
"Apa jangan-jangan kau ... Menyukainya?" tanya Yoan.
"HA!?" terkejut Yifan,
"Tunggu-tunggu, kenapa kau tiba-tiba menuduhku menyukai calon istrimu??" tak habis fikir Yifan mulai berkata informal,
"Haa? habisnya kenapa kau terlihat sangat kesal mendengar jika teman sekolahmu itu calon istriku??" curiga Yoan,
"Aku bukan kesal karena Haara kini sudah menjadi calon istrimu! tapi aku ...," seru Yifan menggantung, tatapannya berubah menjadi sedih,
Ammar merasa jenuh sendiri akhirnya ia bergabung dengan mereka, ia duduk di sebelah Yoan.
"Aku mencintai seseorang~"
Yoan mengangkat sebelah alisnya, ia bingung apa hubungannya dengan pertanyaannya.
"Aku merasa sangat tertarik dengan berita yang kudengar dari kedua orang tuaku tentang kakak membatalkan perjodohan itu, jadi aku ingin dengar langsung ceritanya darimu," -Yifan,
"ku kira aku akan mendapat berita darimu jika kau sungguh bisa membatalkan perjodohan itu, jika perkiraanku benar, aku merasa lega untuk bisa mencintai gadis yang kusuka" jelas Yifan tertunduk.
"Jadi ini alasanmu sangat tertarik dengan ceritaku yang terjadi kemarin ya~" seru Yoan mengangguk paham,
"Bahkan kau tadi menjelaskan kepadaku tentang tidak bisa diganggu gugatnya wasiat perjodohan keluarga bukan?" tambah Yoan,
"Aku hanya mengatakan apa yang ku tahu, kukira ada hal yang belum ku ketahui, jika perjodohan keluarga bisa dibatalkan." seru Yifan pelan.
"Tak ada yang melarangmu untuk mencintai seseorang saat ini, tapi jika kau mencintainya terlalu lama dan terlalu jauh, itu akan menyakiti perasaanmu dan perasaan gadis yang kau cintai." jelas Yoan menatap Yifan serius.
"Ucapan kakak membuatku bisa berfikir demikian!" seru Yifan terkekeh,
"Ah! Haara kemarilah" seru Ammar melihat Haara keluar dari toilet,
"Ah iya!"
Haara melangkah berat kearah mereka, kini ia telah berdiri di samping meja.
"Hoi~"
Haara menatap seseorang yang mengeluarkan suara tadi,
Suara itu berasal dari Yifan.
Yifan terkekeh melihatnya,
"Duduklah disini, calon kakak ipar!" goda Yifan sambil menyuruhnya duduk disampingnya, tepat mempersilahkan duduk didekat jendela.
Blush!!
Wajah Haara mendadak panas mendengar ucapan Yifan,
Yoan menatap Yifan terkejut dengan ucapan Yifan terlalu mendadak.
"Yi-Yifan!! a-apaan sih!!" malu Haara melangkah masuk melewati Yifan,
Yifan terkekeh melihat reaksi malu Haara.
"Aku bicara sesuai fakta bukan? apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Yifan membenarkan posisi duduknya dan menatap Haara dan Yoan bergantian,
"Belu .." -Yoan,
"Sudah" -Haara.
"Pasangan tidak kompak!" seru Yifan meminum kopi latte nya,
"Yifaan!!" kesal Haara,
Yifan kembali terkekeh.
"Baiklah pertanyaanku sudah ku tanyakan semua padamu kak, aku pamit pulang." seru Yifan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kak Ammar, dan juga .. Calon kakak ipar, aku duluan, sampai jumpa!" pamit Yifan pergi.
"Yifan!! kubalas kau esok!!" malu Haara,
"Hehehe~ Haara, bahkan Yifan tak melakukan apa apa padamu~" seru Ammar yang sejak tadi menahan tawanya,
"I-iya juga sih!" malu Haara.
Fokus mereka pun teralih dengan bunyi dering dari ponsel milik Ammar,
"hallo Anna?" ... "Hey tenanglah,ada apa??" ... "Ban mobilmu bocor?? sekarang kamu dimana??" ... Iya iya aku kesana, Anna dengarkan aku jangan keluar dari mobil, kunci mobilnya, jika ada orang yang mengaku seorang montir, jangan percaya, tunggu aku oke" ... "Iya aku secepatnya kesana",
"Ada apa kak Ammar?" tanya Haara melihat Ammar panik,
"Anna harus meeting mendadak hari ini dikantornya, saat ingin kekantor ban mobilnya bocor, ia bilang jalannya sepi, dan ia juga ada orang yang sangat mencurigai, aku harus segera kesana." seru Ammar menjelaskan panik.
"Ah iya Yoan! antar Haara pulang ya? Haara lain kali kita bicaranya ya!"
"Ah i-iya kak, kakak harus ke kak Anna segera." seru Haara ikut panik.
"Kau naik apa?" tanya Yoan,
"Mungkin Taksi, hahh apa keburu ya?" panik Ammar,
Yoan mengambil kunci mobilnya di kantung celananya, dan melemparnya ke Ammar, dengan sigap Ammar menangkapnya,
"Pakai mobilku."
