My Destiny Is Mr Zhao

My Destiny Is Mr Zhao
Sebuah Cinta


__ADS_3

🚨Jangan lupa like nya dan komentar setelah membacanya ya kakakku😊🚨


Happy reading🤗


 


Tak ada perbincangan dari mereka berdua hingga sekarang mereka berada di dalam mobil untuk melaju kembali ke apartemen.


Haara menutup mulutnya rapat-rapat karena melihat Yoan yang di liputi emosi karena mendapat laporan entah apa ia tak paham, yang jelas membuat suasana hati pria itu jauh di kata baik-baik saja.


Suara panggilan terdengar dari ponsel pria itu.


"Saya tidak mau tahu! Itu adalah kesalahanmu sendiri! Saya sudah menaruh kepercayaan padamu! Kenapa kau tidak becus dan lalai dengan sebuah kepercayaan yang saya berikan padamu!!" emosi Yoan dalam panggilan.


Jantungnya hampir loncat karena pria itu sedang tersambung panggilan dengan karyawannya di Indonesia.


"Saya bilang itu tanggung jawabmu! Apa otak mu tidak di pakai?! Pakai otakmu untuk berfikir! Saya ingin semua data jangan sampai bocor! Saya tak ingin tahu bagaimana caranya!!"


"Pakai akal! Fikir pakai otak! Jika semua data bisa bocor, kau akan ku pecat!!" sulut emosi Yoan menutup panggilan.


Haara bergidik ngeri melihat pria di sampingnya ini terlihat sangat marah sekali.


Baru kali ini ia mendengar pria itu bicara dengan ucapan yang terdengar sangat kasar.


●•●•●•●•●


Haara membututi Yoan yang masuk ke dalam lift, suasana dalam lift sangat mencekam dan terasa horor sekali, ingin rasanya ia ingin mengurung diri di dalam kamar mandi.


Pintu lift terbuka Yoan melangkah ke pintu apartemennya dan membuka pintu apartemennya lalu melangkah masuk.


BRAK!!


Entah kesekian kali nya Haara terkejut bukan main, pria itu membuka pintu kamar dengan cara membanting pintu kamar yang tak bersalah itu.


Haara ingin menangis dan ingin menghilang saat itu juga, pria itu sungguh sangat menyeramkan sekali.


"Ahh bingung deh aku harus ngapain sekarang!" kesal Haara menggerutu.


Haara melangkahkan kakinya ke dapur, ia akan masak sekarang, beruntung tadi pagi ia membeli agak banyak bahan-bahan masakan.


Baru saja ia akan makan malam diluar dengan pria itu, namun melihat mood yang sangat tak bagus pria itu membuat mereka tak jadi pergi makan malam di luar.


"Aku akan buat Carbonara untuknya deh, biar suasana hatinya tak terlalu menyebalkan. semoga enak seperti terakhir kali aku buat untuknya di Penthouse saat itu." hela nafas Haara menenangkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Spaghetti Carbonara yang ia buat akan matang, ia tersenyum senang saat mencicipi Carbonara yang belum ia pindahkan ke piring itu enak.


"Enak!" senang Haara bangga.


Srett!


Haara terlonjak kaget saat merasa ada tangan yang melingkar di perutnya.


Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar.


Yoan memeluk gadis itu dari belakang.


Pria itu menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Haara dengan deru nafas yang panas dan berat.


"Kau masak Carbonara?" tanya Yoan pelan.


"Hm i-iya, aku buat makanan kesukaanmu." sahut Haara mencoba tenang, jujur saja Haara takut kena amuk pria itu, meski itu tak akan meu kin terjadi.


"AtHaara~" panggil Yoan berat.


"I-iya Yoan?" tanya Haara.


"AtHaara~" panggil pria itu lagi.


Haara mengerutkan keningnya bingung karena pria itu terus memanggil namanya.


"AtHaara~"


"Iya Yoan kenapa memanggilku?" tanya Haara lembut.


"Karena aku suka namamu, AtHaara~" sahut Yoan membisikkan.


Haara memejamkan mata nya rapat-rapat, tubuhnya merasa merinding.


"Ee~ makan dulu yuk! Katanya tadi saat di studio kamu lapar kan? Aku sudah buat Spaghetti Carbonara spesial untukmu lho!" seru Haara antusias.


"Spesial untukku?"


"Iya, kita makan bersama ya?" seru Haara mengusap tangan Yoanyang melingkar di perutnya sayang.


Dapat dirasakan pria itu mengangguk.


"Mmm~ bisa kau lepaskan aku? Aku mau pindahkan ke piring Spaghetti nya." tanya Haara ragu.


