
Yoan menghentikkan mobilnya saat rambu lalu lintas menyalahkan lampu berwarna merah, ia melirik Haara disampingnya, gadis itu tertidur.
Yoan mengecek ponselnya untuk melihat jam, layar ponselnya menampilkan jam 7 malam.
ia memaklumi jika gadis itu tertidur, gadis itu lelah habis pulang sekolah ia membawa gadis itu langsung ke bandara untuk mengantar penerbangan sang nenek dan kedua orang tua Yuu,
Lampu lalu lintas berubah berwarna hijau, dengan perlahan ia menginjak gas mobilnya.
●•●•●•●•●
Yoan mematikkan mobilnya, ia menghela nafasnya pelan dan mengalihkan pandangannya ke sebelahnya,
Yoan menepuk nepuk pipi Haara,
"Haara? bangun"
Gadis itu tak bergeming,
Yoan kembali menepuk pipi gadis itu,
"Hoi, AtHaara bangun~" seru Yoan sabar,
Lagi lagi tak ada balasan dari gadis itu,
Yoan menghela nafasnya kasar,
"A aw aw!!!" ringis Haara membuka matanya, ia mengusap pipinya dan menatap kesal Yoan,
"Bangun juga"
"Aduhh! Yoan! Kenapa mencubit pipiku!? Sakit tahu!"
"Sudah sampai, susah sekali dibangunkannya" oceh Yoan turun dari mobil,
Haara mendengus kesal, ia mengambil tas nya dan ikut turun.
●•●•●•●•●
Haara mengeringkan tangannya setelah mencuci peralatan makan malam tadi,
"Tinggal tidur, sungguh hari yang melelahkan" seru Haara menghela nafasnya, ia pun akan naik ke lantai atas.
• • •
Langkah nya terhenti saat melihat Yoan yang sedang duduk di depan pintu kamar pria itu, pria itu menenggelamkan kepalanya di tumpukkan tangan yang di tumpu di lutut pria itu,
"Yoan? sedang apa kamu duduk didepan pintu?" tanya Haara bingung,
"Aku tidak bisa tidur"
"Tentu saja kau tidak bisa tidur, sedangkan kau duduk di lantai, tidurlah dikamar pasti bisa tidur" sahut Haara polos,
"Siapa yang bilang aku akan tidur disini? Aku hanya merasa tak tenang dan merasa takut saat menutup mataku 2 hari belakangan ini" seru Yoan pelan bangkit berdiri
Terlintas satu kata di benak Haara yang dapat mengartikan ucapan pria itu,
"Apa belakangan ini kau bermimpi buruk?" tanya Haara,
Yoan menghentikkan gerakkan tangannya untuk membuka pintu kamarnya,
"Ahh sepertinya aku salah ya~" cengir Haara,
"Bagaimana kau tahu?" tanya Yoan pelan
"Eh? Benar?"
"Hm"
__ADS_1
Yoan menyandarkan tubuhnya di dinding dengan raut lesu,
"Apa kau tahu hal apa yang bisa membuatku tertidur?"tanya Yoan menatap lantai,
Haara mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tak percaya Yoan akan bertanya,
"Mm, ah! aku akan buatkan susu putih untukmu ya" seru Haara melangkah pergi,
"Susu coklat" seru Yoan,
"Ah?"
"Aku tidak mau susu putih, aku lebih suka susu coklat" sahut Yoan pelan,
Haara merasa gemas dengan perubahan sikap pria itu, sungguh sangat menggemaskan pria itu sekarang,
"Baiklah, tunggu ya" sahut Haara lembut.
• • •
Nafas Haara ngos ngosan, ia memberikan segelas susu coklat itu kepada Yoan yang duduk di depan pintu kamar pria itu, ia menduduki dirinya perlahan,
"Kenapa harus buru buru, bahkan kau tidak sedang dalam perlombaan"
"Ah, tidak apa apa, minumlah, pelan pelan panas" seru Haara,
Yoan meminumnya dikit demi sedikit,
Haara memerhatikkan Yoan yang sedang meminum susu coklat buatannya itu,
"Kenapa menatapku?" tanya Yoan pelan,
"Bagaimana? kamu sudah lebih tenang?"
Yoan sedikit terkejut mendengarnya, gadis itu sedang mengkhawatirkannya.
"Ah, syukurlah" kekeh Haara,
Yoan menatap Haara dengan tatapan sulit di artikan,
"Haara" panggil Yoan
"Ya?" sahut Haara,
Yoan membuang wajahnya,
"Bisa kau menemaniku duduk disini?"
