My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Mengizinkannya


__ADS_3

"Lalu apa pria tidak boleh menangis saat ada hal yang menyakiti hati nya atau menangisi hal yang paling berharga baginya?" tanya Yoan menatap Haara,


"Eh?"


Yoan mngambil kotak p3k dan bangkit berdiri,


"Apa kau juga pernah menangis?" penasaran Haara,


"Ada apa dengan nada dan ucapanmu itu? aku ini manusia biasa, tentu aku juga pernah menangis" decih Yoan meninggalkan Haara,


Haara tertegun dengan pengakuannya, jika pria itu juga pernah menangis. ia mencoba bangkit berdiri, ia ingin bertanya padanya, hal apa yang membuat pria itu menangis?


ia pun ingin bertanya juga, apa ia menangis karena tentang penderitaannya terhadap traumanya?


"Yoan" panggil Haara,


Yoan membalikkan tubuhnya yang mendapati Haara sudah berdiri di hadapannya saat ini, ia menatap Haara.


"Hal apa yang membuatmu menangis? a-apa karena traumamu?" tanya Haara pelan dan merasa takut membahas hal ini,


Yoan terdiam tak menjawab, ia pun melangkah melewati gadis itu,


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?? apa sesulit itu kau mengatakannya padaku?" seru Haara menuntut,


Yoan mengacak acak rambutnya sendiri pelan,


"Aku paling tidak suka ada orang yang membahas tentang traumaku"


Haara terkejut atas pernyataan pria itu, ia tercegang saat Yoan membalikkan tubuhnya dengan tatapan amarah, langkahnya mundur perlahan saat ia menyadari Yoan melangkah mendekat,


Tubuhnya menubruk dinding yang disebelah nya terdapat lemari hiasan.


Yoan menggebrak tangannya kesamping lemari itu, ia melangkah makin dekat memotong jarak mereka berdua,


Haara menahan nafasnya, ia tak bisa menghindar, pria itu menghalanginya, ia tak bisa kabur.


"Apa kau bersungguh sungguh ingin mengetahui siapa aku? apa kau berusaha untuk masuk kedalam kekehidupanku?" tanyanya dengan suara beratnya, lawan bicaranya Hanya menunduk sambil memeluk dirinya sendiri,


"Aku sudah melarangmu untuk jangan ingin tahu atau mencari tahu tentang aku atau masa laluku" seru Yoan menatap Haara yang lebih pendek darinya dengan nada menggertak,


"Kenapa kau sangat tidak ingin aku tahu masa lalu mu? bahkan statusku bukanlah orang asing Yoan" sahut Haara pelan,


Yoan tak menjawabnya,


"Bahkan kemarin aku sudah menjawabnya kemarin, aku akan terima apapun yang terjadi dimasa lalumu" seru Haara pelan,


"Kenapa kau sangat tidak ingin aku tahu Yoan" tanya Haara dengan nada kecewa,


"Aku tak ingin kau kecewa saat mengetahuinya, aku tak ingin kau berfikir menyesal mengetahuinya" sahut Yoan pelan,


Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan yang membuang wajahnya, pernyataan Yoan membuatnya terkejut,


"Tidak! aku tidak akan berfikir apa yang kau takutkan, aku janji!" seru Haara tegas,


Yoan melirik ke gadis di kurungannya itu,


"Bukankah apapun rahasia diantara kau dan aku perlu diketahui satu sama lain?" sahut Haara membuang wajahnya merasa malu dengan penuturannya tadi,


"Apa kau serius ingin masuk dalam ke kehidupanku? AtHaara?" tanya Yoan menatap ke arah lain,


"Ya!"


