My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Keinginan Yang Tak Terwujud


__ADS_3

"Kita makan bersama."


" ... Ha?" ternganga Yoan.


"aaa~" seru Haara terus menyodorkan sendok berisi nasi itu agar di makan Yoan.


"Tidak tidak, kamu saja yang makan ya?" seru Yoan menolak.


"Yoan makan ihh~ kamu tadi sudah sarapan belum??" tanya Haara.


Yoan kebingungan menjawabnya.


"Yoan?" panggil Haara.


Yoan menatap Haara yang menatapnya cemberut.


"Kamu belum sarapan ya?" tanya Haara.


Yoan dengan pelan menggeleng.


"Ya ampun~ hari akan menjelang siang, kenapa kamu belum sarapan sih Yoaan~" sedih Haara.


"Aku tak nafsu."


"Kenapa tak nafsu? Nanti kamu sakit karena telat makan lho?" nasihat Haara.


Yoan tersenyum tipis menatap Haara yang menasihatinya.


"Karena aku menunggumu bangun, aku merasa tak tenang karena kau belum bangun." sahut Yoan jujur.


"Kamu ini~ lain kali jangan telat untuk sarapan, makan siang atau makan malam juga dengan alasan apapun itu, kau harus tetap makan, mengerti?" tanya Haara tegas.


Senyum pria itu mengembang lebar, ia merasa sangat senang sekali di perhatikan lebih oleh gadisnya itu.


"Iya AtHaara~" angguk Yoan.


"Jika seperti itu, sekarang makan bersamaku ya?" bujuk Haara.


"AtHaara~ kamu saja yang makan ya? Kamu harus makan banyak lalu minum obat, nanti aku makan di luar." sahut Yoan.


"Kamu khawatir gak sama aku?" tanya Haara dengan raut serius.


"Tentu saja aku khawatir sama kamu." sahut Yoan juga serius.


"Lalu jika kau sakit karena telat makan mau buat aku khawatir karena kamu?" tanya Haara memutar balikkan pertanyaan.


Yoan terdiam sejenak, ia menggeleng.


"Tidak AtHaara." sahut Yoan pelan.


"Jika tak mau buat aku khawatir, makan bersama ku ya?" seru Haara memohon.


Yoan tersenyum tipis menatap Haara.


"Aku hanya merasa tak berguna untuk hari ini kepadamu." sedih Haara.


"Hey, jangan berfikir seperti itu." sahut Yoan mengusap pipi Haara.


"Maka dari itu, aku ingin kamu makan bersamaku, agar aku berhenti berfikir seperti itu, ya?" seru Haara mencoba membujuk Yoan lagi.


Yoan mengangguk sambil menahan senyumnya.


Haara yang mendapat respon dari Yoan tersenyum senang.


"aaaa~"-Haara.


Yoan membuka mulutnya dan memakan nasi yang di sodorkan Haara.


Yoan mengerutkan keningnya menatap Haara yang menatapnya malu-malu.


"Makan lagi, kenapa menatapku, hm?" tanya Yoan bingung.


Haara menahan senyumnya sambil menggeleng.


Yoan mengerutkan keningnya saat melihat Haara yang makan mencuri-curi pandang padanya.


"Menatapku diam-diam seperti itu, Kenapa sih?" bingung Yoan terheran-heran dengan kelakuan gadisnya itu.


Haara menutup wajahnya malu.


"Aku senang sekali akhirnya bisa nyuapin Yoan makaaan~" malu Haara.


Yoan yang mendengarnya mengerjapkan matanya.


"Senang .. Karena nyuapin aku makan?" tanya Yoan polos menunjuk dirinya sendiri.


Gadis itu mengangguk cepat.


Gadis itu menurunkan tangannya dari wajahnya menatap Yoan malu-malu.


"Saat aku menyukaimu waktu itu, aku selalu ingin menyuapimu makan, itu benar-benar impianku sekali Yoan, sekarang tercapai juga akhirnya~" seru Haara malu.


Yoan yang mendengarnya tak percaya.


"Akhirnya aku bisa nyuapin Yoan, huwaa~ senangnyaa~" malu Haara antusias.


Yoan yang mendengarnya terkekeh, ia sungguh tak menyangka jika Haara memiliki keinginan unik seperti itu padanya.


Haara kembali menyendokkan nasi nya kedalam mulutnya sambil menatap Yoan malu, pengakuannya tadi membuatnya gugup.


Gadis itu pun dengan ragu-ragu menyodorkan sesendok nasi di sendok pada suaminya itu.


"aaa~" seru Yoan berinisiatif.


"Yoaan~" tersipu Haara.


"Ayo suapi aku lagi, aaa~" seru Yoan menggoda Haara.


Haara menutup mulutnya malu, dengan perlahan ia menyuapi Yoan yang tersenyum jahil padanya.


"Mulai deh jahil nya~" seru Haara menyukai ekspresi jahil pria itu.


Haara menyendokkan nasi dan memakannya, percayalah dia kini sedang mencoba bersikap biasa saja karena Yoan terus menatapnya.


