
Yu Xi melirik Yiran yang duduk dipojok, lalu berpindah pada Nicca yang duduk di sebelah Yiran dan dirinya, ia menghela nafasnya.
Lalu ia melirik ke sebelah kirinya terdapat Nathan, lagi-lagi ia menghela nafasnya.
Sungguh sangat membosankan.
Generasi menunduk pun telah hadir disini, mereka terlalu fokus bermain ponsel tanpa ada pembicaraan sedikit pun, sungguh membuat bosan menurutnya.
Lalu sebuah ide muncul dalam fikirannya.
Ia akan menghibur dirinya sendiri.
Yu Xi pun bangkit berdiri, ia meletakkan ponselnya di atas meja.
Siapa sangka gadis itu mulai menari.
Nicca yang berniat hanya melirik Yu Xi sebentar pun tak jadi, ia menatap tingkah aneh Yu Xi kali ini.
"Yiran, lihat kelakuan Sissy." bisik Nicca menyenggol Yiran yang duduk di sebelahnya.
Yiran pun mengalihkan pandangannya ke depan, ia mengerjapkan matanya melihat kelakuan Yu Xi.
"Dia sedang bosan." kekeh Yiran.
Nicca mengalihkan pandangannya sekilas pada Yiran yang duduk di sebelahnya.
"Bosan?"-Nicca.
"Dia suka menari saat aku mencuekinya, itulah caranya untuk menarik perhatianku." senyum Yiran menatap Yu Xi yang terus menari.
"Sungguh? Cara yang unik." kekeh Nicca.
"Nathan, coba lihat kedepan, lihat kelakuan Sissy." seru Nicca menendang Nathan yang fokus bemain ponsel.
"Aku sedang melawan musuh, jangan ganggu." seru Nathan tetap terfokus pada game nya.
"Ish!" decih Nicca.
Tatapan Nicca terfokus ke arah pintu ruang keluarga, matanya membulat saat melihat siapa yang berdiri di sana.
"Yiran Yiran! Lihat siapa yang datang!" senggol Nicca lagi.
Yiran menatap Nicca sekilas dan mengikuti arah pandang Nicca.
Mata Yiran membulat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu ruang keluarga.
"Mama?! papa?!" terkejut Yiran dengan suara pelan.
Haara yang melihat keterkejutan Yiran meletakkan telunjuknya di depan bibirnya dengan senyuman manis khas seorang ibu.
"La! la! la la!" senandung Yu Xi sampai dimana fokus nya teralihkan dan ...
Gebruk!
"Pfft!! Whahahahaha!!" tawa Yiran dan Nicca, Nathan yang terkejut dengan suara tawa Yiran dan Nicca pun kebingungan.
"Eh! Paman Yoan?! Bibi Haara?!" terkejut Nathan.
"Hallo Zhao Nathan, Xiao Nicca." senyum Haara.
"Hallo bibi!" sahut Nicca dan Nathan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Hallo paman." sapa Nicca dan Nathan.
"Hallo juga Nicca, Nathan." sahut Yoan.
"Kami permisi keluar ya bibi, paman." seru Nicca menarik Nathan keluar, hal itu mendapat anggukan dari Haara dan Yoan.
"Adudududuh~" ringis Yu Xi memegang lututnya.
Yiran pun langsung membantu Yu Xi berdiri.
"Kau tak apa-apa?" tanya Yiran.
Yu Xi menggeleng, matanya berbinar sat melihat Yoan dan Haara yang tersenyum padanya dan Yiran.
"MAMA! PAPA!" teriak girang Yu Xi berlari memeluk Yoan dan Haara.
Yiran tersenyum senang saat melihat kedatangan mama dan papa nya yang sungguh sangat mengejutkan dirinya.
"Selamat datang kembali, papa mama." seru Yiran membungkukkan tubuhnya.
Yu Xi pun melangkah mundur dan ikut membungkukkan tubuhnya.
"Se-selamat datang kembali, papa mama!" seru Yu Xi gelagapan.
"Terima kasih sayang~" senyum Haara memeluk Yiran dan Yu Xi erat.
"Mama rindu sekali dengan kalian~" seru Haara.
"Aku juga rindu sama mama~" sahut Yu Xi.
"Sama papa?"
Yu Xi menatap Yoan yang tersenyum sendu menatap kedua anaknya.
"Aku juga rindu sama papa!" sahut Yu Xi memeluk Yoan erat.
"Sungguh? Senangnya papa~" kekeh Yoan membalas pelukan Yu Xi erat.
Yiran ikut terkekeh melihat tingkah Yu Xi dan Yoan.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Haara.
