My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Terluka


__ADS_3

"Ke kenapa kau me menatapku seperti ... itu?"tanya Haara bergidik ngeri,


Tak ada sahutan dari pria itu,begitu juga tatapannya tak sedikit pun ia alihkan dari gadis itu,


Haara membuang pandangannya ,ia tak kuat menatap Yoan,


Sebuah uluran tangan,Haara menatap uluran tangan itu dan perlahan menatap si pemilik tangan itu,


Yoan menatap Haara dengan arti raut wajah yang sulit dipahami,


"Coba ku lihat"


"Ha?"bingung Haara,


"Tanganmu,tanganmu yang terluka"


Ia tak percaya jika Yoan mengetahuinya,ia menduga jika Yifan mengadu kepada Yoan,


Dengan perlahan Haara meletakkan tangannya diatas telapak tangan Yoan yang diulurkan,


Dengan hati hati Yoan menarik keatas baju bagian lengan Haara yang luka,


Yoan menghela nafasnya perlahan,


Dapat terlihat,luka dibagian pergelangan tangan yang ditutupi kasa dan plester luka,


"Sudah diobati?"tanya Yoan dengan suara pelan yang masih menatap luka Haara yang di balut,


Haara mengangguk,"sudah,lukanya sudah kering,aku takut lukaku kembali terbuka,jadi .. Aku pakai kasa untuk menutupinya"jelas Haara,


"Kenapa ini bisa terjadi?"tanya Yoan menatap Haara dengan tatapan bingung,


"Ia mendapat nomor ponsel ku entah darimana ,yang pasti bukan dari Alka atau Riza,ia terus meng spam telfon dan juga pesan padaku,karena aku tak tahan aku mengganti nomor ponselku,tanpa disangka,saat sepulang sekolah ia menarik paksa aku dan tanpa ia sadari ia melukai tanganku"jelas Haara menatap Yoan,jika mengingat kejadian itu saat ini ia merasa takut,


"Yifan tak bersama mu??"tanya Yoan masih menatap Haara,


"Saat itu aku menunggu di pos satpam sekolah,Yifan mengambil mobil di parkiran~saat aku,Riza dan Alka menunggu,ia datang datang menarikku paksa dengan wajah marahnya"jelas Haara lagi gemetar,


"Sialan!"umpat Yoan menahan marah,


Samar samar terdengar suara isakan,hal itu sontak Yoan menatap Haara yang menunduk,


"Hey,kau menangis??"panik Yoan mencoba menatap Haara yang menunduk,


Haara menggeleng cepat,


"Jika tidak tatap aku"seru Yoan benar benar panik,


Haara tak bergeming,


"Jika kau tak menangis tatap aku,apa aku membuatmu takut tadi?"tanya Yoan panik,


Haara menggeleng dengan lemah,


Yoan menghela nafasnya,


"AtHaara~tatap aku~"seru Yoan dengan lembut,


Sontak Haara terdiam,ini pertama kalinya Yoan memanggil namanya,benar ini pertama kalinya,


Dengan perlahan Haara menatap Yoan,Yoan menatap Haara dengan raut khawatir,


"Aku takut sekali,Yoan~"seru Haara dengan suara serak nya,ia menutup matanya dengan lengan sebelahnya,


Yoan menatap ke tangan Haara yang masih ia pegang,


Yoan mengusap rambut Haara lembut,namun gadis itu menangis semakin menjadi jadi,


Jujur saja ia tak bisa berbuat lebih untuk menenangkan gadis itu,


"Aku akan mengurus urusanku di China secepat mungkin,aku akan pulang Kamis atau hari Jum'at,aku akan menemui pria sialan itu,dan membereskan semuanya,aku janji"seru Yoan serius,

__ADS_1


Perlahan Haara menatap Yoan,tatapan sendu yang dapat Yoan lihat,Haara mengangguk lemah,


"Aku akan minta Ammar dan Anna juga melindungimu dari pria sialan itu,pasti mereka berdua belum tahu mengenai ini kan?"tanya Yoan jangan lupakan tangannya masih memegang tangan Haara dan sebelah tangannya masih berada di atas kepala Haara,


Haara menggeleng lemah,


"Akan kuberitahu mereka nanti"seru Yoan memgacak acak rambut Haara,


"Ih Yoaaan!rambutku berantakan!"protes Haara merapihkan rambutnya dengan kedua tangannya,


"Aduduh~!!"ringis Haara memegang tangannya,


"Hati hati"ingat Yoan,


"Katanya sudah kering lukanya?kenapa masih kesakitan?"tanya Yoan tak berekspresi,


Haara tak menjawab,


"Apa lukanya dalam?"tanya Yoan serius,


Haara mengangguk,


Yoan memijat pelipisnya,


Haara menahan senyumnya,ia merasa Yoan sangat khawatir padanya saat ini,ia bertanya tanya pada dirinya,apa ekspresi awal yang di tunjukkan padanya tadi adalah kemarahannya pada si Daniel itu?,tampak jelas jawabannya,Ya!