"Yoan, aku cubit nih." malu Haara menatap Yoan.


Yoan tak mengiraukan ucapan Haara, ia masih terus menatap Haara.


Haara pun beraba-aba akan mengambil tindakan.

__ADS_1


Yoan dengan cepat menahan tangan Haara.


"Ih Yoaan~"


Haara menatap Yoan yang tak kunjung melepaskan tangannya, namun pria itu menarik punggung tangannya dan ...


Cup!


Haara mengerjapkan matanya beberapa kali,


Yoan menarik tangannya untuk mencium punggung tangan gadis itu.


"Nanti saja cubit aku nya ya? jangan banyak bergerak dulu, nanti perut kamu sakit lagi lho." nasihat Yoan lembut.


Haara membuang pandangannya dengan menutup mulutnya dengan sebelah tangan kiri nya.


"Tak usah menyembunyikan atau menahan senyummu, lihat kesini coba, tunjukkan padaku." seru Yoan menarik dagu gadis itu.


Haara perlahan menatap Yoan malu.


"Hmmm ... Cantik kok."


Blush!


"Huwaaa~ Yoaaaann~"


Yoan tertawa melihat Haara yang tersipu malu ia puji,


"sungguh cantik kok, bahkan karena wajahmu yang terlalu cantik dan polos ini membuatku kualahan." jelas Yoan serius.


"kualahan apasih maksudmu~" tersipu Haara.


"kualahan untuk membuat semua pria menyadari jika kau itu sudah memiliki tunangan." sahut Yoan.


"tunangan? tak mau di anggap suami nih?" tanya Haara malu.


"mau! ya sudah, aku akan umumkan jika aku adalah suamimu yang sudah sah 3 bulan yang lalu." seru Yoan santai.


"ehhh!! Yoaaan!"


"terus panggil saja namaku, aku suka mendengarnya." seru Yoan.


Haara baru tersadar jika ia terus-terusan memanggil pria itu.


Haara tersenyum lebar menatap Yoan.


"Yoan Yoan Yoan Yoan Yoaaan~" seru Haara terus-terusan memanggil nama Yoan.


Yoan yang mendengarnya langsung tertawa.


"lagi lagi???" seru Yoan.


"Yoaaaaaann~"


pria itu mencubit pipi Haara gemas, ekspresi gadisnya itu sungguh sangat ia sukai sekali.


"sudah ah, capek! nanti lagi manggilnya." hela nafas Haara.


Yoan mengacak-acak rambut Haara gemas.


"gemas nya akuu!" seru Yoan gregetan.


Yoan tertawa kecil melihat ekspresi kesal gadisnya itu.


"ah iya aku lupa, tadi mama mu menelfon lewat ponselmu." seru Yoan.


"Mama?"


Yoan mengangguk.


"Mama menelfon karena ingin bertanya keadaan kita bagaimana, namun saat aku beritahu kamu tidak baik-baik saja, mama sangat khawatir." jelas Yoan.


"Pasti mama berfikir berlebih deh, kamu jelaskan ke mama, iyakan? Kenapa aku masuk ke rumah sakit?" tanya Haara.


Yoan mengangguk.


"Kita akan pulang ke Indonesia setelah kau pulih, tanggal 31 pagi kita akan terbang ke Indonesia."


Seketika senyuman Haara luntur, gadis itu pun terdiam mendengarnya.


"Aku akan membayar administrasi untuk hari ini, aku tinggal ya." seru Yoan yang akan bangkit berdiri.


Sret!


Yoan menghentikan langkahnya saat Haara menahan tangannya.


"Hari ini, bukannya seharusnya kita sekarang itu pergi ke taman hiburan dan sedang menikmati wahana-wahana yang kita coba ya?" seru Haara pelan.


Yoan hampir melupakan keinginan gadis itu.


"Aku ingin ke taman wahana itu bersamamu Yoan." seru Haara lagi sedih.


Yoan mendengarnya ikut sedih.


"Padahal aku ingin merayakan malam tahun baru juga di Guangzhou, menikmati pemandangan malam penyambutan malam tahun baru di tengah pergantian tanggal, bulan dan tahun bersama mu, aku inginkan itu."


Yoan tertegun mendengar ucapan gadisnya itu,


"Bisakah kita tunda kepulangan kita ke Indonesia dan kau menuruti keinginan ku?" tanya Haara menatap Yoan penuh harap.


"Rak apa, tak usah ke taman hiburan, aku ingin merayakan malam tahun baru di kota ini, bersamamu berdua, kita tunda kepulamgan kita ke Indonesia ya?" mohon Haara.


Yoan tak bisa menimpali ucapan gadis itu dengan ucapan apa.


"Yoan?" panggil Haara.


Yoan menatap Haara yang menatapnya penuh harap.


Yoan mengusap-usap rambut Haara sayang.


"Kita bisa merayakannya saat di Indonesia nanti, cuaca bersalju di Guangzhou tidak baik untuk kesehatanmu saat ini, aku takut kau kembali merasa sakit pada perutmu."


Haara menatap Yoan datar.