Yoan melepaskan Haara.


Haara memutar tubuhnya untuk menatap wajah suami tampannya itu.


Haara tak bisa menahan senyumnya, Yoan yang melihat Haara menahan senyum saat menatapnya pun tersenyum sangat tipis.


"Anak kucingku~ kamu tunggu di meja makan saja ya." seru Haara menangkup kedua pipi Yoan, suara gadia itu terdengar sangat menggemaskan.


Yoan menahan senyumnya dan mengangguk.


Haara tersenyum melihat Yoan yang pergi ke meja makan.


'Menggemaskan sekali!!' batin Haara gemas.

__ADS_1


●•●•●•●•●


Haara menatap Yoan yang menyuap cabonara suapan terakhir.


"Kenapa menatapku terus?" tanya Yoan menatap balik Haara.


Haara menggeleng dan mengambil piring bekas makan Yoan dan melangkah ke dapur untuk mencucinya.


'Apa aku tak apa bertanya tentang masalahnya ya? Tapi aku takut membuatnya makin kesal jika mengingatnya.' batin Haara bimbang.


Haara mengeringkan tangannya, ia menatap Yoan yang tengah duduk sambil menutup wajahnya, pria itu terlihat sangat pusing, dengan memberanikan diri Haara menduduki dirinya di sebelah pria itu.


Jujur saja Haara bingung harus memulai pembicaraan apa.


"Kau .. Baik-baik saja?" tanya Haara ragu.


Yoan menarik nafasnya menatap Haara dengan tatapan sayu.


"Fikiranku kalang kabut sekali." sahut Yoan pelan.


"Ceritalah padaku, mungkin dengan bercerita kau akan lebih tenang." ucap Haara lembut.


Yoan tersenyum tipis, ia mengusap rambut Haara lembut.


"Beruntung aku membawamu ikut ke China bersamaku." senang Yoan.


"Eh?"


"Rasa kesalku mereda setelah melihatmu." seru Yoan lagi.


"Ah, begitukah?"


Yoan mengangguk.


"Masalahnya sudah tuntas tadi, aku merasa lebih tenang sekarang." seru Yoan tersenyum.


"Ahh~ aku turut senang kau sudah tenang sekarang." sahut Haara.


"Tubuhku merasa lelah memikirkan masalah itu tadi, boleh aku tiduran di pangkuanmu?" tanya Yoan menatap Haara penuh harap.


"Ap-apa?!" terkejut Haara.


"Tak boleh ya?" senyum miris Yoan.


"Bu-buka begitu, boleh kok!" sahut Haara cepat.


"Sungguh?"


Haara mengangguk.


Yoan pun menidurkan dirinya dan menjadikan paha Haara sebagai bantal nya.


Haara merasa gugup dan salah tingkah.


"Mulai deh~ jangan menggodaku Yoan~" malu Haara.


"Sudah ku bilang aku suka melihat wajahmu saat malu, AtHaara~" tawa Yoan.


Haara menatap Yoan tiduran di pahanya malu-malu.


"AtHaara."


"Ya?"


"Kau telah mengetahui siapa aku, bukan? Bahkan semua hal telah aku tutupi pun aku sudah memberitahumu semuanya."


Haara mengangguk.


"Sekarang giliran aku yang ingin tahu tentang mu, boleh?" tanya Yoan.


"Kau .. Ingin tahu tentang ku?" tanya Haara balik.


"Hm, aku belum tahu sepenuhnya tentang dirimu." sahut Yoan.


Haara baru menyadari hal itu jika pria itu belum mengetahui apa-apa tentang dirinya, dirinya terlalu sibuk untuk mengetahui terus menerus siapa suaminya ini.


"Ah, benar juga ya, hehe~ aku tak tahu harus menjelaskan apa, bagaimana jika kau tanya aku jawab?" ide Haara.


"Baiklah, yang pertama aku ingin tahu tentang percintaan seorang gadis remaja seperti mu."


"Apa kau pernah berpacaran?" tanya Yoan.


Haara tersenyum tipis.


"Pernah."


"Berapa mantan pacarmu?"


"Hanya satu." sahut Haara jujur.


Haara larut dalam fikirannya, ia tak menyangka jika dia akan mengingat mantan pacar nya dulu saat SMP.


"Kalian putus kenapa?" tanya Yoan dengan berat hati


"Karena ... Aku akan pindah ke Indonesia saat itu, jadi kami memutuskan hubungan kami." sahut Haara.


"Kau menyukainya?"


Haara mengangguk mantap.


"Tentu aku menyukainya, ia adalah cinta pertamaku, dia adalah kakak kelasku saat itu, umur kami terpaut 2 tahun."

