My Crazy Husband

My Crazy Husband
Gara Gara Kamu!!


__ADS_3

"Ayo Di, hari ini aku piket kelas, aku tidak mau kena marah teman-teman, sudah tahu kan kalau teman-teman di kelas itu bagaimana?"


Sedari tadi Aruna menggerutu kesal nampaknya suaminya telat bangun tetapi tidak dengan Aruna. Perempuan cantik itu sudah bangun 1 jam yang lalu dan bergegas ke kamar mandi tetapi tidak dengan suaminya yang entah mengapa Digo tidak bangun pagi bahkan Aruna mencoba membangunkan Digo berkali kali tetapi kenyataannya laki-laki itu hanya diam, tidak bergeming sama sekali.


"Sabar sayank, aku nanti akan ngebut.. kita pakai motor saja supaya cepat sampainya lagi pula ini juga gara-gara kamu."


Digo dengan santainya mengatakan itu, laki-laki itu tersenyum manis kepada istrinya bahkan saat ini malah menggoda Aruna yang semakin kesal padanya.


Terlebih lagi Digo mengingat pertempuran semalam sampai hampir pagi, yang membuat ia jadi bangun terlambat dan itu semua gara-gara Aruna, karena tubuh Aruna membuatnya candu dan memangsa Aruna lagi dan lagi hingga tidak membiarkan Aruna untuk tidur semalaman ini.


"Gara-gara aku? kamu gila? kamu sendiri yang berulah semalam mengapa menyalahkan aku, ayo cepat aku tunggu di bawah sepertinya kita tidak bisa sarapan!!"


Semakin bertambah kesal saja Aruna kepada suaminya manakala suaminya malah menyalahkan dirinya meskipun Aruna tahu jika Digo itu mengatakan hanya dengan bercanda dan dengan senyuman manis yang ditunjukkan bukan keadaan yang serius.


Tetapi lagi dan lagi Aruna tidak mau disalahkan jelas-jelas semua ini salah suaminya kenapa malah melemparkan kesalahan kepada dirinya.


Setelah Aruna meninggalkan Digo di dalam kamar Digo segera mengambil kunci motornya, ia berlari untuk mengejar istrinya. Digo sejak tadi bersikap santai karena memang ia tahu tidak akan terlambat untuk datang ke sekolah bahkan Aruna pun bisa piket untuk pagi ini.


"Pelan-pelan sayank, jangan lari nanti kamu jatuh. Lagi pula aku jamin jika kamu tidak akan telat masuknya."


"Sudahlah Di, jangan ngomong terus... semakin kamu ngomong, aku semakin pusing lagi pula kamu santai banget.."

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak santai, kamu tidak lihat jamnya masih panjang sayank, lagi pula sudah aku bilang ini semua gara-gara kamu kalau kamu tidak membuat aku kecanduan mana mungkin aku akan membiarkanmu tidak tidur."


"Astaga.. kamu benar-benar gila Di, semua salah aku iya iya salah aku, awas aja nanti malam kalau kamu minta ... aku tidak akan memberikannya dan lebih baik kamu tidur di luar saja biar aku tidur sama Mami."


"Oh tidak tidak mana bisa begitu, awas saja kalau sampai kamu berani tidur di kamar Mami, aku pasti tidak akan membiarkanmu keluar dari dalam kamar, aku akan mengurungmu sehari semalaman di sana."


"Dasar gila!!"


Keduanya masih saling berdebat pagi ini dengan keduanya yang sama-sama turun dari atas tangga, meskipun Digo kena omelan dari istrinya tetapi ia sama sekali tidak marah ataupun emosi menghadapi Aruna bahkan laki-laki itu memang sengaja untuk membuat Aruna cerewet pagi ini dan tentunya dengan Aruna seperti ini akan menumbuhkan rasa cinta Aruna kepada dirinya.


Meskipun mereka berdebat tetapi tangan Digo seraya menggandeng lembut tangan Aruna, ia tidak akan membiarkan istrinya itu terjatuh dari atas tangga karena Aruna bergegas berjalan dengan tergesa-gesa.


"Astaga ...mereka kenapa pagi pagi begini sudah ribut saja... Kalau tahu seperti ini Mami tidak akan ajakin Aruna ke salon kemarin!"


