My Crazy Husband

My Crazy Husband
Buat Dedek


__ADS_3

"Sayank, mau makan dulu atau langsung ke rumah Mama?"


Tanya Digo yang saat ini sudah mengemudikan mobilnya dan keluar dari gerbang sekolah tentunya ia tidak ingin membuat istrinya kelaparan meskipun tadi siang ia dan Aruna sudah makan dan pastinya perut masih kenyang.


"Langsung pulang saja Di, aku masih kenyang.. tapi ini beneran nggak apa apa ya, aku belum pamit sama Mami."


"Nggak apa apa sayank, aku sudah pamitan."


Tangan kiri Digo mengusap lembut pipi Aruna tentunya ia tahu jika istrinya itu merasa tidak enak karena lupa berpamitan dengan kedua orang tuanya tetapi tidak masalah, kedua orang tua Digo bukan tipe orang yang kaku yang apa-apa harus tahu dan harus minta izin dulu.


Lagi pula Digo juga sudah berpamitan dan mengabarkan kedua orang tuanya jika pulang sekolah langsung saja menginap di rumah kedua orang tua Aruna dan mungkin saja pulangnya Senin sekalian berangkat dari sekolah.


Tidak begitu lama karena jalan yang ditempuh Digo tidak menggunakan jalan yang macet, laki-laki itu memilih jalan pintas supaya ia dan Aruna tidak terjebak macet dan akan membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah Aruna.


Hingga akhirnya keduanya sudah sampai di rumah Aruna dengan Pak satpam segera membukakan gerbang pintu karena tahu siapa yang datang.


Aruna membuka sabuk pengamannya begitu juga dengan Digo tetapi laki-laki itu tidak lantas turun, bahkan ia menahan tangan Aruna supaya tidak turun duluan.


"Sayank, jangan berpikir macam-macam.. aku tidak mengatakan status hubungan kita yang sudah menikah kepada Riyan, bukan karena aku tidak mau mengakui kamu sebagai istriku atau aku malu mengakui kalau kita sudah menikah tetapi aku menjaga perasaan kamu, aku tidak ingin semua orang tahu status kita dan itu semua karena permintaan kamu, tetapi jika kamu menganggap yang tidak tidak dan berpikiran buruk denganku, Aku akan mengatakan semuanya kepada semua orang bahkan kita akan menggelar resepsi pernikahan dalam waktu dekat. Jadi jangan berpikir yang macam-macam karena sebenarnya aku ingin mengakui kamu kepada seluruh dunia jika kita sudah menikah dan kamu adalah istriku sehingga tidak ada laki-laki yang mendekati kamu."


Deg


Aruna menoleh ke arah suaminya, yang mana suaminya itu bisa mengetahui tentang perasaannya dan sesuatu yang akan ditanyakan, begitu juga dengan yang mengganjal di dalam pikirannya, dengan pikiran-pikiran negatif tentang Digo.

__ADS_1


"Dasar mulut ember, sukanya ngadu .. awas aja lho Vin!!"


Ujar Aruna kesal, tentunya ia tahu siapa yang mengadukan kegelisahan hatinya, tidak lain dan tidak bukan adalah Vina, sahabatnya sendiri.


"Iya sayank, Vina yang memberitahu aku karena sedari tadi kamu cemburu dan sepertinya kamu salah sangka, jangan begitu .. jangan berpikiran yang buruk lagi. Aku sangat mencintai kamu dan tidak mungkin aku tidak mau mengakui kamu sebagai istri aku."


Aruna yang malu langsung saja melepaskan tanganĀ  Digo, kemudian keluar dari mobil tanpa mengucapkan apapun juga dan juga tanpa menanggapi apa yang baru saja Digo katakan.


Sungguh, mulut Vina memang benar-benar ember dan ingin Aruna menutup mulut sahabatnya itu di mana saat ini ia malah menjadi malu dan tidak enak dengan prasangka buruk yang sudah ada di dalam pikirannya.


"Sayank, jangan lari kamu .. kalau kamu lari kamu semakin menggemaskan."