__ADS_1


"Aku menyukainya pada pandangan pertama, aku sangat senang saat itu karena aku bertemu setiap hari dengannya, aku menyadari satu hal tentang kenapa ia selalu ke sekolahku setiap hari, ternyata ia menjemput mama nya yang kebetulan seorang guru di sekolahku." seru Haara tanpa sadar bercerita pamjang lebar.


"Tanpa disangka ia pun menyukaiku, ia menyatakan cinta padaku saat ada festival di sekolah, itu sungguh membuatku sangat senang sekali, lalu kami pun pacaran, tak ku sangka rasa cintaku terbalas saat itu." senyum-senyum Haara.


"Apa kau masih mencintainya?" tanya Yoan datar.


"Eh?"


Yoan menduduki dirinya, ia menatap Haara dalam dan dingin.


"Aku mendapat kabarnya terakhir jika dia akan bertu ..."


"Berhenti bercerita! aku tak perduli tentangnya, aku hanya ingin tahu perasaanmu padanya." sela Yoan memajukkan kepalanya mencoba menatap Haara lebih dekat, namun Haara memundurkan kepalanya menjaga jarak.


Tatapan kilat terlihat di mata pria itu membuat Haara menelan salivanya susah.


"Tidak Yoan."


"Bohong!"


"Aku serius! Aku sudah tak mencintainya lagi, Yoan." jujur Haara.


Yoan membuang pandangannya dengan raut menahan kesal.


"Lalu, beritahu aku apa kau masih bertukar kabar dengannya?" tanya Yoan datar.


"Terakhir aku mendapat kabar darinya bulan lalu, ia mengatakan jika ia akan bertunangan." sahut Haara ragu.


"Jika kau tak mencintainya lagi, lalu dihatimu kini ada siapa?" tanya Yoan tanpa menatap Haara.


Haara bungkam tak bisa menjawab.


"Kenapa tak menjawab?" tanya Yoan menatap Haara tajam.


Haara kebingungan saat itu juga ingin menjawab apa.


"Lupakan saja pertanyaanku, tanpa menjawab aku sudah tahu." seru Yoan bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


Haara mengusap gusar wajahnya.


'Kebungkaman ku mengatakan sebuah kejujuran, semua orang akan tahu jawabannya tanpa ku beritahu juga.' batin Haara menghela nafasnya gusar.


'Apa aku sangat jahat sekali padanya sekarang? Ya! Aku sangat jahat padanya saat ini.'


'Cinta? Aku sangat sulit mengakui itu pada Yoan, hatiku pun tidak mau menjawab jika aku itu mencintai nya, hatiku menolak.'


Haara memejamkan matanya rapat-rapat.


'Kemana cintaku padanya dulu? Kemana telah ku buang? Jika saja aku bisa mengetahuinya, aku ingin memungutnya dan menguncinya di dalam hatiku lagi.' batin Haara.


Ts!


Air mata Haara menetes.


'Kenapa aku belum mencintainya?? Kenapa?! Kenapa rasanya hatiku mati rasa sekali jika membahas tentang cinta?'


Haara memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang saat mengingat perlakuan Yoan yang membuat jantungnya berdegup kencang.


'Jantungku berdegup kencang bukan karena aku mencintainya, namun aku merasa detak jantung ku berdetak kencang karena perlakuan Yoan padaku.' batin Haara sambil melamun.


Haara memijat pelipis nya pening.


'Aku ingin mencintai Yoan, hanya itu yang ku inginkan saat ini.' batin Haara sambil terisak.


• • •


Haara menutup pintu kamar dan melangkah ke kamar.


Yoan tidur membelakanginya.


Haara menidurkan dirinya dengan hati-hati.


Ia memiringkan tubuhnya menghadap punggung lebar pria itu.


Air matanya kembali menetes, ia merapatkan bibirnya agar tak terisak.


'Maafkan aku Yoan.' batin Haara.


...•...


...•...


...Author : "hm~ nyatanya konflik datang dari mereka berdua😢"...


...•...


...❤Bersambung❤...


...•...


...Hai, kakak-kakak Readers👋...


...Hai, kakak-kakak author👋...


...Terima kasih sekali sudah hadir di ceritaku ya😊...


...Jangan lupa Like, Vote, Rate 5 star, dan komentarnya ya😊...


...Karena itu sangat berarti untuk aku selaku author😊...


...Sehat selalu untuk kakak-kakakku ya, disaat pandemi seperti ini selalu jaga kebugaran tubuh kita ya🤗...

__ADS_1


...See you tomorrow😇...


__ADS_2