My Crazy Husband

My Crazy Husband
Yang Ketiga


__ADS_3

Di dalam mobil, Aruna masih kepikiran tentang suaminya, siapa tahu Digo melihat Rian sudah masuk ke dalam mobil Vina dan mengambil alih setir kemudi. Aruna sadar diri jika suaminya itu berada dalam posisi dan cemburuan, ia takut saja jika Digo marah-marah apalagi sampai membuat perhitungan dengan Rian, Aruna tidak mau jika gara-gara dirinya kedua laki-laki itu saling pukul memukul.


Berbeda dengan Ryan, laki-laki itu tampak tersenyum penuh kemenangan. Baru kali ini ia bisa satu mobil dengan Aruna meskipun dari dulu ia sudah dekat dengan Aruna tetapi Aruna tidak mau pergi berduaan dengan Ryan dan banyak alasannya meskipun Aruna memang dulunya itu jomblo.


Tapi saat ini bisa berdua di dalam mobil bersama dengan Aruna adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Ryan meskipun ia sadar jika perempuan yang ada di sampingnya ini sudah mempunyai pacar bahkan juga mendengar jika Aruna dan Digo sudah bertunangan. Ya hanya sebatas tunangan saja yang Rian dengar bukan kabar pernikahan antara Digo dengan Aruna.


Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ryan itu sudah sampai di parkiran Rumah Sakit, Aruna dan Vina bergegas untuk keluar dari mobil itu karena mereka berdua tidak ingin berlama-lama di dalam mobil bukan karena tidak suka dengan Ryan tetapi takut saja jika malahan Ryan menambah obrolannya menjadi panjang dan lebar.


Aruna berjalan di samping Vina, tentunya sahabat Aruna itu sengaja supaya Aruna tidak bersampingan dengan Rian, ia baru menyadari jika apa yang dilakukannya ini salah dan mengandung bahaya takutnya jika Digo lagi lagi melihat Aruna jalan bersama dengan Ryan.


"Sorry Run, gue nggak ingat kalau lo udah sama Digo, seingat gue.. lo itu jomblo dan Ryan deket sama lo."


Bisik Vina di telinga Aruna, gadis cantik itu mengekspresikan wajahnya se menderita mungkin supaya Aruna tidak marah padanya, karena Vina yakin jika sahabatnya itu pasti akan memarahinya nanti setelah Ryan pulang.


"Maaf diterima, tapi jika nanti Digo marah-marah, lo yang harus tanggung jawab, Lo tau sendiri kan dia itu kayak gimana?"


"Santailah jangan takut, tinggal nanti malam lo kasih ituan pasti juga akan luluh ya si ketos itu. Memang Digo di luar nya saja seperti itu tidak pernah tersentuh oleh perempuan tetapi jika sudah di dalam kamar sama lo berubah dan tentunya hanya lo yang bisa meluluhkan hatinya."


Bayangin saja, gue sudah ngeri apalagi melakukannya terlebih jika digo yang cemburu pasti dia tidak akan pernah berhenti untuk membuat gue menjerit...


Aruna bergidik ngeri sendiri, bagaimana nanti malam jika memang benar-benar itu terjadi, terlebih mata-mata Digo itu ada banyak meskipun suaminya tidak menghubunginya atau tidak marah-marah di ponsel tetapi Aruna yakin jika Digo pasti melihat Rian bersama dengan dirinya.


"Jangan dipikirin dan nggak usah bayangin, Digo melakukan seperti itu karena dia sayang dan cinta sama lo meskipun Digo cemburu dan posesif nya itu berlebihan, tetapi gue yakin hanya Lo satu-satunya yang diinginkan oleh Digo".


Aruna tidak menanggapi ucapan Vina, jika ditanggapi maka sahabatnya itu pastinya tidak akan berhenti dan terus-menerus membahas tentang Digo, sementara Aruna sendiri masih ngeri-ngeri sedap membayangkan hubungan nanti malam dengan Digo.


Mereka bertiga sudah sampai di ruang perawatan Bagas di mana teman-teman yang lainnya sudah berada di sana dan tentunya setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan Bagas dan kedua orang tua Bagas akhirnya semuanya pamit undur diri, mereka tidak ingin mengganggu istirahat Bagas karena memang Bagas masih butuh istirahat dan belum pulih.


