
Hari demi hari telah berganti,sudah tak ada lagi gangguan,kecemasan,dan rasa takut yang akan Haara khawatirkan,laki laki bernama Daniel itu tak mengusiknya lagi belakangan ini,ia dapat bernafas lega,
Sekarang hari telah berganti menjadi hari Jum'at,rasa kesal dan marah menguasainya,selama 2 hari belakangan ini,ia akan menikah 2 hari hari lagi,namun pria itu belum kunjung kembali pulang ke Indonesia,
Pria itu ingkar janji,ia benar benar kecewa dengan Yoan,ia mencoba gaun dan memilihnya sendiri,begitu pula ia memilih cincin pernikahan sendiri,ia memang mengharapkan jika pria itu mengandalkannya,namun bukan ini maksudnya!
Haara baru saja pulang sekolah,15 menit lalu,saat ia pulang,ia mendapati Ammar dan Anna dirumah,suasana tegang dapat terasa saat ia baru sampai dirumah,ternyata ia mendapati berita jika Yoan belum pulang dan tak ada kabar,
"Yoan belum membalasnya,mungkin ia akan pulang hari ini"seru Ammar berdiri disamping sofa yang Haara dan Anna duduki,
"Iya,pasti dia pulang kok"seru Lucy sang mama menenangkan,Lucy mengusap usap pundak Haara yang sedang dikuasai rasa kesal,
"Sekalian saja tak usah kembali!!ia tak dapat menepati janjinya!!dan batalkan saja pernikahannya!!yang ada aku senang jika semuanya batal!!!"sulut emosi Haara berteriak,Haara bangkit dan melangkah pergi ke kamar nya,suara bantingan pintu terdengar nyaring,Ammar,Anna,Lucy,dan Juan menghela nafasnya,
"Aku tak bisa menyalahkan atau membela Yoan saat ini,hahh~"seru Juan sang papa yang memahami alasan Yoan,
"Hahh Yoan~Yoan~,derita sekali dirimu jadi seorang CEO perusahaan di sana juga"seru Ammar menghela nafasnya,
"Aku tak bisa menyalahkan dan membela Yoan juga papa,jika alasannya seperti itu"ucap Anna,
Juan menelfon Yoan untuk kesekian kalinya,namun hasilnya nihil,ponsel pria itu tak aktif,
"Kemana kau Yoan~"gumam Juan,
• • •
Haara mengunci pintunya ia menghempaskan dirinya dikasur,ia menutup wajahnya dengan bantal,ia menangis sejadi jadinya,
Ia terus merutuki Yoan dengan kata kata 'brengsek' ia benar benar sangat kesal dan marah sekali dengan pria iti,ia kecewa sungguh kecewa!
"Brengsek kamu Yoan!aku benci sama kamu Yoan!!"teriak Haara yang wajahnya masih tertutup bantal,
"Tak usah kembali!jangan kembali!itu lebih baik!batalkan saja aku akan senang mendengarnya!~"seru Haara melemah,
●•●•●•●•●
Anna membantu mamanya memasak didapur,ia menatap Ammar yang masih sibuk dengan ponselnya,suaminya masih berusaha menghubungi Yoan,
"Masih belum diangkat?"tanya Anna,
Ammar menghela nafasnya,ia menggeleng lemah,Anna ikut menghela nafasnya,
Ia melirik papanya yang sedang menjawab telfon dari papa Yoan,dapat ia dengar jika Yoan belum tiba di Indonesia,
"Mm,kamu bantu mama tata makanan ya,aku mau panggil Haara untuk makan malam"seru Anna lembut,
Ammar mengangguk dan menuruti perkataan istrinya,Anna pun langsung pergi ke lantai atas,ke kamar adiknya yang sedang merajuk,
• • •
Kamar yang gelap,tanpa ada sidikit pun cahaya yang menerangi kamarnya,dan juga sangat sunyi,
Haara tertidur karena lelah menangis,
Suara ketukan dan disusul dengan panggilan namanya terdengar,
Perlahan matanya terbuka dan menduduki dirinya,ia turun dan melangkah menghidupi lampu dan membuka pintunya yang terkunci,
"Haara~"seru Anna lembut,Anna tersenyum mengetahui adiknya baru bangun tidur,
"Makan malam dulu yuk!mama,papa,dan kak Ammar nunggu kamu,kita makan ya~"ajak Anna lembut,
Haara hanya diam,
"Kakak mau makan sama kamu juga lho,makan yuk!"ajak Anna lagi
Haara menatap kakaknya tersenyum tipis,
"Aku .. Mau cuci muka dan ganti baju dulu kak"sahut Haara dengan suara habis menangisnya,
__ADS_1
"Ya sudah kakak tunggu"senyum Anna,
• • •
Haara pun turun dengan Anna yang merangkulnya,
"Sayang~akhirnya kamu turun~"khawatir sang mama,
Haara tersenyum,"aku lapar mama~"
"Lapar ya,sini sayang duduk sini"seru sang mama mempersilahkan Haara duduk,
"Kamu mau apa?"tanya Lucy,
"Biar aku saja sendiri mama~"senyum Haara,
"Ah baiklah~papa,Anna,Ammar ayo duduk kita makan"senyum Lucy ikut duduk disebelah Haara,
"Coba lihat!mama dan kak Anna masakin makanan kesukaan kamu lho~"seru Juan menghibur anaknya,
