
Digo berlari dan meraih tubuh Aruna, laki-laki itu tidak mau kehilangan istrinya meskipun bisa dilihat di depan matanya tetapi ia tidak melewatkan sedikitpun untuk bersama dengan Aruna.
"Ih sayang mau ke mana? ditanya malah diam aja.. lagian kenapa kamu lewat sana padahal aku ingin kita lewat pintu sebelah situ. Aku ingin ajak kamu jalan-jalan memutari arena ini."
Tangan Aruna pun ditarik tangan oleh Digo dan langsung saja menoleh ke arah suaminya, ia tersenyum malu malu bukan karena tidak mau bersama dengan Digo, tetapi rasanya aneh saja saat ini setelah Aruna menyatakan cinta nya pada Digo.
"Mau ke mana sih yank, lewat sini aja sembari kita pacaran dulu?"
"Mau ke mana ya? mau pulang lah Di, Kamu nggak lihat ini sudah jam berapa? lagi pula nanti kita dicariin Mami, bagaimana juga Kamu belum bilang sama mami kalau sudah pulang dari Jepang."
Tidak mau menjawab ucapan dari Aruna, Digo langsung saja menggenggam erat tangan Aruan, laki-laki itu membawa Aruna untuk naik ke motor besarnya.
"Jangan memikirkan tentang Mami, dan yang lainnya aku sudah menghubungi Mami dan mengatakan jika aku bersama dengan Kamu pastinya kita tidak akan pernah dicarinya."
Enteng sekali ucapan dari Digo yang mana ia malahan belum sama sekali menghubungi kedua orang tuanya bahkan Digo juga belum memberikan kabar jika ia sudah kembali, tetapi Digo yakin jika Papinya tahu tentang kepulangannya meskipun ia juga belum mengabari tentang kondisinya saat ini yang sudah berada di Jakarta.
Digo juga sangat yakin jika orang surahan Papinya itu sudah tahu tentang dirinya malam ini yang terlibat dengan Nathan karena Digo yakin Papinya itu bukan sembarang orang tua yang pastinya selalu memata-matai dirinya maupun Nathan.
Namun Digo juga tidak masalah, laki-laki itu akan menjawab semua pertanyaan orang tuanya nanti atau mungkin jika dimarahin juga didengarkan, karena memang baik dirinya maupun Nathan juga salah.
Dengan manisnya Digo memakaikan helm untuk Aruna, yang memang helm nya cuma satu tetapi ia lebih memilih supaya Aruna saja yang memakai helm itu daripada dirinya.
__ADS_1
Tetapi baru saja helm itu berada di kepala Aruna, Aruna langsung menggelengkan kepalanya, tangannya juga segera meraih helm itu dan langsung membukanya, bukan karena ia tidak mau menerima helm dari Digo dan memakainya, tetapi rasanya aneh sekali .. yang di depan malah tidak menggunakan helm sedangkan dirinya yang di belakang malah memakai helm.
"Kenapa yank? pakai kamu saja bahaya loh jika nggak pakai helm?"
Digo merasa heran mengapa istrinya mau membuka helmnya sepertinya Aruna juga tidak mau memakai helm itu.
"Aku tahu bahaya lagi pula buat apa aku pakai helm kalau kamu tidak, bukankah itu juga sama-sama bahayanya, lagi pulang sepertinya tidak pakai helm juga nggak masalah toh kita bisa lewat jalan tikus malam ini ataupun lewat tengah kota juga nggak apa-apa, ini lagi pula sudah malam pastinya tidak ada polisi yang berjaga-jaga dan kalau memang ditilang kamu berikan saja duit yang banyak, pasti dengan sogokan semuanya sudah beres."
Aruna mengucapkan itu tanpa berdosa sama sekali meskipun memang itu kenyataannya terlebih lagi sekarang ini apapun yang tidak dibeli dengan uang walaupun itu adalah tindakan yang salah tetapi tidak masalah lagi pula malam-malam begini memang tidak ada polisi yang akan menilangnya tetapi bukan masalahnya ditilang atau akan mengeluarkan uang banyak namun untuk keselamatan Aruna, Digo memikirkan itu saja.