Lagi dan lagi Aruna, Ryan dan juga Vina berada dalam satu mobil entah mengapa Rian senang sekali bersama dengan Aruna dan Vina, pada hal jelas-jelas sudah ada teman-teman dari Ryan yang membawa mobilnya dan pastinya Rian bisa memakai mobilnya sendiri dan pulang dengan teman-temannya.


Aruna pun tidak akan membahas tentang ini, tidak mungkin jika ia mengatakan itu kepada Rian, nanti Rian berpikir jika dirinya mengusir Ryan dan tidak mau bersama dengan Ryan.


Hingga akhirnya Rian kembali mengemudikan mobil milik Vina, laki-laki itu mempunyai rencana untuk mengajak Aruna dan Vina makan terlebih dahulu sebelum pulang, toh juga waktunya belum terlalu malam masih ada waktu 1 sampai 2 jam untuk sedikit ngobrol-ngobrol dengan gadis pujaannya itu.


"Loh kenapa ke sini Yan?"


Tentunya Aruna melongo ketika tiba-tiba Rian membelokkan mobilnya tepat di kafe di mana cafe itu adalah milik dari Ivan dan sebelumnya Rian tidak mengatakan apapun juga. Aruna berpikir jika Ryan melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah Ryan hingga nanti dirinya yang akan diantarkan oleh Vina ke rumah mertuanya itu.


Tetapi tidak disangka jika Ryan malah membelokkan mobilnya ke sebuah cafe tempat di mana Aruna sendiri suka nongkrong di sana dan terakhir kali ia pergi di kafe ini bersama dengan Digo yang tentu saja Aruna masih mengingat bagaimana cemburu dan posesifnya suaminya itu ketika bertemu dengan Ivan.


"Makan dulu ya sambil ngobrol-ngobrol lagi pula belum terlalu malam."

__ADS_1


Tanpa bertanya, Ryan dengan seenak jidatnya langsung keluar dari mobil setelah mengatakan itu kepada Aruna, laki-laki itu sepertinya memang sengaja dan cuek betul dengan pemikiran Aruna yang mana Aruna masih melongo antara ia mau turun atau tidak.


"Gimana kalau Digo tau bisa gawat terlebih lagi ini cafe milik Ivan?"


"Ya udah deh sudah terlanjur basah, lagi pula gue juga laper.. lo juga tadi siang belum makan, terima aja.. lagi pula bukan lo berdua sama Rian ada gue di sini."


Bener juga apa yang dikatakan oleh Vina, terlebih ia juga lapar tadi waktu istirahat tidak makan di kantin gara-gara mengerjakan tugas dan kali ini sudah berada di depan cafe tentunya tidak mungkin jika Aruna menolak apa yang dilakukan oleh Rian apalagi sudah ada Vina di sini yang pastinya Aruna punya alasan yang banyak jika nanti suaminya cemburu.


Sementara Rian sudah berada di dalam, laki-laki itu sudah menuju tempat favoritnya di mana memang kafe ini bukan hanya tempat nongkrong Aruna dan Digo saja tetapi Rian juga sering ke sini bersama teman-temannya dan pastinya Rian juga mengenal pemilik dari cafe ini.


"Silakan pesan, nanti aku yang bayar .. pesan saja sesukamu Run."


Ujar Rian kepada Aruna tentunya laki-laki itu begitu gembira bisa berduaan dan menatap wajah cantik Aruna.


Aruna menganggukkan kepalanya, ia tidak perlu melihat daftar menu karena menu di cafe ini sudah di luar kepala Aruna dan pastinya ada beberapa menu favorit Aruna.


Begitu juga dengan Vina, ia yang suka makan seperti Aruna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini selagi ada yang mentraktir pastinya ia akan memanfaatkannya.


Bukannya itu Aruna? tetapi kenapa dengan Rian? bukannya Aruna pacaran sama Digo atau jangan-jangan Aruna selingkuh di belakang Digo dan berhubungan dengan Rian. Kalau begitu aku juga mau jika memang Aruna menerimaku dan aku akan menyembunyikan hubungan ini.


