
Mendengar itu Aruna hanya melototkan matanya kemudian mendorong tubuh Digo, Aruna melepaskan pelukannya kemudian ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke bangkunya dan saat ini ia duduk di kursinya sendiri.
"Lebih baik lo pergi Di."
Usir Aruna kepada Digo yang mana Digo tidak beranjak pergi, tetapi laki-laki itu malah duduk di depan Aruna, di bangku temannya belum yang belum datang.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu maafkan aku, aku serius Aruna.. Aku benar-benar mencintaimu dan aku akan mempertanggungjawabkan semuanya, karena ini adalah yang kuinginkan, Aku ingin menikahimu."
Sepertinya butuh berapa kali lagi ucapan yang harus dikeluarkan oleh Digo untuk membuat Aruna percaya dengan apa yang sudah ia ucapkan, sementara Aruna masih terdiam diri, perempuan cantik itu tidak memandang ke arah Digo dan lebih asik untuk membuka buku pelajaran yang entah apa yang dibacanya, Aruna hanya memanfaatkan buku itu supaya ia tidak bertatap muka dengan Digo.
"Harus gue ulangin berapa kali sama lo, gue nggak mau nikah sama lo."
Digo menghela nafas panjang rupanya ia harus bekerja keras untuk bisa menaklukkan Aruna dan niatnya Digo nanti malam ia ingin mengatakan semuanya kepada orang tua Aruna, jika Aruna belum memaafkannya dan memilih jalan untuk menikahi Aruna walaupun Aruna tidak mau.
"Kalau kamu hamil bagaimana? dan anak itu jelas-jelas anak aku. Aku tidak mau dia bersama dengan laki-laki lain yang bukan Papahnya."
Deg
Seketika Aruna mendongakkan wajahnya, ia menatap lekat-lekat wajah Digo yang entah mengapa sepertinya Aruna terbius dengan ketamanan Digo saat ini dan saat itu juga Digo tersenyum manis menatap ke arah Aruna dengan tangannya terulur untuk membelai lembut pipi Aruna yang membuat Aruna semakin tak berdaya, seakan-akan ia sudah tersihir dengan perlakuan manis yang diberikan oleh Digo.
Namun seketika Aruna sadar, kemudian melepaskan tangan Digo supaya ia tidak terlalu GR dengan apa yang sudah dilakukan oleh Digo.
Astaga...kalau gue hamil bagaimana?
__ADS_1
Aruna tahu meskipun ia sudah meminum pil pencegahan kehamilan tetapi banyak sekali yang tidak berhasil untuk menundanya bahkan banyak sekali yang kebobolan meskipun sudah menunda dengan meminum pil itu dan bagaimana jika itu benar-benar terjadi pada dirinya, sementara ia sudah menolak mentah-mentah keinginan Digo untuk menikahinya.
"Oke kalau memang kamu tidak mau memaafkan aku, nanti malam siap-siap saja, aku akan menikahimu, aku tidak peduli kamu mau nikah sama aku apa enggak yang jelas aku tidak ingin anak yang ada di dalam kandungan kamu itu tanpa Papah atau mempunyai Papah selain aku."
Cup
Satu ciuman mendarat di bibir Aruna, meskipun Aruna menolak tetapi Digo sama sekali kekeh tidak mau melepaskan Aruna, terlebih lagi saat ini dengan adanya Aruna yang diam di membuat Digo semakin berhasrat saja kepada perempuan cantik di depannya, jujur Digo ingin kembali mengulang adegan panas semalaman yang sudah membuatnya candu, tapi Digo sebisa mungkin harus memendam semuanya, karena ini bukan waktu yang tepat, dan juga tempat yang tidak pas, lagi pula ia tidak yakin jika dirinya melakukan itu lagi Aruna akan memaafkannya dan mau menerima dirinya sebagai suaminya nanti.
Aruna tidak bereaksi apapun ketika bibir Digo menempel di bibirnya ya menempel dan melu_mat sedikit saja, meskipun tidak sampai lama namun Digo sudah puas dengan apa yang dilakukan.
"Love you sayank, dan ingat kata-kata aku, nanti malam aku akan ke rumah kamu sekaligus aku membawa penghulu untuk menikahkan kita."
