangan... Dasar Digo brengsek!!


Kembali, lagi-lagi Aruna mengumpat kesal kepada Digo yang mana baru ia ketahui jika Digo juga sudah mengirimkan pesan kepada Nathan, tetapi sayang sekali pesan yang dikirimkan oleh Nathan itu sudah dihapus oleh Digo hingga ia tidak bisa melihat apapun juga yang dikirimkan oleh Digo.


Jika Nathan tidak bercerita saat ini pastinya Aruna juga tidak tahu kalau Nathan malam minggu menghubunginya dan dibalas juga dengan Digo.


"Maaf..."


Hanya itu yang keluar dari bibir Aruna, rasanya ia ingin sekali berterus terang kepada Nathan tetapi waktunya tidak pas, tidak di dalam mobil. Nanti saja kalau sudah sampai di sebuah cafe di mana memang Nathan mengajak Aruna untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengajaknya jalan-jalan, itu yang dikatakan oleh Nathan tadi.


Dan Aruna berpikir nanti setelah makan siang, ia akan mengatakan semuanya kepada Nathan sehingga tidak ada lagi keragungan di antara keduanya, mau Nathan membatalkan pertunangan atau tidak, yang jelas ia sudah jujur dan tidak pantas lagi untuk bersanding dengan Nathan yang notabenya adalah laki-laki yang baik.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku sudah mengatakan sama kamu jika aku tidak akan membatasi kamu berteman dengan siapapun puja asalkan kamu tahu batasnya, kalau kamu adalah calon istri Aku, terlebih lagi teman kamu adalah seorang perempuan, Vina kan yang selalu bersama dengan kamu.... Dan aku juga tahu siapa Vina itu dan juga tahu rumahnya, jadi tidak masalah buat aku."


Aruna hanya menganggukan kepalanya rasanya ia sangat bersalah sekali telah membohongi Nathan, laki-laki yang sangat baik bahkan kalau bisa ia tidak akan pernah mengenal Nathan jika Nathan memperlakukannya seperti ini . Bukannya apa-apa, hanya ia merasa kasihan saja dan tidak pantas seorang Nathan bertemu dengannya apalagi nanti sampai menjalin hubungan dengannya.


Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Nathan sudah sampai di sebuah cafe di mana kafe itu tidak begitu ramai tetapi tempatnya nyaman dan juga enak untuk ngobrol nantinya.


Karena Nathan memang tidak begitu suka dengan keramaian dan tentunya siang ini dimanfaatkan oleh Nathan untuk berbicara empat mata kepada Aruna yang mana ada maksud tersendiri dengan Nathan yang tiba-tiba menjemput Aruna.


"Mau makan apa?"


Tanya Nathan dengan sangat pelan sembari melihat ke arah Aruna yang sepertinya Aruna merasa canggung dengan dirinya padahal ia dan Aruna akan segera bertunangan dan juga menikah.


"Oke.."


Nathan memesan makanan yang sama dengan Aruna karena ia sedikit tahu selera Aruna itu bagaimana dan apa saja makanan dan minuman kesukaan Aruna.


Iya sekali lagi, meskipun keduanya baru bertemu kemarin malam dalam jarak yang begitu dekat tetapi Nathan sudah lama mengenal sosok Aruna meskipun memang Nathan selalu tidak menampakkan dirinya tetapi laki laki itu begitu paham dengan apa yang dilakukan oleh Aruna, apa yang menjadi kesukaan Aruna dan favorit Aruna itu seperti apa.


"Dimakan dek, setelah itu ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


Aruna mengangguk padahal ia juga ingin membicarakan tentang masalahnya kepada Nathan namun kenapa laki-laki itu juga ingin membicarakan sesuatu padanya.

__ADS_1


Atau jangan-jangan Kak Nathan sudah tahu jika aku sudah tidur dengan Digo?


Aruna bertanya-tanya di dalam hatinya, seakan akan ia takut sekali jika semua rahasianya terbongkar meskipun Aruna sendiri ingin mengatakan kepada Nathan tentang kejadian kemarin malam namun jika Digo yang lebih dulu memberitahukan kepada Nathan, bagaimana dengan dirinya yang dicap sebagai perempuan murahan yang tidak bisa menjaga diri terlebih apalagi ia sudah dijodohkan dan mempunyai calon suami.


Hingga saat ini Aruna yang tadinya lapar mau makan makanan itu rasanya hambar, tidak begitu enak di mulut tetapi mau tidak mau Aruna memaksakan untuk menelan semuanya, ia harus menghargai apa yang sudah diberikan oleh Nathan meskipun di dalam hatinya masih ada sedikit rasa penyesalan dan juga  kasihan kepada laki-laki yang baik yang ada di depannya ini.


Beberapa menit kemudian, Nathan dan juga Aruna sudah selesai makan siangnya dan Nathan bergegas untuk menyingkirkan semuanya sembari menatap ke arah wajah Aruna yang sangat cantik.


"Aruna, Aku sudah memutuskan jika aku akan mempercepat pertunangan kita yang rencananya akan dilangsungkan lusa, tetapi besok malam aku akan melamar kamu dan lusa kita langsung menikah."


Ucap Nathan dengan tangannya menggenggam erat tangan Aruna, sepertinya laki-laki itu begitu mantap dan yakin ingin memperistri Aruna.


"Ha?"


Lagi lagi Aruna dibuat kaget dengan apa yang diucapkan oleh Nathan, bukan karena Nathan tahu tentang apa yang terjadi dengannya kemarin malam tetapi malah Nathan ingin memajukan acara pertunangan dan juga pernikahannya, apa-apaan ini Aruna sendiri ingin membatalkannya tetapi mengapa laki-laki yang di depannya malah memajukannya.


"Bagaimana dek, aku sungguh-sungguh.. aku tidak bisa untuk menahannya lagi bukan karena aku ingin macam-macam sama kamu tetapi lebih baik kalau kita sah jadi jika kita berdua-dua tidak ada setan yang mengganggu dan tentu saja supaya aku juga merasa tenang jika kamu sudah menjadi istriku."


Rasa was-was menghantui pikiran Nathan akhir-akhir ini entah mengapa setelah ia bertemu dengan Aruna ia semakin takut kehilangan Aruna yang mana setelah beberapa hari ia memikirkan dan mendiskusikan kepada kedua orang tuanya, Nathan memilih untuk mempercepat pertunangan dan pernikahannya saja, lebih baik seperti itu supaya ia merasa lega karena Aruna sudah menjadi istrinya.


Untuk masalah Aruna yang belum mencintainya itu gampang, karena Nathan yakin dengan perhatian dan juga kasih sayang yang diberikannya, cepat atau lambat Aruna pasti akan menerimanya sebagai suami dan akan mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2