Tanpa sadar Ivan yang sedang melihat kesekeliling cafe menatap ke arah pojok di mana di sana ada Aruna, seseorang yang dicintainya tetapi tidak bisa dimiliki, dan anehnya Aruna bersama dengan satu orang laki-laki tentunya Ivan mengenal betul siapa laki-laki itu.


Hingga Ivan yang penasaran langsung saja menghampiri ketiga anak manusia itu tentunya dengan mengatakan sesuatu yang ada di dalam pikirannya.


"Loh kalian ada di sini dan ini kenapa kamu bersama dengan Ryan? jangan jangan kamu dan Rian pacaran? lalu Digo di kemanain? atau kalian berdua berselingkuh? wah kalau begitu Aku juga mau dong jadi yang ketiga untuk kamu?"


Celetuk Ivan tiba-tiba yang entah dia datang dari mana yang jelas Ivan sudah berdiri di samping Aruna dan tentu saja mengatakan sesuatu yang membuat Aruna dan yang lainnya melongo.


Ivan tentunya memberondong pertanyaan yang panjang dan lebar yang membuat Aruna menggelengkan kepalanya pelan, ia juga tidak tahu apa yang ada dipikirannya Ivan saat ini yang mana malah memberikan pertanyaan yang tidak berbobot.


"Kak Ivan ngawur dan lagi pula pertanyaannya kenapa nggak satu-satu? kalau satu-satu kan aku bisa jawabnya?"


"Habisnya aku kaget, bukannya kaget tentang kedatanganmu malah Aku senang kamu datang ke sini setelah beberapa hari yang lalu bersama dengan pacar kamu itu kamu tidak datang lagi ke sini, tetapi yang bikin aku kaget kenapa kamu datang dengan Rian, apa pacar kamu tidak cemburu? Dan pastinya Aku penasaran Ada apa hubungan kamu dengan Rian kenapa bisa berdua di sini?"


"Bukan berdua Kak, apa Kak Ivan tidak melihat ada Vina di sini? Lagi pula kalau aku pergi dengan laki-laki lain apa itu dikatakan jika aku menjalin suatu hubungan dengan laki-laki? itu tentu saja tidak.. dan Kak Ivan jangan berpikir yang mengacam-macam.. apa itu tadi selingkuh atau mau jadi yang ketiga? itu tidak ada di kamus aku, lagi pula ini aku tidak sengaja ke sini tadi habis menjenguk Bagas ke rumah sakit, jadinya mampir ke sini."


Aruna menjelaskan sedikit, tentunya ia tidak mau jika Ivan salah paham dan mengira jika dirinya benar-benar selingkuh dari Digo dan itu akan membuat peluang bagi Ivan untuk bisa masuk ke dalam dirinya karena menurut pemikiran Ivan, jika Aruna bisa menerima Ryan pastinya Aruna juga mau bersama dengan dirinya.


Ivan manggut manggut, padahal ia sudah berpikir jika Aruna selingkuh dari Digo dan ada hubungan dengan Ryan berarti ia juga bisa menjadi yang ketiga atau yang ke berapa tidak masalah, asalkan ia bisa berpacaran dengan Aruna dan bisa setiap hari bertemu dengan Aruna.


"Oh kirain kalian ada hubungannya.. tapi kalau misal tidak, aku mau Run jadi yang kedua tidak apalah, hubungan kita tidak perlu diketahui orang lain yang penting kamu jadi pacar aku, bagaimana?"

__ADS_1


"Ngarang.. nggak ..nggak..."


Sepertinya Aruna menyesal telah menerima ajakan Rian untuk makan siang di cafe ini yang nyata-nyatanya malahan ada Ivan yang ikut bergabung di dalam sini.


"Lagi pula Bang Ivan itu kenapa? sudah tahu jika Aruna sudah punya pacar tetapi Bang Ivan masih mepet terus, apa tidak ada perempuan lainnya lagi?"


Ledek Rian kepada Ivan tentunya laki-laki itu juga tahu bagaimana perasaan Ivan kepada Aruna yang pastinya bukan hanya dirinya saja yang jatuh cinta dengan Aruna, tetapi ada Ivan atau bahkan ada laki-laki lainnya.


