
'seorang ... papa!!?' batin Haara terkejut.
"Yo-Yoaaaan!!" malu Haara menutup wajahnya.
Yoan tertawa melihat Haara yang malu itu.
"Kenapa? Aku berkata benar lho!" bela Yoan pada dirinya sendiri.
"Ta-tapi kenapa kamu bicara seperti itu secara tiba-tiba!"
"Hanya ingin mengatakan dari topik pembicaraanmu tentang seorang papa, lagi pula aku memang akan menjadi seorang ayah dari anak-anakku darimu nanti, apa aku salah?" jelas Yoan yang memang tak salah.
"Ti-tidak, sudah jangan bahas lagi!" rengek Haara masih menutup wajahnya.
"Baiklah, tapi ada satu hal yang perlu kau tahu." seru Yoan.
"Apa?" tanya Haara ragu menurunkan tangannya dari wajahnya.
"Aku ingin punya banyak anak darimu." sahut Yoan santai.
"Uhuk!! Uhuk!!"
Haara secara tiba-tiba tersedak saat memakan lolipop rainbow karena ucapan Yoan yang sangat mengejutkan.
Haara menepuk-nepuk dadanya.
"Maaf maaf, aku buat kamu terkejut, minumlah!" khawatir Yoan memberikan air botolnya pada gadis nya.
Haara mengambilnya dan meminumnya.
"Uhuk! Uhuk! Yo-Yoaaaaannn!!!" kesal Haara memukul pundak pria itu.
Yoan tertawa lepas.
"kamu nyebelin banget sih Yoan! kamu ini! minta aku tarik telinganya ya?!!" emosi Haara.
"Coba saja kalau bisa, dasar pendek!" ledek Yoan.
Haara mendengus kesal, ia menyimpan lolipop rainbow nya di atas piring, ia akan bersiap mmeberikan serangan pada Yoan.
Ckitt!!
suara ringisan Yoan pun terdengar.
"Ahaw Haara hentikan! Sakit sakit~" ringis Yoan mengaduh karena Haara mencubit pinggang pria itu berterusan.
"Ucapanmu itu! bisa tidak jangan terus terusan frontal seperti tadi!" kesal Haara masih berusaha ingin mencubit Yoan.
"Tidak, aku lebih suka bicara blak-blakkan." sahut Yoan menghindar.
"Tidak lucu!" kesal Haara.
Tak!
Yoan menahan kedua tangan Haara, menurunkan tangan gadisnya itu lembut.
"baiklah, mungkin topik pembicaraan ini sangat di luar dugaanmu." seru Yoan.
"namun seorang pria di umur ku yang sekarang, mungkin sangat umum menantikan seorang anak dari istrinya." jelas Yoan.
"ta-tapi membahas hal seperti ini itu masih terlalu dini untukku Yoan." sahut Haara malu.
"Aku tahu tapi perlu kau tahu, aku mengharapkan seorang anak darimu suatu saat nanti, aku sangat menantikan kau menjadi ibu dari anak-anakku nanti, aku akan menantikan hal itu beberapa tahun kedrpan." seru Yoan masih memegang kedua tangan Haara dan menatap Haara serius.
Haara terdiam menatap kedua mata coklat pria itu dalam.
"dan juga aku mengiginkan terus hidup bersamamu sampai maut memisahkan kita kelak." seru Yoan menatap Haara dalam.
Haara memejamkan matanya, beberapa tahun kedepan, Haara membayangkannya.
Haara larut dalam fikirannya, ia menyimpulkan jika Yoan yang tengah membahas hal ini secara tiba-tiba, artinya pria itu sangat menginginkannya namun semua terhalang oleh dirinya yang masih anak sekolah.
pria itu menghargainya, ia merasa salut sekali dengan pria itu.
"Namun, hal pertama yang ku harapkan darimu adalah sebuah cinta, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa meyakinkan hatimu untuk bisa menerimaku didalam hatimu lagi, AtHaara."
'suatu saat nanti aku yakin kau bisa Yoan.' batin Haara.
Haara tersenyum haru menatap wajah Yoan yang menunjukkan ekspresi sangat yakin sekali.
__ADS_1
Haara dengan perlahan memegang pipi pria itu.
"Semangat ya? Aku berharap kamu tak akan mudah menyerah, karena aku percaya kamu bisa, aku menaruh harapan besar padamu, Yoan." senyum tulus Haara.
"Bantu aku ya?" seru Yoan lembut.
Haara mengangguk mantap.
"Selalu ku bantu."
Dengan gerakan perlahan Yoan memegang pipi Haara dan mengelus pipi lembut istrinya itu.
Wajah pria itu pun dengan perlahan mendekat, Haara tak menghindar, ia tahu apa yang ingin pria itu lakukan.
