My Crazy Husband

My Crazy Husband
Tidak Mungkin Memaafkan


__ADS_3

"Tidak bisa Pah!! Bagaimana mungkin juga memaafkan orang yang sudah membunuh anak Digo dan menjelagai istriku sendiri tentu saja memasukkannya ke penjara itu adalah hukuman yang ringan jadi jangan meminta Digo untuk memaafkan dia apalagi mengeluarkan dia dari dalam penjara."


Emosi, sepertinya memang ia tidak terima jika orang yang sudah menabrak Aruna itu bebas terlebih lagi harus mengorbankan calon anaknya itu hingga membuat ia tidak bisa lagi menata kehamilan Aruna bahkan tidak bisa menahan kehadiran buah hatinya itu.


"Bukan begitu Di papa tau Bagaimana kesedihan kamu tetapi coba kamu pikirkan lagi dia masih sekolah sama seperti kamu dan Aruna dan sebentar lagi dia juga ujian lalu bagaimana dengan nasib dia?"


Papah Adi mencoba menjelaskan semuanya meskipun bila kau jika menantunya itu pasti tidak terima dan akan menuntut laki-laki itu namun sebagai orang tua Papah Adi juga perlu menyadarkan Aruna terlebih lagi kedua orang tua rela juga sudah meminta maaf dan besok akan berkunjung ke sini.


"Apa yang dikatakan oleh Papah mu itu benar bukan karena Papi dan juga Papa itu mengenal baik siapa orang tua dari Remon itu tetapi coba kamu pikirkan lagi jika kamu menjadi orang tua maka bagian mana dan apa yang akan kamu lakukan nantinya mengenai masalah ini."


"Tapi Pi, Papi tau sendiri kalau dia sudah menyebabkan Aruna keguguran dia yang menyebabkan anak aku meninggal dan pastinya tapi kau sendiri bagaimana Aku mengharapkan Aruna hamil tetapi kenyataannya hanya dalam waktu sekejap saja harusnya karena ulah ugala-ugalan dia hingga membuat istri dan anakku seperti ini."


Sepertinya masih begitu sulit bagiku untuk berdamai dengan Remon, ia masih kekeh ingin memasukkan Remon ke dalam penjara apapun alasannya dan bagaimanapun nasib preman nantinya yang jelas ia masih marah masih jengkel dan juga masih ada rasa benci dengan laki-laki itu yang sudah menyebabkan calon anaknya hilang dan membuat Aruna terbaring di rumah sakit.


"Mas......"


Sementara mereka bertiga terdiam sebentar Aruna yang sedari tidur ketika mendengar suara keras dari suaminya akhirnya perempuan cantik itu tergantung saja memanggil suaminya itu dan juga Aruna sendiri tadi sempat mendengar ucapan keras Digo terhadap Papi rendra.


Mendengar panggilan dari istrinya Digo langsung saja mendekati Aruna, ia tahu jika Aruna terganggu dengan suaranya bahkan mungkin saja pikiran Digo, Aruna mendengar semua yang diucapkan olehnya tadi bersama dengan Papi Rendra dan juga Papah Adi.


"Iya sayang ada apa?"


"Aku mau duduk di sofa."


Sepertinya memang Papah Adi dan juga Papi Rendra sedang membicarakan sesuatu maka dari itu a hanya ingin disofa dan ingin tahu apa yang sedang dibicarakan hingga suaminya lagi mengucapkan kata-kata yang keras.


"Ada apa Pah, Pi?"


Aruna kini sudah duduk di atas sofa perempuan cantik itu tentu saja melihat ke arah Papi Rendra dan juga Papa Adi menanyakan apa yang dibicarakan tadi.


"Kedua orang tua Remon tadi sudah menghubungi bapak dan mereka meminta maaf atas kejadian ini dan baru besok mereka akan ke sini karena sedang berada di Singapura. Tentu saja mereka meminta supaya masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan karena Remon juga sudah kelas 3 dan sebentar lagi lulus ujian yang pastinya Mereka ingin berharap yang baik untuk putranya. Mereka juga bertanggung jawab penuh orang tua Remon ingin membiayai rumah sakit ini tetapi papa menolaknya berikut juga dengan Papi kamu dan juga suami kamu yang pastinya tidak mau menerima pemberian dari orang tua Remon itu."