"Halo.. kalau kayak kamu nggak saja, emangnya aku nggak tahu kalau kamu juga suka sama Aruna?. Kita ini sama-sama laki-laki yang patah hati ketika mendengar Aruna jadian sama Digo dan aku juga masih tidak menyangka hal itu, aku pikir Aruna tertarik sama aku karena waktu aku dekati dia juga baik-baik saja, namun kenyataannya..."


"Hahaha kalau begitu kita senasib tapi tidak apalah Bang, selama jalur kuning belum melengkung .. pacar orang bisa ditikung..."


Kembali lagi Ryan mengucapkan slogan itu padahal tadi siang ia yang memarahi Remon untuk memintanya menikung Aruna, namun kali ini di depan Ivan, Rian malah bersemangat dan mengkompori, tentunya ia juga tidak mau kalah dari Ivan yang masih mengharapkan Aruna.


"Betul itu.. selama jalur kuning melengkung pacar orang bisa ditikung, melengkung saja bila diluruskan apalagi yang belum..."


"Kalian semua pada gila, kayak nggak ada stok perempuan saja di dunia ini!"


Vina yang tadinya diam ikut-ikutan bersuara, ia tahu jika Aruna saat ini kesal terhadap Ivan dan juga Ryan yang mana masih saja mengharapkan Aruna.


"Perempuan di dunia ini banyak, yang cantik banyak yang baik hati banyak tetapi yang bisa masuk di hati cuma Aruna, kalau seperti itu bagaimana? meskipun Aruna mempunyai saudara kembar, yang pastinya tidak ada yang bisa membuat hati aku luluh seperti Aruna..."


Ryan mulai mengeluarkan jurus rayuannya padahal ia tahu jika seberapa banyak pujian yang diberikan untuk Aruna, laki-laki itu yakin Aruna tidak sama sekali tertarik, ia sudah mengenal Aruna lama yang pastinya Aruna sendiri bukan tipe perempuan yang haus dengan rayuan dan gombalan dari laki-laki.


"Duh kenapa bisa sama sih Yan, aku juga seperti itu loh..."


Sedangkan Aruna yang dibicarakan saja hanya diam sembari menikmati makanan di mejanya, ia sama sekali tidak memperdulikan kedua laki-laki yang saat ini sedang menggibah tentang dirinya, terserah mereka mau berkata apa yang penting saat ini perutnya lapar menjadi kenyang dan juga mencintai seseorang itu adalah hak mereka, Aruna sendiri tidak bisa untuk melarangnya tetapi sebisa mungkin Aruna akan menjaga sesuatu yang sudah dimiliki, ia sadar betul meskipun ia belum mencintai Digo, namun sebenarnya Aruna sadar kalau ia sudah mempunyai ikatan yang tidak bisa dipisahkan dengan apapun juga karena Aruna yakin kalau pernikahan yang dijalani bersama Digo ini akan langgeng dan Aruna juga tidak berniat untuk berpisah atau selingkuh dari Digo meskipun ia masih membenci laki-laki itu.


Satu jam telah berlalu mereka semua sudah menghabiskan makanan yang ada di atas meja, tentu saja Ivan yang sedari tadi masih berada di sana mengamati wajah cantik Aruna yang mungkin jarang datang ke sini.


"Bagaimana tawaranku kemarin?"


"Aku sebenarnya tidak masalah tetapi Kak Ivan tau sendiri bagaimana posisiku saat ini tentu saja Digo melarang dan tidak mengizinkan aku."


"Sudah aku duga pastinya pacar kamu itu tidak akan pernah mengijinkanmu.."


"Ya begitulah, Kak Ivan kan tau bagaimana watak Digo."


"Aku tahu tetapi dia hanya pacar kamu saja tidak berhak untuk semuanya lagi pula kamu hanya sekedar untuk menyalurkan hobi saja tidak untuk mencari uang."


Bukan hanya sekedar pacar tapi Digo adalah suamiku bagaimanapun dia berhak atas diriku, jika Digo tidak mengizinkan maka aku juga tidak akan pernah berani melangkah, bisa gawat Jika Aku membantah apa yang diucapkannya.

__ADS_1


__ADS_2