
Jam pulang sekolah telah tiba, semua siswa pun berhamburan keluar dari kelas dengan mood yang sangat baik.
Alka dan Riza mengantar Haara ke tempat loker untuk mengambil baju olahraga.
Saat akan membuka loker nya, tatapannya fokus dengan surat yang sudah menumpuk di lokernya.
Alka menatap Haara bingung, ia pun mengikuti arah pandang sahabatnya itu,
"Wah, banyak sekali surat" takjub Alka,
Haara merapihkan surat itu dan mengambil baju olahraganya,
Ia mengecek satu persatu tulisan di amplop itu, Haara memghela nafasnya
"Lokermu lama lama akan menjadi kotak pos, Haara" seru Alka,
Riza mengambil belasan surat itu dan mengecek nama namanya,
"Bahkan semua inisial, dan .. Separuhnya ini surat yang sama dari cowok yang selalu menyimpan surat di lokermu saat itu kan?" tanya Riza,
Haara menutup pintu lokernya malas dan memasukkan baju olahraganya kedalam papperbag, ia pun melangkah pergi
"Aku iri dengan Haara~" rengek Alka berjalan disamping Haara
"Kenapa iri denganku Alka~? Bahkan ini menakutkan sekali" hela nafas Haara,
"Menakutkan bagaimana?" tanya Riza mengembalikkan belasan surat itu ke Haara,
Haara menyimpan belasan surat itu kedalam papperbagnya,
"Dia seperti penguntit saja, saat aku baca isinya, ia selalu tahu apa yang aku lakukan" sahut Haara risau,
"Hah? serius??" terkejut Alka,
"Iya, terakhir aku baca isinya tentang pertanyaan tentang hubunganku dengan Yifan. ia bilang jika ia melihatku berboncengan dengan Yifan, tepat saat kemarinnya aku minta antar Yifan beli kamus" jelas Haara,
"Apa aku harus tutup rapat bawah pintu, samping kanan kiri dan atas pintu lokerku agar surat surat itu tidak bisa menyelip masuk ya" seru Haara memelas,
"Tak ada salahnya" sahut Riza mengangguk,
"Oh iya, sekarang kau tinggal bersama dengan tuan Yoan, mau kau kemanakan surat surat itu?" tanya Riza lagi,
"Oh iya Ra, kau tak mungkin menyimpannya di Penthouse bukan?" tanya Alka,
"Hahh, iya juga, mau tak mau aku harus membuangnya"
"Membuangnya?" tanya Riza,
Haara mengangguk lesu,
"Ia yang mengajariku untuk membuangnya saja" sahut Haara
"Tunggu? Dia tahu kau mendapat surat dari pengagum rahasia??" terkejut Riza,
"Yifan yang mengadu,dasar sepupu tukang mengadu!" kesal Haara,
"Coba coba, kau ceritakan? Apa ia cemburu pada pengagum rahasiamu Haara??" antusias Alka,
"Cemburu? Apa sih~ bahkan dia bilang terserah padaku mau menyimpan surat itu atau tidak, itu hanya usulnya saja untuk membuangnya" jelas Haara,
"Oh iya, kalian berdua eskul bukan hari ini??"
"Semua eskul diliburkan" kekeh Alka,
Haara menyahut dengan 'oh' panjang.
●•●•●•●•●
Haara, Riza dan Alka menatap adik kelas perempuan maupun seangkatan dengan mereka satu demi persatu aneh,
Bagaimana tidak? Mereka berhambur lari larian dan juga terdengar cekikikkan saat keluar dari gerbang sekolah,
"Ada apa sih? Ada yang menarik kah diluar gerbang sekolah?" bingung Alka,
__ADS_1
"Entahlah, mungkin ada sebuah pertunjukkan, coba kita lihat saja" sahut Haara menggandeng kedua temannya,
Dengan gontai mereka melangkah cepat keluar gerbang sekolah,
"Yifan?" panggil Riza, namun tak hanya ada Yifan disana,
Haara membelalakkan matanya saat mengetahui Yoan juga ada disana,
Haara menengok ke kebelakang kanan kirinya, adik adik kelas dan teman satu angkatannya menatap kearah ia berada sekarang.
Ia paham sekarang, kenapa adik adik kelas dan teman satu angkatannya berkelakuan aneh, nyatanya mereka mengangumi dua pria dihadapannya ini, Yoan dan Yifan.
Yoan melirik kearah Haara sekilas,
"Za, hari ini kau pulang sendiri ya, aku ada urusan keluaga dan harus ikut satu mobil dengan kedua pasutri ini" seru Yifan,
"Iya tak apa, aku akan pulang dengan Alka saja, oh iya? motormu ditinggal?" tanya Riza,
"Aku titipkan ke temanku" sahut Yifan,
"Baiklah, kalau seperti itu aku .." -Riza
Brak!!
Sontak mereka menatap Haara, fokus mereka teralihkan pada papperbag Haara yang berlubang bawahnya,
Haara menutup mulutnya saat surat yang ada didalam papperbag tadi berhamburan di aspal,
Tadi nya ia mencoba untuk memasukkan papperbag itu ke dalam tas nya untuk menghindari sesuatu jika ia menenteng papperbagnya, namun lain dari perkiraannya, papperbag itu ia jatuhkan, Haara melirik satu persatu temannya lalu ke Yifan, dan terakhir pada Yoan yang tangah menatap surat surat itu datar.