"Baik mah, bagaimana keadaan mama dan papa?" tanya Yiran.
"Mama dan papa juga baik, meski kami sangat sibuk kemarin-kemarin karena ingin menyelesaikan pekerjaan dan datang ke sini bertemu kalian." sahut Haara mengusap rambut Yiran yang agak memanjang.
"Syukurlah, jangan memaksakan diri kalian, aku dan Yu Xi berharap kalian sehat itu membuat aku dan Yu Xi sangat senang." senyum Yiran.
"Mama terharu mendengarnya~" seru Haara memeluk Yiran lagi.
"Ah iya, gimana Yu Xi, apa dia nakal dan buat kamu kualahan?" tanya Haara.
Yu Xi yang mendengar itu seketika gugup.
"Nakal dia mah." sahut Yiran.
"Nakal? Jika dia nakal beritahu dia pelan-pelan ya? Boleh marahin dia tapi jangan berlebihan ya?" nasihat Haara mengelus pipi Yiran.
Belum sempat Yiran menyahut, Yu Xi pun menyahut.
"Yiran tak pernah bisa marah denganku mah." seru Yu Xi.
"Tak bisa marah? Maksudnya?" tanya Yoan.
"Aku jujur aku selalu buat dia kesal dan juga suka minta-minta dengan nya, tapi dia tak bisa marah dan mengelak kemauanku, mah pah." sahut Yu Xi jujur.
Yiran salah tingkah saat mendengarnya.
Haara tersenyum mendengarnya, ia menatap Yoan yang terkekeh.
"Tapi Yiran nyebelin, suka sekali jahilin aku!" seru Yu Xi.
"Sissy tahu? Yiran itu mirip sekali dengan papa, papa itu tak bisa marah pada mama, dan juga jahil pada mama lho." seru Haara.
"Benarkah?" tanya Yu Xi.
"Benar." sahut Haara.
"Sekarang giliran papa tanya pada Sissy, bagaimana kelakuan Yiran di sekolah dan saat pergi bermain dengan teman-temannya?" tanya Yoan menatap Yiran.
Glek!
Yiran sungguh tak kuat saat melihat tatapan Yoan sang papa, meski tatapannya biasa saja, namun rasanya sungguh menyeramkan.
"Untung ada aku, aku selalu mengingatkan Yiran jika dia akan berbuat salah." sahut jujur Yu Xi.
"Berbuat ... salah?" tanya Yoan menyipitkan matanya.
"Ya, seperti hampir bertengkar, main di tempat yang seram, dan aku akan selalu menelfonnya jika waktu sudah malam." sahut Yu Xi jujur.
Yoan menatap Yiran yang menunduk.
__ADS_1
Yiran terlihat ketakutan saat Yu Xi mengatakan hal itu.
Karena terakhir dimana Yoan dan Haara akan kembali ke Korea, Yoan marah pada Yiran karena Yiran mengabaikan Yu Xi yang pulang sendiri saat malam hari.
"Yiran bertengkar? Kenapa dia bertengkar?" tanya Haara serius.
"Karena aku, hehe." cengir Yu Xi.
"Karena Sissy??" bingung Yoan.
"Iya, seperti tadi Yiran hampir bertengkar dengan anak cowok yang tak sengaja hampir menempar bola kearah ku, tapi berakhir kena Yiran yang melindungiku." jelas Haara.
Haara menghela nafasnya lega.
"Yiran, apa ada yang sakit?" tanya Haara.
"Sudah lebih baik, Sissy memijatnya tadi." sahut Yiran.
Haara merasa sangat senang mengetahui kedekatan dan kerukunan Yu Xi dan Yiran.
"Papa mau bicara sama Yiran berdua, boleh?" tanya Yoan pada Yiran, Yoan menatap Haara dan Yu Xi untuk menanggapinya.
"Tentu boleh pah." sahut Yiran.
"Ayo sayang, kita keluar." seru Haara lembut.
Yu Xi mengangguk.
"Bicara santai saja, jangan buat Yiran takut, jika itu terjadi aku hukum kamu." bisik Haara mengancam Yoan.
"Hanya bicara saja." sahut Yoan takut.
Haara melangkah keluar bersama Yu Xi.
• • •
Tik! Tok! Tik! Tok!
"Kamu tak merindukan papa?"
Yiran langsung menatap Yoan,
Yoan tersenyum padanya.
"Tentu aku merindukan papa." sahut Yiran gugup kembali menunduk.
Grep!
Yiran membulatkan matanya saat Yoan memeluk nya.