"Jika kau sudah masuk dalam hidupku jangan harap bisa keluar" seru Yoan mencoba menatap Haara yang tengah tertunduk,


"Iya" sahut Haara lagi,


"Iya apa?" tanya Yoan mendecih,


"Aku .. Aku tak akan menyesal dengan ke ingin tahu an ku" sahut Haara masih menunduk ia mengatakannya dengan nada serius,


"Tak ada yang mengesankan dalam hidupku atau masa laluku" seru Yoan menutup matanya, ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya,


Haara mendongakkan kepalanya menatap Yoan bingung,


Yoan balik menatap Haara,


"Ada apa dengan ekspresimu? kau kecewa?" tanya Yoan,


"Bu bukan, bukan itu jawaban yang ku inginkan"


"Aku tidak sedang menjawab suatu pertanyaanmu, aku hanya memberitahumu"


"Ah, iya~" sahut Haara salah paham,


"Kau ingin aku menjawab dari pertanyaan apa?" tanya Yoan berdiri disamping Haara, iamenyandarkan dirinya di dinding,


"Mm kau bilang kau pernah menangis, kau menangis karena apa?" tanya Haara ragu,

__ADS_1


"Saat aku bayi, aku menangis saat dilahirkan" sahut Yoan tertawa,


"Ihh Yoan!~, aku serius bertanya tahu~!" merajuk Haara,


Yoan menghentikan tawa nya sambil menghela nafasnya,


"saat ada hal yang menyakiti hatiku dan ada hal yang paling aku takutkan terjadi dalam hidupku, kehilangan seseorang yang ku sayang" sahut Yoan dengan tatapan kosong dan tersenyum hambar,


Haara terdiam saat mendengarnya, ia menatap Yoan dengan tatapan sulit di jelaskan


"Kenapa?" tanya Yoan yang melrik Haara,


"Apa kau .. Sudah mulai terbuka denganku? sungguh?" tanya Haara ragu,


Yoan memjamkan matanya, ia berdiri menghadap Haara,


"Aku sudah mengizinkan mu masuk dalam ke kehidupanku, tapi ada satu hal yang perlu kau ingat" seru Yoan


"Apa?"


Haara memundurkan kepalanya saat Yoan menatapnya dengan membungkukkan tubuhnya,


"aku peringatkan padamu, jangan terlalu ingin tahu tentangku" sahut Yoan,


Haara memiringkan kepalanya dengan wajah polos, Yoan terkekeh melihat Haara memiringkan kepalanya, ia terlihat seperti anak kucing.


"Kenapa? bahkan kau tadi sudah mengizinkanku"


"Aku mengizinkanmu untuk mengetahui masa laluku, jika hal lain dari itu aku mengingatkan mu dari sekarang"


"Apa itu?"


Yoan memegang dagu Haara, dapat dilihat Haara tercegang atas perlakuannya


"Berhati hatilah, kau bisa jatuh cinta pada ku"seringai Yoan.


●•●•●•●•●


• • •


• •


Hari Senin, Hari yang sangat menyebalkan baginya, do'anya tak terkabul untuk meminta dihari senin hujan selebat lebatnya, melainkan hari senin sangatlah cerah cuacanya.


Ia menghela nafasnya kasar saat melihat jalan raya yang sangat padat sekali dengan kendaraan


Jika ditanya kenapa tidak berangkat dengan Yoan, karena ia merasa kesal dengan pria itu tidak ada inisiatif membantunya membereskan penthousenya bersama sama.


Ia tersenyum senang saat ada kursi kosong, ia duduk di pojok dekat jendela.


Ia membuka jendela bus dan dapat merasakan angin yang berhembus,


Tak lama bus kembali berhenti, penumpang pun masuk kedalam bus,


Haara menghela nafasnya, ia teringat jika ponselnya sudah rusak, pasti hari nya akan sangat membosankan,


"AtHaara?" panggil seseorang, Haara pun Menengok kesamping, seorang pria yang memakai seragam yang sama seperti dirinya,


Haara sedikit bingung, karena ia tak mengenal nama pria itu.


mereka memang satu sekolah, tapi jika masalah mengenal seseorang itu bukanlah keahliannya,


"Ah benar ternyata kamu" senyum pria itu,


"Ahh, iya~" sahut Haara mengiyakan,


"Kursi sebelahmu kosong, boleh aku duduk disebelahmu?" izin pria itu,


"Mm iya boleh" sahut Haara mengizinkan,


"Terima kasih" sahut pria itu menduduki dirinya,


Haara mengangguk, ia mengingat pria ini, pria ini adalah anak klub basket,


"Ah iya, kau ikut berkemah tidak?" tanya pria itu,


"Berkemah?" tanya Haara bingung,


"Lho? hari Sabtu kemarin di umumkan lho"


"Ahh, kemarin sabtu aku tak masuk sekolah" kekeh Haara kaku,


"Lho kenapa? kau sakit?"