__ADS_1


Aruna menganggukkan kepalanya, ia sudah tidak merasakan rasa marah dan jengkel terhadap laki-laki yang sudah menabraknya itu Aruna bisa berpikir dewasa saat ini mungkin saja memang hari ini hari itu adalah hari atasnya dan juga kehilangan anak yang dari dalam kandungan nya itu adalah takdir. Di mana mereka berdua harus ikhlas dan sabar dan mungkin saja ini adalah petunjuk dari Tuhan jika antara Digo dengan Aruna tidak dulu diberi kepercayaan mereka berdua diminta untuk menyelesaikan sekolah yang lebih dulu dan juga berusia bersikap lebih dewasa nantinya.


"Dan Mas Digo menolaknya?"


"Tentu saja sayang mana mungkin aku menerima permintaan maaf mereka enak saja mereka hanya sekedar meminta maaf dan meminta masalahnya diselesaikan secara kekeluargaan dan membebaskan Remon. Apa mereka tidak tahu bagaimana perasaan aku dan kamu kehilangan anak yang selama ini aku impikan?"


Jawab Digo dengan nada yang masih tinggi tetapi ia berusaha untuk bersikap lembut di depan istrinya itu memegang tangan Aruna supaya Aruna tidak terpukul lagi dan mengingat kejadian kemarin.


"Bukankah mereka memang tidak tahu jika aku hamil dan kejadian kemarin menyebabkan aku keguguran?"


Tidak tahu apa-apa dan pastinya Aruna mengerti jika baik Digo maupun keluarga besarnya itu tidak mengatakan jika kejadian kemarin menyebabkan dirinya keguguran bukan karena mereka semua malu jika Aruna ketahuan hamil atau bagaimana tetapi memang ini adalah urusan pribadi, rahasia keluarga yang memang belum waktunya untuk dipublikasikan.


"Bukan begitu sayang yang jelas Mas tidak mau untuk membebaskan dia apalagi berdamai dengan laki-laki itu sudah jelas dia yang salah dia yang menabrak kamu dia yang membuat kamu begini dia sudah membuat kita kehilangan anak kita sebelum waktunya!!"


Aruna menghela nafas panjang perempuan cantik itu menggelengkan kepalanya pelan gemu kemudian menatap ke arah suaminya tentu saja ekspresi wajah suaminya saat ini terlihat menyeramkan tetapi karena tahu jika Digo tidak sejahat itu.


"Mas, apa yang dikatakan oleh bapak dan juga bapak itu adalah benar Bagaimana jika kita memaafkannya.? Bukan berarti aku membela dia atau bagaimana atau tidak kecewa dengan perlakuan dia sama sekali atau tidak merasa kehilangan anak aku kemarin tetapi aku berpikir lebih baik kita bersikap baik terhadap orang lain dan ikhlaskan semuanya dan juga memang jika tidak karena kecelakaan itu mungkin saja Tuhan akan mengambil anak kita dengan cara lain Dan kita berdua harus bisa menyikapi kejadian kemarin itu dengan melakukan dada dan juga mencoba untuk bersikap dewasa. Lagi pula aku tidak ingin menaruh dendam terhadap siapapun juga termasuk dengan kamu aku ingin kita berdua hidup damai tidak ada maksud sama sekali dan mencoba mengikhlaskan semua kejadian kemarin mungkin saja Tuhan tidak memberikan kepercayaan itu kepada kita saat ini tetapi aku yakin jika Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik nantinya setelah kita benar-benar siap dengan semuanya."


Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Aruna, Digo tidak bisa berkata apa-apa lagi bahkan kedua matanya mengeluarkan air matanya sungguh Digo terharu dengan apa yang diucapkan oleh Aruna dan juga tidak percaya jika istrinya itu bisa bersikap dewasa seperti ini.