"Woah,Haara menyukai makanan pedas ternyata!"seru Ammar takjub,
"Bahkan kak Ammar sudah tahu~kenapa bersikap seperti baru tahu~"kekeh Haara,
"Ah aku ketahuan~"kekeh Ammar,hal itu membuat Lucy,Juan,Anna dan Haara tertawa,
• • •
Makan malam pun selesai,semua berkumpul di ruang keluarga sambil menyaksikan acara komedi di televisi,
Semua tertawa bersamaan saat seseorang melakukan hal yang sangat melawak,
"Aku kebelakang sebentar"seru Ammar,
"Cepatlah kembali kak Ammar,kau tak boleh melewati acara selucu ini"seru Haara antusias,
"Ah kak Anna~keripikku habis~"rengek Haara,
"Aku hanya memintanya sedikit tahu~"
"Aku masih ingin padahal"rengek Haara meminum airnya,
"Haara ~"panggil Ammar,
Haara membalikkan tubuhnya,Haara terdiam raut nya berubah,emosi Haara secara cepat memuncak,
Anna,Lucy dan Juan ikut menengok karena merasa ada yang aneh dengan Haara,
"Yoan?"seru Anna,
"Haara,Yoan baru saja -"
Belum selesai Ammar bicara Haara pun berdiri dan melangkah melewati mereka,
Yoan menahan tangan Haara,
Haara menghempaskan genggaman pria itu,dengan cepat Haara melangkah ke lantai atas,
"Om,tante,maaf,izinkan saya meredakan kemarahan anak om dan tante kepada saya"
Juan mengangguk perlahan,
"Iya,tenangkan Haara~"sahut Lucy,
Yoan mengangguk dan lari mengejar Haara,
• • •
Haara dengan cepat melangkah kekamarnya dan menutup pintunya,namun pintunya tertahan,
__ADS_1
"Singkirkan kakimu!"bentak Haara yang menyadari jika pintu nya ditahan oleh kaki Yoan,
"aku minta maaf,aku mengingkari janjiku"seru Yoan menahan pintu kamar Haara,
"Kenapa kau kembali?!sekalian saja tak usah kembali!"bentak Haara,
"Jangan tutup pintunya,dengar penjelasanku"seru Yoan menatap Haara,
"Aku sedang tak ingin bicara padamu,lebih baik kau pulang"sahut Haara pelan,
"Tolong Dengarkan penjelasanku dulu"pinta Yoan kualahan,
"Aku bilang aku tak ingin bicara denganmu!"teriak Haara mencoba menarik pintunya,
Yoan menghembuskan nafasnya kasar,ia menarik pintu kamar Haara dengan kuat,secara otomatis Haara tertarik kedepan dan menubruk tubuh Yoan,
Haara berakhir di pelukan pria itu,
Ia mendorong tubuh Yoan,namun tanpa disangka Yoan memeluk Gadis yang menubruk tubuhnya tadi,
"Lepas!"seru Haara meronta,
"Aku tak akan lepaskan sampai kau mau mendengarkan penjelasanku, ...Haara ..."sahut Yoan membuang pandangannya,ini kedua kalinya pria yang memeluknya saat ini memanggil namanya,
Haara secara perlahan terdiam,
"Mau mendengar penjelasanku?"tanya Yoan pelan,ia masih membuang pandangannya,
Cukup lama Haara berfikir,akhirnya ia menjawabnya dengan berdehem dengan arti kata 'iya',
• • •
Yoan menyandarkan dirinya di dinding dengan kedua tangan di kantung celananya,ia telah menjelaskan semuanya,alasannya adalah jika ia ingin menyelesaikan semuanya sebelum pernikahannya dengan Haara sendiri,
Yoan tak ingin jika ia akan pergi meninggalkan Haara di hari kedua pernikahannya,mengingat gadis itu masih belum aman,
Ia mengurus dari jauh hari tentang apa saja yang harus ia urus di China agar ia tak datang dan pulang beberapa kali dari Indonesia ke China,
Yoan benar benar membuatnya tak habis fikir dengan jalan pemikiran pria itu,
"Jangan hiraukan aku"sahut Haara,
Yoan menatap Haara sambil mengerutkan keningnya
"Jangan memaksakan dirimu untuk menghandle nya,apa kau tak sayang dengan dirimu sendiri?"tanya Haara menatap Yoan tak percaya,
"Dirimu sudah terlalu lelah belakangan ini,fikirkan kesehatanmu!jangan berlagak sok kuat kau bisa merangkum jadwal khusus hari esok atau kapan itu untuk diselesaikan dalam satu hari!"ucap Haara yang tak tahan menahan rasa kesal kepada pria didepannya ini yang selalu membuat dirinya tak habis fikir,
Yoan mengalihkan pandangannya,
"Bisakah kau mulai sekarang fikirkan dirimu sendiri?khawatirkan dirimu!"marah Haara,
Yoan tak bergeming sedikitpun,
"aku,aku benar benar ..aku .."-Haara menahan kata katanya,ia menunduk,
Yoan melirik Haara yang tak kunjung melanjutkan ucapannya,
"Aku benar benar khawatir dengan keadaanmu jika terus terusan tak memperdulikan dirimu sendiri".
...•...
...•...
...{Bersambung}...
...•...
Jangan lupa like dan komentar nya ya kakak❤❤
__ADS_1