My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Dia yang Menyebalkan


__ADS_3

Malam yang menyejukkan dan sunyi hanya terdengar langkah kaki yang lambat bersamaan, tak ada pembicaraan dari mereka berdua.


Yoan kini berbeda dari kemarin-kemarin, ia mengenakan pakaian sehari hari.


celana jeans hitam, dan hoodie berwarna merah cerah, itulah pakaian yang pria itu gunakan sekarang.


Haara benar-benar tak menyangka jika Yoan terlihat seperti seumuran dengannya, jangan lupakan topi berwana hitam yang ia kenakan.


Mereka akan pergi ke taman kota yang kebetulan dekat dengan komplek rumah Haara,


"Ada apa ditaman kota?" tanya Yoan dengan tatapan fokus kedepan, ia memasukan kedua tangannya ke saku hoodie nya.


"Ee~ banyak! ada banyak toko yang menjual pakaian, sepatu, aksesoris, bahkan makanan, banyak sekali orang yang berkunjung kesana, pokoknya seru!!" seru Haara menjelaskan dengan cepat,


Yoan tertawa kecil mendengar Haara menjelaskan dengan nada panik, bahkan Haara hanya bicara padanya, bukan sedang ujian lisan.


Haara menatap Yoan yang tertawa kecil dengan bingung,


"Ke-kenapa tertawa?"


"Kau sedang bicara padaku, tak usah sepanik itu, padahal aku hanya bertanya saja," kekeh Yoan.


"Ah! apa terdengar seperti itu? aku hanya takut kau tidak suka aku ajak ke sana." malu Haara,


"Bahkan aku tak menolak ajakan mu." sahut Yoan fokus menatap kedepan.


Mereka pun telah tiba di taman kota, bisa dilihat ramainya orang-orang disana, semua ucapan Haara memang benar.


Lampu hias yang merambat dari satu pohon kepohon lain, dan juga menghiasi jalanan yang ia dan Haara lalui.


"Hahh, sudah lama aku tak kesini, banyak sekali yang berubah." seru Haara mengagumi sekitarnya.


"Kenapa? padahal rumahmu dekat dengan taman kota?" tanya Yoan menatap Haara,


"Mm~ aku takut jika pergi sendiri kesini." senyum Haara yang masih fokus dengan sekitar.


Yoan mengikuti arah pandang Haara, ia pun mengagumi sekitarnya,


"Bagaimana denganmu?" tanya Haara menatap Yoan,


"Ini pertama kali bagiku." sahut Yoan menatap Haara,


"Ahh! hahaha, sungguh?" seru Haara tertawa gugup ia mengalihkan pandangannya yang bertatapan dengan Yoan tadi,


"Hm, aku baru pertama kalinya kesini, dan menikmati suasana seperti ini." jelas Yoan,


"Ahahaha, berarti aku adalah orang pertama yang mengajakmu kesini." senyum ceria Haara,


"Bisa dibilang seperti itu."


"Yosh! baiklah aku akan mengajakmu menikmati suasana ini dengan makanan, lalu duduk di bangku taman kota!" semangat Haara tersenyum menatap Yoan.


Yoan menatap Haara tak percaya atas ucapan gadis itu,


Tak lama dari itu Yoan memejamkan matanya dan tersenyum tipis,


"Baiklah nona, kau jadi pemanduku malam ini." pasrah Yoan.


"Ikuti aku!"


Yoan tersenyum melihat tingkah Haara yang berjalan didepannya.


Sangatlah unik batinnya.


●•●•●•●•●


Mereka kini duduk di kursi taman yang terdapat di taman kota itu,


Yoan menatap heran makanan yang ia pegang tepatnya yang Haara belikan juga untuknya,


"Kenapa?" tanya Haara menatap Yoan yang kebingungan sambil sibuk makan,


"Bagaimana cara memakan ini?" tanya Yoan dengan wajah polos, menjulurkan plastik berisi Batagor kedepan wajah Haara,


"Ha? apa kau belum .. Oh iya aku lupa~" kekeh Haara,


Yoan menatap Haara masih dengan wajah polosnya, jujur saja Haara menahan gemas saat ini, wajah Yoan benar benar berubah secepat itu tanpa disangka-sangka.


"Begini, kamu buka ujung plastiknya dengan cara di gigit,"


Yoan menuruti apa kata Haara, Yoan mengambil gigitan plastik di mulutnya lalu membuangnya,

__ADS_1


"Lalu kamu dorong keatas makanannya dan makan deh!" seru Haara menahan gemasnya,


Yoan mengikuti lagi perintah Haara,ia terdiam saat mengunyah Batagor itu.


Haara menatap Yoan, ia menunggu komentar dari pria itu, namun pria itu hanya diam.


"Bagaimana? enak?" tanya Haara tak sabar, dan mendapat anggukan dari pria itu,


"ini apa?" tanya Yoan menatap Batagor nya,


"Batagor, apa kau belum pernah memakannya?" tanya Haara,


Yoan menggeleng dan kembali memakan Batagor itu,


"Memangnya sudah berapa lama kau di Indonesia sampai-sampai kau belum pernah mencoba Batagor?"


"Mm ... 8 bulan," seru Yoan,


"Cukup lama juga".


●•●•●•●•●


Mereka pun lanjut berkeliling, taman kota terasa lebih ramai sekarang.


Haara kembali menyedot es kopinya, ia mencuri pandangan kearah Yoan, pria itu merasa terusik dengan keramaian.


"Yoan?" panggil Haara menghentikan langkahnya dan menatap Yoan,


"Mm ... Sepertinya di sini makin ramai, bagaimana kita kembali ke rumah?" seru Haara yang merasa tak enak,


Tatapan Yoan terfokus kebelakang,


"Akan makin berdesak desakan na ...,"


Srtt!!