Tanpa berkata apa-apa lagi Digo langsung saja memeluk tubuh Aruna, ia benar-benar merasa bangga mempunyai istri seperti Aruna meskipun Aruna sangat manja dan juga kadang menyebabkan tetapi dalam hal ini karena bisa bersifat lebih dewasa daripada dirinya.


"Tapi yank, aku masih jengkel aku masih marah dan aku masih tidak terima dengan perlakuan preman terhadap kamu dan anak kita?"


Digo melepaskan  pelukannya ia kemudian memandang wajah cantik Aruna yang saat ini malam tersenyum ke arahnya.


"Aku sudah bilang jangan terlalu dendam terhadap orang lain dia bukan mencelakakanku kalau bisa dia meminta dia juga tidak akan melakukan itu mungkin saja dia kemarin keburu waktu hingga mengajukan motornya dengan kecepatan tinggi sama seperti aku, aku pun sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi begitu juga dengan dirinya. Anggap semua ini adalah takdir yang harus kita lalui Mas, kamu harus ikhlas dan melupakan semuanya yang penting aku tidak apa-apa kita bisa membuatnya nanti Dan lupakan amarah dan emosimu terhadap Remon."


Ujar Aruna kembali panjang dan lebar ia harus berusaha meyakinkan suaminya supaya bisa membebaskan preman dari dalam penjara tidak ada maksud apapun juga karena Aruna tidak ingin mendapatkan musuh dan ingin hidup tenang selebihnya Aruna akan masyarakat semuanya ia sudah mengikhlaskan kepergian calon anaknya yang sama sekali anak tidak tahu bagaimana bentuk dan juga rupanya yang jelas iya masih berterima kasih karena masih diberi keselamatan.


Digo menghela nafas panjang, ia harus mengiyakan apa yang diucapkan oleh Aruna karena semua ini adalah permintaan rumah mungkin saja jika Aruna tidak meminta seperti ini dibuka artinya tidak akan menurutinya dan akan datang memasukkan Remon ke dalam penjara tidak perlu dengan alasan apapun.

__ADS_1


"Baiklah aku akan tarik semua tuntutanku pada dia dan itu semua aku lakukan demi kamu sayank, Aku tidak mau kamu semakin terpukul dan bersedih lagi."


Aruna tersenyum kemudian ia memberikan satu ciuman di pipi Digo dan tentu saja Haruna berharga benar merasa senang kali ini yang nyatanya suaminya yang keras kepala itu bisa luluh juga tentu saja mulai saat ini mereka berdua akan memulai lembaran baru lagi dengan penuh cerita yang tidak pernah terlupakan dan aroma akan belajar dari kesalahannya kesalahan yang dahulu yang seakan-akan tidak mau menerima anak yang ada di dalam kandungannya ini.


Bukan hanya Aruna saja yang lega tetapi Papi Rendra dan juga Papah Adi pun sama mereka berdua tentu saja tidak ingin ada permusuhan dan juga tidak ingin jika Digo dendam orang lain cukup semua ini dijadikan pelajaran saja untuk kita lebih berhati-hati dan mendekatkan diri kepada Tuhan mungkin saja kejadian kemarin merupakan teguran bagi kita semua yang nyatanya kita memang harus selalu mengingat Tuhan yang pastinya tidak akan pernah menutup Mata terhadap diri kita.


"Baiklah Papa Dan Papi pulang saja, sepertinya Digo sudah bisa untuk menjaga Aruna dan tentu saja kami tidak mau mengganggu kalian berdua."


Ujar Papah Adi yang melihat anak dan menantunya itu sangat mesra dan juga ini sudah malam meskipun memang mereka berdua tidak berniat untuk menginap di rumah sakit ini mencegah Aruna ia pun ingin melihat Bagaimana cara juga membutuhkan sesuatu tetapi kenyataannya Digo sudah cukup untuk menjaga Aurora disampingnya toh juga ada beberapa orang suruhan Papah Adi dan juga Papi Rendra di depan yang menjaga Aruna dan juga siapa tahu memang mereka berdua memerlukan bantuan dan pastinya baik bapak Adi dan juga tapi Rendra tidak ingin mengganggu kemesraan rumah dengan Digo.