"Nakal!!"
Digo mencubit gemas hidung Aruna, dan yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar tetapi tidak begitu juga karena yang terpenting saat ini adalah keselamatan Aruna bukan seberapa banyak ia akan mengeluarkan uangnya.
Dengan cepat Aruna menaruh helm di atas kursi dan tentu saja perempuan cantik itu langsung saja duduk di atas jok motor Digo yang Digo sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Yakin ini nggak mau pakai helm?"
"Iya Di, kalau aku nggak yakin ngapain juga aku taruh helm kamu di sini, lagi pula nggak papa kan helmnya aku tinggal?"
"Nggak papa sayank daripada kamu malah bawa helm dan nanti tidak bisa meluk Aku, lebih baik tinggal di sini saja."
__ADS_1
Setelah Aruna siap, Digo langsung saja melajukan motornya ia tidak ingin melakukan motornya dengan kecepatan yang kencang karena ia ingin menikmati malam ini bersama dengan istrinya.
Sebelum keluar dari arena balapan itu, Digo berkeliling arena, cukup tiga kali putaran yang mana sudah membuat Aruna dan dirinya merasa senang.
Setelah cukup membawa Aruna melintasi arena balapan laki-laki itu segera keluar dari arena itu dan langsung saja ke sebuah cafe di mana memang perutnya lapar sekali.
"Sayank makan dulu ya, aku lapar."
Tentu saja Aruna hanya mengucapkan iya saja karena ia juga lapar, tadi siang sudah makan bersama dengan Vina namun karena tegang dan sebagainya jadi lapar, lagi pula memang ini sudah terlewat dari jam makan malamnya.
Sepanjang perjalanan, Digo tidak melepas genggaman tangan Aruna yang saat ini melingkar di perutnya rasanya benar-benar tidak sama seperti yang biasanya ia lalui bersama dengan Aruna dulu.
Apa karena Aruna yang benar-benar membalas cintanya yang membuat Digo merasa bahagia dan juga merasa berbeda? Entahlah memang itu mungkin kenyataannya.
Hingga akhirnya tidak lama di mereka sudah sampai di cafe, cafe yang belum tutuo sama sekali karena ini adalah malam minggu dan pastinya suasana di cafe itu juga sangat ramai.
"Kenapa kita ke cafe ini Di? bukannya nanti membuat kamu cemburu dan marah?"
Aruna dan Digo belum beranjak dari motornya terlebih lagi Aruna yang merasa heran mengapa Digo membawanya ke cafe Ivan, di mana Digo tau sendiri jika Ivan menaruh rasa padanya, apa tidak salah suaminya membawa ke sini atau mungkin ada rencana lain dari Digo untuknya malam ini?
"Cemburu sih memang iya, tetapi aku yakin jika istriku tidak akan termakan oleh bujuk rayuan dari Ivan atau laki-laki lain, karena istriku sudah mencintai aku dan pastinya aku akan menunjukkan sesuatu malam ini di depan semua orang dan di depan Ivan juga, biar mereka tahu kamu adalah milikku satu-satunya dan selamanya supaya tidak ada lagi laki-laki yang berani merebut kamu dariku."
__ADS_1
"Maksudnya Di? jangan macam-macam ya meskipun aku sudah mencintai kamu tetapi aku tidak ingin semua orang tahu bahwa kita sudah menikah."
Ya bukan apa-apa tetapi Aruna masih canggung saja dengan kondisinya yang sudah menikah dengan Digo , bukan malu atau bagaimana atau tidak mau mengakui Digo sebagai suaminya, tetapi Aruna takut saja dengan fans Digo yang begitu banyaknya nanti akan menyerangnya terlebih lagi ia masih sekolah masih kelas 11 dan ingin menikmati masa mudanya bersama temannya, tidak ingin semua tahu jika dirinya dan Digo sudah menikah yang nantinya semua orang akan berpikir yang negatif tentang dirinya.