
Haara telah selesai merapihkan kamar, ia menduduki dirinya di tepi kasur sambil memainkan ponsel.
Haara menghela nafasnya, fikirannya larut memikirkan ucapan Xi Cha yang di bisikkan padanya tadi.
Haara mengangguk-anggukan kepalanya menyetujui ide di dalam fikirannya, ia pun akan melangkah keluar.
Ceklek!
"Mau kemana?"
Haara menatap Yoan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mau ... keluar," sahut Haara polos.
Yoan melangkah mendekati gadis itu.
Haara kebingungan dengan tatapan pria itu.
Yoan menyingkirkan rambut yang menutupi leher putih istrinya.
perlahan Yoan menarik baju bagian leher gadis itu sedikit kebawah.
"Yoan?" was-was Haara.
"Pilihan baju yang bagus." sahut pria itu membuat Haara bingung.
"Ketutupan? maksudnya?" bingung Haara.
Yoan menatap Haara dengan tatapan yang dalam.
"Bekas kecupanku."
Deg!
Haara mengerjapkan matanya beberapa kali, ucapan pria itu sontak membuat wajahnya panas.
"U-ucapanmu, sungguh blak-blakkan." sahut Haara tersipu.
"Umurmu sudah 18 tahun, jadi tak masalah aku bicara blak-blakkan padamu, lagi pula aku akan mengatakan ini hanya padamu saja." seru Yoan santai.
Haara gelagapan,
"Umurku memang 18 tahun! Tapi ucapanmu itu adalah untuk umur 21 tahun ke atas, Yoan!" protes Haara gelagapan.
Yoan merapihkan baju bagian leher Haara sambil terkekeh,
"Sungguh?? menurutku tidak. Jika menurutmu seperti itu, mungkin kau akan mulai membiasakan ucapanku kedepannya, nona." seru Yoan menutupi leher gadis itu dengan rambut gadis itu.
Haara membuang pandangannya, wajahnya sangatlah panas sekali.
Yoan menatap Haara yang menyisir rambut nya dengan jari tangan gadis itu, Yoan mengerutkan keningnya.
Tak!
Haara terkejut saat Yoan menarik tangannya.
"Mana cincinmu??" tanya Yoan menatap Haara tajam.
"Ah!" seru Haara mengambil cincin yang ia jadikan liontin kalung itu.
Yoan menghela nafasnya lega.
Yoan menatap nya dengan tatapan sulit diartikan, Yoan mengalungkan kedua tangannya di leher gadis itu.
Haara mengerjapkan matanya, pria itu membuka kalungnya.
Yoan mengambil cincin itu, ia menarik tangan kiri Haara dan memasangkan cincin itu di salah satu jari Haara.
"Kau memarahiku saat aku lepas cincin ku, kenapa kau tak sendiri memakainya?" tanya Yoan datar.
"Aku melepasnya karena .. Saat kita bertengkar, jujur saja aku tak bisa menyimpan cincinnya di sebuah kotak atau di mana pun itu, aku merasa ada yang kurang saja jika tak memakai cincin ini." gelagap Haara menatap cincinnya yang melingkar cantik di jari nya.
"Jika merasa ada yang kurang, kenapa dicopot? Kenapa dijadikan liontin kalung?" tanya Yoan menggenggam tangan Haara erat.
"Jika ku pakai di jariku, hatiku terasa sakit jika melihat cincin ini dijariku, jadi aku membuatnya menjadi gantungan kalungku." jelas Haara pelan.
Yoan mengangguk paham,
"Aku sudah berjanji padamu untuk tidak melukai perasaanmu AtHaara, jadi jangan di copot cincinnya, ya?" seru Yoan lembut sambil menatap Haara sayang.
"Jika aku melepas cincin ini ... apa kau akan melepasnya juga?" tanya Haara menatap Yoan ragu.
"Tidak akan ku lepas." sahut Yoan menatap Haara dingin.
"Jika .. Aku melepasnya sendiri bagaimana??" tanya Haara takut,
Yoan menatap Haara menusuk.
"Aku akan memaksamu memakainya, jika perlu aku memberi lem di jari mu!" sahut Yoan dengan tatapan menyeramkan.
"Mengerikan~" gumam Haara mengerjapkan matanya.
srett!
Yoan mengusap sayang rambut Haara, hal itu membuat Haara salah ti gkah sendiri.
"Ayo," seru Yoan menarik tangan Haara lembut keluar dari kamar.