"Papa merasa kamu lebih tinggi dari sebelum papa memelukmu." seru Yoan.
"I-iya pah." sahut Yiran.
"Maafkan papa karena marah sama kamu beberapa bulan lalu." seru Yoan mengusap-usap rambut Yiran.
Yiran memejamkan matanya, ia tersenyum, seketika Yiran membalas pelukan Yoan.
"Tidak pah, itu adalah salahku karena terlalu lalai menjaga Sissy." sahut Yiran.
Yoan melepaskan pelukkannya, ia memegang kedua pundak Yiran.
"Papa senang kau mengakui kesalahanmu, tapi papa bersikap seperti saat itu agar bisa membuatmu menjadi pria yang berguna suatu saat nanti." seru Yoan.
"Berguna?"
"Hm, tugas seorang pria adalah melindungi seorang wanita, apalagi wanita itu adalah wanita yang kamu cintai suatu saat nanti." jelas Yoan.
"Papa ingin kamu menjadi pria berguna untuk wanita yang kamu cintai suatu saat nanti, papa bukan pilih kasih saat memberikan sebuah kasih sayang antara dirimu dengan Yu Xi, tapi kalian berbeda, kau pria dan Yu Xi wanita." jelas Yoan.
"Papa juga ingin Yu Xi bisa merasakan kasih sayang darimu, agar nanti dia bisa mencari pria yang memiliki jiwa pelindung dan menjaga seperti mu, agar dia paham mana pria yang baik dan tidak, ia dapat memahaminya berawal dari dirimu, kamu tak mau Yu Xi salah memilih seorang pria bukan?" tanya Yoan.
"Aku tidak mau pah." sahut Yiran cepat.
Yoan tersenyum melihat respon Yiran.
...'Wajahnya dan sikapnya mirip seperti kak Yiran baru aku mau.'...
Yiran jadi teringat dengan ucapan Yu Xi saat di tempat tongkrongan sore tadi.
Yu Xi yang mengatakan hal itu membuat Yiran sedikit tenang, karena Yu Xi menyukai sosok dirinya, ideal nya pun seperti dirinya.
"Kau sudah memiliki seorang pacar?"
Lamunan Yiran buyar saat mendengar pertanyaan Yoan.
"Belum pah." salah tingkah Yiran.
"Bagus."
"Bagus?"
"Hm, lebih baik kau menilai wanita-wanita sekitarmu, papa berpesan agar mencari wanita yang baik dan sungguh mencintaimu, karena saat ini di posisi mu sekarang kau sulit mencari yang sungguh mencintai mu tanpa memandang wajah tampanmu." kekeh Yoan.
"Ah~ maksud papa hampir semua wanita memandang paras ya?" peka Yiran.
"Pintar!" kekeh Yoan.
"Kalau mama? Apa mama sama dengan wanita lain?" tanya Yiran.
Yoan menduduki dirinya di sofa.
"Mama? Mama sangat berbeda dengan wanita lain, ia tulus mencintai papa." sahut Yoan.
Yiran ikut menduduki dirinya di sebelah Yoan.
"Siapa yang lebih dulu mencintai di antara mama dan papa?" tanya Yiran.
"Awalnya mama, tapi saat itu papa pernah menyakiti perasaan mama." senyum miris Yoan.
"Papa tahu darimana saat itu mama menyukai papa lebih dulu?" tanya Yiran.
"Mama mengatakannya saat papa dan mama bertengkar hebat." sahut Yoan.
"Jadi itu terjadi sebelum menikah?"
Yoan menggeleng.
"Papa dan mama menikah karena perjodohan saat itu." sahut Yoan.
Yiran mengerjapkan matanya saat mendengarnya, sungguh ini kali pertama ia mengetahuinya.
"Perjodohan??!"
"Perjodohan keluarga, adat dari keluarga besar Zhao, tapi sekarang sudah tak ada, semua berubah karena pertentangan keras dari paman Yifan yang menolak keras perjodohan." jelas Yoan.
"Paman Yifan?? Jadi .. paman Yifan berusaha agar dirinya bisa menikah dengan bibi Riza?" tanya Yiran.
"Ya, paman Yifan itu sangat mencintai bibi Riza, jadi paman Yifan berusaha keras agar bisa menikah dengan bibi Riza, tidak dengan wanita pilihan kepala keluarga Zhao." sahut Yoan.
"Sungguh sejarah yang menarik." tak menyangka Yiran.
"Lalu pah, bagaimana cerita selanjutnya tentang mama yang menyatakan cinta pada papa di saat kalian bertengkar hebat? Jadi kapan kejadian itu?" tanya Yiran penasaran.