"Dokter menyarankan untuk kau tidak keluar disaat musim salju seperti ini, kamu mengerti ya?" seru Yoan lembut.


Haara yang mendengarnya jujur saja merasa sangat kecewa sekali.


"Katanya kamu mau membayar administrasi, pergilah." seru Haara menyimpan nampannya di atas nakas sebelah kamar nya.

__ADS_1


"Makan nya di habiskan dulu, nanti minum obat." seru Yoan lembut.


"Aku kenyang, aku mau tidur." seru Haara menidurkan dirinya membelakangi Yoan.


Yoan menghela nafasnya pelan, gadis itu sedang merajuk padanya.


●•●•●•●•●


Yoan memasukkan dompetnya ke dalam saku jaket hoodie nya dan melangkah pergi untuk kembali ke ruang inap Haara.


Saat ia menggeser pintu nya, ia dengan cepat menghampiri Haara yang akan masuk ke dalam toilet.


"Kenapa tak menunggu ku saja sih~" seru Yoan khawatir.


"Aku bisa sendiri, keadaanku sudah baik-baik saja Yoan." sahut Haara pelan.


"Aku akan panggilkan perawat untuk membantumu ..."


"Aku . Bisa . Sendiri." seru Haara serius.


"... Baiklah." seru Yoan melepaskan melangkah mundur.


• • •


Haara sedikit terkejut saat membuka pintu kamar toiletnya, karena pemandangan yang ia lihat adalah Yoan.


"Kamu ngapain di depan pintu toilet??" tanya Haara menyembunyikan keterkejutannya.


"Menunggumu keluar, sudah selesai?"


Haara mengangguk.


Yoan membuntuti Haara yang melangkah ke jendela di ruangannya.


"Hahh~ sejuknya~" seru Haara tersenyum saat merasa hembusan angin siang hari yang berhembus dingin.


Yoan ikut tersenyum melihat Haara tersenyum, ia pun mengikuti arah padang gadis itu.


Tatapan gadis itu terfokus pada orang-orang yang berlalu lalang berjalan di pinggir jalan, ia ingin sekali berada di salah satu orang-orang itu.


"Kapan aku diperbolehkan pulang?" tanya Haara.


"Besok kamu sudah boleh pulang." sahut Yoan.


"Tak ku sangka, jika aku akan mengubur keinginanku untuk bisa pergi ke taman hiburan dan pergi merayakan malam tahun baru di negara kelahiranmu ini bersamamu, semua nya tak bisa terwujud." senyum miris Haara.


Yoan mengalihkan pandangan menatap Haara di sebelahnya.


"Padahal aku sudah membayangkan bagaimana gambaran kita saat mencoba berbagai wahana dan berjalan-jalan santai bersama orang-orang yang berlalu lalang ke satu arah kearah yang lain." seru Haara.


"Makan jajan-jajanan di pinggir jalan bersama mu, berfoto bersama, dan bermain petasan bunga api di rerumputan sambil menonton indahnya petasan yang di luncurkan di langit, kencan yang mengagumkan." seru Haara lagi melamun.


"AtHaara ..."


"Ah, maaf! Aku ... Aku tak bermaksud menentang ucapanmu, maafkan aku." seru Haara tiba-tiba.


Yoan sedikit terkejut dengan penuturan Haara yang meminta maaf padanya.


"Lupakan saja ucapanku ya? Jangan hiraukan, itu hanya pandanganku semata saja kok!" seru Haara lagi takut.


Yoan membuang pandangannya.


Haara yang melihat Yoan yang tak menyahut membuat dirinya merasa bersalah pada pria itu.


●•●•●•●•●


• • •


Malam hari telah tiba,


Haara terbangun saat hari masih gelap.


"Masih jam sebelas malam ternyata." gumam Haara.


Ia melirik Yoan yang tertidur di sofa panjang, dengan perlahan ia melangkah turun dari kasur nya dan melangkah mendekati Yoan.


Ia memutar suhu penghangat ruangan lebih tinggi, ia tak ingin membuat pria itu kedinginan.


"Maaf aku terlalu keras kepala dengan kemauanku Yoan, aku sangat senang sekali mendapatkan perhatian lebih darimu." seru Haara sangat pelan.


Cup!


Haara mencium pipi pria itu.


"Selamat tidur suamiku, aku berharap kau bermimpi sangat indah, dan aku berharap aku juga bermimpi indah namun aku ingin memimpikanku, aku mencintaimu Yoan." seru Haara berbisik.


...•...


...•...


...Author : "cium aja sampai puas mumpung Yoan lagi tidur tuh AtHaara~😋"...


...Haara : "stt! jangan berisik! nanti Yoan bangun terus aku ketahuan gimana?? habis aku😫"...


...Yoan : "💤💤💤💤💤"...


...•...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak-kakak Readers👋 Hai, kakak-kakak author hebat!👋...


...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...


...Jangan lupa:...


...-Like...


...-Vote...


...-Rate 5 star...


...- komentarnya juga ya😊...


...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...


...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...

__ADS_1


...See you tomorrow😇...


__ADS_2