Yoan menarik Haara, otomatis Haara pun tertarik dan berakhir dipelukan Yoan.


Haara tercegang bukan main atas perlakuan Yoan padanya secara tiba-tiba,


Lagi lagi~ harum khas seorang Yoan kini tercium lagi di indra penciumannya, bercampur parfum khas Yoan,namun ia merasa perlahan Yoan menjadi bau kopi.


Banyak orang mengumpat memarahi anak laki-laki yang bermain skateboard ditengah keramaian,


Haara yang sudah sadar dari lamunannya pun mundur dua langkah,


Yoan menatap Haara tajam.


Haara menelan ludahnya ada satu hal yang membuatnya mengalihkan fokusnya, hoodie yang Yoan kenakan!!


"Ya ampun!! Yo-Yoan aku minta maaf!!" panik Haara melihat Hoodie Yoan yang sudah basah dengan es kopi miliknya.


Yoan menatap sekitar, banyak yang memperhatikan mereka berdua, terlebih banyak wanita yang menatapnya.


"A-aku benar-benar tak sengaja Yoan aku ...,"


Yoan meraih tangan Haara yang mencoba membersihkan noda kopi Hoodienya,


Yoan pun menarik tangan Haara untuk menjauh dari tempat yang mereka berada sekarang,


Haara terkejut kedua kalinya atas perlakuan Yoan, Yoan menarik pergelangan tangannya dan menariknya entah kemana,


Ia berfikir jika Yoan marah besar padanya, dia benar benar bodoh!


• • •


Yoan pun berhenti di depan toko yang sudah tutup, ia melepas tangan Haara.


Haara tak berani menatap Yoan, ia hanya pasrah jika Yoan memarahinya, ia merutuki dirinya yang sangat bodoh.


"Kenapa denganmu?" tanya Yoan dengan nada bingung,


Haara perlahan menatap Yoan, Yoan tengah sibuk membersihkan hoodienya dengan tisu,


"Hahh, kenapa harus kopi~" seru Yoan dengan nada kesal.


"Yoan, aku minta maaf~"


"Lain kali perhatikan sekitar, jangan berhenti di tengah keramaian, hampir saja kau tertabrak remaja yang bermain skateboard tadi." jelas Yoan dengan nada datar.


Yoan pun membuka topinya,

__ADS_1


"Pegang topiku," serunya menyodorkan topinya pada Haara,


Lalu Yoan pun membuka Hoodienya.


Mata Haara melebar sempat terkejut sekilas, ia menyadari jika pria didepannya ini memakai baju hitam lengan pendek ukuran over size.


Yoan mengeluarkan bajunya yang ia masukkan ke celana jeansnya,


Ayolah setelan 4x hitam, itu adalah setelan pria kesukaan Haara.


Haara meremas topi milik Yoan,


Dengan cepat ia keluar dari dunia lamunannya,


"Berikan hoodiemu!" pinta Haara,


Yoan menatap Haara bingung,


"Untuk apa?"


"A-aku akan mencucinya!" seru Haara gugup.


Yoan menaikkan sebelah alisnya,


"Sungguh?" tanya Yoan dengan nada datar, Yoan mengambil topinya yang Haara remas dan ia pun memakainya,


"Iya, sebagai permintaan maafku." seru Haara malu.


Yoan meletakan Hoodie nya di atas kepala Haara,


Yoan membungkukkan tubuhnya untuk menatap Haara lebih dekat,


Haara menatap Yoan gugup karena jarak mereka yang terbilang dekat sekali


"Sepertinya kau harus terfokus dengan rambutmu, cuci hoodieku yang bersih." seru Yoan,lalu melangkah pergi.


Haara mengambil hoodie Yoan di atas kepalanya, noda kopi itu diletakan tepat diatas kepalanya, membuat kepalanya tercium bau kopi.


"Rambutku .. bau kopi? aish! ZHAO YOAN TI-EN!!!" teriak Haara marah bukan main,


Yoan tak perduli dengan panggilan gadis itu.


●•●•●•●•●


"Ee ... Yoan? apa kau berbuat kesalahan pada Haara? sepertinya ... Haara sangat kesal melihatmu??" seru Stephannie meringis menatap Haara dan Yoan bergantian.


"Tidak."


"Apa?? tidak?! hey! kau meletakan hoodiemu yang terkena noda kopi ini tepat di atas kepalaku! itu membuat rambutku bau kopi Yoan!" geram Haara.


Stephannie dan Tao Ming menatap anaknya,


"Karena salahmu menumpahkan es kopi di hoodie ku,"


"Ta-tapi aku kan sudah minta maaf dan akan mencuci hoodiemu!"


Yoan mengangkat kedua bahunya seolah tak ingin melanjutkan pertengkaran mereka.


"Yo ... an!!" geram Haara panjang.


"Eee ... Haara maafkan Yoan ya sayang~" seru Stephannie kepada Haara, Stephannie serba salah.


"Haara jangan seperti itu~" seru Lucy sang mama,


Haara membuang wajahnya marah,


"Baiklah, sepertinya jika berlama-lama suasana hati Haara makin panas, kami pamit pulang, sampai bertemu esok!" pamit Tao Ming,


"Iya, kalian hati hati, sampai jumpa esok" seru Juan


"Iya, kami pamit!" seru Tao Ming,


"Hati hati paman, bibi dan juga kau Yoan!" seru Anna menatap Yoan tajam,


Yoan tak perduli dengan tatapan Anna dan pergi.


...•...


...•...


...{Bersambung}...

__ADS_1


...•...


__ADS_2