●•●•●•●•●
Haara melihat ruang makan yang sudah ramai, sambutan dan senyuman pun dilepmarkan pada dirinya dan juga Yoan yang baru datang.
Haara menduduki dirinya begitu juga Yoan yang duduk dikursi samping Haara.
"Kak Yoan, kakak mau antar aku ke sekolah??" tanya Xi Cha duduk dikursi samping Yoan.
__ADS_1
Yoan tersenyum dan mengangguk.
Xi Cha yang melihat respon Yoan pun senang.
BRAK!!
Semua orang dimeja makan terkejut karena meja makan bergerak.
"Ahaww~!!!"
Sontak Yoan yang terkejut menatap Haara dan membelalakan matanya.
"Sakiiiittt!!" ringis Haara,
Stephannie dan Lucy pun panik bukan main.
"Ya ampun AtHaara sayang~ kamu tak apa apa??" tanya Stephannie panik di seberang meja.
"Aduh, kamu ini AtHaara~" seru Lucy juga panik.
Kepala gadis itu terbentur bawah meja karena habis mengambil tisu yang jatuh di lantai.
"Kamu apa-apaan sih? Kok bisa terbentur? Ngapain di bawah meja??" seru Yoan dengan cepat mengusap-usap kepala Haara dengan raut panik.
"Ambil tisu jatuh~" sahut Haara pelan.
Haara menatap Yoan yang terlihat khawatir dan mengusap kepalanya lembut,
"Masih sakit??" tanya Yoan menatap Haara serius.
"Huhu~ saakkiiitt~!!" seru Haara merengek.
"Jelas sakit, meja nya saja sampai bergerak." seru Yifan terkekeh.
"Coba lihat Yoan, luka tidak kepalanya." seru Roselie khawatir.
"Coba tundukkan kepalamu." seru Yoan pada Haara lembut.
Haara membungkukkan tubuhnya,
"Syukurlah, tidak luka." sahut Yoan menatap sekilas Roselie.
Yoan menatap Haara, mata gadis itu memerah menahan air matanya.
"Hey, jangan menangis~" seru Yoan terkekeh
"Sakit tahu!" seru Haara menunjukan puppy eyes dan cemberut.
Yoan tertawa kecil, gadisnya terlihat sangat menggemaskan saat ini.
Yoan masih senantiasa mengusap kepala Haara,
"Ehem ehem so cute and so sweet~" seru Miya menggoda Haara dan Yoan.
Haara tersenyum malu menanggapi ucapan Miya.
"Sudah tidak, masih berdenyut sedikit." sahut Haara malu.
●•●•●•●•●
• • •
Mereka telah tiba di sekolah Xi Cha, Haara menatap para siswa-siswi yang masuk ke area sekolah, Haara rindu sekolah saat SMP.
"Sayonara!(sampai jumpa!)" seru Xi Cha sebelum turun dari dalam taksi,
"Sayonara Xi Cha chan!~" senyum Haara melambaikan tangan.
Bruk!
Haara menengok ke sampingnya.
Yoan telah pindah dari kursi depan ke kursi belakang disebelahnya.
"Kau mau kemana sekarang? hm?" tanya Yoan menatap Haara sayu.
"Mmm~ aku ingin jalan-jalan di tempat penuh pepohonan" seru Haara menatap Yoan.
Yoan larut dalam fikirannya,
"Sekarang musim salju AtHaara~"
"Ah, iya juga~"
Haara menatap Yoan bingung saat pria itu mengatakan sesuatu pada supir taksi itu,
"Yoan? Kamu bilang apa tadi pada supir taksi nya??" tanya Haara bingung.
"Kau akan mengetahuinya nanti." sahut Yoan tersenyum tipis.
Haara mengerutkan keningnya bingung.
Srett!
Haara sedikit terkejut saat Yoan menyandarkan kepalanya dipundaknya.
"Yoan?"
"Aku pinjam pundakmu, aku masih mengantuk AtHaara~" seru Yoan memejamkan matanya.
"Eh? Jika kau masih mengantuk, lebih baik kita kembali saja ya?" seru Haara serius.
Yoan mendongakkan kepalanya menatap Haara
"Kenapa kembali? Bahkan kau membangunkanku tadi karena ingin pergi jalan jalan bukan?" tanya Yoan.
__ADS_1
"Maaf~" seru Haara merasa tak enak.