Teriak Digo yang saat ini ia juga sudah keluar dari mobil dan melihat istrinya yang berlari masuk ke dalam rumah, pastinya Digo paham betul jika Aruna sengaja menghindarinya karena malu telah berpikiran yang negatif tentang dirinya.


Aruna sendiri tidak menggubris, dan ia langsung saja berlari masuk ke dalam rumah dan pastinya langsung menuju ke kamarnya tanpa memperdulikan Digo yang masih ada di belakang.


Sedangkan Digo, laki-laki itu hanya tersenyum setelah melihat Aruna yang semakin menggemaskan, dengan berlari. Digo yakin jika Aruna langsung saja masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapa simbok atau tanpa melakukan sesuatu di bawah dulu.


"Mas Digo tambah cakep aja, oh ya tadi kenapa Mbak Aruna langsung naik ke atas dengan berlari, sepertinya wajah Mbak Aruna merah merah seperti tomat."


"Biasalah mbok jika ingin tapi tidak mau jujur ya seperti itu, oh ya mbok aku kamar dulu kasihan Aruna sudah menunggu dan siang ini kita tidak makan siang karena masih kenyang, nanti saja kalau aku dan Aruna lapar pasti akan turun ke bawah."


Si mbok asisten rumah tangga Aruna hanya menganggukkan kepalanya sepertinya pasangan pengantin baru yang masih sangat muda itu begitu romantis dan sangat lucu, di mana ia melihat anak dari majikannya yang tampak malu-malu dan segera berlari untuk naik ke kamar ditambah dengan Digo, laki-laki tampan dan juga masih sangat muda yang nampaknya benar-benar jatuh cinta dengan Aruna.

__ADS_1


"Satu lagi mbok, jangan mengganggu aku sama Aruna.. karena kita akan program membuat dedek bayi supaya cepat jadi, supaya rumahnya tambah ramai."


"Oh siap Mas Digo, semoga berhasil.. lagi pula tuan dan nyonya belum pulang. Jadi Mas Digo puas-puasin aja berada di dalam kamar, mumpung cuacanya lagi mendukung .. mendung-mendung dan pasti sebentar lagi turun hujan."


"Siap mbok!"


Memang rencana Digo setelah berada di rumah mertuanya itu, Digo ingin menghajar istrinya.. tidak menunggu sampai nanti malam juga akan meminta hadiah dari istrinya karena sudah memenangkan pertandingan ini meskipun menang ataupun kalah Digo juga akan mengeksekusi istrinya karena ia sudah tidak tahan, terlebih lagi melihat Aruna yang sangat menggemaskan.


Ceklek..


Pelan pelan Digo membuka pintu, ia sendiri sudah tahu di mana kamar Aruna meskipun belum sempat menginap di kamar Aruna tetapi Digo pernah satu kali masuk ke dalam kamar ini dan setelah masuk ia melihat istrinya yang sedang mengambil baju ganti, pastinya ia dan juga Aruna ingin mandi setelah ini.


Grepp


"Sayank, aku mau hadiahnya sekarang."


Dengan cepat Digo memeluk tubuh Aruna setelah ia menaruh tas dan juga ponselnya dan Digo juga tidak mau lama-lama untuk mengeksekusi istrinya karena ia sudah kepengen, terlebih lagi melihat Aruna dengan rambut yang dikuncir ke atas menambah Digo semakin berh@srat saja.


"Mandi dulu, lagi pula badanmu bau!"


Aruna melepaskan pelukan dari Digo, perempuan cantik itu segera mendorong tubuh suaminya untuk masuk ke dalam kamar mandi yang pastinya ia tidak mau jika diterkam oleh Digo siang-siang begini, apa kata kedua orang tuanya nanti juga pulang dan mencarinya pastinya ia akan diledek habis-habisan oleh kedua orang tuanya.


"Tapi sayank, aku mau sekarang.. sudah tidak tahan!"

__ADS_1


"Mandi atau tidak akan aku kasih sama sekali!"


Ancam Aruna yang sudah melihat Digo yang keterlaluan karena ingin memangsanya, sementara Digo sendiri juga banyak berkeringat setelah melakukan kegiatan olahraga yang menguras tenaganya.


__ADS_2