Haara menjawab dengan anggukan,


Pria itu pun mengangguk angguk paham.

__ADS_1


"Kau ikut berkemah?" tanya pria itu lagi,


"Memang acanya kapan? dan juga dalam rangka apa berkemah?" tanya Haara sedikit ragu,


"Acara pelantikkan klub peserta didik baru, tidak wajib ikut juga sih, tapi pasti menyenangkan, mengingat ini adalah tahun akhir kita menjadi seorang siswa, acaranya Hari Jum'at minggu ini" sahut pria itu menjelaskan,


"ah iya juga" jawab Haara mengangguk paham,


Pria itu tersenyum menanggapinya,


"Apa pria yang menculikmu itu sudah tertangkap" tanya pria itu, hal itu membuat Haara sontak menatap pria itu terkejut,


"tunggu!, darimana kamu tahu??"


Pria itu terkekeh,


"Aku tahu dari teman temanku, mereka bilang jika kau diculik, jadi kau kemarin tak masuk karena terluka ya?"


"I iya" sahut Haara,


"Teman temanmu .. Tahu darimana?" tanya Haara ragu,


"Teman kelasku juga membicarakan tentangmu, mereka mungkin tahu dari organisasi OSIS, ya .. Karena teman sekelasku seperempatnya anggota OSIS, tahu sendiri jika organisasi itu sangat dekat dengan guru" jelas pria itu,


Haara mengangguk paham,


"Aku sekelas dengan Yifan lho"


"Ah benarkah?"


"Iya, aku juga salah satu teman dekatnya, apa jangan jangan kau tak mengenalku??" tanya pria itu menatap Haara tak percaya


"Ahh maaf, aku .. Memang tak mengenalmu~" tak enak Haara


Pria itu menghembuskan nafasnya kecewa


"Bahkan kau itu akrab dengan Yifan lho~bahkan kedua temanmu juga aku akrab dengan mereka, Alka dan Yuriza, saat bertemu denganku mereka langsung tahu aku ini temannya" jelas Pria itu,


"Akupun mengenal namamu, AtHaara Martin" tambah pria itu dengan wajah kecewa,


"Ahahaha, maafkan aku, aku cenderung kurang bersosialisasi" kekeh Haara tak enak, bohong saja dia kurang bersosialisasi, ia hanya tidak perduli hal yang tak menarik baginya


"Tak pandai bersosialisasi? ah bohong sekali, bahkan teman sekelasku mengenalmu dan juga kau itu terkenal dikalangan teman temanku"


"Ah berlebihan~aku tidak seterkenal itu" sahut Haara mengelak,


Pria itu terkekeh melihat Haara yang panik,


"Baiklah perkenalkan namaku Ryan Afrizal, panggil saja Rizal atau Ryan, tapi biasanya mereka memanggilku Rizal sih" serunya,


"Mm aku panggil kamu Rizal saja" senyum Haara,


"Tak masalah, asal jangan memanggil ku dengan nama lain"


Haara terkekeh,


"Hahh, bahkan jika ada waktu mereka selalu membicarakanmu" sahut pria itu mengangguk angguk,


"Membicarakanku? apa aku membuat sebuah salah?" tanya Haara polos,


Rizal melirik Haara dan tertawa,


"Kenapa kau berfikir seperti itu? mereka membicarakanmu karena kau lucu"


"Eh?"


"Mereka itu mengidolakan mu" kekeh Rizal,


"Aku bukan artis yang harus di idolakan" salah tingkah Haara,


Bus pun berhenti, mereka berdua pun turun saat telah tiba disekolah,


Haara merasa jika Rizal sangat asyik saat diajak bicara, prasangkanya salah ternyata,


"Ah, aku masuk duluan ya, berhati hatilah lututmu terbentur teman temanmu" peringat Rizal,


Haara mengangguk dan melangkah pergi.


...•...


...•...


...{Bersambung}...


...•...


hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2