"Tapi ingat Di, Aruna tidak boleh diapa-apain dulu pelukannya masih belum sembuh dan pastinya kamu harus berpuasa dulu tidak boleh mengganggu Aruna."


Digo hanya tersenyum tanpa diberitahukan ia sudah tahu jika memang Aruna tidak boleh diapa-apain dulu tetapi masih banyak cara untuk bisa menuntaskan sesuatunya tetapi tidak di rumah sakit ini.


Setelah berpamitan kedua laki-laki paruh baya itu segera keluar dari ruang perawatan Aruna dan kini tinggallah Digo dengan Aruna yang berada di dalam kamar.


"Mau makan lagi yank? atau mau apa nanti aku minta Om Burhan membelikannya."


Om Burhan adalah orang kepercayaan dari kapal as di yang memang diminta untuk berjaga di depan tidak mungkin jika Digo malam-malam pergi keluar untuk mencarikan sesuatu untuk Aruna bukan karena ia tidak mau tetapi ia hanya ingin berada di samping Aruna tidak ingin meninggalkan istrinya bareng sebentar saja.


"Tidak perlu mas, makanan dan minuman di sini sudah banyak lagi pula aku belum lapar Aku hanya ingin berada di sampingmu saja."


Mereka berdua masih berada di sofa dan tentu saja Aruna menyandarkan kepalanya di pundak digoyang pastinya keduanya saat ini merasakan sesuatu yang benar-benar bahagia meskipun terjadi insiden yang begitu menyesakkan hati tetapi semuanya akan tergantikan dengan senyuman asalkan ikhlas menjalaninya.


"Aku bahagia banget sayang aku malah bangga sama kamu Kamu bisa bersikap dewasa seperti itu tadinya kalau tidak kamu yang meminta Aku tidak akan memaafkan laki-laki itu bahkan aku akan memasukkannya ke penjara dalam waktu yang lama tetapi karena permintaan kamu, aku Luluh .. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika itu keluar dari mulut kamu."


Aruna tersenyum masih dengan posisi yang sangat nyaman sekali.


"Sebenarnya aku pun sama, Jujur saja dari awal aku merasa jengkel marah dan juga emosi terhadap dia yang sudah membuat aku kehilangan anak aku tetapi setelah aku pikir-pikir dengan menjebloskannya ke penjara dalam kurun waktu yang lama dan tidak memaafkannya itu juga tidak akan mengembalikan anak kita lagi semuanya sudah takdir Dan aku mencoba ikhlas aku mencoba pasrah untuk menghadapi semua ini Aku percaya pasti ada hikmah dibalik semuanya ini dan aku juga percaya suamiku pastinya akan kuat menghadapi semuanya ini begitu juga dengan aku."


Cup

__ADS_1


Lagi Dan Lagi Digo merasa terpesona dengan ucapan istrinya dalam keadaan seperti ini Aruna bisa bersikap dewasa padahal di tahun yang paling terpukul di sini adalah aronan arona yang sudah mengandung buah cintanya itu meskipun hanya mengandungnya kurang lebih 2 bulan saja tetapi pastinya bagaimana perasaan seorang ibu jika kehilangan anak yang ada di perutnya yang sudah ia jaga yang sudah ia impikan dan inginkan kelahirannya.


Melihat ekspresi Aruna yang tenang dan juga ikhlas di kebun mencoba untuk seperti Aruna mencoba ikhlas meskipun itu sebenarnya yang sulit tetapi ia tidak mau jika Aruna terbebani dengan apa yang ia lakukan cukup Digo mengambil hikmah dari semuanya seperti apa yang diucapkan oleh Aruna dan tidak menaruh dandan kepada siapapun juga.


__ADS_2