"Lho? lalu bagaimana kau antar Haara pulang,bodoh?" frustasi Ammar,
"Naik taksi, cepatlah pergi, Anna membutuhkan mu, bodoh!" balas Yoan geram,
Dengan cepat Ammar pergi.
• • •
Krik krik krik!!!
"Ayo ku antar pulang." seru Yoan berdiriia memakai topinya berwarna hitam yang sejak kapan topi itu muncul, ia mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Haara.
"Ah iya!" sahut Haara berdiri dengan kaku.
●•●•●•●•●
Haara berjalan dibelakang Yoan, ia menatap kagum Yoan dan ia merasa pendek jika berdiri disamping pria itu.
Tingginya hanya seleher pria itu, wajar saja jika pria lebih tinggi dari wanita fikir Haara.
Mereka kini tiba di halte bus, Yoan sibuk dengan ponselnya, hal itu membuat Haara kesal.
Halte bus yang agak penuh, mengingat jika sekarang adalah jam pulang kerja, halte bus yang tak begitu ramai dengan karyawan disana.
Haara terus mengikuti Yoan dari belakang sampai mereka berhenti di bangku ujung yang terdapat di halte bus tersebut.
"Duduklah" seru Yoan mengisyaratkan dengan kepala juga,
Haara menurutinya,tempat duduk yang cukup untuk 1 orang saja, ia menengok kearah Yoan, Yoan berdiri disebelah kanannya, ia melihat Yoan yang seperti mencari sesuatu di jalan raya.
Haara kembali menghadap kedepan, ia memilih untuk diam saja.
Ia berfikir, apa ia akan menaiki bus? jika benar, ia tak menyangka jika pria di samping kanannya ini memilih untuk mengantar nya pulang naik bus.
Ia menatap sekitar, ia merasa ada yang aneh, banyak wanita di halte bus itu menatap nya dengan Yoan, ah tidak! tatapan mereka hanya terfokus pada Yoan seorang.
Memang tak bisa dipungkiri, saat sedang berdiri biasa saja, pesonanya benar benar tak dapat dibohongi.
"taksi nya sudsh tiba, ayo." seru Yoan, Haara mengikuti arah pandang Yoan, lalu ia kembali membuntuti Yoan.
'Ahh! ia memesan mobil Taksi ternyata' itulah isi batin Haara,
__ADS_1
• • •
Ia membenci saat saat seperti saat ini,
Benar benar sangat canggung!
Haara merasa ada yang aneh, ia tak menyangka jika pria di sampingnya ini benar benar pria yang tak suka banyak bicara, dan juga ... Cuek.
Haara merasa bad mood dengan sikap Yoan yang seperti ini.
"Apa kau akrab dengan Yifan?" tanya Yoan menatap Haara,
"Yifan? ah belum terlalu, mungkin bisa dibilang akrab, aku akrab dengannya karena ia dekat dengan sahabatku," seru Haara sedikit gugup,
"kekasihnya?"
"Mm entahlah, aku tak paham dengan hubungan mereka, itu juga membuat sahabatku bingung akan hubungannya dengan Yifan sendiri." jelas Haara,
Yoan mengangguk paham, namun ia sedikit bingung, karena saat Yifan datang, tiba tiba saat itu terasa canggung.
●•●•●•●•●
Mereka telah tiba di komplek perumahan Haara, lagi dan lagi ia berjalan di belakang Yoan.
Ia menuduk menatap bayangannya, ia berfikir, ia tak bisa memecahkan kecanggungan di antara mereka, ia berfikir jika Yoan tak bisa memecahkan keasingan diantara mereka, apa ia yang harus memecahkan keasingan diantara mereka berdua?
Sepertinya memang ia yang harus memulai, tapi ia kembali berfikir, bagaimana ia melakukannya? sedangkan berhadapan dengan Yoan saja dia kikuk.
Ia menatap Yoan yang berjalan didepannya,
Kenapa pria itu begitu sempurna, sampai mengingat bagaimana tadi Alka terpana pada pandangan pertamanya dengan Yoan.
Haara tersenyum mengingat banyak pula wanita di halte bus tadi mengagumi ketampanan pria itu.
Tapi siapa sangka jika Yoan adalah calon suaminya, dan akan menjadi miliknya seorang~
Wajahnya terasa panas,
Ia memegang kedua pipinya sambil menggeleng cepat.
Langkahnya terhenti, perlahan ia menegakkan kepalanya,
Yoan tepat berada didepannya menatap Haara sambil memiringkan kepalanya,
Oh tidak!
Haara berkedip cepat, ia merapatkan bibirnya,
Ia ingin berteriak
Ia merasa Yoan sangat menggemaskan dihadapannya saat ini!
"A-ada apa??" gugup Haara mengusap leher kirinya dengan tangan kanannya dan jempol kiri ia gigit, ia sedang gugup saat ini.
Yoan melangkah satu langkah mendekat ke Haara sambil menatap dalam Haara,
Dan ia baru menyadari jika Yoan memotong jarak mereka, dan Haara menyadari jika jarak mereka terlalu dekat!
Haara merasa wajahnya memerah,
"Yo-Yoan???"
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
__ADS_1