"Saat papa dan mama sudah menikah, hubungan mama dan papa saat itu benar-benar rentan untuk pecah, karena saat papa dan mama bertengkar itu berawal dari kesalahan papa dan kesalah pahaman yang papa perbuat." lamun Yoan.
"Kesalah pahaman?"
"Hm, mama memergoki papa yang hampir di cium oleh adik dari mantan pacar papa."
"... Ha!?"
"Saat itu papa tak tahu jika dia akan mencium papa, kejadiannya sungguh tiba-tiba, dan tepat saat itu mama yang datang ke kantor, mama berniat untuk memperbaiki hubungan papa dan mama, tapi karena itu semua pertengkaran hebat di mulai hingga mama dan papa hampir bercerai." jelas Yoan, sungguh ia tak ingin mengingatnya lagi, namun karena Yiran ingin mengetahuinya, ia terpaksa mengingat kenangan buruk itu.
"Bercerai??!"
"Ya, karena kebodohan papa saat itu cinta mama pada papa hilang, mama meminta papa untuk menceraikan mama, tapi ... papa tak bisa." jelas Yoan lagi.
"Kenapa papa tak bisa? " tanya Yiran.
"Karena papa telah mencintai mama saat itu." sahut Yoan menatap Yiran.
Yiran terdiam dengan keterkejutan.
"Aku sungguh heran, kenapa saat itu mama sangat mudah mengatakan cerai." heran Yiran.
"Pernikahan terjadi karena perjodohan itu sungguh bencana menurut mama dan papa saat itu, karena papa dan mama saat itu menikah bukan karena atas dasar nama cinta, namun terpaksa. maka dari itu tak ada kepercayaan yang di berikan satu sama lain karena papa dan mama tidak saling mencintai, karena itu mama dengan sangat mudah mengatakan cerai." jelas Yoan.
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Siapa yang mempertahankan pernikahan mama dan papa hingga membaik hingga sekarang?"
"Papa yang memepertahankannya, meski mama terus bersikeras ingin lepas dari papa, namun papa tak akan biarkan itu terjadi." seru Yoan serius.
"Hingga kesalah pahaman pun telah terpecahkan oleh sebuah kebenaran, hal itu membuat mama memutuskan untuk tetap tinggal, tak lagi memaksa untuk minta di ceraikan, mama memberikan papa sebuah kesempatan." senyum tipis Yoan.
"Papa saat itu sangat sedih karena cinta mama pada papa telah hilang, mama memberikan kesempatan pada papa yaitu untuk bisa membuat mama kembali mencintai papa, berjuang cukup lama akhirnya mama mencintai papa." senyum Yoan menatap Yiran.
"Dan sebagai bukti cinta kami, lahirlah kalian berdua, kau dan Yu Xi adalah bukti cinta mama dan papa." seru Yoan.
Yiran sungguh tak bisa berkata-kata kali ini ia sungguh tak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini, perjuangan cinta mama dan papa mya terdengar sungguh rumit namun kedua orang tua nya kini telah berhasil melewatinya dan mereka terlihat saling mencintai.
"Jadi papa ingin kamu belajar dari pengalaman papa juga, untuk tidak merasa malu mengakui jika kau mencintai, kau akan merasakan penyesalan jika kau terancam akan kehilangan wanita itu." seru Yoan menepuk-nepuk pundak Yiran.
"Baik pah, aku telah mendapat pelajaran berharga dari papa kali ini, terima kasih pah." senyum Yiran.
Yoan mengangguk.
"Mau main PS bersama?" tanya Yoan pada Yiran.
●•●•●•●•●
Haara melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, langkahnya terhenti saat tak mendapati Yiran dan Yoan disana.
"Kemana mereka?" bingung Haara.
"Mama, papa dan Yiran sedang bermain PS di ruang tengah." seru Yu Xi
"Bermain PS?"
• • •
Haara menghela nafasnya, ia tersenyum saat melihat Yoan dan Yiran sedang asyik bermain dengan adu pendapat satu sama lain.
"Pecinta game, sungguh hal itu menuruninya ke Yiran." gumam Haara mengingat saat Yoan suka sekali bermain PS dan game lainnya di ponsel.
Haara tersenyum sendu saat mengingat hari pernikahannya dengan Yoan 19 tahun yang lalu, sungguh sudah lama sekali, tepat satu tahun lagi usia pernikahannya dengan pria berdarah China-Russia itu akan menginjak 20 tahun.