Dan mendengar obrol-obrolan yang tidak berfaedah antara Digo dan Aruna. Terlebih lagi Mami Nina yang menggelengkan kepalanya, rasanya ia menyesal memaksa Aruna untuk pergi ke salon kemarin karena Mami Nina tau betul apa yang diributkan oleh Digo dan Aruna pagi ini.


"Hahaha memang anak kamu itu Mi selalu ketagihan dan membuat istrinya marah-marah, sudah tahu pagi-pagi harus ke sekolah, Digo langsung saja tancap gas dan tanpa jeda memangsa istrinya."


Ujar Papi Rendra yang paham betul dengan apa yang sudah Digo lakukan kepada istrinya, bahkan Papi Rendra malahan menertawakan ulah Digo dan Aruna pagi.


"Dan itulah kalau masih sama sama kecil menikah, yang ada ribut Mulu..."

__ADS_1


Tambah Papi Rendra lagi seperti nya beliau masih ingin menggoda putra bungsunya yang sudah menikah bahkan sudah lebih dulu memperkosa Aruna.


Sedangkan Nathan di sana hanya menjadi pendengar setia antara Mami Nina dan juga Papi Rendra begitu juga mendengarkan apa yang diobrolkan oleh Digo dan Aruna hingga terdengar sampai ke ruang makan ini.


"Jangan berdebat melulu, kalian sarapan dan setelah itu pergi ke sekolah lagian kamu juga Di kebangetan, sudah Mami peringatkan semalam, jangan lakukan itu sampai pagi tapi kenapa malah kamu lakukan, alhasil kamu tidak lihat istri kamu cemberut seperti itu."


Aruna menundukkan kepalanya bahkan ia sama sekali malu untuk menatap ke arah Maminya di mana obrolannya tidak sengaja didengar oleh kedua mertuanya dan juga Nathan, apalagi obrolan tentang begituan yang mana tidak seharusnya mereka ributkan.


"Kayak Papi tidak pernah saja, Mami kan juga sama seperti itu setiap kali habis ke salon pastinya Papi tidak akan melepaskan Mami dari dalam kamar."


Mami Nina hanya melototkan matanya percuma berbicara dengan Digo yang mana memang sebenarnya sifat dari Digo itu diturunkan dari Papi Rendra, tetapi tidak seperti itu meskipun apa yang dikatakan oleh Digo benar namun Papi Rendra mempunyai batas, tidak memang berulang-ulang seperti yang dilakukan Digo saat ini.


"Sudah sudah.. mendingan kalian berdua sarapan jangan dengar ocehan Mami mu, laki-laki memang seperti itu jika sudah cinta dan ketagihan dengan istrinya pasti semua akan dilakukan bahkan tidak tidur semalam pun tidak masalah."


"Kamu juga besok begitu Than, makannya cepat-cepat cari istri biar bisa merasakan nikmatnya surga dunia tidak hanya menjadi pendengar setia saja."


Nathan hanya tersenyum, ia melirik sedikit ke arah Aruna yang saat ini duduk di samping Digo dengan mengambil susu untuk diminumnya. Lagi dan lagi Nathan masih belum bisa melupakan Aruna terlebih lagi saat ini Mami Nina meminta kepada Nathan untuk kembali tinggal di rumah ini yang mana akan membuat dirinya bertemu dengan Aruna setiap hari dan itu akan sulit untuk Nathan melupakan Aruna.


"Maaf Mi, Pi...sepertinya kami hanya minum susu saja karena Aruna sudah telat, lagi pula kalau sarapan nanti bisa-bisa aku tidur di luar nanti malam dan tidak diberikan jatah."


Sepertinya Digo paham arti dari tatapan Aruna barusan yang mana Aruna memberikan kode untuk tidak ikut sarapan di mana Aruna tidak enak jika menolak ajakan Mami dan Papinya, tetapi dirinya juga kalau ikut sarapan akan telat berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Ya sudah cepat kalian pergi dan tidak usah ngebut, waktunya masih panjang!!"


Mami Nina dan Papi Rendra hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar apa yang diucapkan oleh Digo barusan, entah itu kenyataan atau tidak namun melihat Digo yang begitu perhatian kepada Aruna membuat mereka berpikir jika memang pernikahan ini yang diinginkan oleh Digo dan Digo benar-benar mencintai Aruna dan menyayangi Aruna, bukan hanya semata-mata untuk bertanggung jawab saja terhadap apa yang sudah dilakukannya.


__ADS_2