"O ou" kekeh Yifan meledek Haara,
Haara dengan cepat mengambil papperbagnya dan juga memungut surat surat itu dimasukkan kedalam tas nya,
"Wah, apa kau ingin mengirim semua surat itu ke kantor pos, kakak ipar? Dengan senang hati aku dan kak Yoan mengantar .." -Yifan,
Yoan beranjak masuk kedalam mobilnya secara tiba tiba,
Riza dan Alka menyenggol Haara dan mengata ngatai Haara bodoh,
Haara memejamkan matanya sambil merutuki kebodohan dirinya yang ceroboh, Yifan melangkah kebelakang Haara dan mendorong gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Alka aku titip Riza" seru Yifan,
"Pasti!" sahut Alka,
• • •
Tak ada perbincangan diantara mereka, Yifan yang sibuk bermain game di ponselnya lain dengan Haara yang merasa jenuh,
Ia merasa bingung karena ia tak tahu akan dibawa kemana dengan kedua pria yang satu mobil dengan mereka ini.
"Ah iya kak Yoan, adikmu juga ikut?" tanya Yifan yang tatapannya fokus ke game diponselnya,
"Tidak, bahkan ini bukan hari hari libur panjang"
'Adik?'
Haara bergumam dan juga bertanya tanya dalam hatinya,
'Yoan memiliki adik?'
Yifan melirik Haara yang duduk didepan, Yifan tertawa saat melihat wajah bingung gadis itu,
"Haha! Kak Yoan, sepertinya istrimu kebingungan mau diajak kemana" ucap Yifan,
Haara menengok kearah belakang sebentar dan salah tingkah karena ia baru saja terciduk dengan Yifan, Yoan pun melirik ke arah Haara sekilas,
"Kita akan kerumah Yifan" sahut Yoan,
"Untuk apa kesana?" tanya Haara menatap Yoan bingung,
"Nenek datang ke Indonesia" sahut Yoan,
__ADS_1
"Nenek?"
"Tepatnya nenekku juga neneknya kak Yoan juga, mamaku dan mama kak Yoan itu adik kakak" jelas Yifan,
"apa ini sungguhan?!" terkejut Haara menatap Yifan yang duduk di belakang,
"Nenek kami memiliki 3 anak, anak pertama itu mamaku, kedua itu mama dari saudara kami, dan mama Yifan anak terakhir dari nenek" jelas Yoan fokus mengemudi
Haara terdiam,
"Hei, apa kau tahu kenapa nenek berkunjung ke Indonesia?" tanya Yifan mencondongkan tubuhnya kedepan,
"Nenek kalian merindukkan anak, menantu, dan cucu tentunya" sahut Haara sambil melihat keluar jendela
"Selain itu?" tanya Yifan,
Haara belum sempat menjawab, Yifan langsung menjawab pertanyaannya yang ia tanya tadi pada Haara
"Nenek sangat ingin melihat istri kak Yoan" seru Yifan berbisik,
Haara terkejut atas ucapan Yifan tadi, lidahnya terasa kelu, ia tak bisa menimpali ucapan Yifan,
"Ku dengar paman Liu Zheng juga datang" seru Yifan,
"Bibi Miya pun datang bersama Zhao Cheng Yuu" seru Yoan menjelaskan,
Haara memijat pelipisnya, namanya begitu sulit ia ingat dan cerna, namanya begitu sulit di ingat.
●•●•●•●•●
Mobil Yoan memasuki halaman rumah Yifan, Haara melihat kagum rumah yang bergaya eropa dan juga bergaya rumah ala China, hal itu dapat Haara maklumi karena sang pemilik rumah adalah orang China.
Yoan memparkir mobil nya berdampingan dengan mobil sedan yang hampir sama seperti miliknya.
Haara melirik Yifan yang turun dari mobil dan beranjak pergi meninggalkan ia dan Yoan yang masih berada didalam mobil,
Yoan berniat hanya akan melirik gadis disebelahnya, namun kini Yoan tengah menatap gadis itu yang membuang wajahnya
"Kenapa?" tanya Yoan,
Haara menggeleng cepat,
"Apa kau kesal karena membawamu kesini setelah pulang sekolah?" tanya Yoan
"Bu bukan!" sahut Haara panik,
"Lalu? Kenapa dengan ekspresi mu? Kau terlihat tidak senang"
"Aku takut"
"Takut kenapa?"bingung Yoan,
"Aku takut nenekmu dan juga saudaramu tidak menyukaiku" seru Haara menunduk,
Yoan tertegun dengan alasan Haara, nyatanya gadis itu sedang mengkhawatirkan hal itu,
"apa .. Nenekmu dan saudara saudaramu akan menyukaiku?"tanya Haara takut,
Yoan menghela nafasnya perlahan
"Apa kau ingin mereka menyukaimu?"tanya Yoan,
Haara mantap Yoan sambil mengangguk,
"Bersikaplah apa adanya, bersikap seperti dirimu sendiri"
Haara menatap pria yang memberinya ketenangan, perlahan Haara merasa lebih tenang.
...•...
...•...
...{Bersambung}...
__ADS_1
...•...
hai readers dan author author hebat👋 terima kasih sudah membaca ceritaku, jangan lupa like, rate dan komentarnya ya😊 tambahkan juga ceritaku ke favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, terima kasih🙏