Waktu yang terus akan berjalan, Yiran dan Yu Xi akan lulus SMA, lalu kuliah, dan mereka akan menikah, dan memiliki menantu yang mencintai Yiran maupun Yu Xi, dan akan memiliki cucu, suatu saat nanti itu akan terjadi.
Lalu kembali hidup berdua dengan Yoan hingga tua, ia akan berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan terus dan selamanya mencintai Yoan.
Berawal dari sebuah pertemuan tak terduga, takdir menginginkan dirinya dan Yoan terikat dan mencintai hingga selamanya.
Sungguh sangat indah sebuah perjalanan takdir mereka.
Haara melangkah mendekati Yiran, Yoan dan Yu Xi yang sedang tertawa.
Suara tawa mereka adalah kehangatan dan kadamaian tersendiri dalam hatinya, sungguh ia menginginkan ini semua tak pernah berakhir.
'Sedikit lebih lama lagi, waktu ku mohon berjalanlah dengan lambat, aku tak ingin melewatkan ini dengan cepat, sungguh sangat hangat, nyaman, aku sungguh menyukai sekali moment ini.' batin Haara.
Haara memeluk Yoan dari belakang dengan erat.
"Yu Xi, gantikan papa main ya?" seru Yoan.
"Baik papa!" binar Yu Xi.
"Hehe, lawan kamu itu mudah." ledek Yiran
"Lihat saja aku akan menang kali ini!" tantang Yu Xi.
"Baiklah, ayo." sahut Yiran mengatur pasisi.
Sisi lain.
Yoan menatap Haara yang tersenyum sendu menatap Yiran dan Yu Xi.
"Kamu kenapa hm?" tanya Yoan.
"Aku ingin moment ini lebih lama lagi, hatiku sungguh senang sekali rasanya." sahut Haara.
Yoan menarik Haara kedalam pelukannya.
"Aku akan mengabulkannya." senyum Yoan, Haara yang mendengarnya ikut tersenyum.
"AtHaara, terima kasih sudah memberikan aku semua nya, aku beruntung memilikimu." seru Yoan.
Haara pun mengangguk,
"Aku juga berterima kasih padamu karena telah memberikan ini semua padaku, aku senang sekali." senyum Haara menatap Yoan.
"Sama-sama, aku mencintai mu, AtHaara." seru Yoan mencium kening Haara sekilas.
"Aku pun mencintaimu Yoan." senyum sendu Haara.
Perlahan dan semakin dekat, mereka memotong jarak wajah mereka dan bibir mereka pun menyatu.
'Seterusnya, aku berharap kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir, I love you Mr. Zhao~'
...•...
...●...
...🎐THE END🎐...
...●...
...•...
...•...
...Author:...
..."gimana pendapat untuk part terakhir nih? tulis si kometar ya🤗😇"...
...•...
...📜Note Author...
...(cakap-cakap author😁):...
...Author mengucapkan terima kasih banyak sekali telah memberikan dukungan untuk karya author ini dari awal hingga tamat,huhu😭...
...Terima kasih juga telah setia membaca karya author hingga tamat, hingga Haara dan Yoan bahagia dan memiliki Yiran dan Yu Xi, author sangat berterima kasih sekali kepada pembaca setia karya author ini🙏🙏...
...Mengenai cerita baru .......
...Entah author akan punya waktu kuras otaknya kapan nih😆, karena semua sedang dalam proses, jadi author gak tahu bakal kuras otak buat publish cerita baru lagi kapan nih😊...
...Kemungkinan jika karya baruku di publish aku bakal umumin di novel My Destiny is Mr Zhao ini nih🤗...
...❗❗❗...
...Jadi di tunggu ya🤗...
...Kasih tanda oengingat dengan tambahkan ke Favorit ceritanya❤...
...Atau mengikuti author, oke?😁...
...❗❗❗...
...Pesan author, selalu jaga kesehatan, sukses, jangan lupa berbahagia juga ya, author sayang kalian semua😇...
...Jadi author pamit sementara ya, entah kapan lagi bakal kembali berkarya, semua sedang di fikirkan dan masa proses😊...
...Jangan lupa untuk memberi dukungan pada karyaku ya kakak-kakak🤗...
...⭕Jangan lupa:...
...👍 Like,...
...🏷Vote,...
...⭐⭐⭐⭐⭐Rate 5 star,...
...❤Favorite,...
...💌 komentarnya yang selalu aku nantikan⭕...
...💃谢谢大家!💃...
...(Xièxiè dàjiā!)...
...(Terima kasih semuanya!)...
See you again guys🤗
__ADS_1
Salam manis dari Author❤❤
🎐我的命运是赵先生🎐