Deru nafas pria itu menghembus dipipi gadis itu saat Yoan memiringkan kepalanya, dan ...
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya.
Yoan menatap mata indah istri nya itu, Haara pun menatap mata indah suaminya itu.
"Aku sangat mencintaimu, AtHaara~" seru Yoan lemah.
Haara terkejut, pasalnya pria itu menyatakan kata 'sangat' pria itu telah jatuh semakin dalam padanya.
Haara merasa bersalah sekarang, pria itu kini telah jatuh lebih dalam pada cintanya padanya, sedangkan dirinya? dirinya merasa tak ada perkembangan sama sekali.
Yoan pun kembali mencium bibir mungil gadisnya itu, bukan hanya sebuah kecupan, namun sebuah ******n yang Yoan lakukan.
Dapat dilihat Yoan memejamkan matanya, Haara pun ikut memejamkan matanya, seperti biasa ia tak pernah membalas ciuman yang di berikan pria itu padanya.
Ia akan membiarkan pria itu menikmatinya sendiri.
Ia tak akan melarang pria itu atau menghentikan apa yang pria itu inginkan kali ini.
Karena hanya inilah yang bisa ia berikan pada pria itu untuk meyakinkan pria itu jika masih ada cintanya suatu saat untuk pria itu.
Gerakan lembut dan hati-hati itu lah yang Yoan lakukan pada bibir mungil gadis nya itu, ia tak akan mempermasalahkan gadis itu masih tak membalas ciumannya, diam dan membiarkannya merasakan itu cukup.
'Manis~' batin Yoan.
Tentu, ia mengingat jika gadis nya itu memakan permen tadi.
●•●•●•●•●
Sore hari kemudian.
Yoan yang sedang bermain game di ponselnya dengan wajah serius.
Harum wangi tercium di indra penciumannya, ia menghentikan permainan di ponselnya dan menatap Haara yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer di kamar.
• • •
"Segarnya~" senang Haara menstap keluar jendela, pemandangan indah sore hari kota Guangzhou tentunya.
Sret!
Haara menatap Yoan yang mengambil hairdryer nya dari tangannya.
"Aku ingin mengeringkan rambutmu." seru Yoan mulai mengeringkan rambut Haara.
Haara membelakangi Yoan dan tersenyum.
"Terima kasih Yoan." seru Haara lembut.
Yoan menyahut dengan deheman.
"AtHaara." panggil Yoan.
"Hm?"
"Jessi .. Ingin mengajakku pergi ke kafe untuk berbincang bersama." seru Yoan.
Haara yang mendengarnya terkejut.
"Apa?" seru Haara memutar tubuhnya menatap pria itu.
Yoan mematikan hairdryer nya dan meletakkan nya di atas meja.
__ADS_1
"Dia ingin mengajakku berbincang di kafe, bagaimana menurutmu?"
Haara terdiam sejenak.
"Kapan?" tanya Haara.
"Malam ini, di kafe dekat-dekat sini." sahut Yoan.
"Baiklah, pergilah." sahut Haara.
"Eh?"
"Kalian terakhir kali bertemu di supermarket, kalian baru bertemu setelah sekian lama, tak masalah kok." sahut Haara.
Yoan yang mendengar jawaban Haara sedikit kecewa, namun ia memahami maksud gadis nya itu.
"jadi kau mengizinkanku pergi dengannya??" tanya Yoan tak percaya.
"tentu." sahut Haara.
Yoan menghela nafasnya kasar.
●•●•●•●•●
• • •
• •
•
Hari telah menjelang malam, jam telah menunjukkan jam 9:12 malam.
Haara menghela nafasnya kesal,
"Kemana dia belum kembali juga?" seru Haara kesal.
Ceklek.
"Nah, itu dia sudah pulang." seru Haara melangkah ke pintu apartemennya untuk memastikan.
Haara mengerutkan keningnya saat mendengar Yoan sedang berbicara dengan seseorang.
"Yoan?" panggil Haara melangkah keluar apartemennya.
Betapa terkejutnya Haara melihat wanita yang ia temui di supermarket.
'Si mbak Jessi?? Ngapain dia disini??' batin Haara terkejut.
"Dia ngapain ada disini??" tanya Haara pada Yoan bingung.
"Ah! Aku lupa bilang, jika kebetulan sekali Jessi tinggal di sebelah kita." seru Yoan.
"Ha?!"
"Bisa di sebut dia adalah tetangga kita." seru Yoan.
"Te-tetangga?!!" terkejut Haara.
...•...
...•...
...Author : "dunia memang sempit ya😆"...
...•...
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak-kakak Readers👋...
...Hai, kakak-kakak author👋...
...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...
...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...
...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...
__ADS_1
...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...
...See you tomorrow😇...