"Hey~ kenapa kamu minta maaf?" tanya Yoan duduk tegak menatap Haara serius.
"Karena memaksamu untuk menemaniku." sahut Haara pelan menunduk.
Yoan mencoba menatap Haara yang menunduk,
Tatapan nya bertemu dengan Yoan!
Dengan cepat Haara mengalihkan nya, Yoan yang melihat nya terkekeh.
"Ayolah~ kamu tak perlu menunjukkan wajah tak enak seperti itu padaku." seru Yoan kembali menyandarkan kepalanya di pundak Haara.
"Pulang saja ya kalau seperti itu?" seru Haara menatap Yoan dipundaknya dengan nada ragu,
"At .. Haa .. ra~" seru Yoan menekankan kalimatnya.
Haara tersenyum tipis,
"Terima masih Yoan~" senyum Haara senang.
●•●•●•●•●
• • •
Haara menghembuskan nafasnya, seketika rasa dingin pun berhembus saat dirinya telah turun dari taksi.
"Rrrr~ dingin juga!" seru Haara memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket.
"Apa ku bilang, bagaimana jadinya kau membantah ucapanku untuk membawa jaket??" seru Yoan,
"Iya Yoan, kamu memang benar~" sahut Haara pelan.
• • •
Mereka pun berjalan di jembatan penyebrangan jalan raya untuk pergi ke taman Yoyogi,
Yoan rersenyum tipis saat melihat Haara yang berlari kecil dan antusias melihat ranting pohon yang tak berdaun.
"Apa yang kau senangkan? Bahkan pohonnya tak berdaun di musim salju?" tanya Yoan bingung,
"Hehe, aku senang bisa jalan-jalan, itu sudah membuatku senang!" senyum Haara senang,
Yoan mengangguk paham.
Yoan melihat ada tangga turunan, mereka pun hampir tiba di taman yang sejak awal mereka tujukan.
Tak!
"Hati-hati, licin!" seru Yoan menangkap tangan Haara yang berniat akan lari turun dari tangga.
Haara pun melangkah turun beriringan dengan Yoan, benar saja tangga nya licin karena ber es.
Haara tersenyum atas perlakuan pria itu yang sigap menahan tangannya saat ia berniat akan lari turun dari tangga, itu sederhana tapi terlihat manis jika Yoan yang melakukan itu.
Haara menatap Yoan diserong kanannya, pria itu berjalan mendahuluinya.
Haara menatap tangan Yoan malu, karena secara tiba-tiba terpintas membayangkan tangannya dan pria itu berpegangan dengan menyatukan tiap jari mereka di tangan mereka satu sama lain.
Ia ingin itu, tapi ia terlalu takut untuk melakukannya, selebihnya ia merasa takut jika pria itu merasa jika tindakannya itu akan terlihat kekanak kanakkan bagi pria itu.
Angin kembali berhembus, Haara menatap langit yang kembali teduh, ia memprediksi jika salju akan kembali turun.
"Ang-angin nya sangat menusuk sekali ke kulitku" menggigil Haara,
Yoan yang mendengar ucapan gadis itu, membalikkan tubuhnya dan menghampiri Haara yang menggigil.
"Kita ke kedai itu saja, kita beli minuman hangat, ya??" seru Yoan membungkukkan tubuhnya menatap wajah Haara khawatir,
Haara menatap Yoan dalam, ia mengangguk cepat.
Yoan tersenyum tipis, tatapannya dialihkan ke langit, butiran salju kembali turun.
Haara mengadahkan tangannya, butiran salju pun mendarat di telapak tangan nya.
"Ayo." seru Yoan menarik tangan Haara, Haara tersenyum malu saat itu juga.
...•...
...•...
Author: " on the way Jepang yuk! susul mereka buat nontonin aja😆"
...❤Bersambung❤...
...•...
...Hai, kakak readers dan kakak author-author yang hebat dan keren😍...
...Terima kasih sudah membaca ceritaku🙏...
...❗Jangan lupa untuk❗:...
...✔like,...
...✔vote,...
...✔rate 5 star, dan...
...✔komentarnya yang sellau ku nantikan💐💐💐...
...📜Pesan dari Author:...
..."Selalu jaga kesehatan di saat pandemi seperti ini ya kakak-kakakku❤...
__ADS_1
...selalu jaga kebugaran tubuh kalian semua😍...
...Sukses dan bahagia selalu untuk kita semua🤗🤗"...