"Biar aku saja yang menceritakan kepada kak Anna dan kak Ammar"seru Haara,


"Ku harap kau menceritakan secara detail"sahut Yoan cepat,


Haara mengangguk,


"Kapan kamu tiba?"tanya Haara,


"Entahlah,setibanya aku di bandara aku langsung kesini"sahut Yoan,


"Dan kau akan terbang ke China lagi kapan?"tanya Haara lagi,


Yoan menatap jam tangannya,


"Apa?baru sampai,pergi lagi?kenapa tidak esok?"tak percaya Haara,


Yoan menatap Haara dengan smirknya,


"A aku hanya bertanya,bukannya melelahkan baru tiba langsung pergi lagi,hanya itu"sahut Haara cepat,


"Berikan ponselmu"pinta Yoan menyodorkan telapak tangannya,


"Untuk apa??"


"Memasang GPS"


"Eh?GPS untuk apa?"


Yoan mengisyatkan dengan tangannya untuk Haara memberikan ponsel milik Haara,


Haara memberikan ponselnya pada pria itu,Yoan merogoh ponselnya di dalam jas nya,


Saat menghidupkan ponsel milik Haara terlihat lockscreen milik gadis itu memperlihatkan foto si pemilik ponsel itu tersenyum manis dengan bando berwarna merah,


"Jangan dilihat!"seru Haara menutup layar ponselnya,


Yoan melirik gadis disebelahnya,


"Ja jangan dilihat~"seru Haara pelan,ia menarik tangannya yang menutup layar ponselnya,


Yoan kembali fokus ke layar ponsel milik gadis disampingnya dan ponsel miliknya sendiri,


Cukup lama akhirnya selesai,Yoan mengembalikkan ponsel milik Haara,


"Tadi kau apakan ponselku?"tanya Haara curiga,

__ADS_1


"Ketik nomor ponselmu"seru Yoan menyodorkan ponselnya,ia tak menghiraukan ucapan Haara.


• • •


Ammar menatap Yoan dan Haara bergantian,begitu juga Anna yang juga bergantian menatap Yoan dan adiknya didepannya bergantian,


"Haara,apa yang ingin kau katakan?"tanya Anna bingung,


Haara hanya diam,


"Mau aku yang menceritakannya atau kamu?"tanya Yoan tak sabaran,


"A aku,aku saja"sahut Haara cepat,


Haara menunjukkan tangannya yang dibalut kasa,sontak hal itu membuat Ammar dan Anna terkejut bukan main,


Tanpa bertele tele Haara pun mulai bercerita,


• • •


"Kemana anak sialan itu?!beraninya ia melukai adikku!!"marah besar Anna,


"Anna sabar,jangan marah seperti itu"seru Ammar menenangkan,


"Bagaimana aku bisa tenang! lihat tangan adikku Ammar!"


"Aku tahu,aku juga sangat emosi,tapi kau membuat adikmu ketakutan"beritahu Ammar,


Anna menatap Haara yang memeluk dirinya sendiri,


"Ah maaf,kenapa kau tak cerita kepada kakak?"tanya Anna khawatir,


"Aku tak ingin kalian kefikiran,jadi aku sembunyikan"sahut Haara pelan,


"Jadi dia temannya kakaknya Alka?"tanya Ammar,


Haara mengangguk,


"Akan ku tanya pada kakaknya Alka besok"seru Ammar,


"Aku harus kembali ke China,kemungkinan pulang Rabu atau kamis,sekarang tak ada hal yang kalian sibukkan bukan?"seru Yoan,


"Rabu atau Kamis?hey!apa kau tak perduli dengan pernikahan mu dengan adikku minggu depan?!bahkan kau belum mempersiapkan apapun Yoan!"marah Anna,


"Jangan menuduhku sebegai orang tak bertanggung jawab,aku sudah mempersiapkannya"


Ammar,Anna dan Haara menatap Yoan terkejut serta tak percaya,


"Jangan ngawur,kapan kau mempersiapkannya??sedangkan kau selalu sibuk dnegan pekerjaanmu"seru Ammar,


"Senin lalu,kesibukanku itu adalah mempersiapkan semuanya"


"Sulit dipercaya,pantas kau sibuk sekali sering keluar kantor"salut Ammar,


Haara menunduk,ia tak percaya jika Yoan mempersiapkannya sendiri,ia juga berfikir jika .. Yoan tak membutuhkan bantuan dirinya sedikitpun,


"Salut aku padamu,Haara kamu .."


Ucapan Anna terhenti saat Haara tiba tiba saja pergi,


"Lho?Haara?"panggil Ammar mengejar,


"Kenapa dengan Haara?"tanya Anna pada Yoan,


Yoan tak menjawab,ia pun bingung.


...•...


...•...


...{Bersambung}...

__ADS_1


...•...


Hai Readers👋jangan lupa like dan komentar nya ya❤


__ADS_2