Digo tersenyum, kemudian mengusap rambut Aruna lalu meninggalkan Aruna, ia tahu sebentar lagi teman-teman Aruna akan masuk ke dalam kelas dan tentunya Aruna juga harus bersiap-siap untuk mengikuti pertandingan antar kelas dimana Digo juga tahu jika Aruna adalah salah satu siswa yang berbakat di dalam olahraga meskipun tidak sebanding dengan kepintaran Aruna di bidang pelajaran.
Aruna menghela nafasnya, ia hanya memandang kepergian Digo dari matanya kemudian menggeleng pelan.
Aruna juga memikirkan bagaimana nanti jika Digo nanti malam memang benar-benar datang ke rumahnya, apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya sementara ia sendiri belum menceritakan semuanya kepada orang tuanya dan Nathan, dan mau tidak mau Aruna harus meminta Digo untuk membatalkan semuanya dan menunggu sampai semuanya benar benar jelas.
Aruna mengambil ponselnya dan ia berniat untuk mengirimkan pesan kepada Digo, ya hanya dengan cara inilah ia meminta Digo untuk membatalkan rencana laki-laki itu untuk datang ke rumahnya nanti malam, karena memang benar Aruna belum siap untuk semuanya.
[Please, jangan datang ke rumah nanti malam, gue belum siap]
Tidak ada tambahan kata sayank atau cinta yang dituliskan di pesan yang dikirimkan untuk Digo, Aruna hanya menyampaikan itu saja secara singkat padat dan jelas.
__ADS_1
Sementara Digo yang baru saja keluar dari kelas Aruna dan menghampiri keempat sahabatnya itu, seketika membuka ponselnya saat ia mendengar ada bunyi pesan masuk.
Laki-laki itu tersenyum ketika melihat siapa yang mengirimkannya pesan dan segera membuka membuka pesan itu.
Ada sedikit kelegaan di hati Digo saat ini yang mana Aruna bisa diajak komunikasi meskipun niatnya nanti malam harus ia urungkan karena permintaan Aruna, namun setidaknya ia tahu jika perempuan cantik itu mau menikah dengannya, mungkin memang benar Aruna butuh waktu untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi keluarganya dan juga keluarga Aruna sendiri.
[Oke, tidak masalah. Aku akan menunggu kamu siap tapi jangan lama-lama, aku takut jika nanti kamu positif hamil tetapi kita belum nikah]
Digo menginginkan anak dari Aruna, yang sejatinya ia tidak tahu jika setelah pulang dari apartemennya kemarin, Aruna membeli pil penunda kehamilan yang nyatanya Digo berpikir jika Aruna akan hamil dan ia mengharapkan itu terjadi supaya hubungan dirinya dengan Aruna bisa cepat-cepat sah sebagai suami istri.
"Digo tunggu!!!"
Teriak Miranda manakala ia melihat Digo yang berjalan menuju ke loby sekolah.
Digo seketika menghentikan langkah kakinya karena ia tahu siapa yang memanggil namanya itu.
"Sayank kemarin lo bercanda kan? Lo nggak serius kan? Gue sangat mencintai Lo, kenapa Lo tega putusin gue begitu saja apa, salah gue Di?"
Miranda berusaha menarik tangan Digo dan menggenggamnya tetapi sayanh sekali Digo dengan cepat untuk melepaskan genggaman tangan Miranda, kemudian menatap ke arah Miranda dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Apa salah lo? lo tidak ngaca!! semua kesalahan itu ada pada lo, apa perlu bukti lagi supaya lo mengakui kesalahan lo?"
Miranda menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu apa-apa dengan apa yang terjadi, entah kenapa kemarin Digo memutuskan dirinya secara sepihak padahal di antara dirinya dengan Digo tidak ada masalah sama sekali.
__ADS_1
Iya, sebelum Digo melaksanakan aksinya kemarin, Digo mengirimkan pesan kepada Miranda kalau ia memutuskan hubungan antara dirinya dengan Miranda tentu saja itu lewat pesan yang dikirimkan oleh Digo.
Meskipun sebenarnya itu tidak gentle, namun apa boleh buat karena memang sehari itu Miranda tidak masuk sekolah dan Digo sudah berniat untuk memutuskan hubungan dengan Miranda yang mana Digo sendiri tidak mencintai gadis itu, ia hanya pura terpaksa saja menerima cinta Miranda daripada dirinya risih setiap hari selalu didekati oleh gadis yang tidak malu itu.