"Eh?" terkejut Haara,
"Sebentar saja, aku belum begitu merasa baik baik saja" seru Yoan menutup wajahnya dengan sebelah tangannya,
"Mm, baiklah" sahut Haara menduduki dirinya di sebelah pria itu.
Haara memeluk kedua lututnya sendiri,
"Bagaimana sekolahmu?"
"Ah? Mm itu .."
Yoan melirik ke arah gadis itu,
"Mereka .. Sempat mencurigai kalau aku berbohong" sahut Haara pelan,
"Kenapa bisa mereka menyangka mu berbohong?"
"Mm, hehe, karena dulu aku sempat berbohong pada mereka bahwa aku sudah punya pacar"
__ADS_1
Yoan menatap Haara serius, ia mendengar baik baik cerita gadis itu,
"Aku waktu itu mengatakkan kepada mereka jika kak Ammar itu pacarku, ahahaha, memalukkan sekali" tawa Haara,
"Tak lama dari itu aku ketahuan berbohong karena mereka bertemu dengan kak Ammar saat di luar area sekolah, aku tidak memberitahu kak Ammar saat itu, jadi aku tak menyalahkan kak Ammar juga saat mengatakkan jika ia itu bukan pacarku" jelas Haara asyik bercerita,
Haara melirik ke arah Yoan,
"Ah, maaf aku jadi asyik bercerita, pasti membosankan, ahahaha" tawa kaku Haara,
"Lanjutkan saja ceritanya"
"Ha?"
Yoan menyandarkan kepalanya ke dinding sebelah kanannya, sekarang posisinya menghadap ke Haara,
"Aku ingin dengar lagi ceritamu" sahut Yoan,
Jantung Haara berdegup kencang saat mendengarnya, ia berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya,
"Mm, nah maka dari itu mereka mencurigaiku, karena aku berbohong dengan mereka, mereka sampai sampai membicarakanku yang jelek jelek, menyebalkan!" kesal gadis itu terbawa suasana,
"Kenapa kau berbohong?"
"Karena aku tak ingin terus mendapat omongan omongan tak enak dari siswi di setiap kelas, termasuk kelasku. mereka selalu membicarakan ku saat mendapat banyak surat, hadiah, bunga dan pernyataan cinta dari cowok-cowok"
Yoan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar jawaban gadis itu,
"waktu itu ada yang marah padaku karena pacarnya menyukaiku, bahkan aku tak merebut pacarnya! dasar bodoh!" kesal Haara,
"Maka dari itu, aku ingin mereka mengetahui jika aku itu sudah punya pacar! Agar mereka tak menuduhku berbohong" sahut Haara membuat Yoan paham,
"Kenapa waktu itu tidak serius pacaran saja? dengan salah satu pengagum rahasiamu contohnya?" tanya Yoan,
"Entahlah, sangat sulit rasanya jatuh cinta, aku tak bisa asal terima seseorang untuk menjadi pacarku, aku tidak bisa membohongi diriku dan perasaanku sendiri" sahut Haara,
"Jika seperti itu? Kenapa kau ingin sekali berstatus berpacaran?"
Haara menunduk,
"Karena aku tak ingin di gosipkan sebagai perempuan tebar pesona ke pria di sekolah, aku juga ingin pria yang mengirim ku surat, bunga dan pernyataan cinta, berhenti. karena hal itu membuatku terus mendapatkan gosip yang tak mengenakkan, aku sudah lelah dituduh yang tidak tidak, bahkan aku selalu dituduh perebut pacar orang. bahkan itu bukan diriku sekali" sahut Haara pelan
Yoan yang mendengarnya prihatin dengan gadis itu,
Memang tak bisa membohongi dirinya sendiri, istrinya ini memang memiliki paras yang cantik,
"Apa 3 orang teman mu yang tadi sore itu juga termasuk yang menggosipkanmu?" tanya Yoan,
Haara mengangguk
"Yifan saja dari kelas lain mendengar gosip ku, yang ada lebih parah, mereka mengatakkan kebohonganku itu cuma trik ku, mereka bilang agar aku semakin leluasa menebar pesona dengan status tipuan ku" seru Haara sedih,
"Sejak kapan kau mengalami hal ini?" tanya Yoan menatap Haara serius,
"Lebih menyakitkan saat aku masih kelas 10 dan kelas 11, aku selalu dapat hal dan ucapan tak mengenakkan dari kakak kakak kelas" sahut Haara tersenyum getir,
Yoan menghela nafasnya kasar, ia merasa sangat kesal mendengar keluhan gadis itu,
"Cih, akan ku buat bungkam mulut mereka semua" decih Yoan.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